Rabu, 15 Februari 2012

Matinya Mirza Ghulam Ahmad

MATI KOLERA KUTUKAN MUBAHALAH 
KOK DISEBUT MATI SYAHID?!

Oleh Tim Peneliti Ar-Risalah


Di dalam buku, “Bukan Sekedar Hitam Putih,” hal. 231 dikatakan, ”Setelah mengetahui fakta mengenai sakit dan wafatnya Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s., sekarang yang menjadi persoalan dari segi aqidah adalah: Apakah sakit diare akut yang menyerang isi perut Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. dapat dikategorikan sebagai penyakit yang diridhai oleh Tuhan atau tidak?”



            Setelah mengajukan pertanyaan ini, penulis membuat ”keterangan hadits” secara sepihak, tanpa merujuk kepada duduk permasalahan ”diare”-nya ”nabi” mereka, Mirza Ghulam Ahmad, yaitu dia menderita penyakit diare dan kolera sehingga mati di tempat tidur berlumuran muntah dan kotoran (menurut sebagian pendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad mati di WC, berlumuran muntah dan kotoran). Kalau menurut pengakuan isteri Mirza Ghulam Ahmad bahwa suaminya itu mati di kasurnya berlumuran muntah dan kotoran. Lihat kitab Siratul Mahdi, jilid 1 hal. 11).

            Anaknya Mirza Ghulam Ahmad (yang mengarang kitab Siratul Mahdi) berkata,

أثناء وصفها للحظات الأخيرة من حياة الميرزا غلام تحدثت زوجة الميرزا عن مرحاض الطواريء الذي أعدته للميرزا بجانب سرير الموت حيث قالت نصرة جيهان ما يلي: بعد فترة قصيرة انتابته نوبة أخرى لكن هذه المرة كان ضعفه شديدا جدا بحيث لم يستطع الذهاب إلى الحمام، فقمت بالترتيبات قرب السرير حيث جلس هو هناك لقضاء حاجته، ثم نهض و استلقى على السرير ثم قمت بتدليك قدميه، لكن ضعفه كان شديدا جدا، وبعد ذلك أصابته نوبة أخرى ثم استقاء، و بعد أن انتهى من القيء حاول أن يستلقي لكن ضعفه هذه المرة كان أكثر بحيث لم تحمله يداه فانقلب على ظهره و ضرب رأسه بخشب السرير.

”Ketika isteri Mirza Ghulam Ahmad menggambarkan detik-detik terakhir dari kehidupan Mirza Ghulam Ahmad, maka istri Mirza berkata tentang toilet darurat yang disiapkannya untuk Mirza di samping tempat tidur kematiannya, di mana Nushrat Jihan berkata sebagai berikut, ”Sejenak kemudian, Mirza Ghulam Ahmad terserang lagi kolera, tapi kali ini badannya sangat lemah, sehingga ia tidak kuat untuk pergi ke WC. Maka aku (isteri Mirza Ghulam Ahmad) berdiri di dekat ranjangnya, di mana ia (MGA) duduk di sana untuk buang air besar. Lalu ia pun bangkit dan berbaring di atas ranjangnya, dan kemudian aku pun memijat kakinya. Tapi badannya sangat lemah, dan sejurus kemudian MGA terkena serangan kolera lagi, dan kemudian ia muntah, dan setelah dia (MGA) selesai muntah, dia mencoba untuk berbaring, tapi karena badannya sudah lemah, dan kelemahan kali ini sangat lemah sekali, sehingga kedua tangannya tidak kuat lagi maka MGA pun terjengkakng kepalanya membentur kayu ranjangnya,” (Lihat Siratul Mahdi, jilid 1, hal. 11).



Inilah keterangan menurut penulis buku, ”Bukan Sekedar Hitam Putih,” sebagai berikut, ”Ternyata kita dapatkan keterangannya dalam Hadits sebagai berikut: Dari Jabir bin Atik, bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Mati syahid itu adalah tujuh macam, di luar mati syahid terbunuh di jalan Allah: Orang mati karena penyakit tha'un, itu syahid. Orang mati karena tenggelam, itu syahid. Orang mati karena sakit panas, itu syahid. Orang mati karena sakit perut, itu syahid. Orang mati karena terbakar, itu syahid. Orang mati karena tertimbun reruntuhan, itu mati syahid dan orang mati karena melahirkan, itu mati syahid.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dengan sanad yang Shahih).

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: Rasulullah bertanya “Bagaimana caramu menghitung syahid?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, orang yang mati terbunuh di jalan Allah itu mati syahid.” Rasulullah bersabda: “Jika demikian, orang-orang syahid dari umatku itu sedikit.” Mereka bertanya: “Jika demikian siapa, wahai Rasulullah?” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Orang yang terbunuh di jalan Allah, itu syahid. Orang yang mati di jalan Allah, itu syahid. Orang yang mati terserang penyakit tha'un, itu syahid. Orang yang mati karena penyakit perut, itu syahid. Orang yang mati tenggelam, itu syahid.” (H.R. Muslim). Jadi, tidak diragukan lagi bahwa sakit serta kewafatannya Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah diridhai oleh Allah Ta'ala menurut keterangan Hadits di atas, sebab diare termasuk dalam kategori sakit perut. Dan menurut Hz. Sayyidina Muhammad Musthafa s.a.w., barangsiapa yang wafat karena sakit perut, maka kematiannya digolongkan dalam kematian syahid. (Bukan Sekedar Hitam Putih, hal. 231)

Wah...enak benar...mati konyol setelah mubahalah kok dikatakan mati syahid...beginilah nasibnya para pembela aliran sesat Ahmadiyah...sudah jelas-jelas mati kolera akibat mubahalah, masih saja dikatakan mati syahid dengan memelintir hadits Rasulullah SAW. Boleh saja disebut mati syahid untuk seseorang yang mati dikarenakan penyakit kolera (sakit perut dan lain-lainnya), tetapi dengan syarat jangan sakit kolera setelah mubahalah! Seharusnya para pengikut Ahmadiyah sadar dan bertaubat kepada Allah SWT, jangan malah mengait-ngaitkan sebuah hadits untuk membela kebusukan Mirza Ghulam Ahmad. Untuk apa dibela, dia di akhirat akan dimasukkan ke dalam neraka dan di dunia pun sudah diperlihatkan, betapa busuknya dia sehingga harus meninggal dunia dalam keadaan yang menjijikkan.

2 komentar:

  1. menurut beberapa sumber yang ane baca itu doa dari salah satu pngkutnya sendiri .. jika mizar mmg sesat mizar harus terkena penyakit kolera dan mati dlm keadaan hina ..

    BalasHapus