Selasa, 21 Februari 2012

Ali dan Pengafiran

SYIAH MENGAFIRKAN AHLU SUNNAH
Oleh Ar-Risalah Institute

Antara Ahlu Sunnah dan Syiah memang tidak bisa dirukunkan. Hal ini dikarenakan masing-masing kelompok mengkafirkan kelompok yang lain. Terutama di dalam kitab-kitab Syiah, banyak sekali ajaran yang menyantumkan hal tersebut dengan sangat jelas. Bagaimana mungkin seorang Sunni mau menyentuhkan tangannya ke tangan seorang Syiah dan menganggapnya sebagai saudara, sedangkan dia berkeyakinan bahwa antara dia dengannya tidak ada hubungan apa-apa dan faktor yang menyatukannya pun hanya khayalan. Ada banyak faktor yang berbeda di antara Sunni dan Syiah.
Sesungguhnya faham mengafirkan orang lain adalah faham yang sangat berbahaya. Sesungguhnya orang yang mengafirkan seseorang akan menjadikan dirinya keluar dari Islam dan tercabut dari keluarga umat Islam. Bagaimana mungkin dia (orang yang dikafirkan) akan mendekatinya?
Faham mengafirkan orang lain sudah lama terjadi. Baik oleh Sunni maupun Syiah. Bukan hanya dilakukan oleh orang-orang Ahlu Sunnah saja sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Syiah. Justru orang-orang Syiah lebih keterlaluan dalam hal mengafirkan Ahlu Sunnah.
Justru pigur yang tidak pernah sama sekali mengafirkan orang lain adalah Ali bin Abi Thalib RA. Beliau tidak pernah mengafirkan orang-orang yang ikut di dalam perang Jamal (perang berunta), dan tidak juga beliau mengafirkan orang-orang yang ikut berperang di perang Shiffin yang mana mereka itu memerangi Ali dan membencinya. Bahkan beliau juga tidak mengafirkan Khawarij yang telah mengafirkan Ali dan akhirnya mereka membunuhnya. Ali pernah ditanya tentang mereka: Apakah mereka itu orang-orang kafir? Ali menjawab : Mereka telah lari dari kekufuran (tidak kafir). Beliau ditanya lagi: Apakah mereka masuk ke dalam kategori orang-orang munafiq? Ali menjawab : Orang-orang munafiq itu tidak pernah mengingat Allah SWT kecuali hanya sedikit (bukan orang-orang munafiq). Ali ditanya: Lantas, siapakah mereka itu? Ali menjawab: Mereka adalah saudara-saudara kita kemarin yang telah berbuat berlebihan hari ini terhadap kita! Ali tidak lebih hanya mengatakan mereka itu sebagai orang-orang yang berlebihan/melampaui batas saja. Beliau tidak mengafirkan mereka! Alangkah jelas, jujur dan adilnya ucapan Ali bin Abi Thalib. Harus seperti ini lah sikap seorang mukmin apabila dia marah. Yaitu amarahnya tidak membuat dirinya keluar dari kebenaran dan apabila dia rela, kerelaannya tidak memasukkan dirinya ke dalam kebatilan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar