Rabu, 15 Februari 2012

Tafsir Al-Asma Al-Husna versi ESQ

Penyelewengan Tafsir Al-Asma Al-Husna versi ESQ 
Akhir-akhir ini di antara pemberitaan yang sedang hangat adalah masalah fatwa sesat yang dikeluarkan oleh Mufti Malaysia perihal ESQ Ary Ginanjar. Fatwa Mufti Malaysia itu ditandatangani oleh Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, yaitu Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh tanggal 10 Juni 2010, dan dirilis dalam situs resmi pemerintah Malaysia www.muftiwp.gov.my, Rabu (7/7/2010). Oleh Mufti Malaysia, ESQ dianggap ajaran yang dapat merusak akidah serta syariah Islam.





Ciri-cirinya, menurut Mufti Malaysia adalah:
1. ESQ mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Al-Quran dan As-Sunnah secara bebas. Contohnya menafsirkan Al-Asma Al-Husna sesuai dengan misi ESQ. Al-Muhaimin menurut ESQ diartikan: “Saya ingin selalu memelihara dan merawat.” Padahal tafsir makna Al-Muhaimin menurut para ulama adalah bahwa Allah SWT adalah Dzat yang mengawasi semua makhluk-Nya; terhadap amal perbuatan, ajal (batasan umur) dan rezeki mereka dan hal-hal lainnya. Ar-Razzaq ditafsirkan dengan "saya ingin selalu memberi {praktek}." Padahal tafsir yang benar adalah kita umat Islam dianjurkan untuk berdoa kepada Allah SWT dengan cara bertawasul dengan nama-nama-Nya yang indah (Al-Asma Al-Husna) QS Al-A'raf [07]: 180. Misalnya ada seorang pedagang yang akan pergi ke pasar, dia berdoa, "Wahai Allah Dzat yang Maha Memberi rezeki (Ar-Razzaaq), berilah saya rezeki pada hari ini." Dalam bahasa Arabnya, "Yaa Razzaaq, urzuqnii haadzal yauma!" Terus tafsir yang kedua bahwa seorang mukmin yang sejati, ketika dia mempunyai masalah dalam rezekinya, misalnya dia baru saja di-PHK dari kantornya, maka dia tidak akan mungkin akan bunuh diri dengan sebab PHK tersebut. Karena, dia yakin bahwa dia mempunyai Tuhan yang Maha Memberi rezeki, yaitu Allah yang mempunyai nama dan sifat Ar-Razzaaq. Dia bisa berusaha di bidang perdagangan, menjadi penjual jasa dan lain-lainnya. kalau mau mencontoh, maka bukan mencontoh Allah dengan ke-99 nama dan sifat-Nya. Tapi contohlah Rasulullah SAW sebagaimana bunyi QS Al-Ahzab [33]: 21 bahwa dalam diri Rasulullah SAW ada suri tauladan yang baik.  
2. ESQ menekankan konsep ‘suara hati’ sebagai rujukan utama dalam menentukan baik buruknya suatu perbuatan. Padahal di dalam Islam tidak dikenal istilah suara hati. Sumber kebenaran itu buikan berasal dari suara hati, tetapi dari petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Kalau suara hati manusia mungkin di dalam Al-Qur`an disebut dengan “an-nafsu” atau keinginan jiwa. Dalam hal ini justru Allah SWT menjelaskan bahwa kecenderungan “keinginan jiwa” manusia adalah mengarah kepada hal-hal buruk. Allah SWT berfirman, “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang,” (QS Yusuf [12]: 53).
3. ESQ juga dianggap mengingkari mukjizat karena bertentangan dengan keadaan zaman sekarang yang serba logik, dan tidak dapat diterima akal. Perkataan ini bisa dirujuk ke buku asli ESQ, “Itulah tanda bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan nabi penutup atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati, bukan mukjizat-mukjizat ajaib semata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat saat ini.” (Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual karangan Ary Ginanjar Agustian Cet XIX, hal. 100, Penerbit Arga, Jakarta Indonesia, Telp (021) 769 6654 Faks (021) 769 6645).
4. ESQ juga dianggap mengedepankan suara hati. “Seperti yang sudah saya bahas pada Bagian Dua (khususnya pada Prinsip Bintang) bahwa, kecerdasan emosi dan spiritual bersumber dari suara-suara hati. Sedangkan suara-suara hati itu ternyata berasal dan sama persis dengan nama dan sifat-sifat ilahiyah yang telah terekam di dalam jiwa setiap manusia, seperti dorongan ingin mulia, dorongan ingin belajar, dorongan ingin bijaksana dan dorongan-dorongan lainnya (99 Thinking Hats).” (ibid, hal. 200). Padahal kalau saja anggapan ini benar, tentu setiap orang yang telah “lulus” mengikuti Training ESQ yang “mahal” di hotel berbintang tidak akan melakukan banyak kejahatan. Toh buktinya para pejabat yang telah mengikuti Training ESQ tetap saja melakukan KORUPSI. Hal ini dikarenakan bahwa dorongan hati manusia itu selalu mengarah kepada keburukan, kecuali manusia yang dirahmati oleh Allah SWT. (lihat terjemah QS Yusuf [12]: 53).
Memang, di dalam Al-Qur`an Allah SWT ada menyematkan kata-kata yang serumpun dengan Al-Asma Al-Husna terhadap manusia. Contohnya adalah sebagai berikut:
1. Firman Allah SWT, QS Yusuf [12]: 30:

وَقَالَ نِسْوَةٌ فِيْ الْمَدِيْنَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيْزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ...

Allah SWT menyematkan kata “al-‘aziiz” kepada kata “imra`ah/perempuan.” Akan tetapi, maknanya jauh berbeda dengan makna hakiki dari kata al-‘aziiz yang merupakan salah satu dari nama Allah SWT.

2. Firman Allah SWT di dalam QS Ash-Shaffat [37]: 101:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيْمٍ

Tentu makna ‘haliim’ di dalam ayat ini yang disematkan kepada Ismail AS berbeda maknanya dengan makna hakiki dari Al-Asma Al-Husna ‘al-haliim’ milik Allah SWT.

Semoga saja, ESQ bisa berlapang dada menerima kritikan ini dan secepatnya merubah dan memperbaiki kesalahan mereka dan meminta maaf kepada umat Islam.

Wasalam,


Ar-Risalah Institute

Tidak ada komentar:

Posting Komentar