Jumat, 27 April 2012

10 Kriteria Sesat MUI vs Syiah

Ditulis oleh ust Abu Fatimah, Lc dari berbagai sumber.

Aqidah dan ajaran Islam harus selalu dijaga kemurniannya oleh umat Islam, khususnya oleh para Alim Ulama. Maka untuk membentengi aqidah umat Islam Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah para Ulama, Zu’ama, dan Cendekiawan Muslim di Indonesia, dalam Rakernas MUI Desember 2007 telah menetapkan 10 (sepuluh) Kriteria Aliran Sesat, yaitu:

1.    Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima.
2.    Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunnah).
3.   Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an.
4.   Mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an.
5.   Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6.   Mengingkari kedudukan hadits Nabi SAW sebagai sumber ajaran Islam.
7.   Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8.   Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
9.   Mengubah, menambah, dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu.
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syariah, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ajaran Syi’ah merupakan ajaran yang haq atau sebaliknya, sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan?
Berdasarkan hasil penelitian, ajaran Syi’ah memiliki banyak perbedaan dan kesesatan prinsipil – baik dari segi aqidah maupun ibadah – dengan ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Mulai dari perbedaan dalam Syahadat, Rukun Islam, Rukun Iman, tata cara Shalat, lafadz Adzan, menafsirkan Al-Qur’an, memahami kedudukan Hadits Nabi SAW, dan lain sebagainya.

Mari kita buktikan, apakah ajaran Syi’ah termasuk ke dalam 10 Kriteria Aliran Sesat MUI ataukah tidak?
  1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima.
Pada Rukun Iman.
Syi’ah hanya memiliki 5 (lima) Rukun Iman, tanpa menyebut keimanan kepada Malaikat, Rasul, serta Qadha dan Qadar. Rukun Imam Syi’ah yaitu: (1) Tauhid (Keesaan Allah); (2) Al-Adl (Keadilan Allah); (3) Nubuwwah (Kenabian); (4) Imamah (Kepemimpinan Imam); (5) Ma’ad (Hari Kebangkitan dan Pembalasan).

Pada Rukun Islam.
Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dalam Rukun Islam mereka. Rukun Islam mereka, yaitu: (1) Shalat; (2) Zakat; (3) Puasa; (4) Haji; (5) Wilayah (Perwalian). (lihat Ushuul Al-Kaafie juz 2 hal. 18)
روى الكليني بسنده عن أبي جعفر قال: بني الإسلام على خمس: على الصلاة و الزكاة و الصوم و الحج و الولاية و لم يناد بشيء كما نودي بالولاية.
"Al-Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Abi Ja'far dia berkata, "Islam itu dibangun atas 5 dasar, yaitu : Shalat, zakat, shaum, haji dan al-wilayah. Tidak ada yang beliau (Abu Ja'far) tekankan sebagaimana beliau menekankan rukun al-wilayah ini." (Ushuul Al-Kaafie, 2: 18).
Syahadat Syiah berbeda dengan syahadat Ahlu Sunnah. Sebab syahadat Syiah terdiri dari syahadat : Laa ilaaha illallaah; “Tidak ada tuhan selain Allah” dan syahadat: “Bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah” dan mereka menambahkan syahadat: “Bahwasanya Ali adalah Wali Allah.”
Disebutkan di dalam kitab Syiah, Al-Furu' minal Kaafie 1/34, Tahdziibul Ahkaam 1/82 dan Wasaail Asy-Syii'ah 2/665.
عن أبي بصير عن أبي جعفر قال: ...لقنوا موتاكم عند الموت شهادة أن لا إله إلا الله و الولاية.  
"Dari Abi Bashier dari Abi Ja'far dia berkata, "Talkinkanlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan syahadat laa ilaaha illallaah (Tidak ada tuhan selain Allah) dan al-wilayah (aku bersaksi bahwa Ali adalah Wali Allah)."


