Kamis, 16 Februari 2012

Amerika Tanyai SBY Soal Ahmadiyah

RAKYAT MERDEKA, Kamis, 24 Feb 2011

Datangi Istana Amrik Tanyai SBY Soal Ahmadiyah
KERUKUNAN beragama di Indonesia rupanya jadi perhatian besar politisi Amerika Serikat. Karena itu saat lima anggota DPR Amrik bertemu Presiden SBY di Istana, kemarin, salah satu topik yang dibahas adalah soal tragedi Ahmadiyah. Lima anggota DPR Amerika itu adalah David Dreier, David Price, Louise Caps, Sam Farr dan Jim McDermott. Mereka diterima Presiden SBY di Kantor Presiden pukul 10.00 WIB. Kelimanya kompak mengenakan setelan jas hitam dan dasi merah.
Presiden SBY didampingi Menko Polhukam Djoko Suyanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Menlu Marty Natalegawa dan Menpora Andi Malla-rangeng. Di awal pembicaraannya, Presiden SBY mengatakan bahwa selama ini hubungan antara kedua negara terjaga dengan baik, dan berharap dengan pertemuan ini hubungan bilateral RI-AS semakin erat. SBY juga menyampaikan bahwa Indonesia masih mempunyai pekerjaan rumah dalam proses demokratisasi. "Namun saya optimis nantinya Indonesia mampu melewatinya," kata SBY.
Setelah itu Dreier yang merupakan Ketua House Democracy Partnership (HDP) United States House of Representatif gantian berbicara. Menurut Dreier, AS juga masih banyakmempunyai perkerjaan rumah dalam menjaga demokrasi. "Demokrasi adalah kerja yang berkelanjutan bagi semua dan Indonesia telah melalui 12 tahun yang mengesankan dalam perkembangannya," ujar Dreier.
Seusai pertemuan, kelima anggota DPR AS ini menggelar konfrensi pers. David Dreier bercerita dalam pertemuan itu dibahas juga masalah toleransi beragama. McDermott, kata Dreier, menanyakan ke Presiden SBY soal isu Ahmadiyah yang baru-baru ini menjadi bahasan hangat. "Rekan saya McDermott bertanya ke Presiden soal Ahmadiyah. Kami dan dan Presiden SBY membahas dengan sehat soal isu ini. Terutama, kami sepakat aturan perundang-undangan sangatlah penting. Presiden pun berjanji terus melakukan penegakan hukum. Toleransi beragama tentu menjadi perhatian penting," ungkap Dreier saat konferensi pers usai bertemu Presiden SBY, kemarin.
Dreier menambahkan, masalahekstremisme agama memang terjadi di tiap belakan dunia, termasuk di AS. Hal itupun memang menjadi tantangan yang harus dihadapi. Di Indonesia, masalah ekstremisme agama secara beruntun terjadi. Informasi yang didapatnya secara berkala disebutkan, ekstremisme agama terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur.
"Tentang masalah ekstremisme agama. Presiden SBY mengatakan konflik antar dan intra agama memang perlu ditangani. Saya sendiri berharap hal-hal yang menyangkut kebebasan berekspresi dan toleransi harus didorong keberadaanya," tegas Dreier.
Menanggapi ini. Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan, Presiden menyampaikan kepada anggota Kongres A9-bahwa pemerintah berkomitmen mencari solusi terbaik.
"Presiden menegaskan, mereka yang melakukan tindakan kekerasan akan melalui suatu proses hukum yang sangat tegas. Tidak ada impunitas. Dengan demikian, hukum ditegakkan," kata Faiza. (MRA/presidensby.info).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar