Minggu, 25 Maret 2012

Kitab Syiah Berbicara

 Berikut ini, akan kami paparkan sebagian penyimpangan Syiah dan sikap mereka terhadap Ahlu Sunnah. Silahkan diamati dan diperhatikan, apakah Syiah itu menyimpang ataukah tidak? Bagi Anda yang masih mempunyai semangat keislaman, tentu akan langsung mengatakan jika ajaran Syiah adalah ajaran menyimpang dari Islam.
Sengaja kami kutipkan langsung dari buku-buku asli mereka. Semoga kaum muslimin selamat dari makar mereka. Alloohumma aamiin.
Berikut ini kutipannya :

AJARAN SYIAH ITSNA ASYARIYYAH
Oleh Ar-Risalah Institute 

No.
KEYAKINAN SYIAH
1.
Mengingkari Salah Satu Rukun Iman dan Rukun Islam

Pada Rukun Iman.
Syi’ah hanya memiliki 5 (lima) Rukun Iman, tanpa menyebut keimanan kepada Malaikat, Rasul, serta Qadha dan Qadar, yaitu: (1) Tauhid (Keesaan Allah); (2) Al-Adl (Keadilan Allah); (3) Nubuwwah (Kenabian); (4) Imamah (Kepemimpinan Imam); (5) Ma’ad (Hari Kebangkitan dan Pembalasan).

Pada Rukun Islam.
Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dalam Rukun Islam mereka. Rukun Islam mereka, yaitu: (1) Shalat; (2) Zakat; (3) Puasa; (4) Haji; (5) Wilayah (Perwalian). (lihat Ushuul Al-Kaafie juz 2 hal. 18)
روى الكليني بسنده عن أبي جعفر قال: بني الإسلام على خمس: على الصلاة و الزكاة و الصوم و الحج و الولاية و لم يناد بشيء كما نودي بالولاية.
"Al-Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Abi Ja'far dia berkata, "Islam itu dibangun atas 5 dasar, yaitu : Shalat, zakat, shaum, haji dan al-wilayah. Tidak ada yang beliau (Abu Ja'far) tekankan sebagaimana beliau menekankan rukun al-wilayah ini." (Ushuul Al-Kaafie, 2: 18).
Syahadat Syiah berbeda dengan syahadat Ahlu Sunnah. Sebab syahadat Syiah terdiri dari syahadat : Laa ilaaha illallaah; “Tidak ada tuhan selain Allah” dan syahadat: “Bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah” dan mereka menambahkan syahadat: “Bahwasanya Ali adalah Wali Allah.”

Disebutkan di dalam kitab Syiah, Al-Furu' minal Kaafie 1/34, Tahdziibul Ahkaam 1/82 dan Wasaail Asy-Syii'ah 2/665.
عن أبي بصير عن أبي جعفر قال: ...لقنوا موتاكم عند الموت شهادة أن لا إله إلا الله و الولاية.  
"Dari Abi Bashier dari Abi Ja'far dia berkata, "Talkinkanlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan syahadat laa ilaaha illallaah (Tidak ada tuhan selain Allah) dan al-wilayah (aku bersaksi bahwa Ali adalah Wali Allah)."
2.
Syiah menolak Al-Qur`an yang dibaca Ahlu Sunnah

Disebutkan di dalam kitab Syiah, Al-Hujjah minal Kaafie /26, hadits no. 1:
ما ادعى أحد من الناس أنه جمع القرآن كله كما أنزل إلا كذاب و ما جمعه و حفظه كما نزله الله تعالى إلا علي بن أبي طالب و الأئمة من بعده.
"Tidak ada seorang pun dari umat manusia yang mengaku bahwa dia telah mengumpulkan Al-Qur`an sebagaimana yang diturunkan oleh Allah, kecuali dia itu adalah pendusta. Dan tidak ada yang mengumpulkan dan menghafalnya seperti yang diturunkan oleh Allah Ta'ala kecuali Ali bin Abi Thalib dan para imam setelah beliau."
 
3.
Meyakini Turunnya wahyu setelah al-qur`an

Syiah meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur`an, yaitu Mushaf Fathimah yang diturunkan kepada Siti Fatimah melalui Malaikat Jibril yang berjumlah 17.000 ayat (kitab Al-Kaafie 1/239), yang masih disembunyikan oleh Imam Mahdi (Muhammad bin Hasan Al-Askari), mulai dari Ghaib Kubra yang bersembunyi di gua Samarro (Iraq) sejak tahun 329 H yang selalu diziarahi oleh orang-orang Syiah dan memohon agar segera keluar untuk memimpin dunia. (inilah keyakinan Syiah)
Di dalam kitab Ushuulu Madzhabi Asy-Syiiah 2/102 :
إن الله تعالى لما قبض نبيه صلى الله عليه وسلم دخل على فاطمة عليها السلام من وفاته من الحزن ما لا يعلمه إلا الله عز وجل فأرسل الله إليها ملكا يسلي غمها و يحدثها فشكت ذلك إلى أمير المؤمنين رضي الله عنه فقال: إذا أحسست بذلك و سمعت الصوت قولي لي فأعلمته بذلك فجعل أمير المؤمنين رضي الله يكتب كل ما سمع حتى أثبت من ذلك مصحفا...أما إنه ليس فيه شيء من الحلال و الحرام و لكن فيه علم ما يكون.
“Sesungguhnya tatkala Allah SWT mewafatkan nabi-Nya SAW, maka Fatimah AS merasa sedih atas wafatnya beliau tersebut, yang rasa sedihnya tidak ada yang tahu kecuali Allah Azza wa Jalla. Maka Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk menemui Fatimah untuk meringankan rasa sedihnya dan menghiburnya. Maka Fatimah pun mengadukan hal ini kepada Amirul Mukminin RA, maka dia berkata, ‘Jika engkau (Fatimah) merasakan kembali hal tersebut dan engkau mendengarkan suara, maka katakanlah kepada aku. Maka Fatimah pun memberitahukan hal tersebut kepada Ali. Maka Ali mulai mencatat semua yang dia dengar (dari Fatimah) sampai menjadi sebuah mushaf…di dalam mushaf Fatimah ini tidak mengandung halal dan haram, akan tetapi berisi tentang ramalan yang akan terjadi.”
Di dalam kitab Al-Anwaar An-Nu'maaniyyah, jilid 2/360-362 disebutkan :
قال شيخهم نعمة الله الجزائري إنه قد استفاض في الأخبار أن القرآن كما أنزل لم يؤلفه إلا أمير المؤمنين –إلى أن قال – وهو الآن موجود عند مولانا المهدي رضي الله عنه مع الكتب السماوية و مواريث الأنبياء.
“Telah berkata Syaikh mereka yaitu Nikmatullah Al-Jazairi bahwasanya telah tersebar kabar bahwa tidak ada yang mampu menyusun Al-Qur`an seperti yang diturunkan kecuali Amirul Mukminin -sampai dia mengucapkjan- Al-Qur`an tersebut sekarang berada di sisi Paduka kami Al-Mahdi RA berikut kitab-kitab samawi lainnya dan peninggalan para nabi.”
4.
Mengingkari keotentikan dan kebenaran al-qur`an

Syiah meyakini bahwa Al-Qur`an Utsmani tidak asli, karena telah dirubah oleh para sahabat. Ahlu Sunnah berkata bahwa jumlah seluruh ayat di dalam Al-Qur`an adalah 6236 ayat. Akan tetapi di dalam kitab Syiah Al-Kaafie fil Ushuul 2/634 disebutkan :
إن القرآن الذي جاء به جبريل عليه السلام إلى محمد صلى الله عليه وسلم سبعة عشر ألف آية.
“Sesungguhnya Al-Qur`an yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Muhammad SAW adalah berjumlah 17.000 ayat.”
Menafsirkan Al-Qur`an secara menyimpang :
قال دود الجصاص : سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: و علامات و بالنجم هم يهتدون، قال: النجم رسول الله صلى الله عليه وسلم و العلامات هم الأئمة عليهم السلام.
“Dawud Al-Jassos berkata, “Aku pernah mendengar Abu Abdullah AS berkata, “Dan dengan tanda-tanda dan dengan bintang mereka mendapatkan petunjuk. Beliau berkata, “Yang dimaksud dengan bintang adalah Rasulullah SAW dan yang dimaksud dengan tanda-tanda adalah para imam AS.”
5.
Mengingkari kedudukan hadits nabi sebagai sumber ajaran islam

Syiah tidak mengakui keabsahan Al-Kutub As-Sittah yaitu Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Majah sebagai rujukan. Mereka hanya mau menerima hadits jika dirwayatkan oleh Ahlul Bait. Mereka mempunyai kitab tersendiri yaitu Al-Kaafie, At-Tahdziib, Al-Istibshaar dan Man Laa Yahdhuruhul Faqiih. Kitab-kitab ini sulit didapatkan.
Di dalam kitab Ashlu Asy-Syiiah wa Ushuuliha karangan Muhammad Husain Kasyif Al-Ghitha hal. 79 disebutkan,
إن الشيعة لا يعتبرون من السنة [أعني الأحاديث النبوية] إلا ما صح لهم من طريق أهل البيت....أما ما يرويه مثل أبي هريرية و سمرة بن جندب و عمرو بن العاص و نظائرهم فليس لهم عند الإمامية مقدار بعوضة.
"Sesungguhnya orang-orang Syiah tidak menganggap sunnah (maksudnya hadits-hadits nabi), kecuali apa-apa yang shahih menuirut mereka yang diriwayatkan dari jalan Ahlul Bait…adapun hadits-hadits yang diriwayatkan seperti oleh Abu Hurairah, Samurah dan Amer bin Ash dan yang semisalnya, maka mereka itu di dalam pandangan Imamiyah (Syiah) kecuali hanya seperti nyamuk."
6.
Menghina, melecehkan dan atau merendahkan nabi dan rasul

Syiah beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih mulia ndari para nabi dan rasul. Bahkan Ali pernah menenerima lembaran wahyu dari Allah SWT yang Nabi SAW saja tidak mengetahui apa isi lembaran tersebut. Juga Syiah beranggapan bahwa dakwah Rasulullah SAW tidak berhasil. Sebab setelah beliau wafat, ternyata para sahabat kembali murtad, kecuali hanya 3 orang sahabat saja. Di dalam kitab Ar-Raudhah minal Kaafie 8/245 disebutkan:
كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ثلاثة : المقداد بن الأسود و أبو ذر الغفاري و سلمان الفارسي.
“Adalah para sahabat menjadi murtad setelah wafat Rasulullah SAW, kecuali hanya 3 orang sahabat saja: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi.”
و كون أئمتنا أفضل من سائر الأنبياء هو الذي لا يرتاب فيه من تتبع أخبارهم عليهم السلام على وجه الإذعان و اليقين.
“Adalah para imam kami lebih utama dari semua para nabi yang mana hal ini tidak diragukan lagi bagi orang yang sering menelaah berita atau kabar mereka AS dengan cara pasti dan yakin.” (Bihaarul Anwaar, karya Al-Majalisi, jilid 26 hal. 297-298)
و إن من ضروريات مذهبنا أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب و لا نبي مرسل.
“Di antara ajaran penting madzhab kami bahwasanya bagi para imam itu mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh Malaikat yang sangat dekat dan tidak juga oleh nabi yang diutus.” (Al-Hukuumah Al-Islaamiyyah karya Khumaini, hal. 52).
7.
Mengubah, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat Islam

Syiah mengubah shalat 5 waktu menjadi 3 waktu atau 1 waktu dengan jamak dan qasar tanpa syarat; mengharamkan shalat Jum'at; mewajibkan wuquf/haji ke Karbala Iraq dan menganjurkan kepada kaum muslimin untuk mengalihkan kiblat ke Karbala Iraq dan tidak ke Mekkah lagi juga menghapus Rukun Islam yang kelima; membolehkan shalat jenazah tanpa berwudlu; mewajibkan shalat sunnah dua hari raya dan shalat gerhana; mengganti ucapan aamiin dengan ucapan hamdalah, dll.
لقد أوقف الشيعة بسبب الغيبة للمنتظر إقامة صلاة الجمعة كما منعوا إقامة إمام للمسلمين و قالوا : الجمعة و الحكومة لإمام المسلمين و الإمام هو هذا المنتظر.
“Syiah telah menghentikan ibadah Jum’at karena Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu masih ghaib. Hal ini semakna ketika orang-orang Syiah dilarang menunjuk seorang Imam bagi kaum muslimin. Mereka berkata, “Shalat Jum’at dan pemerintahan itu bagi Imam kaum muslimin, sedangkan Imamnya yaitu imam yang sedang ditunggu-tunggu itu.” (Ushuulu Madzhabi Asy-Syiiah, 2/386).
وقال أبو عبد الله جعفر:  لو أني حدثتكم بفضل زيارته و بفضل قبره لتركتم الحج رأسا و ما حج منكم أحد، ويحك أما علمت أن الله اتخذ كربلاء حرما آمنا مباركا قبل أن يتخذ مكة حرما.
“Abu Abdullah Ja’far berkata, “Andai saja saya menceritakan kepada kalian tentang fadilah (keutamaan) berziarah ke Karbala dan juga fadilah kuburan Husein, tentu kalian akan meninggalkan ibadah haji dan tidak akan ada yang pergi haji salah seorang dari kalian. Celakalah kamu, apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah SWT telah menjadikan Karbala sebagai tanah suci yang aman dan juga diberkahi sebelum Allah SWT menjadikan Mekah sebagai tanah suci.” (refrensi..? belum dituliskan).
Imam Ridha berkata, “Dan kami membolehkan shalat atas mayat tanpa wudlu, karena dalam shalat tersebut tidak ada rukuk dan sujud, sedang kewajiban wudlu itu hanyalah untuk shalat yang ada rukuk dan sujud.” (Fiqih Ja’fari, hal. 46).
“Shalat dua hari raya adalah wajib, begitu juga shalat Kusuf.” (Fiqih Ja’fari, hal. 250).
“Shalat Khusuf (gerhana) adalah wajib.” (Fiqih Ja’fari, hal. 253).
“…berdasarkan ucapan Imam Shadiq (as), “Jika engkau shalat di belakang seorang imam, lalu ia membaca Al-fatihah dan selesai, maka ucapkanlah, ‘alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.’ Janganlah engkau mengucapkan ‘aamiin.” (Fiqih Ja’fari, hal. 173).
8.
Mengafirkan sesama muslim tanpa dalil syara

Syiah berkeyakinan bahwa muslim selain Syiah adalah halal darahnya dan boleh dibunuh.
عن داود بن فرقد قال: قلت لأبي عبد الله: ما تقول في الناصب؟ قال حلال الدم، ولكني أتقي عليه فإن قدرت تقلب عليه حائطا أو تغرقه في ماء لكي لا يشهد به فافعل قلت: فما ترى في ماله؟ خذ ما قدرت.
“Dari Dawud bin Farqad dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdullah : ”Bagaimana pendapat Tuan tentang An-Nashib (orang non Syiah)?” Maka dia menjawab, “Halal darahnya (boleh dibunuh). Akan tetapi aku bertaqiyyah dengannya. Kalau engkau mampu menimpakan dinding kepadanya atau engkau menenggelamkannya ke dalam air supaya dia (non Syiah) tidak bisa bersaksi atas perbuatanmu ini, maka kerjakanlah.” Aku bertanya kembali, “Bagaimana dengan hartanya?” Dia menjawab, “Ambillah apa yang engkau bisa ambil.” (Al-Anwaar An-Nu’maaniyyah karya Al-Jazairi, 2/308).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar