Kamis, 15 Maret 2012

SIAPAKAH YANG TELAH MERACUN AL-HASAN BIN ALI?

SIAPAKAH YANG TELAH MERACUN AL-HASAN BIN ALI?
Oleh ust Abu Fatimah, Lc (dari berbagai sumber)

Sejarah mencatat bahwa Al-Hasan meninggal karena diracun. Menurut sebuah riwayat bahwa Hasan bin Ali semoga Allah meridhai mereka, meninggal karena diracun oleh istrinya Ja’dah binti Al-Asy’ats. Riwayat lain mengatakan bahwa Mu'awiyah lah yang telah menyuruh Ja’dah untuk meracun Hasan bin Ali. Hal ini dilakukan karena Mu’awiyah suka terhadap Ja’dah dan berjanji dia akan menikahi Ja’dah sepeninggal Hasan. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah lah yang telah menyuruh seluruh pembantu Hasan untuk menaruh racun di makanan dan minuman Hasan.


Sebenarnya, Hasan tidak tahu, siapa yang telah meracuni dirinya. Begitu pula dengan Husein. Husein tidak tahu, siapa yang telah meracuni saudaranya itu. Karena pada saat Hasan sedang sakaratul maut, datanglah Husein dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, siapakah yang telah meracunmu?” Hasan, “Untuk apa engkau menanyakan hal ini? Apakah untuk menuntut balas/qisas?” Husein, “Iya!” Hasan, “Biarkan saja nanti di hadapan Allah SWT, saya dan dia akan beradu argumentasi. Biarlah Allah SWT yang menghukumnya!” Dari sini sudah bisa disimpulkan, jika Hasan sendiri tidak mengetahui secara pasti, siapa yang telah meracunnya. Demikian juga dengan Husein. Andai saja Husein tahu dengan pasti orang yang telah meracun Hasan, tentu Husein akan menuntut balas. 
Yang menjadi pertanyaan adalah, “Dari mana orang-orang tahu jika Ja’dah lah yang telah meracun Hasan?” Atau, “Apakah betul, jika Muawiyah lah orangnya yang telah meracun Hasan?”
Jawabannya, Pertama, “Mana mungkin seorang isteri tega meracun suaminya yang saleh. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka seorang isteri seperti ini layak mendapatkan laknat dari Allah SWT, para malaikat dan seluruh manusia. Sesungguhnya Ja’dah binti Al-Asy’ats bin Qais tidak memerlukan kekayaan atau jabatan sehingga dia tergiur oleh tawaran Muawiyah untuk membunuh suaminya Hasan bin Ali karena Muawiyah akan memberinya kekayaan. Karena Hasan adalah orang yang paling baik di zamannya. Karena Hasan adalah cucu Rasulullah SAW, ibunya Fathimah binti Rasulullah SAW dan ayahnya, yaitu Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan merupakan khalifah yang keempat. Apakah mungkin Ja’dah mau meracun Hasan dan kemudian dia menikah dengan Muawiyah?”
Kedua, “Apakah mungkin Muawiyah yang telah diberi tahta kekuasaan oleh Hasan, justru dia mengucapkan rasa terima kasihnya dengan meracun orang yang telah memberinya kekuasaan? Ini juga tidak mungkin, karena hubungan antara Muawiyah dengan Hasan sangat terjaga dengan baik. Tidak ada api permusuhan di antara keduanya. Oleh karena itu,  makanya Hasan rela mengalah memberikan tampuk kekuasaan yang telah diamanahkan penduduk Kufah kepada Muawiyah demi menjaga keamanan dan supaya pertumpahan darah di antara sesama muslim tidak terjadi lagi.”
Kisah ini sesungguhnya telah menampar wajah para pengikut Syiah yang berkeyakinan jika para imam mereka itu adalah maksum dan mereka mengetahui alam gaib sampai mereka mengetahui kapan mereka meninggal dunia. Pertanyaan, “Apakah benar Hasan tahu akan ajalnya? Jika beliau sudah tahu ajalnya adalah diracun pada hari A  dan di kota A misalnya, maka dia seharusnya bisa selamat dengan cara pergi jauh dari kota A atau pergi sebelum hari A tiba. Bukankah begitu?” 

Wasalam,
Ar-Risalah Institute

20 komentar:

  1. masa iya orang mulia sekelas hasan bin ali akan lari dari takdirnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda benar hai samgros. Ayahnya Imam Ali juga tau beliau akan dibunuh oleh Burak bin Muljam jauh sebelum berperang dengan Muawiyah di Siffin tetapi Imam tidak membunuh Burak bin Muljam walaupun beliau sangat sanggup. Demikian jugalah Imam Hassan tau siapa yang meracuninya. Hal ini mirip dengan prinsip Habil tidak akan membalas Qabil membunuhnya. Ini agar sunnatulklah benar-benar terjadi bahwa menjadi renungan bagi ummat manusia bahwa pembunuhan terjadi pada zaman Manusia pertama, yaitu zaman Nabi Adam as, sesuai apa yang dikhawatiri para Malaikat.

      Demikian juga kita sekarang memahami bahwa semua Imam Syahid baik dibunuh atau diracun, hingga sangat logis Imam terakhir dighaibkan Allah sebagaimana ghaibnya nabi 'Isa bin Maryam. Perasaan kita senang andaikata Imam Ali dapat meluluhlantakkan Muawiyah agar bani Umaiah dan Abbaisiah tidak sempat menzalimi kaum muslimin yang benar imannya tetapi Allah ingin membuat ujian, siapa saja hambanya yang tetap teguh Imannya walaupun dizalimi sepanjang zaman. Kini pengikut ahlulbayt Rasulullah sudah mulai mendapat angin segar, semoga kehadiran Imam Mahdi sudah benar-benar dekat untuk memimpin alam semesta.

      Hapus
  2. @ samgroz: setuju, kajian ini memang dangkal sekali. Contoh dangkalnya lagi, kalau Muawiyah tau terimakasih dia tidak akan mengambil kekuasaan dari tangan Hasan, dan tak mungkin dia mengangkat Yazid putranya secara sepihak tanpa musyawarah seperti yang diajarkan Saydina Umar Ibn Khattab. Justru ini bukti Muawiyah tidak ingin dinastinya terganggu oleh keberadaan Imam Hasan dan keluarga Rasulullah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda benar @samgroz. Muawiyah memang prototype manusia jahil, sama dengan ayahnya Abi Sufyan, pura-pura masuk Islam saat dia tidak berdaya lagi melawan Rasulullah saww

      Hapus
    2. Apakah kau hai ACHEH - KARBALA , telah membelah dada Muawiyah dan abu Sufyan Radhiyallahu anhum? Sehingga kau tahu bagaimana iman mereka? Sesungguhnya demi Allah, iman para sahabat yang meninggal dalam keimanan tidak ada yang menyamainya sampai kapanpun.
      Abu Sofyan mertua nabi, dan mati dlm Islam.
      Muawiyah penulis Wahyu, ipar nabi, seorang faqih menurut ibnu Abbas,orang yang dipastikan masuk surga, dipilih menjadi gubernur Syam sejak jaman Khalifah Umar ra.
      Imam Ahmad pernah ditanya oleh seorang lelaki: “Saya mempunyai paman, yang menurut berita ia merendahkan Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu. Kadangkala aku makan bersamanya,” Abu Abdillah (Ahmad) segera memotong,”Jangan makan bersamanya!”

      Hapus
  3. Masak iya imam maksum seadil dan sangat ber ilmu menyerahkan pucuk pimpinan umat pada org kufur? Masak iya dg ilmu dan amanah nya imam hasan tdk menegakkan hukum qisas atas pembunuh nya . Hingga sampai saat ini tukang fitnah terus memfitnah yok mikir !!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saudara bony bahar! Imam Hassan terpaksa menyerahkan atau berdamai dengan Muawiyah disebabkan hampir seluruh tentaranya satupersatu lari, bergabung dengan Muawiyah. Ini tidak boleh heran, sebab pengikut Imam Alipun menodong Imam Ali di kemah dengan 50 pedang saat pertempuran hampir selesai, mengalahkan Muawiyah.

      Pengikut Imam Ali yang buta agama itu memerintahkan Imam Ali agar berhenti menggempur pasukan Muawiyah, ketika mereka menyaksikan permainan Amru bin 'Ask men ggunakan lembaran Qur-an untuk menipu pasukan Imam Ali. Imam Ali memberitau mereka bahwa itu tipudaya Amru bin 'Ask, namun mereka tidak mau dengar nasehat Imam.

      Ketika Imam terpaksa memberi perintah kepada panglimanya, Malik al Asytar untuk berhenti menggempur, Malik memohon pada Imam agar memberikan kesempatan kira-kira 15 menit lagi, pasukan Muawiyah sudah berhasil dikalahkan. Namun para penodong membuat Malik al Asytar terpaksa menghentikan gempuran. Bayangkan metapa sesak nafas kita melihat tingkah polah 50 orang tentara Imam yang secara tidak langsung memihak kepada Muawiyah bin Abi Sofyan.

      Dalam kelompok 50 orang tersebut, termasuk "Al-Asy’ats bin Qais", ayah dari isteri Imam Hasan. Makanya Imam Hassan diracun ada tautannya juga dengan mertuanya yang memihak Muawiyah (semga prediksi saya tidak salah)

      Hapus
    2. Mengqisos pembunuh tanpa bukti dan saksi ??? gak bisa lah ,,, Apalagi tersangkanya adalah Muawiyah yang berjarak ribuan kilometer .

      Hapus
    3. Sesungguhnya telah tampak pribadi² yang berkata dgn penuh taqiyah (menipu).

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  5. Saudara ku se iman... Hati hati Jawaban kalian nanti akan di pertanggung jawabkan ketika hari akhir, dan bersabarlah insyaallah pertanyaan kalian akan di jawab oleh ALLAH SWT ketika di hari akhir di hari pembuktian nanti...

    BalasHapus
  6. lucu sekali, maksum berarti tidak ada keslahan (dosa) tapi bisa mengangkat muawiyah yg katanya kufur.. logikanya ga ada..

    biarlah Allah yg menghakimi pembunuh Cucu Rasulullah.. jangan berandai andai..

    BalasHapus
  7. 1. Penulis kisah ini terlalu tendesius mengambil kesimpulan, dan terlihat lucu. Dengan dialog antara Imam Hasan dan Husein ttng siapa yg meracuni Imam Hasan. Penulis langsung mengambil kesimpulan bahwa Imam Hasan dan Imam Husein tidak mengetahui Pembunuhannya. 2. Penulis tidak mengetahui atau mungkin pura2 tidak tahu keutamaan Imam Hasan dan Imam Husein atas para sahabat Lainnya.
    3. Penulis tidak juga mengetahui bagaimana sifat2 suku2 arab serta loyalitas mereka terhadap Imam Ali dan Imam Hasan.
    3. Penulis tidak mengetahui alasan Imam Hasan Berdamai dengan Muawiyah, tidak mengetahui isi perdamaian dengan Muawiyah.
    4. Penulis tidak mengetahui sepak terjang para Khawarij orang2 munafik ini bagaimana sikap melawan mereka terhadap Imam Hasan, dan Sikap menjilat mereka Pada Muawiyah
    5. Penulis juga tidak mengenal Siap Muawiyah, siapa ayahnya dan siapa Ibunya, Bahkan juga tidak mengenal Yazid Bin Muawiyah, semasa hidupnya dan kebiasaan hidupnya.
    6. Alhasil Penulis mengambil kesimpulan dari kekurang tahuannya itu dengan yakinnya.
    7. Sebaiknya Penulis coba menelusuri sejarah kembali dari beberapa poin yand saya tulis diatas, dan mengenal betul kondisi/ keadaan yang dihadapi Imam Hasan saat itu. sehingga orang2 yang membaca tulisan anda ini tidak tertipu oleh tulisan anda ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”
      Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”.
      Imam Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
      Yunus bin Abdul A’la juga mengatakan:

      سمعت الشافعي إذا ذكر الرافضة عابهم أشد العيب, فيقول: شر عصابة

      Aku pernah mendengar Imam Syafi’i, bila menyebut kelompok Syiah Rafidhah, beliau mencela mereka dengan celaan yang paling buruk, lalu beliau mengatakan: “mereka itu komplotan yang paling jahat!”

      Hapus
  8. Ga mutu , bahas nya begini, bahas itu sesuatu yg bisa meningkatkan iman kita..

    BalasHapus
  9. Syiah laknatullah.. Kalian adl kaum zindiq penghina sahabat nabi. Tidak cukup kalian hina, bahkan berani kalian kafirkan. Sungguh laknat Allah atas kalian wahai Rafidhah. Kalian telah mencela Abu Bakar dan Umar serta Usman, kemudian kalian mengkafirkan Muawiyah dan Amr bin Ash. Kalian adl sejelek2 makhluk di buma bumi. Semoga Allah membinasakan kalian semua.

    BalasHapus
  10. Sa'id bin Musayyib berkata pada Imam Az Zuhri: "Dengarkan wahai Zuhri, siapa saja yg semasa hidupnya ia mencintai Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali dan mempercayai dan memuliakan sepuluh sahabat yg di jamin Allah masuk Syurga serta mendoakan kebaikan bagi Muawiyah, maka ia berhak untuk tidak di debat oleh Allah di hari kiamat.."

    BalasHapus
  11. jgn ribut tak ada gunanya

    BalasHapus