Senin, 19 Maret 2012

Ajaran Sesat Syiah Yang Lainnya

            MUI sebagai wadah yang menampung para ulama di Indonesia telah membuat sebuah pedoman di dalam mengidentifikasi aliran sesat di Indonesia.
            Untuk mempersingkat, kami langsung saja ke pokok pembahasan, yaitu menimbang ajaran Syi’ah dari sisi pedoman identifikasi aliran sesat MUI Pusat, apakah layak Syi’ah dicap sesat ataukah tidak?
            Berikut kutipannya :

PEDOMAN IDENTIFIKASI ALIRAN SESAT
MAJELIS ULAMA INDONESIA

MUKADDIMAH

Bismillahirrohmanirrohiem

Kebebasan, khususnya dalam kehidupan beragama, yang terjadi pada era reformasi telah melahirkan banyak peluang dan sekaligus tantangan. Di satu sisi berbagai aktifitas dakwah berjalan dengan lancar dan berbagai nilai Islam yang mendasar dengan leluasa disuarakan tanpa hambatan yang berarti. Tapi di sisi lain, dengan kebebasan itu pula aliran sesat atau kelompok yang menyuarakan pemikiran, paham dan aktifitas yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam juga dengan leluasa bergerak dan berkembang di tengah masyarakat.

Pemikiran, faham dan aktifitas yang bertentangan dengan aqidah dan syariah tentu tidak boleh berkembang begitu saja di tengah masyarakat karena pasti akan menimbulkan keresahan umat disamping akan menimbulkan korban dari kalangan umat yang telah disesatkan. Oleh karena itu, harus ada upaya sungguh-sungguh untuk menangkal dan menghentikan aliran itu dan menyadarkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar.




Ulama sebagai pewaris nabi memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam membimbing umat untuk tetap istiqamah menjalankan nilai-nilai Islam yang benar sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu, ulama harus bersikap tegas, arif dan bijaksana terhadap setiap penyimpangan baik terkait dengan aqidah maupun syariah Islam. Ketidak tegasan sikap akan membuat penyimpangan dalam aqidah dan syariah semakin marak dan meluas.

MUI sebagai wadah para ulama dan zuama serta cendikiawan muslim harus mengambil peran aktif dalam menjaga nilai-nilai Islam dan melindungi umat dari setiap paham dan aliran yang menyimpang, diantaranya dengan menetapkan pedoman untuk menyikapi suatu kelompok atau aliran tersebut sesat atau tidak, berdasarkan analisa, kajian dan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Penetapan ini akan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menilai suatu faham, sehingga bisa menyikapinya dengan benar.....

.......

BAB VI
KRITERIA SESAT

Suatu faham atau aliran keagamaan dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dari kriteria berikut :
1.     Mengingkari salah satu rukun dari rukun iman yang 6 (enam) yakni beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepda kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul-Nya, kepada Hari Akhirat, kepada Qadla dan Qadar dan rukun Islam yang 5 (lima) yakni mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji.
2.     Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunah);
3.     Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an;
4.     Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an;
5.     Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir;
6.     Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam;
7.     Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul;
8.     Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir;
9.     Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh Syari’ah, seperti haji tidak boleh ke Baitullah, shalat fardu tidak 5 waktu.
10.  Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

BAB VII
PENUTUP
......

Ditetapkan di
: Jakarta
Pada tanggal
: 25 Syawal 1428 H

  6 Nopember 2007 M
MAJELIS ULAMA INDONESIA
BADAN PENGURUS HARIAN

                    
Ketua Umum,

Sekretaris Umum,
ttd



Cap MUI
ttd
DR. SAHAL MAHFUDH

Drs. ICHWAN SAM

 
Mari kita simak Rukun Iman dan Rukun Islam versi Syi’ah :

Rukun Iman Syi’ah :
  1. Percaya kepada Keesaan Allah SWT (At-Tauhid)
  2. Percaya kepada Keadilan (Al-Adalah)
  3. Percaya kepada Kenabian (An-Nubuwwah)
  4. Percaya kepada Imamah (Al-Imamah)
  5. Percaya kepada Hari Kiamat (Al-Ma’ad)

Rukun Islam Syi’ah
1.     Shalat
2.     Puasa
3.     Zakat
4.     Haji
5.     Al-Wilayah (Kekuasaan Imam)

Berdasarkan data-data di atas disimpulkan bahwa Syi’ah telah mengingkari salah satu dari Rukun Iman yang 6 (Enam), yaitu tidak percaya kepada Qada dan Qadar dari Allah SWT di dalam Rukun Imam mereka.

Kemudian di dalam Rukun Islam, Syi’ah tidak mencantumkan kewajiban mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini berarti bahwa Syi’ah telah mengingkari salah satu Rukun Islam yang 5 (Lima).

BENTUK-BENTUK PENYIMPANGAN SYIAH :

1. Menyelewengkan ayat Al-Qur`an.
            
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah,” (QS Al-Qasas [28]: 88).
Imam Shadiq as dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah Allah…” berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 22).

Sedangkan Ahlu Sunnah memahami bahwa yang dimaksud dengan wajah di dalam ayat di atas adalah Allah SWT dan bukan Ali.

2. Memandang wajah Ali adalah ibadah.
”Bukanlah tanpa dalil bahwa namanya diambil dari nama Allah, pikiran dia adalah pikiran Allah hingga jika memandangnya maka dinilai sebagai perbuatan ibadah kepada Allah. Begitu halnya dalam hadis yang telah diriwayatkan oleh Nabi saw sang pembawa rahmat bagi semesta alam, ”Memandang Ali adalah ibadah.” Dalam keterangan lain, ”Memandang wajah Ali adalah ibadah.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 24).

3. Alam diciptakan setelah penciptaan 14 Imam Suci.
”Diriwayatkan juga bahwa alam diciptakan setelah penciptaan Empat Belas Manusia Suci as. Dalam riwayat lain diberitakan bahwa para malaikat diciptakan berasal dari cahaya Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 28).

4. Manusia lebih dahulu bertasbih dan mensucikan Allah SWT.
”...Bagaimana hal itu tidak menjadikan kita lebih mulia daripada para malaikat? Kita terlebih dahulu bermakrifat kepada Allah, bertasbih dan menyucikan-Nya. Awal suatu keberadaan yang telah Allah ciptakan adalah arwah-arwah kita dan telah (terlebih dahulu) bertauhid dan memuji kepada-Nya.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 34).

5. 14 Imam Suci lebih hebat dari malaikat.
”Kita mengajarkan tahlil kepada para malaikat, bahwa tidak ada tuhan selain-Nya dan kita adalah hamba-Nya.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 34).

6. 14 Imam Suci sebagai perantara para malaikat menerima hidayah Allah SWT.
”Melalui perantara kitalah malaikat diberi petunjuk untuk bertauhid, bertasbih, bertahlil dan memuji Allah.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 34).

7. Malaikat Jibril diajari oleh Ali as.
...’Ya, dikarenakan dia memiliki hak pengajaran kepadaku.’ Rasul saw berkata, ”Apakah hak itu? Jibril menjelaskan, ’Ketika Allah menciptakanku, lalu Dia menanyaiku, ’Siapakah engkau, siapa namamu, siapa Aku dan siapa nama Aku? Saya merasa kikuk, apa yang harus aku jawab, secara tiba-tiba seorang pemuda (Ali as), manifestasi dari Alam Nuraniyah berkata, ’Katakanlah! Engkau adalah Tuhan Yang Maha Agung, nama-Mu Indah, dan aku adalah hamba-Mu yang hina-dina, namaku Jibril.’  (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 35).

8. Keagungan Ali as akan nampak di hari kiamat.
”...dan di hari kiamat keagungan beliau as akan tampak di hadapan para nabi as, para wali, malaikat dan seluruh makhluk.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 39).

9. Ali adalah penghitung amal perbuatan manusia di hari kiamat.
”Keimanan dan perbuatan kaum mukmin haruslah sesuai dengan keimanan dan perbuatan Imam Ali as. Melalui perhitungan ini, salah satu makna dari ’neraca’ di hari kiamat adalah Imam Ali as. Imam Ali as adalah penghitung amal perbuatan di hari kiamat.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 41).

10. Ali adalah yang akan mengazab penduduk neraka.
”...Aku adalah yang paling utama dari Bani Adam dan aku akan menghisab (perbuatan) makhluk Allah (manusia) serta memberikan azab bagi penghuni neraka di tempat-tempat mereka.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 41).

11. Ali adalah hakim di hari kiamat.
”Imam Ali as adalah hakim yang mengadili di hari kiamat sesuai dengan keadilan Ilahi. Beliau adalah pemilik telaga Kautsar dan pembagi surga dan neraka (yang menentukan derajat surga dan neraka bagi para makhluk-Nya).” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 42).

12. Api neraka taat kepada Ali.
”...Amirul Mukminin memerintahkan kepada api neraka untuk tidak membakarnya.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 43).

13. Yang dimaksud ulil amri adalah Ali as.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil-amri di antara kamu.” Bagian ketiga: Ayat-ayat khusus yang berkenaan dengan Imam Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 49).

14. Menyelewengkan tafsir ayat-ayat Al-Qur`an
“Dan sesungguhnya dia (Ali as) dalam induk al-Kitab (Lauhul-mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 49).
                  
”Dan sesungguhnya Al Qur'an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah,” (QS. Az-Zukhruf [43]: 4).

15. Doa Nudbah adalah untuk Ali as.
”Dalam Doa Nudbah ada kata ’li ’Aliyyi(n)’ yang tafsirannya adalah Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 49).
                 
”Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia,” (QS Maryam [19]: 50).

16. Makna ayat, ’telinga yang mau mendengar’ adalah ditujukan kepada Ali as.
”Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. Yang dimaksud dengan ’telinga yang mau mendengar’ adalah Ali as, yang memahami kedalaman (kandungan makna) Al-Qur`an.”(Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 50).

17. Ali adalah penyeru di hari kiamat.
“Kemudian seorang penyeru mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim.” Imam Ali as adalah seorang penyeru di hari Kiamat, yakni menetapkan siapa yang akan menjadi penghuni neraka dan siapa yang akan menjadi penghuni kebaikan (surga). (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 50).
                                                          
“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?" Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Betul". Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,” (QS Al-A’raf [07]: 44).
18. Yang dimaksud kalian adalah ‘umat terbaik’ adalah Ahlulbait.
“Dalam riwayat Jabir dari Imam Baqir as, bahwa beliau as berkata, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” adalah Ahlulbait Nabi (saw).”
….Yakni Ahlulbait yang maksum dan suci.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 135).

19. Ali dan para pengikutnya adalah sebaik-baik makhluk.
‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.’
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Aden yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”
Maka dari turunnya ayat ini, Nabi saw berkata kepda Ali as, “Wahai Ali! Engkau dan Syiahmu adalah sebaik-baik makhluk dan di hari Kiamat kelak (kalian) akan senang dan dicintai.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 159).

                                                                        
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya,” (QS Al-Bayyinah [98]: 7-8).

20. Yang dimaksud dengan Golongan Kanan adalah Syiah.
“Syiah yang memiliki amal-amal saleh, hingga mereka mengetahui dan mampu untuk taat kepada beliau as. Dalam al-Quran mereka adalah sahabat ‘yamin’ (golongan kanan).” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 167).

21. Para Imam Syiah mempunyai mukjizat.
”Lebih dari seribu tahun yang lalu, para manusia suci as telah mengabarkan dari penemuan mereka atas hauzah ilmiah Qum. Ini adalah mukjizat lain dari para imam dan dalil yang jelas bagi kebenaran mazhab yang selamat, yakni Syiah,” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 168).

22. Mengganti kewajiban membaca Al-Fatihah ketika shalat.
“Pada rakaat ketiga salat Magrib dan pada dua rakaat terakhir salat Zuhur, Asar, dan Isya, orang boleh memilih antara membaca al-Fatihah dan membaca :
سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ.
sekali. Namun disunnahkan membacanya tiga kali.” (Fiqih Ja’fari, hal. 162).

23. Membolehkan shalat dalam keadaan telanjang.
“Imam Shadiq (as) ditanya tentang seorang lelaki yang keluar telanjang, kemudian dating waktu salat. Beliau berkata, “Ia salat telanjang dengan berdiri bila tidak ada yang melihatnya, dan dengan duduk bila ada yang melihatnya.” (Fiqih Ja’fari, hal. 141).

24. Tentang air yang terkena najis.
“Air yang bekas digunakan untuk membersihkan tempat keluarnya kencing dan tinja adalah suci dengan syarat ia tidak berubah karena najis tersebut, tidak ada najis dari luar yang mengenainya, kencing atau tinja yang keluar itu tidak meluber ke mana, tidak ada darah yang keluar bersamanya, dan tidak terdapat bagian-bagian tinja pada air tersebut.” (Fiqih Ja’fari, hal.  43).

Berdasarkan dari data-data di atas, kami simpulkan bahwa ajaran Syi’ah adalah ajaran yang meyimpang, juga sesat dan menyesatkan.

Wasalam,


Ar-Risalah Institute






































Tidak ada komentar:

Posting Komentar