Rabu, 28 Maret 2012

Perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Tentang Mut'ah

PERKATAAN SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH
TENTANG NIKAH MUT’AH
Oleh ust Dudung Ramdani, Lc

Nikah Mut’ah di kalangan Syiah sangat dianjurkan, bahkan diwajibkan dengan diming-imingi pahala yang mereka buat di dalam hadits-hadits palsu mereka.
Aneh memang, Syiah mengaku sebagai kumpulan orang-orang yang cinta Ahlul Bait. Akan tetapi, ajaran Ahlul Bait, dalam hal ini larangan nikah mut’ah, oleh mereka tetap saja dihalalkan. Bayangkan, sudah berapa ribu anak yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan dia tidak kenal dengan ayah biologisnya. Berapa banyak para wanita yang hidup dalam keadaan single parent, dia membesarkan anak-anaknya (hasil dari nikah mut’ah) sendirian. Akhirnya, untuk menutupi kebutuhannya, dia harus tetap menjalani nikah mut’ah ini untuk memperoleh penghasilan (uang). Karena jika dia berhenti dari nikah mut’ah ini, maka tidak ada orang yang akan menanggung biaya hidupnya berikut anak-anaknya. Walhasil, dari hari ke hari, dia harus tetap menjalani nikah mut’ah (zina terselubung). Hasilnya, tumpukan dosa dan dosa akan terus menggunung.
Inilah nasib penduduk Iran. Al-Qur`an menyebutkan sebuah ayat, “zhaluuman jahuulan.”  Manusia itu dalam keadaan zalim dan bodoh. Pemimpin di Iran adalah orang-orang zalim dan rakyatnya adalah masyarakat yang bodoh. Rakyat Iran mau saja dibodohi oleh para pemimpin mereka yang zalim. Perlu diketahui bahwa biaya atau mahar nikah mut’ah ini berbeda-beda, tergantung dari kondisi si wanita. Dan wanita yang akan mendapatkan bayaran tertinggi adalah wanita yang akan menjalani nikah mut’ah dalam kondisi masih perawan.
Oleh karena itu,  marilah kita simak perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengenai masalah nikah Mut’ah ini,
فَأَمَّا أَنْ يَشْتَرِطَ التَّوْقِيتَ فَهَذَا " نِكَاحُ الْمُتْعَةِ " الَّذِي اتَّفَقَ الْأَئِمَّةُ الْأَرْبَعَةُ وَغَيْرُهُمْ عَلَى تَحْرِيمِهِ ; وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ يُرَخِّصُونَ فِيهِ : إمَّا مُطْلَقًا وَإِمَّا لِلْمُضْطَرِّ كَمَا قَدْ كَانَ ذَلِكَ فِي صَدْرِ الْإِسْلَامِ فَالصَّوَابُ أَنَّ ذَلِكَ مَنْسُوخٌ كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ أَنْ رَخَّصَ لَهُمْ فِي الْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ قَالَ : { إنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ الْمُتْعَةَ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ } وَالْقُرْآنُ قَدْ حَرَّمَ أَنْ يَطَأَ الرَّجُلُ إلَّا زَوْجَةً أَوْ مَمْلُوكَةً بِقَوْلِهِ : { وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ } { إلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ } { فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ } وَهَذِهِ الْمُسْتَمْتَعُ بِهَا لَيْسَتْ مِنْ الْأَزْوَاجِ وَلَا مَا مُلِكَتْ الْيَمِينَ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ جَعَلَ لِلْأَزْوَاجِ أَحْكَامًا : مِنْ الْمِيرَاثِ وَالِاعْتِدَادِ بَعْدَ الْوَفَاةِ بِأَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ وَعَشْرٍ وَعِدَّةُ الطَّلَاقِ ثَلَاثَةُ قُرُوءٍ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنْ الْأَحْكَامِ الَّتِي لَا تَثْبُتُ فِي حَقِّ الْمُسْتَمْتَعِ بِهَا فَلَوْ كَانَتْ  زَوْجَةً لَثَبَتَ فِي حَقِّهَا هَذِهِ الْأَحْكَامُ ; وَلِهَذَا قَالَ مَنْ قَالَ مِنْ السَّلَفِ : إنَّ هَذِهِ الْأَحْكَامَ نَسَخَتْ الْمُتْعَةَ.
“Adapun pernikahan yang dilakukan tetapi memiliki batas waktu, maka inilah yang disebut dengan nikah mut’ah. Para ulama yang empat (Imam Ahmad, Syafi’ie, Malik dan Abu Hanifah) telah bersepakat atas keharamannya. Walaupun ada sebagian orang yang membolehkannya, baik secara mutlaq maupun karena faktor darurat, sebagaimana yang pernah terjadi di awal mula Islam. Pendapat yang benar bahwa bolehnya nikah mut’ah ini telah dihapus, sebagaimana yang tercantum di dalam hadits shahih bahwasanya Rasulullah SAW setelah membolehkan nikah mut’ah, akan tetapi pada saat Futuh Mekah beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan nikah mut’ah sampai hari Kiamat.” Al-Qur`an juga dengan tegas telah melarang seorang laki-laki menggauli seorang wanita, kecuali apabila dia itu isteri atau budak perempuannya. Allah SWT berfirman, “dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas,” (QS Al-Mukminun [23]: 5-7).
Seorang wanita yang dinikahi secara mut’ah kedudukannya bukan sebagai isteri dan bukan juga sebagai hamba sahaya. Karena Allah SWT telah membuat hukum-hukum tertentu bagi para isteri. Seperti mendapatkan hak waris, hukum iddah selama 4 bulan 10 hari jika ditinggal wafat oleh suami, ada iddah talak selama 3 kali suci dan hukum-hukum yang lainnya yang tidak dimiliki oleh wanita yang dinikahi secara mut’ah. Karena jika wanita tersebut dikategorikan sebagai isteri, tentu dia akan memiliki hukum-hukum ini. Oleh karena itu, ada sebagian salaf yang berkata bahwa semua hukum ini adalah yang telah menghapus nikah mut’ah.” (Majmu Fatawa, Kitab Nikah, jilid 32, hal. 107).


Wasalam,


Ar-Risalah Institute
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar