Senin, 19 Maret 2012

Penyimpangan Syiah

            Berikut ini, kami kutipkan beberapa pokok kesesatan Syiah dari buku yang berjudul di bawah ini:
Judul Buku                 : Fiqih Ja’fari
Penerbit                     : Lentera
Penulis                      : Muhammad Jawad Mughniyah
Pengantar                   : Umar Shahab, MA
Cetakan Pertama        : Oktober 1995

POKOK-POKOK KESESATAN SYIAH
DILIHAT DARI BUKU FIQIH JA'FARI 

  1.  “Pada rakaat ketiga salat Magrib dan pada dua rakaat terakhir salat Zuhur, Asar, dan Isya, orang boleh memilih antara membaca al-Fatihah dan membaca :
سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ.
      sekali. Namun disunnahkan membacanya tiga kali.” (Fiqih Ja’fari, hal. 162).
  1. Mengganti ucapan aamiin setelah membaca Al-Fatihah dengan ucapan al-hamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Karena dengan sengaja membaca aamiin setelah Al-Fatihah adalah membatalkan shalat. “….berdasarkan ucapan Imam Shadiq (as), “Jika engkau salat di belakang seorang imam, lalu ia membaca al-Fatihah dan selesai, maka ucapkanlah, ‘Alhamdu lillahi Rabil’alamin.’ Janganlah engkau mengucapkan, ‘Amin.’” (Fiqih Ja’fari, hal. 173).
  2. “Telah kami sebutkan bahwa rukun salat ada lima, yaitu niat, takbiratul ihram, berdiri ketika takbiratul ihram dan sebelum rukuk, rukuk dan dua sujud.” (Fiqih Ja’fari, hal. 177).
  3. Shalat dengan pakaian atau tempat najis. “Seseorang boleh salat pada pakaian atau empat yang najis asalkan kering dan tidak berpindah, kecuali tempat dahi, karena sujud disyaratkan harus pada sesuatu yang suci.” (Fiqih Ja’fari, hal. 144)
  4. Membolehkan shalat dalam keadaan telanjang. “Imam Shadiq (as) ditanya tentang seorang lelaki yang keluar telanjang, kemudian dating waktu salat. Beliau berkata, “Ia salat telanjang dengan berdiri bila tidak ada yang melihatnya, dan dengan duduk bila ada yang melihatnya.” (Fiqih Ja’fari, hal. 141).
  5. “Barangsiapa salat tamam dengan sengaja dan tahu, padahal syarat-syarat qasar telah terpenuhi, maka salatnya batal dan ia harus salat lagi di dalam waktu atau qada jika waktu sudah keluar, sebab yang ia lakukan itu bukan yang diperintahkan.” (Fiqih Ja’fari, hal. 241).
  6. “Salat dua hari raya adalah wajib, begitu juga salat Kusuf.” (Fiqih Ja’fari, hal. 250).
  7. Perbedaan dalam tata cara shalat Idul Fithri/Adha. “Di dalam salat dua hari raya, seseorang mengucapkan takbir sekali untuk membuka salat, kemudian membaca Ummul Kitab dan surat, lalu bertakbir lima kali dengan membaca qunut di antara takbir-takbir tersebut, setelah itu bertakbir sekali untuk rukuk. Pada rakaat kedua, ia membaca Ummul Kitab dan surat, pada rakaat pertama membaca surat al-A’la dan pada rakaat kedua membaca surat asy-Syams, kemudian bertakbir empat kali dengan membaca qunut di antara takbir-takbir tersebut, lalu rukuk dengan takbir kelima.” (Fiqih Ja’fari, hal. 251).
  8. “Salat Kusuf (gerhana) adalah wajib.” (Fiqih Ja’fari, hal.  253).
  9. Tentang air yang terkena najis: “Air yang bekas digunakan untuk membersihkan tempat keluarnya kencing dan tinja adalah suci dengan syarat ia tidak berubah karena najis tersebut, tidak ada najis dari luar yang mengenainya, kencing atau tinja yang keluar itu tidak meluber ke mana, tidak ada darah yang keluar bersamanya, dan tidak terdapat bagian-bagian tinja pada air tersebut.” (Fiqih Ja’fari, hal.  43).
  10. Shalat jenazah tanpa wudlu. Imam Ridha berkata, “Dan kami membolehkan salat atas mayat tanpa wudu karena dalam salat tersebut tidak ada rukuk dan sujud, sedang kewajiban wudu itu hanyalah untuk salat yang ada rukuk dan sujud.” (Fiqih Ja’fari, hal.  46).
  11. Tata cara berwudlu : “Berwudu satu kali adalah fardu, dua kali tidak berpahala, dan tiga kali bid’ah.” (Fiqih Ja’fari, hal.  56).
  12. Syiah melarang shalat di belakang tiga orang : “tiga orang, janganlah kalian salat di belakang mereka: orang yang tidak dikenal, orang yang keterlaluan (melampauai batas), dan orang yang terang-terangan berbuat fasik.” (Fiqih Ja’fari, hal.  209).
  13. “Makmum harus menentukan, di dalam hatinya, imam yang akan ia ikuti, baik dengan (menyebut) namanya, sifatnya, ataupun dengan isyarat.” (Fiqih Ja’fari, hal.  210).
  14. “Sujud di atas tanah kuburan Husain (as) menyinari tujuh bumi. Siapa yang memiliki tasbih yang terbuat dari tanah kuburan Husain maka ia dicatat sebagai orang yang bertasbih, sekalipun ia tidak bertasbih dengannya.” (Fiqih Ja’fari, hal.  146).   
  15. Menafsirkan ayat Al-Qur`an secara menyimpang. ”Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus,” (QS Al-Mulk: 22). ”Mungkin kiasan ini akan menjadi nyata dalam alam jiwa. Dalam hadis shirathal mustaqim, ayat ini ditafsirkan berkenaan dengan Amirul Mukminin dan para imam yang suci. Abil Hasan berkata: ”Allah telah memberikan contoh pada ayat ini bagi orang yang berpaling dari wilayah ’Ali. Mereka ibarat orang yang berjalan terjungkal di atas kepala, serta tidak mendapatkan petunjuk, dan orang yang mengikuti jalan Imam ’Ali adalah jalan mereka yang diluruskan. Jalan yang lurus diartikan dengan Imam ’Ali dan para washi-nya. Sebelum ini kita telah menerangkan bahwa manusia yang sempurna berada pada jalan yang lurus.” (Dikutip dari buku, 40 Hadis telaah Imam Khomeini atas Hadis-hadis Mistis dan Akhlak, Penerbit Mizan, cetakan 1, Shafar 1415/Juli 1994, hal. 196-197).
  16. Dan masih banyak yang lainnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar