Rabu, 15 Februari 2012

Tafsir Al-Asma Al-Husna

Tafsir Asmaul Husna yang Benar 
oleh ust Dudung Ramdani, Lc
Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia mempunyai nama-nama yang sangat indah. Nama-nama tersebut sangat banyak, tidak terpaku kepada angka 99 nama. Akan tetapi yang lebih dikenal oleh kaum muslimin bahwa nama-nama Allah SWT itu berjumlah 99 nama yang dikenal dengan sebutan Alsmaul Husna-Asma Al-Husna.
Ketika seorang muslim telah mengetahui masalah ini, maka yang harus dia lakukan terhadap Al-Asma Al-Husna milik Allah SWT tersebut adalah : (Lihat kitab Al-Qoulul Mufiid 'alaa Kitaabit Tauhiid, jilid 2 hal. 315-316 karya Syaikh Utsaimin cet. Saudi Arabia)1. Berdoa kepada Allah SWT dengan menggunakan nama-nama-Nya tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, “Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf [07]: 180). 





Seperti berdoa sebagai berikut (cuplikan doa Abu Bakar RA):
 فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَ ارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
 "Oleh karena itu, ampunilah aku dengan sebuah ampunan dari-Mu dan sayangilah aku, sebab Engkau lah Dzat yang Mama Pengampun dan Maha Penyayang."

2. Beribadah kepada Allah SWT dengan mengimani Al-Asma Al-Husna tersebut. Apabila kita yakin bahwa Allah SWT itu Maha Penyayang, maka kita harus optimis dengan kasih sayang-Nya, dan apabila kita meyakini bahwa Allah SWT itu Maha Mendengar, maka kita harus selalu menjaga ucapan kita, jangan sampai salah ucap, dan apabila kita meyakini bahwa Allah SWT itu Maha Melihat, maka kita harus menghindari segala perbuatan yang tidak diridhai-Nya, karena Allah SWT melihatnya, dan apabila kita meyakini bahwa Allah SWT Maha Keras siksa-Nya, maka jauhkanlah diri kita dari segala macam dosa, dan apabila Allah itu Ar-Razzaaq [Maha Memberi Rezeki], maka kita jangan pesimis akan rezeki Allah SWT.

 Akan tetapi yang dilakukan oleh "seorang penulis" adalah dengan menafsirkan Al-Asma Al-Husna ini dengan dikaitkan untuk diri manusia. Misalnya Allah SWT Maha Memberi rezeki, maka padanannya adalah "Saya ingin selalu memberi [praktek]." Penjabaran seperti ini belum pernah dijelaskan oleh para ulama, baik salaf maupun kholaf. Karena jika tafsirannya seperti itu, seolah-olah manusia diwajibkan untuk mencontoh Allah SWT. Padahal hadits yang menyatakan "contohlah akhlak Allah" adalah berderajat palsu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnul Izz Ad-Dimasyqi di dalam kitabnya Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyyah hal. 88. Kalau manusia mau mencontoh, maka contohlah Rasulullah SAW. Sebab dalam diri beliau ada suri tauladan yang sangat baik (QS Al-Ahzab [33]: 21), dan bukan mencontoh Allah SWT.
 

Wallahu A’lam.


Ar-Risalah Institute 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar