Kamis, 16 Februari 2012

Ucapan Jujur Sayuti Aziz Ahmad

H. Sayuti Aziz Ahmad Kutipan dari INDO POS, hal. 17 tahun 2005.
Kehidupan Sehari-hari Tokoh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (4-Habis)
”Jika Ada Permusuhan, Seolah-olah Jadi Teman Setianya”

"Untuk dapat menjalankan titah Nabi Mirza Ghulam Ahmad, umatnya harus memahami isi ”Kitab suci” Tazkiroh. Uniknya, umatnya justru banyak yang rajin membaca Alquranul karim."

JIKA kitab suci Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad berbahasa Arab, tidak halnya dengan ”kitab suci” yang diwahyukan kepada Nabi Mirza Ghulam Ahmad a.s. ”Kitab suci”-nya Ahmadiyah ini menggunakan lima bahasa, yaitu Arab, Urdu, Parsi, Inggris, dan Punjabi. Hal inilah yang membuat umat Ahmadiyah ini sulit membaca dan memahami ”kitab suci” yang diberi nama Tazkiroh itu.

Karena itu, jihad kita sekarang adalah memajukan pendidikan dan pengajaran,” ujar H. Sayuti Aziz Ahmad, kepala dakwah Jemaat Ahmadiyah Indonesia”. Orang pertama yang menjadi objek dakwah atau pengajarannya tentu saja istri dan anaknya. Sebab, logikanya, bagaimana mau berdakwah kepada orang lain jika keluarganya sendiri masih belum mengetahui. Sayuti yang menguasai bahasa Urdu ini mengatakan, meskipun sangat sibuk melakukan dakwah di luar, dia tetap meluangkan waktu memberikan pengajaran kepada keluarganya. Paling tidak minimal seminggu sekali. Alumnus Al Jami’atul Islamiyah Rabwah Pakistan ini tidak hanya mengajarkan bahasa Urdu dan Parsi. ”Setelah mengajarkan bahasanya, saya kemudian menerangkan maknanya,” ujarnya. Sayuti memang harus ekstra keras memberikan pengajaran. Pasalnya, keempat anaknya mempunyai latar belakang pendidikan yang sama sekali berbeda dengan orangtuanya. Keempat anaknya tidak satu pun yang kuliah di perguruan tinggi Islam. Anak pertamanya, Haris Abdul Bari, 29, lulusan Fakultas Ekonomi. Kedua, Sya’adat Ahmad, 24, lulusan FISIP Unpad. Ketiga, Mardiyah, 20, lulusan Fakultas Teknik. Keempat, Athiyatul Alim, 18, lulusan Akuntansi Unpad. ”Tapi saya tidak boleh patah semangat. Semua anak saya harus mengerti agama,” terangnya.
Namun, Sayuti sendiri mengaku kesulitan saat mengajarkan kitab Tazkiroh. Pasalnya, dia hanya memahami bahasa Arab, Punjabi, dan Urdu. Dua bahasa lainnya, Parsi dan Inggris, dia sama sekali tidak menguasainya. ”Ya, akhirnya, saya hanya mengajarkan apa yang saya ketahui,” terangnya.
Nah, setelah dipahamkan tentang isi kitab Tazkiroh yang kebanyakan berisi tentang kerasulan Mirza Ghulam Ahmad, sebagaimana keluarga Ahmadiyah lainnya, Sayuti pun mengajak istrinya, Hj. Afifah, dan keempat anaknya berbaiat atau janji setia agar beriman kepada Nabi Mirza Ghulam Ahmad a.s. Baiat ini dilakukan di depan pemimpin Ahmadiyah atau istilahnya khalifah.
”Alhamdulillah keluarga saya sekarang sudah seiman. Semuanya kini menjadi pengurus Ahmadiyah. Bagaimana interaksi dengan orang lain dan tetangga selama ini?
Sayuti yang juga pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung ini mengatakan, hubungan dengan sesama manusia itu harus baik. Sebab, kata dia, Allah akan menghinakan manusia jika mereka tidak mau menjalin hubungan baik dengan Allah maupun dengan sesamanya. ”Ya, seperti yang telah diajarkan Rasulullah Muhammad dan Mirza Ghulam Ahmad. Harus saling menolong sesama, tidak simbong dan lain-lain,” terangnya, Bagaimana dengan orang-orang membenci karena berbeda keyakinan dan bahkan sampai berbuat anarki terhadap jemaat Ahmadiyah?
”Fa idza bainaka wa bainahum, adawtun kaannahum walittun halimun. Jika di antara kamu dan mereka ada permusuhan, seolah-olah menjadi teman yang setia. Tolaklah kejahatan dengan cara yang baik,” kata Sayuti mengutip surat Al-Fushilat ayat 34. Dia menjalankan, anarkisme mereka tidak bisa dibalas dengan anarkisme serupa, melainkan harus dijawab dengan dakwah yang baik dan bijaksana. (habis/ariyanto de carlos).

Lihatlah, tokoh Ahmadiyah ini dengan jujur mengatakan, ”Untuk dapat menjalankan titah Nabi Mirza Ghulam Ahmad, umatnya harus memahami isi ”Kitab suci” Tazkiroh. Uniknya, umatnya justru banyak yang rajin membaca Alquranul karim.” Saya yakin, kalau seorang nabi mempunyai ”wahyu muqaddas” dan sekarang sudah dibukukan, tentu dia akan lebih suka untuk membaca dan membamgakan kitab sucinya sendiri. Seperti halnya umat Kristiani yang memegang teguh kitab Biblenya. Mereka tidak mungkin akan mentgaku kalau Al-Qur`an itu adalah kitab suci mereka, padahal merkea beragama nasrani. Mereka tentu akan mengatakan, ”Saya Nasrani dan ini, Bible, kitab suci saya!” Sangat berbeda dengan orang-orang Ahmadiyah. Mereka memiliki banyak perbedaan dengan kaum muslimin, tetapi mereka mengaku muslim dan mengaku kitab suci Al-Qur`an sebagai kitab suci mereka, padahal mereka mempunyai ”wahyu suci” dari nabi mereka. Aneh memang!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar