Kamis, 01 Maret 2012

MIUMI Akan Revitalisasi Keulamaan, Fatwa MUI akan Di-Research

JAKARTA (VoA-Islam) – Majelis Intelektua dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) berkomitmen untuk merevitalisasi lembaga dan program keulamaan di Indonesia dan keintelektualannya.  Yang dimaksud revitalisasi, misalnya: terkait lebaran dua kali, puasa berakhir kapan dan sebagainya. Ini menunjukkan adanya kelemahan kepemimpinan formal dan informal umat Islam. Demikian dikatakan Sekjen MMIUMI Ustadz Bachtiar Nasir LC.


“Harus ada pertemuan kepakaran scientis dengan kearifan para ulama.  Keputusan menentukan hari raya adalah persoalan ijtihadiyah ulama, hasilnya bisa benar dan salah. Jika benar dapat dua pahala , yang salah dapat satu pahala. Tapi yang benar jika mengandung mudharat, lebih baik ikut yang salah, tapi ada maslahat. Di masa yang akan datang, kami ingin mengajak umat, dari mudharat kepada maslahat,” ungkap Bachtiar.

Diakui, merosotnya kewibawaan lembaga keulamaan yang ada di Indonesia menambah persoalan baru, sehingga  masing-masing mengeluarkan fatwa. Karena itu MIUMI akan merevitalisasi lembaga tersebut dengan tiga programnya:

Pertama, Fatwa-fatwa yang sudah dikeluarkan MUI dan ormas Islam akan di-research. Karena sejujurnya, fatwa yang dikeluarkan lebih banyak berdasarkan pada studi literatur ketimbang fakta-fakta di lapangan. Fokus MIUMI adalah meresearch sampai mengumpulkan data di lapangan. “Yang sudah dilakukan adalah kasus Sampang, Madura. Kami melihat banyak persoalan umat yang perlu direseacrh,” kata Bachtiar.

Kedua, fatwa yang sudah dikeluarkan MUI dan ormas Islam yang ada kebanyakan belum tersosialisasikan, baik di tingkat komunitas ormas, apalagi ditingkat masyarakat secara luas. Karena itu tugas MIUMI adalah mensosiliasikan fatwa-fatwa, terutama fatwa-fatwa stratergis yang membangun struktural sosial umat.

Ketiga, MIUMI akan membantu MUI dan ormas, dalam menegakkan fatwa yang sudah dikeluarkan. Mengingat ada sikap pesimistis di umat, dengan ungkapan, bahwa fatwa itu tidak mengikat, sehingga pada akhirnya tidak ada keterikatan dan kewajiban untuk melaksanakan, sehingga bangunan struktur sosial ini menjadi tidak solid dan tidak utuh. Desastian

2 komentar:

  1. Kalaulah Umat Islam, ini mayoritas di Negara ini, kenapa dengan Komposisi, seperti :
    1. PKB 9.12%
    2. PKS 6.99%.
    3. PAN 7.51 %,
    4. PPP 6.68%,
    5. PBB 1.5%, dengan komposisi seperti ini seharusnya Umat ini berrpikir Siapa Kita ini sebenarnya, sementara kita begitu sibuk mempermasalahkan keyakinan Pihak Lain, kemelut dalam tubuh sendiri tidak menjadi bahan kajian sendiri sehingga, ramalan Rosul dan Imam Ali as, minimal diluar itu, kalau tidak maka artinya kita ada didalamnya, yaitu :
    Imam Ali a.s, berkata :
    " Sesungguhnya awal terjadinya fitnah adalah hawa nafsu yg dituruti, dan hukum (yg diadaadakan)yg bertentangan dgn Kitab Allah. Sdng pelaksana hukumnya adalah seorang yg tdk berlandaskan kpd aturan agama Allah SWT. Seandainya KEBATILAN itu tdk bercampur dgn KEBENARAN. Dan seandainya KEBENARAN itu murni dari samarnya KEBATILAN, mk bungkamlah mulut-mulut penentangnya.
    Namun diambil SEBAGIAN dari KEBENARAN dan SEBAGIAN dari KEBATILAN, kemudian di campur aduk antara keduanya, dan di situlah SYEITAN mulai memperdaya para PENGIKUTNYA (Jelas sekali terlihat di Lapangan, peny.). Dan hanya orang-orang yg mendapatkan petunjuk ke arah KEBAIKAN dari Allah SWT yg akan selamat dari tipu daya.
    Dan Sabda Rosulullah SAW :" Umatku akan pecah menjadi 73 Golongan dan 1 yang selamat".

    Imam Ali as berkata :" JAMAAH adalah sekelompok orang-orang yang mempertahankan KEBENARAN kendati mereka SEDIKIT, FIRQOH adalah sekelompok Orang-orang yang mempertahankan KEBATILAN", dan mereka itu BANYAK", evaluasilah diri sendiri jangan melihat orang lain BURUK sementara KEBURUKAN sendiri TERLUPAKAN.

    BalasHapus
  2. Ijtihad Salah Pahala Satu, Ijtihad Benar Pahala 2, aku ragu akan hadsis ini, karena tidak logik, sementara aku punya keyakinan Akal, Sunatullah, Hadis Rosul dan Al Qur'an, pasti saling menguatkan, dan setiap Ucapan Rosul tidak ASBUN, tapi pasti Jibril membimbingnya, dan tak mungkin Rosul akan mengatakan "Sebenar-benar Hadist adalah Al Qur'an, artinya bila ada hadis yang berlawanan dengan al Qur'an, maka pasti itu bukan darinya", jadi kesimpulan sya hadis diatas dilahirkan pada Jaman Para Dhalimin Berkuasa dari Bani Umayyah s/d Bani Abasiyah dan dinisbathkan kpd Rosulullah. Sehingga kesalahan mereka syah-syah saja, karena ada hadis ini, logik kan????? Salam

    BalasHapus