Jumat, 16 Maret 2012

Tafsir Al-Qur`an versi Ahmadiyah

AJARAN AHMADIYAH
DI DALAM MENAFSIRKAN AL-QUR`AN

Menafsirkan Ayat-ayat Suci Al Qur’an dengan Sangat Menyimpang
            Di samping para Jemaat Ahmadiyah berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi dan Rasul yang diutus dan diberi wahyu oleh Allah SWT, mereka juga memiliki terjemah dan tafsir Al Qur’an versi sendiri, yaitu “Al Qur’an dengan Terjemah dan Tafsir Singkat”. Isinya tentu saja merupakan penerjemahan dan penafsiran yang sangat menyimpang, berikut beberapa di antaranya:
1.     Surat Ash-Shaf ayat ke 7 (versi Ahmadiyah):
وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يبَنِىْ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُوْلٍ يَّاتِىْ مِنْ بَعْدِى اسْمُهُ اَحْمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوْا هَذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ {7}
“Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku rasul Allah yang diutus kepadamu memenuhi apa yang ada sebelumku yaitu nubuatan-nubuatan dalam Taurat, dan memberi khabar suka tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku yang akan bernama Ahmad.” 3037 Dan tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti jelas, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”
______________________________
3037. ……..Jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah s.a.w. tetapi sebagai kesimpulan dapat juga dikenakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Brahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah s.a.w. …”.

2.     Surat Al-Jumu’ah ayat ke 4 (versi Ahmadiyah):
وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Dia akan membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. 3046  Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
______________________________
3046. “..... Jadi, Alquran dan hadis kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Rasulullah s.a.w. dalam wujud Hadhrat Masih Mau’ud a.s.”

3.     Surat Al-Jumu’ah ayat ke 10 (versi Ahmadiyah):
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu dipanggil untuk bersembahyang pada hari Jum`at, 3047A maka bergegas-gegaslah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah segala urusan jual beli. Hal demikian adalah terbaik bagimu, sekiranya kamu mengetahui.”
______________________________
3047A. “….. Tiap-tiap kaum mempunyai Sabbat masing-masing, dan Sabbat bagi kaum Muslimin ialah hari Jum’at. Karena surah ini nampaknya membahas secara khusus zaman Masih Mau’ud a.s. maka panggilan kepada salat Jum’at dapat juga berarti seruan nyaringnya yang dialamatkan kepada kaum Muslimin supaya mendengarkan amanat beliau.”

4.     Surat Al-Muddatstsir ayat ke 35 (versi Ahmadiyah):
وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ
“Dan demi subuh, 3170 apabila terang.”
______________________________
3170. “Subuh” dapat juga berarti Wakil agung Rasulullah s.a.w. ialah Hadhat Masih Mau’ud a.s. dan “malam apabila berlalu” dapat diartikan malam kegelapan rohani, yang akan mulai berlalu sesudah kedatangan beliau.”

5.     Surat Al-Qiyamah ayat ke 10 (versi Ahmadiyah):
وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
“Dan matahari dan bulan dikumpulkan. 3179
______________________________
3179. “..... Sangat mengherankan, bahwa bulan dan matahari kedua-duanya mengalami gerhana di dalam bulan Ramadhan yang sama pada tahun 1894, ketika pendiri Jemaat Ahmadiyah telah mengumumkan pengakuan bahwa beliaulah Masih Mau’ud dan Imam Mahdi.”

6.     Surat At-Takwir ayat ke 24 (versi Ahmadiyah):
وَلَقَدْ رَاهُ بِاْلاُفُقِ الْمُبِيْنِ
“Dan, sesungguhnya, ia melihatnya 3278 di ufuk yang terang.”
______________________________
3278. “….. dan kedua dapat pula berarti, bahwa Rasulullah s.a.w. melihat wujud beliau sendiri di timur jauh dalam pribadi Hadhrat Masih Mau’ud a.s.”

7.     Surat Al-Insyiqaq ayat ke 19 (versi Ahmadiyah):
وَالْقَمَرِ اِذَا اتَّسَقَ
Dan bulan apabila jadi purnama 3303.
______________________________
3303. “Ayat-ayat 17 – 19 berisikan sebuah nubuatan mengenai kemunduran sementara  umat Islam serta kebangunan kembali mereka melalui seorang wujud, wakil agung Rasulullah s.a.w. – Hadhrat Masih Mau’ud a.s. – yang bagaikan bulan purnama akan memantul dalam diri beliau cahaya gemilang sang Matahari (Rasulullah s.a.w.) dengan sepenuhnya serta seutuhnya.”

8.     Surat Al-Buruj ayat ke 3 (versi Ahmadiyah):
وَالْيَوْمِ الْمَوْعُوْدِ
“Dan hari yang dijanjikan 3308.”
______________________________
3308. “Hari yang dijanjikan” itu dapat berarti hari, ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. akan dibangkitkan untuk mendatangkan kebangunan kembali Islam. …
….. Hari yang dijanjikan” yang paripurna itu ialah masa kebangkitan keduakalinya Rasulullah s.a.w. dalam pribadi wakil beliau pada abad ke-14 Hijrah ketika agama Islam akan memperoleh kehidupan baru dan akan menang atas semua agama lainnya…”
9.     Surat Al-Buruj ayat ke 4 (versi Ahmadiyah):
وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍ
“Dan sang saksi 3309 dan ia yang diberi kesaksian.”
______________________________
3309. “….. syahid adalah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan masyhud adalah Rasulullah s.a.w., dan ayat ini mengandung arti bahwa Masih Mau’ud a.s. akan memberi kesaksian akan kebenaran Rasulullah s.a.w. dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh, dan tulisan-tulisan beliau dan dengan Tanda-tanda yang akan ditampakkan Tuhan di tangan beliau. Beliau akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan Rasulullah s.a.w. mengenai kemunculan Masih Mau’ud dan Imam Mahdi a.s. pada abad ke-14 Hijrah akan jadi sempurna. Masih Mau’ud a.s. itu pun masyhud dalam arti bahwa Rasulullah s.a.w. sendiri telah memberi kesaksian akan kebenaran beliau. Dengan demikian Rasulullah s.a.w. dan Masih Mau’ud a.s. itu bersama-sama merupakan syahud dan masyhud.”

10.  Surat Ath-Thariq ayat ke 2 (versi Ahmadiyah):
وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ
“Demi langit dan Bintang Fajar 3316.”
______________________________
3316. “Isyarat dalam ayat ini dapat tertuju kepada wakil Rasulullah s.a.w., yang kedatangannya laksana Bintang Fajar sebagai pertanda akan terbitnya fajar kejayaan dan penyebarluasan Islam sesudah malam kegelapan rohani yang pernah meliputi agama Islam telah terhalau. …”

11.  Surat Ath-Thariq ayat ke 5 (versi Ahmadiyah):
اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
“Tiada suatu jiwa pun melainkan mempunyai penjaga 3317 atas dirinya.”
______________________________
3317. Tuhan akan melindungi Bintang Fajar – wakil Rasulullah s.a.w. dan Bintang yang bercahaya sangat menembus – Rasulullah s.a.w.

12.  Surat Al-Fajr (Pendahuluan):
“.....
Surah ini dapat pula diartikan menunjuk kepada kemunduran Islam selama sepuluh abad sesudah tiga abad pertamanya yang diwarnai keberhasilan itu, dan menunjuk kepada kemunculan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan juga kepada abad pertama yang penuh dengan percobaan dan penderitaan dalam pelaksanaan tugas beliau dan para pengikut beliau. ...”

13.  Surat Al-Fajr ayat ke 2 (versi Ahmadiyah):
وَالْفَجْرِ
“Demi fajar 3332.”
______________________________
3332. “..... “Fajar” itu dapat pula berarti diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang akan membawa amanat pengharapan dan berarti kedatangan suatu hari-depan yang gemilang bagi orang-orang Islam sesudah masa kemunduran dan kemerosotan berabad-abad lamanya.”



14.  Surat Al-Fajr ayat ke 3 (versi Ahmadiyah):
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
”Dan sepuluh malam 3333.”
______________________________
3333. “Sepuluh malam ..... menggambarkan sepuluh abad kemunduran dan kemerosotan, sebelum diutusnya Hadhrat Masih Ma’ud a.s. yang dengan itu akan mengakhiri masa kegelapan – kemunduran rohani ...  – .“

15.  Surat Al-Fajr ayat ke 4 (versi Ahmadiyah):
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
”Dan yang genap serta yang ganjil  3334.
______________________________
3334. “… Kepada angka “genap dan ganjil” ini terdapat pula penunjukan yang jelas dalam 9:40. Atau, Rasulullah s.a.w. dan Masih Mau’ud a.s. dapat dianggap membentuk angka genap dan Tuhan sebagai angka ganjil, atau juga “yang genap dan yang ganjil” itu dapat berarti, bahwa sekalipun Rasulullah s.a.w. dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu dua pribadi terpisah, namun Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah begitu larut sirna dalam Rasulullah s.a.w. sehingga seolah-olah telah menjadi satu (memanunggal) dengan beliau.”

16.  Surat Asy-Syams ayat ke 3 (versi Ahmadiyah):
وَالْقَمَرِ اِذَا تَلهَا
“Dan demi bulan 3356 apabila ia mengikuti matahari”
______________________________
3356. “….. kata “Bulan” itu dapat pula menunjuk kepada para wali dan para imam zaman – khususnya kepada wakil agung beliau, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. – yang akan meminjam cahaya kebenaran dari Rasulullah s.a.w. dan menyiarkannya ke dunia untuk menghilangkan kegelapan akhlak dan rohani.

17.  Surat Asy-Syams ayat ke 5 (versi Ahmadiyah):
وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشهَا
Dan demi malam hari 3358 apabila ia menutupi cahaya matahari.
______________________________
3358. “….. menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu, ialah, …..; (2) masa wakil agung beliau, yaitu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s., ketika nur (cahaya) yang diperolehnya dari Rasulullah s.a.w. dipantulkan ke suatu dunia yang gelap; …”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar