Rabu, 28 Maret 2012

Pendeta Radikal

EDHIE SAPTO WEDA
Pendeta Radikal Mantan Pembunuh Bayaran
Tak heran jika setiap gerakan peng-injilan Pendeta Edhie Sapto selalu memicu kerusuhan. Maklum, putra Madura betubuh kurus ini berasal dari latar belakang dunia hitam. Sebelum menjadi pendeta, Edhie adalah seorang pengusaha ganja dan pembunuh bayaran yang sudah pernah masuk penjara sudah tujuh kali dalam kasus pembunuhan dan peng­aniayaan. (jawaban.com).
Tahun 2002 Edhie Sapto menyekap puluhan orang untuk dikristenkan di kompleks yayasannya yang di dalamnya terdapat Sekolah Tinggi Teologi (STT) dan gereja. Orang-orang dari luar yang direkrut dari berbagai daerah itu semula dijanjikan sekolah gratis dan pekerjaan di Jakarta. Di antara mereka adalah para guru ngaji di kampungnya. Setiba di Bekasi, mereka dijebloskan ke tempat penampungan yang tidak lain adalah lokasi rumah dan yayasan milik Edhie Sapto. Ternyata sekolah yang dimaksud adalah STT dan pekerjaan yang dimaksud adalah menjaga peternakan babi.
Di markas pemurtadan itu, Edhie mewajibkan warga pendatang untuk mengikuti kebaktian setiap hari di gereja. Jika menolak, maka sebagai hukuman­nya mereka tidak diberi makan.
Heryanto, salah seorang korban yang berasal dari Manado mengalami berbagai siksaan akibat menolak masuk Kristen. Ia sempat disiksa, ditelanjangi dan dikunci dalam kamar tanpa diberi makan dan minum beberapa hari. Karena tetap bertahan dalam Islam, Edhie mengancam Heryanto dengan menyatakan bahwa dulu dia adalah preman dan pembunuh.

Suatu hari, dengan susah payah Heryanto berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Edhie Sapto. Ia lapor ke masjid terdekat, bertemu dengan Ustadz Masri. Dengan sigap Masri melaporkan kepada Hamdi Elgumanti, koordinator Divisi Khusus Front Bersama Umat Islam (FBUI). Hamdi segera berkoordinasi dengan MUI, FAKTA dan Brigade Ababil serta aparat keamanan.
Tak lama kemudian, markas pemurtadan Edhie Sapto digerebeg oleh FBUI bekerja sama dengan FAKTA, Brigade Ababil, MUI dan warga setempat. Aparat kepolisian dan kelurahan tak ketinggalan ikut mengamankan pendeta ini. Setelah ketangkap basah, maka Edhie menyerahkan penghuni gelap di yayasannya kepada Panglima Brigade Ababil, KH Sulaiman Zachawerus (3/5/2002).
Penyerahan korban penyekapan ini disaksikan oleh Kapolsek Bekasi Selatan Iptu Arief, Kepala Kelurahan Jaka Mulya HA Subawaihi, Ketua Divisi Khusus Front Bersama Umat Islam Hamdi, dan Ketua Umum FAKTA KH Ramly Nawai (alm.). Edhie berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Lima tahun berlalu, kini Pendeta Edhie Sapto belum kapok juga. Bersama Pendeta Yosua, ia melancarkan aksi yang lebih nekad lagi, dengan mewajibkan mahasiswanya untuk mengkristenkan umat Islam masing-masing minimal lima orang. Ia juga menargetkan aksinya untuk suku tertentu, antara lain suku Madura. Padahal sebagai orang Madura, Edhie tahu bahwa orang Madura itu adalah orang Islam yang keras dan fanatik. Meng­kristenkan mereka berarti pelecehan kehormatan. Orang Madura berprinsip, bila kehormatan sudah diinjak-injak, maka harus dibayar dengan nyawa. 'tambana todus mate,' demikian ungkapan Madura yang berarti obatnya malu adalah kematian.
Modus yang ditempuh Edhie, dengan mendirikan pengajaran bahasa Arab yang diklaim sebagai "pengajaran metode pesantren." Dengan lantangnya metode ini diiklankan di majalah: "Anda menginginkan putra-putri anda mahir berbahasa Arab? Datang saja ke tempat kami: Pusat Pelatihan Bahasa Arab dengan Metode Pesantren. GRATISS...!!! Dengan master instruktur: Pendeta Edhie Sapto dan Yosua Adhie, Husniah dan Fitriana Agatha" (edisi 3 hal. 21; edisi 4 hal. 44).
Sayangnya, Edhie enggan memberikan keterangan yang jujur ketika dikonfirmasi seputar SATT yang bernaung di bawah yayasannya. Keterangan yang diberikan kepada Tabligh via telepon, berbelit-belit dan sedikit mencla-mencle. Pada mulanya ia mengaku dirinya sebagai ketua SATT. Tapi ketika ditanyakan tentang kewajiban meng­kristenkan umat Islam minimal 5 orang yang diterapkan kepada mahasiswanya, Edhie terdiam sejenak lalu menjawab bahwa itu mesti ditanyakan langsung kepada Yosua Adhie selaku kepala sekolah. Ini adalah jawaban aneh. Seharusnya Edhie mengerti maksud kalimat iklan SATT tersebut, karena di ujung iklan itu nama dan nomor HP Edhie dicantumkan dengan jelas. Tabligh pun mengalami kesulitan untuk crosscheck kepada Pendeta Yosua Adhie. Karena ia sudah dimartil kepalanya "baca: dibunuh" oleh Ustadz Arsyad dari Madura.
Ketika ditanya tentang target penginjilan di Madura, Edhie mengelak bahwa dirinya bersama timnya tidak pernah menargetkan suku Madura. Dialog yang dilakukan di Madura pun dilakukan secara pribadi, bukan dengan pesantren atau tokoh masyarakat.
Jawaban ini adalah jelas dusta yang sangat menggelikan, karena di majalah yang diterbit­kan, kata "Madura" jelas-jelas dicantumkan sebagai salah satu suku yang diwajibkan kepada mahasiswa SATT untuk dikristenkan minimal 5 orang. (edisi 4 hlm. 44). Dusta yang kedua, di majalah yang sama dipampang foto Edhie dan anak buahnya ketika menginjili orang Madura. Foto tersebut diberi keterangan "Pendeta DR Edhie Sapto Wedha dan team berdialog dengan para ustadz di Pondok Pesantren Madura" (edisi 4 hal. 11).
Bahkan di majalah yang sama, pada halaman berikutnya Edhie memproklamirkan tekadnya untuk menyiarkan Kristen ke Madura: "Bagaimanapun sikap keras atau ganasnya mereka (suku Madura, pen.), kabar baik tentang Kristus tetap harus diberitakan. Jangan malah kita menghindar dan membenci mereka." (edisi 4 hal. 13).
Saat menyambangi komplek yayasan dan rumah Edhie di Jaka Mulya, lagi-lagi Tabligh menemui jalan buntu. Karena kawasan yang dikelilingi oleh pagar tinggi itu dijaga ketat oleh para satpam. Seolah sedang menutup-nutupi sesuatu dalam komplek tersebut, para satpam yang kurang bersahabat itu melarang wartawan Tabligh untuk wawancara, memasuki komplek maupun sekedar mengambil gambar lokasi dengan kamera foto.
Dari pintu yang terbuka, wartawan Tabligh sempat melihat ada beberapa orang yang sedang meringis kesakitan. Saat ditanya kenapa orang tersebut, salah seorang satpam menjawab dengan malu-malu, "Itu orang yang sedang dihukum karena melakukan dosa."
Entah, dosa apa yang telah diperbuat oleh orang tersebut. Apakah sama seperti yang dialami oleh Heryanto lima tahun yang lalu? Wallahu a’lam. mai, mag, hbj (majalah Tabligh)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar