Minggu, 19 Februari 2012

Orang Sunni di Iran Dilarang Mendapatkan Hak dalam Perekonomian dan Perindustrian

Larangan Mendapatkan Hak

dalam Perekonomian dan Perindustrian



Sebagaimana dalam urursan Angkatan Bersenjata, maka dalam urusan kekayaan industri dan ekonomi pun berada dalam “genggaman” Syi’ah. Yang kami maksudkan dengan “genggaman” Syi’ah di sini adalah mereka memberikan peluang yang sebesar-besarnya kepada masyarakat sipil Syi’ah untuk menjadikan semua kekayaan tersebut berada di tangan mereka, bukan di tangan para pejabat pemerintah Syi’ah.




Pemerintah telah terbiasa melarang Sunny dan seluruh daerah-daerah Sunny untuk menguasai pabrik-pabrik yang ada dan perindustrian-perindustrian raksasa sampai dengan perindustrian-perindustrian kecil. Pemerintah juga tidak memberikan izin untuk membangun atau menyimpan saham mereka di semua pabrik, sampai perusahaan nasional sekalipun. Jika didapatkan pabrik di daerah Sunny, maka bisa dipastikan milik orang Syi’ah, bahkan sampai kota-kota Sunny yang berada di lepas pantai pun, pemerintah melarang para penduduknya untuk mendapatkan – walaupun sekedar – izin pendirian pabrik pengalengan ikan atau izin perusahaan untuk penangkapan ikan. Dan ironisnya, pemerintah memberikan izin-izin tersebut hanya kepada orang Syi’ah. Hal itu menjadikan penduduk lepas pantai Sunny yang bekerja untuk menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dari penangkapan ikan selalu dihantui rasa takut terhadap petugas yang akan menangkap mereka. Seperti biasanya, mereka ditangkap dengan tuduhan tidak memiliki izin penangkapan ikan.

Oleh karena itu, semua kekayaan ikan tersebut dibawa ke pusat-pusat kota yang dihuni oleh orang-orang Syi’ah, seperti kota Teheran dan lainnya. Sementara pada waktu yang bersamaan, Anda dapati penduduk Sunny lepas pantai selalu direpotkan dengan kekurangan ikan. Bahkan, sampai mereka tidak mendapatkannya sama sekali, karena takut akan hukuman yang akan dijatuhkan kepada mereka bila tertangkap, dan dikenakan tuduhan serupa.

Adapun dalam dunia perdagangan, ekspor dan impor, maka sebagaimana telah kami sebutkan, sesungguhnya orang-orang Sunny terlarang untuk mendapatkan seluruh lisensi perdagangan. Oleh karena itu, maka semua bahan pokok seperti beras, gula, mentega, dan kebutuhan pokok lainnya, hampir tidak sampai kepada komunitas Sunny, kecuali dengan cara melarikannya dari negara-negara tetangga, seperti negara-negara Teluk dan Pakistan. Dan kalau bukan karena pertolongan Allah serta bantuan dari masyarakat dekatnya, yaitu negara-negara tetangga tersebut, tentu kelaparan akan menimpa penduduk Sunny Iran. Ironisnya, di balik larangan yang keras terhadap Sunny dalam mendapatkan lisensi usaha itu, terdapat kemudahan yang luar biasa bagi orang-orang Syi’’ah, terutama orang-orang Syi’ah yang tinggal di daerah Sunny.

Tekanan-tekanan seperti ini tidak hanya terbatas dalam mendapatkan lisensi saja, akan tetapi lebih parah lagi dalam hal penentuan pajak yang sangat besar sekali terhadap para pengusaha kelontong, yang kisarannya mencapai lima puluh kali lipat dari pajak para pengusaha kelontong Syi’ah. Tekanan ini di luar apa yang juga dilakukan oleh pemerintah daerah, yaitu berbagai pertanyaan yang diajukan pada saat pertama kali mengisi formulir permohonan. Di antaranya adalah pertanyaan mengenai madzhab pengusaha – hal itu sudah menjadi satu kemestian dalam dunia perdagangan, birokrasi, dan pendidikan – dan berdasarkan jawaban dari pertanyaan tersebut, proses yang dilewati penuh dengan kesulitan-kesulitan yang rutin dibuat pemerintah (atas dasar kebohongan), terkadang atas nama kebersihan dan di waktu yang lain atas dasar pergantian dekorasi atau atas nama asuransi, dll. Sehingga para pengusaha kelontong tersebut merasa bosan dengan profesinya itu, yang secara otomatis hal ini memberi kesempatan yang sangat besar bagi orang-orang Syi’ah untuk menguasai ekonomi Sunny.

Akhirnya, saya katakan di sini bahwa para pengusaha Sunny diperlakukan secara diskriminatif, seperti perlakuan terhadap para pengusaha obat-obatan terlarang, yaitu dari segi tekanan-tekanan dan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar