Selasa, 06 Maret 2012

Millah Ibrahim Zubaedi Jawahir

Awas, Aliran Sesat dari Kuningan; Millah Ibrahim


Oleh ust Dudung Ramdani, Lc
(Direktur Ar-Risalah Institute Jakarta) 


Setiap muslim seharusnya membekali dirinya dengan ilmu agama/syariat, agar selamat ketika hidup di dunia dan akhirat. Misalnya saja dia akan menjadi seorang muslim yang lurus dan benar, tidak menjadi pengikut sebuah aliran sesat yang mengatas namakan Islam.  Akan tetapi, sayang seribu kali sayang…kehidupan kaum muslimin sekarang sangat memprihatinkan. Serba kekurangan dari berbagai aspek kehidupan. Kekurangan secara ekonomi, ilmu pengetahuan agama dan lain-lainnya. Akhirnya, mereka yang masih berada di garis awam, bisa dengan mudah direkrut menjadi anggota aliran sesat.  Serangan aliran sesat sudah sangat mengkhawatirkan. Mereka menyerang kaum muslimin secara terang-terangan, menggunakan media cetak maupun elektronik.



Di sebuah situs yang bernama www.millahibrahim.net, penulisnya dengan tegas-tegas menyebarkan aliran sesat secara online kapada masyarakat.  Berikut ini petikannya, “Telah menjadi opini umum di kalangan kaum muslimin bahwa tidak sembarang orang bisa memahami kandungan Al-Qur`an. Mereka hanyalah kalangan ulama mufassirin (para ahli tafsir) yang telah memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam di bidang agama Islam. Bahkan didoktrinkan pula bahwa untuk bisa memahami ajaran yang terkandung dalam Al-Qur`an haruslah terlebih dahulu menguasa minimal 12 cabang ilmu agama (“12 fann”) secara luas dan mendalam. Fann-fann (funun) itu antara lain : Nahwu, Shorf, Balaghoh, Manthiq, Fiqih, Ushul Fiqh, Imu Tauhid (Ilmu Kalam), Hadits, Ilmu2 Hadits (Mustholah Hadits), Ilmu Tafsir, Asbabun Nuzul, dan lain-lain. Walaupun tidak diungkapkan secara jahar eksplisit, namun jelas terbaca bahwa yang menjadi inti dari doktrin tersebut adalah, bahwa siapapun tidak boleh memahami Al-Qur`an dengan menyalahi cabang-cabang ilmu tersebut di atas. Padahal semua cabang ilmu di atas, adalah hasil rumusan para ulama yang bersifat subjektif, kecuali ilmu-ilmu bahasa (nahwu, shorof, balaghoh), yang didasarkan kepada pendapat dan fatwa-fatwa para ulama itu sendiri, yang derajat kebenarannya sangat nisbi (relatif) dan sarat dengan perselisihan pendapat. Dalam Al-Qur`an maupun pada masa hidup Rasulullah, cabang-cabang ilmu tersebut tidak dikenal sama sekali. Lalu atas dasar apa bahwa setiap yang ingin mempelajari dan memahami kandungan Al-Qur`an, tidak boleh menyalahi ilmu-ilmu buatan para ulama tersebut di atas. Sehingga dalam kenyataannya, dalam penerjemahan Al-Qur`an pada buku-buku terjemahan yang menjadi pegangan masyarakat luas, kaidah-kaidah bahasa (nahwu-shorof) dan aspek-aspek kebahasaaan lainnya yang lebih bersifat objektif, bahkan logika dan akal sehat, banyak sekali dilanggar dan diabaikan, untuk bisa menyeret makna ayat-ayat Al-Qur`an agar sejalan atau tidak menyalahi ilmu-ilmu karangan manusia tersebut di atas. Ilmu Nahwu dan shorof itu hanya menjadi senjata kebanggaan mereka untuk menuding pihak lain yang memahami Al-Qur`an berbeda dengan mereka, dengan lecehan : “Belum menguasai ilmu Nahwu dan Shorof secara mendalam sudah berani-berani memahami sendiri kandungan Al-Qur`an, pantas saja nyeleneh.”



Inilah kutipan dari situs www.millahibrahim.net yang sangat menyesatkan. Karena penulis situs ini, yaitu Zubaedi Djawahir ingin mengatakan bahwa setiap muslim boleh menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur`an sesuai seleranya, tidak perlu merujuk kepada ilmu yang 12 macam tersebut. Apabila sebuah urusan tidak dibarengi dengan ilmu-ilmu pendukungnya, maka yang akan terjadi adalah kesesatan dan penyalahgunaan atau penodaan. Ucapan Zubaedi Djawahir bisa kita misalkan sebagai berikut, “Lalu atas dasar apa bahwa setiap orang yang ingin mempelajari dan memahami ilmu kedokteran, tidak boleh menyalahi ilmu-ilmu kedokteran buatan para dokter tersebut di atas?”

Seseorang yang ingin menjadi dokter dan ingin bisa mendiagnosa penyakit yang diderita seorang pasien, tentu dia memerlukan ilmu-ilmu pendukungnya. Ilmu-ilmu pendukungnya tersebut bisa saja bernama ilmu anatomi tubuh, ilmu anastesi, ilmu farmasi, ilmu saraf dan lain-lainnya, sehingga ketika dirinya sudah menjadi dokter, maka praktik kedokterannya tidak akan membahayakan orang lain/para pasiennya. Berbeda dengan seseorang yang ingin menjadi dokter, akan tetapi dia tidak mau mempelajari buku-buku kedokteran yang telah ditulis oleh para dokter dan para ahli di bidang kesehatan yang telah lebih dulu mempelajarinya dan lebih berpengalaman dari dirinya. Maka yang akan terjadi adalah dia akan menjadi seorang dokter yang membuka praktik pengobatan tidak berdasarkan ilmu, melainkan berdasarkan intuisinya sendiri.



Hal ini pun terlihat dari tulisan Zubaedi Djawahir. Berikut ini petikannya, “IV. KEJAHILAN MANUSIA TENTANG KITABULLAH. Fenomena perilaku para ulama dan kaum muslimin seperti teruraikan di atas, pada dasarnya disebabkan kurangnya (atau tidak ada sama sekali) pengetahuan yang benar tentang hakikat Al-Qur`an dalam berbagai substansi yang terkait dengannya. Yang ada hanya wacana dan retorika, yang sebenarnya hanyalah fiksi dan persangkaan atau dugaan. “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (Al-Baqoroh: 78). Seperti biasanya (banyak sekali dilakukan) pada terjemahan Al-Qur`an versi Depag, ditambahkan catatan kaki yang mengatakan bahwa yang dimasud “Al-Kitab” pada ayat di atas adalah Taurot dan yang dimaksud “mereka” itu orang Yahudi. Diakui atau tidak, itu adalah tindakan sok tahu dan memalingkan Al-Qur`an agar mereka terhindar dan tidak menjadi sasaran ayat di atas. Padahal ayat tersebut adalah rangkaian dari sejak ayat 75 nya yaitu: “Apakah kamu masih berharap bahwa mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar Kalamullah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka mengakalinya, sedang mereka mengetahui? (Al-Baqoroh: 75). Allah sama sekali tidak menyebut nama Muhammad, Yahudi dan Taurot pada ayat di atas, seperti pada catatan kaki dari para ulama tentang ayat tersebut. Dengan tidak disebutnya nama-nama diri pada ayat di atas, maka ayat tersebut tetap “hidup” dan bersifat universal, keberlakuan dan aktualitasnya tidak berubah atau berkurang sedikitpun sepanjang masa. Sebaliknya, dengan diikatkannya (secara ilegal) ayat di atas kepada subtansi-substansi yang sangat terbatas (Muhammad, Taurot dan Yahudi) maka ayat diatas menjadi beku, tidak hidup lagi dan tidak lagi menjadi pedoman operasional, melainkan berubah menjadi “kisah masa lalu” yang kemudian dieksplotasi para ulama untuk menuding dan mendiskriditkan golongan lain. Sama sekali tidak disadari bahwa yang terjadi adalah “jeruk makan jeruk.” Padahal yang diterangkan dalam ayat di atas adalah sesuatu yang selalu aktual, yakni adanya golongan yang sudah resistant (tidak mempan lagi) seruan kebenaran kepada mereka, disebabkan mereka sudah terbiasa mendengar Kalamullah yang sudah diakali dan diubah-ubah. Fakta yang sangat nyata dan aktual bahwa yang demikian itu tiada lain adalah kaum muslimin sendiri dengan para ulamanya. Merekalah yang selama ini selalu mendengar Kalamullah, bukan orang-orang Yahudi atau Nasrani yang sudah tidak pernah “bergaul” dan peduli lagi dengan Kalamullah itu. Dan mereka pulalah (para ulama) yang banyak sekali mengubah-ubah Kalamullah tersebut. Memang tidak ada yang berani mengubah-ubah Al-Qur`an pada kalimat-kalimat atau lafadz-lafadz bahasa aslinya (Bahasa Arab). Tetapi Al-Qur`an itu disampaikan dan “bekerja” pada hati dan pikiran manusia dalam bahasa mereka masing-masing (bahasa kaumnya), dengan kata lain, yang dipahami dan berpengaruh terhadap pandangan dan pikiran manusia itu terjemahannya. Maka ketika terjemahannya diubah, pastilah efek yang terjadi pada hati dan pikiran orang yang mendengarnya pun akan berubah atau melenceng. Adalah fakta yang terlalu nyata untuk bisa dibantah oleh siapapun bahwa amat sangat banyak sekali ayat-ayat Al-Qur`an yang terjemahannya diubah-ubah dan direka-reka. Baik dengan cara diterjemahkan dengan arti kata yang lain (mengganti dengan kata yang lain) atau dengan merubah atau menambahkan pada struktur kalimatnya, menyisipkan kata-kata tambahan atau menambahkan keterangan dalam bentuk catatan kaki. Semua itu dilakukan tanpa dasar kewenangan sama-sekali. Dan tidak ada yang bisa membantah adanya pengubahan-pengubahan itu, mereka hanya bisa berhujjah secara apologis dengan mengatakan : “Yang menerjemahkan Al-Qur`an itu bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang berilmu, mereka pasti punya alasan untuk melakukan itu.” Memang benar bahwa memodifikasi atau memalsukan apapun tidak bisa dikakukan oleh orang kebanyakan (awwam). Hanya orang-orang yang mengerti (pintar) dan punya kemampuan untuk itu sajalah yang bisa melakukannya. Namun betapa pun tidak ada satu alasan pun yang bisa dipakai oleh siapa pun untuk mengubah-ubah dan memodifikasi Al-Qur`an. Kemudian orang-orang kebanyakan itulah yang menjadi pihak yang tertipu dan menjadi pihak yang paling menderita karenanya. Jangan pernah berpikir bahwa Al-Qur`an yang Agung dan Sempurna itu akan berfungsi lebih efektif dan lebih baik jika diotak-atik dan direka-reka tangan-tangan jahil manusia. Jamahan tangan-tangan kotor dan bodoh dari manusia yang “dholuuman jahuulan”, (amat dholim dan amat bodoh) pasti hanya akan menimbulkan kerusakan dan malapetaka yang besar. Bahkan tidak kurang kebodohannya jika menjumpai (bagian-bagian) Al-Qur`an yang dirasakan kurang jelas (gelap) lantas mencari sesuatu dari prodak manusia untuk membuatnya jadi terang, misalnya hadits atau fatwa (pendapat) ulama untuk “menolong” Al-Qur`an agar menjadi terang. Jika seseorang mendapati sebuah lampu listrik (boglamp) yang tidak menyala (gelap) lalu agar menjadi terang dia sorot dengan lampu senter, itu adalah kebodohan yang susah dimaafkan. Padahal seperti itulah orang memperlakukan Al-Qur`an. Karena Al-Qur`an dirasa tidak jelas dan masih bersifat global (mujmal) maka disorotlah dengan berbagai tafsir dan hadis yang prodak manusia itu. Allah menegaskan bahwa semua perilaku manusia yang demikian itu, tiada lain karena mereka sebenarnya tidak sedikitpun memiliki pengetahuan yang benar tentang Al-Qur`an. Apa yang mereka anggap sebagai pengetahuan dan keimanan mereka terhadap Al-Qur`an (Al-Kitab) sebenarnya hanyalah cerita-cerita fiksi, persangkaan dan kepalsuan. “Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan besarlah bagi orangorang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian mereka mengatakan : “Ini dari sisi Allah” agar dengan itu mereka membeli suatu nilai yang sedikit. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat yang mereka tulis dengan tangan-tangan mereka sendiri dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka usahakan.” (Al-Baqoroh: 79). Buanglah jauh-jauh dari pikiran kita bahwa orang-orang yang Allah maksud dalam ayat di atas adalah orang Yahudi, Nasrani, Komunis, Kapitalis atau siapapun. Allah tidak menyebut nama siapa atau golongan manapun. Kita lihat saja dalam kenyataan yang ada, siapa yang melakukan perbuatan yang Allah sebutkan diatas, yaitu : “Menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian dikatakan “Ini dari sisi Allah”. Dari jutaan judul buku (kitab) yang ditulis orang di manapun, tidak ada satupun yang dinyatakan “Ini dari sisi Allah” kecuali ketika yang ditulis dan dibukukan itu Al-Quran. Semua orang yang menganutnya merasa mendapat Al-Kitab dari Allah, mendapat petunjuk, perintah, larangan dan sebagainya, karena Al-Kitab yang ada padanya itu dari sisi Allah untuk semua manusia. Tambahan pula, pada jilid (cover) kitab tersebut ditulis: “AL-QURAN AL-KARIEM.” Dengan menggunakan isim ma’rifah (definite), maka terkandung pengertian yang definitif (tertentu sebagai yang dikenal) yaitu: “Inilah Dia Bacaan Yang Mulia Itu.” Sedangkan di dalam Al-Qur`an itu sendiri Allah menggunakan isim nakiroh (indefinite) yaitu: “QURANUN KARIEM” yang artinya adalah: “Suatu Bacaan yang Mulia.” Memang tidak ada larangan (walaupun tidak ada perintah) untuk menuliskan Al-Kitab, bahkan itu bisa menjadi salah satu bentuk kontribusi untuk tetap terpelihara dan lestarinya Al-Qur`an dalam kehidupan manusia sampai Qiyamat. Tetapi jangan lantas dikatakan “Ini dari Sisi Allah,” sehingga semua orang yang mendapatkannya merasa “kegeeran” mendapatkan Kalamullah. Allah berbicara kepada mereka, memberi petunjuk, perintah, larangan dan sebagainya. Akibat lebih jauh, semua orang merasa berhak mengupas, membedah mencincang dan membumbuinya, kemudian menyajikannya kepada orang banyak sebagai santapan (rohani). Maka terjadilah kompetisis sosial dalam ber-Quran, yang pada gilirannya memunculkan kalangan elit “Quranis” yang meraih status sosial terhormat (Tsmanan Qolilan) sebagai ulama dan kalangan awwam yang menjadi pengikut mereka dalam berbagai golongan (firqoh), yang satu sama lain berbeda pendapat, bersaing bahkan bermusuhan. Allah mengingatkan manusia akan fenomena seperti itu dengan Kalam-Nya, “Yang demikian itu (keterangan pada ayat-ayat sebelumnya) adalah karena Allah telah menurunkan Al kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam (ber) Al-Kitab itu, benar-benar berada dalam penyimpangan yang amat jauh.” (Al-Baqoroh : 176). Allah tidak pernah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) sebagai suatu (dalam bentuk) tulisan, apalagi menggandakannya lalu menyuruh Malaikat membagikannya kepada manusia. Dan juga tidak pernah memerintah Rosul untuk menuliskannya, dan tidak pula memerintah manusia baik langsung maupun melalui perintah RosulNya untuk menuliskan Al-Kitab itu. Sesuai dengan martabat Allah yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana, maka dalam menyampaikan Kalam dan urusan-Nya kepada manusia hanya menggunakan tiga cara yang layak bagi-Nya: “Dan tidak akan terjadi pada seorang manusiapun bahwa Allah berbicara (berkalam) kepadanya, kecuali secara wahyu atau dari balik hijab (tabir) atau dengan melepas seorang Rosul, lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Asy Syuro: 51). Memerintah atau melarang lebih tinggi statusnya (lebih definitif) dari sekedar berbicara. Jika berbicarapun tidak, apalagi memerintah atau melarang dan sebagainya. Dari ayat di atas setiap orang harus menyadari, mengingat-ingat barangkali lupa, apakah ia pernah merasa bahwa Allah menyampaikan sesuatu kepadanya dengan salah satu cara seperti diatas, yaitu :

a) Menerima dari Allah secara wahyu (pewahyuan), atau

b) Kontak langsung (personal) dari balik hijab, atau

c) Menerima sesuatu yang disampaikan melalui seorang Rosul-Nya, (bukan melalui atau perantaraan yang lain).

Jika ketiganya berjawaban “tidak”, mesti disadari bahwa sebenarnya Allah tidak bertutur apapun kepada mereka, apalagi mengatur, memerintah atau melarang. Dengan kata lain, tidak ada satupun Kalamullah yang sampai kepadanya, karena Al-Kitab tertulis yang ada pada mereka itu bukan dari Allah. Allah tidak pernah menggunakan cara seperti itu.”



Jawaban 1:

Perhatikan pada kalimat ini: “Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (Al-Baqoroh: 78). Seperti biasanya (banyak sekali dilakukan) pada terjemahan Al-Qur`an versi Depag, ditambahkan catatan kaki yang mengatakan bahwa yang dimasud “Al-Kitab” pada ayat di atas adalah Taurot dan yang dimaksud “mereka” itu orang Yahudi. Diakui atau tidak, itu adalah tindakan sok tahu dan memalingkan Al-Qur`an agar mereka terhindar dan tidak menjadi sasaran ayat di atas. Padahal ayat tersebut adalah rangkaian dari sejak ayat 75 nya yaitu: “Apakah kamu masih berharap bahwa mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar Kalamullah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka mengakalinya, sedang mereka mengetahui? (Al-Baqoroh: 75). Allah sama sekali tidak menyebut nama Muhammad, Yahudi dan Taurot pada ayat di atas, seperti pada catatan kaki dari para ulama tentang ayat tersebut.”

 Zubaedi Djawahir telah menafsirkan ayat di atas Al-Baqoroh:78 dan ayat sebelumnya yaitu ayat 75) dengan pikirannya sendiri. Dia dengan berani mengatakan bahwa ayat ke-75 bukan ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan makna Al-Kitab di dalam ayat tersebut bukan ditujukan kepada Taurot. Kalau boleh saya bertanya, “Dari mana Anda wahai Zubaedi tahu bahwa ayat tersebut bukan ditujukan kepada orang-orang Yahudi dan kitab Taurot mereka?” Bukankah kita tahu bahwa hanya orang-orang Yahudi dan Nasrani lah yang berani mengubah kitab suci mereka? Sehingga, tidak ada lagi kitab samawi yang telah Allah SWT turunkan ke muka bumi ini yang masih asli, kecuali hanya Al-Qur`an yang terpelihara keasliannya dari tangan-tangan jahil manusia. Kalau ayat di atas ditujukan kepada kaum muslimin, tentu salah alamat. Karena kaum muslimin tidak pernah ada niat untuk merubah isi Al-Qur`an.



Jawaban 2:

Perhatikan kalimat ini: “Allah menegaskan bahwa semua perilaku manusia yang demikian itu, tiada lain karena mereka sebenarnya tidak sedikitpun memiliki pengetahuan yang benar tentang Al-Qur`an. Apa yang mereka anggap sebagai pengetahuan dan keimanan mereka terhadap Al-Qur`an (Al-Kitab) sebenarnya hanyalah cerita-cerita fiksi, persangkaan dan kepalsuan. “Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian mereka mengatakan : “Ini dari sisi Allah” agar dengan itu mereka membeli suatu nilai yang sedikit. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat yang mereka tulis dengan tangan-tangan mereka sendiri dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka usahakan.” (Al-Baqoroh: 79). Buanglah jauh-jauh dari pikiran kita bahwa orang-orang yang Allah maksud dalam ayat di atas adalah orang Yahudi, Nasrani, Komunis, Kapitalis atau siapapun. Allah tidak menyebut nama siapa atau golongan manapun. Kita lihat saja dalam kenyataan yang ada, siapa yang melakukan perbuatan yang Allah sebutkan diatas, yaitu : “Menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, kemudian dikatakan “Ini dari sisi Allah”. Dari jutaan judul buku (kitab) yang ditulis orang di manapun, tidak ada satupun yang dinyatakan “Ini dari sisi Allah” kecuali ketika yang ditulis dan dibukukan itu Al-Quran. Semua orang yang menganutnya merasa mendapat Al-Kitab dari Allah, mendapat petunjuk, perintah, larangan dan sebagainya, karena Al-Kitab yang ada padanya itu dari sisi Allah untuk semua manusia. Tambahan pula, pada jilid (cover) kitab tersebut ditulis: “AL-QURAN AL-KARIEM.” Dengan menggunakan isim ma’rifah (definite), maka terkandung pengertian yang definitif (tertentu sebagai yang dikenal) yaitu: “Inilah Dia Bacaan Yang Mulia Itu.” Sedangkan di dalam Al-Qur`an itu sendiri Allah menggunakan isim nakiroh (indefinite) yaitu: “QURANUN KARIEM” yang artinya adalah: “Suatu Bacaan yang Mulia.” Memang tidak ada larangan (walaupun tidak ada perintah) untuk menuliskan Al-Kitab, bahkan itu bisa menjadi salah satu bentuk kontribusi untuk tetap terpelihara dan lestarinya Al-Qur`an dalam kehidupan manusia sampai Qiyamat. Tetapi jangan lantas dikatakan “Ini dari Sisi Allah,” sehingga semua orang yang mendapatkannya merasa “kegeeran” mendapatkan Kalamullah. Allah berbicara kepada mereka, memberi petunjuk, perintah, larangan dan sebagainya. Akibat lebih jauh, semua orang merasa berhak mengupas, membedah mencincang dan membumbuinya, kemudian menyajikannya kepada orang banyak sebagai santapan (rohani). Maka terjadilah kompetisis sosial dalam ber-Quran, yang pada gilirannya memunculkan kalangan elit “Quranis” yang meraih status sosial terhormat (Tsmanan Qolilan) sebagai ulama dan kalangan awwam yang menjadi pengikut mereka dalam berbagai golongan (firqoh), yang satu sama lain berbeda pendapat, bersaing bahkan bermusuhan. Allah mengingatkan manusia akan fenomena seperti itu dengan Kalam-Nya, “Yang demikian itu (keterangan pada ayat-ayat sebelumnya) adalah karena Allah telah menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam (ber) Al-Kitab itu, benar-benar berada dalam penyimpangan yang amat jauh.” (Al-Baqoroh: 176). Allah tidak pernah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) sebagai suatu (dalam bentuk) tulisan, apalagi menggandakannya lalu menyuruh Malaikat membagikannya kepada manusia. Dan juga tidak pernah memerintah Rosul untuk menuliskannya, dan tidak pula memerintah manusia baik langsung maupun melalui perintah Rosul-Nya untuk menuliskan Al-Kitab itu.”



Dari tulisan Zubaedi Djawahir dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Al-Qur`an yang ada adalah tidak benar, karena Allah SWT tidak pernah menurunkan Al-Qur`an dalam bentuk tulisan.

2. Al-Qur`an sekarang adalah produk manusia, karena ditulis oleh tangan manusia.



Dari sini dapat diketahui bahwa Zubaedi Djawahir sangat bodoh terhadap ajaran Islam. Apakah dia tidak tahu bahwa siapakah orangnya yang suka menulis ayat-ayat palsu yang kemudian dinisbatkan kepada Allah SWT dengan mengatakan, “Inilah ayat-ayat dari Allah SWT?” Ternyata kalau kita baca bahwa di dalam Taurat (Talmud) dan Bible, terdapat ribuan ayat-ayat palsu yang dinisbatkan kepada Allah SWT, padahal Allah SWT tidak pernah menurunkannya. Apakah ada di dalam Al-Qur`an yang bukan firman Allah SWT? Kalau ada, bisakah Zubaedi Djawahir memberitahukannya kepada saya, ayat yang manakah itu?

Memang Allah SWT tidak pernah menurunkan Al-Qur`an dalam bentuk tulisan atau dibukukan. Di dalam kehidupan manusia saja, misalnya ada seorang guru bernama Fulan yang mendiktekan sebuah ilmu di depan murid-muridnya. Kemudian ilmu tersebut dihafalkan oleh seluruh murid-muridnya. Di kemudian hari, ternyata seluruh murid-murid si guru Fulan tersebut berinisiatif untuk membukukan ilmu yang telah diterimanya yang selama ini hanya dalam bentuk hafalan dengan tujuan agar murid-murid yang datang setelah mereka bisa dengan mudah mengikuti pelajaran si guru Fulan dan untuk mempermudah proses penghafalannya. Tentu dengan syarat bahwa yang dituliskan tersebut adalah benar-benar ilmu yang telah didiktekan oleh si guru Fulan tersebut. Kesemua murid yang telah menerima ilmu secara verbal tersebut dites dan diseleksi oleh seorang murid yang jenius yang telah hafal semua materi yang dahulu pernah didiktekan si guru Fulan tersebut. Setelah dia benar-benar yakin bahwa isi hafalan dari seluruh murid-murid guru Fulan tersebut tidak ada yang menyimpang, barulah dia berani untuk menulis ulang dan kemudian mencetaknya untuk dibagikan kepada seluruh murid yang membutuhkannya. Apakah hal ini salah?



Saya berharap, MUI dan jajarannya segera menangkap Zubaedi Djawahir dan menjebloskannya ke dalam penjara dengan pasal penodaan agama (UU No. 1/PNPS/1965), karena dia telah berani menyampaikan dan mempublikasikan sebuah pemikiran atau faham yang faham tersebut menyimpang dari ajaran Islam yang benar.





Wasalam,





Ar-Risalah Institute

Tidak ada komentar:

Posting Komentar