  1. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunnah).
Misalnya :
Mewajibkan shalat sunnah.
“Salat dua hari raya adalah wajib, begitu juga salat Kusuf.” (Fiqih Ja’fari, hal. 250).
“Salat Khusuf (gerhana) adalah wajib.” (Fiqih Ja’fari, hal. 253).
Perbedaan dalam tata cara shalat Idul Fithri dan Idul Adha.
“Di dalam salat dua hari raya, seseorang mengucapkan takbir sekali untuk membuka salat, kemudian membaca Ummul Kitab dan surat, lalu bertakbir lima kali dengan membaca qunut di antara takbir-takbir tersebut, setelah itu bertakbir sekali untuk rukuk. Pada rakaat kedua, ia membaca Ummul Kitab dan surat, pada rakaat pertama membaca surat al-A’la dan pada rakaat kedua membaca surat asy-Syams, kemudian bertakbir empat kali dengan membaca qunut di antara takbir-takbir tersebut, lalu rukuk dengan takbir kelima.” (Fiqih Ja’fari, hal. 251).
Tentang air yang terkena najis.
“Air yang bekas digunakan untuk membersihkan tempat keluarnya kencing dan tinja adalah suci dengan syarat ia tidak berubah karena najis tersebut, tidak ada najis dari luar yang mengenainya, kencing atau tinja yang keluar itu tidak meluber ke mana, tidak ada darah yang keluar bersamanya, dan tidak terdapat bagian-bagian tinja pada air tersebut.” (Fiqih Ja’fari, hal. 43).
Shalat jenazah tanpa wudlu.
Imam Ridha berkata, “Dan kami membolehkan salat atas mayat tanpa wudu karena dalam salat tersebut tidak ada rukuk dan sujud, sedang kewajiban wudu itu hanyalah untuk salat yang ada rukuk dan sujud.” (Fiqih Ja’fari, hal.  46).

  1. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an.
Syiah meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur`an, yaitu Mushaf Fathimah yang diturunkan kepada Siti Fatimah melalui Malaikat Jibril yang berjumlah 17.000 ayat (kitab Al-Kaafie 1/239), yang masih disembunyikan oleh Imam Mahdi (Muhammad bin Hasan Al-Askari), mulai dari Ghaib Kubra yang bersembunyi di gua Samarro (Iraq) sejak tahun 329 H yang selalu diziarahi oleh orang-orang Syiah dan memohon agar segera keluar untuk memimpin dunia. (inilah keyakinan Syiah)
Di dalam kitab Ushuulu Madzhabi Asy-Syiiah 2/102 :
إن الله تعالى لما قبض نبيه صلى الله عليه وسلم دخل على فاطمة عليها السلام من وفاته من الحزن ما لا يعلمه إلا الله عز وجل فأرسل الله إليها ملكا يسلي غمها و يحدثها فشكت ذلك إلى أمير المؤمنين رضي الله عنه فقال: إذا أحسست بذلك و سمعت الصوت قولي لي فأعلمته بذلك فجعل أمير المؤمنين رضي الله يكتب كل ما سمع حتى أثبت من ذلك مصحفا...أما إنه ليس فيه شيء من الحلال و الحرام و لكن فيه علم ما يكون.
“Sesungguhnya tatkala Allah SWT mewafatkan nabi-Nya SAW, maka Fatimah AS merasa sedih atas wafatnya beliau tersebut, yang rasa sedihnya tidak ada yang tahu kecuali Allah Azza wa Jalla. Maka Allah SWT mengutus seorang malaikat untuk menemui Fatimah untuk meringankan rasa sedihnya dan menghiburnya. Maka Fatimah pun mengadukan hal ini kepada Amirul Mukminin RA, maka dia berkata, ‘Jika engkau (Fatimah) merasakan kembali hal tersebut dan engkau mendengarkan suara, maka katakanlah kepada aku. Maka Fatimah pun memberitahukan hal tersebut kepada Ali. Maka Ali mulai mencatat semua yang dia dengar (dari Fatimah) sampai menjadi sebuah mushaf…di dalam mushaf Fatimah ini tidak mengandung halal dan haram, akan tetapi berisi tentang ramalan yang akan terjadi.”
Di dalam kitab Al-Anwaar An-Nu'maaniyyah, jilid 2/360-362 disebutkan :
قال شيخهم نعمة الله الجزائري إنه قد استفاض في الأخبار أن القرآن كما أنزل لم يؤلفه إلا أمير المؤمنين –إلى أن قال – وهو الآن موجود عند مولانا المهدي رضي الله عنه مع الكتب السماوية و مواريث الأنبياء.
“Telah berkata Syaikh mereka yaitu Nikmatullah Al-Jazairi bahwasanya telah tersebar kabar bahwa tidak ada yang mampu menyusun Al-Qur`an seperti yang diturunkan kecuali Amirul Mukminin -sampai dia mengucapkjan- Al-Qur`an tersebut sekarang berada di sisi Paduka kami Al-Mahdi RA berikut kitab-kitab samawi lainnya dan peninggalan para nabi.”

  1. Mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an.
Syiah meyakini bahwa Al-Qur`an Utsmani tidak asli, karena telah dirubah oleh para sahabat. Ahlu Sunnah berkata bahwa jumlah seluruh ayat di dalam Al-Qur`an adalah 6236 ayat. Akan tetapi di dalam kitab Syiah Al-Kaafie fil Ushuul 2/634 disebutkan :
إن القرآن الذي جاء به جبريل عليه السلام إلى محمد صلى الله عليه وسلم سبعة عشر ألف آية.
“Sesungguhnya Al-Qur`an yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Muhammad SAW adalah berjumlah 17.000 ayat.”

  1. Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
Wajah Allah adalah Ali AS
            
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah,” (QS Al-Qasas [28]: 88).
Imam Shadiq as dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah Allah…” berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 22).  
(Sedangkan Ahlu Sunnah memahami bahwa yang dimaksud dengan wajah di dalam ayat di atas adalah Allah SWT dan bukan Ali).

Makna ayat, ’telinga yang mau mendengar’ adalah ditujukan kepada Ali as.
”Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. Yang dimaksud dengan ’telinga yang mau mendengar’ adalah Ali as, yang memahami kedalaman (kandungan makna) Al-Qur`an.”(Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 50).

Ali adalah penyeru di hari kiamat.
“Kemudian seorang penyeru mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim.” Imam Ali as adalah seorang penyeru di hari Kiamat, yakni menetapkan siapa yang akan menjadi penghuni neraka dan siapa yang akan menjadi penghuni kebaikan (surga). (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 50).
                                                          
“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?" Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Betul". Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,” (QS Al-A’raf [07]: 44).

  1. Mengingkari kedudukan hadits Nabi SAW sebagai sumber ajaran Islam.
Syiah tidak mengakui keabsahan Al-Kutub As-Sittah yaitu Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Majah sebagai rujukan. Mereka hanya mau menerima hadits jika dirwayatkan oleh Ahlul Bait. Mereka mempunyai kitab tersendiri yaitu Al-Kaafie, At-Tahdziib, Al-Istibshaar dan Man Laa Yahdhuruhul Faqiih. Kitab-kitab ini sulit didapatkan.
Di dalam kitab Ashlu Asy-Syiiah wa Ushuuliha karangan Muhammad Husain Kasyif Al-Ghitha hal. 79 disebutkan,
إن الشيعة لا يعتبرون من السنة [أعني الأحاديث النبوية] إلا ما صح لهم من طريق أهل البيت....أما ما يرويه مثل أبي هريرية و سمرة بن جندب و عمرو بن العاص و نظائرهم فليس لهم عند الإمامية مقدار بعوضة.
"Sesungguhnya orang-orang Syiah tidak menganggap sunnah (maksudnya hadits-hadits nabi), kecuali apa-apa yang shahih menuirut mereka yang diriwayatkan dari jalan Ahlul Bait…adapun hadits-hadits yang diriwayatkan seperti oleh Abu Hurairah, Samurah dan Amer bin Ash dan yang semisalnya, maka mereka itu di dalam pandangan Imamiyah (Syiah) kecuali hanya seperti nyamuk."

  1. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
Syiah beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih mulia ndari para nabi dan rasul. Bahkan Ali pernah menenerima lembaran wahyu dari Allah SWT yang Nabi SAW saja tidak mengetahui apa isi lembaran tersebut. Juga Syiah beranggapan bahwa dakwah Rasulullah SAW tidak berhasil. Sebab setelah beliau wafat, ternyata para sahabat kembali murtad, kecuali hanya 3 orang sahabat saja. Di dalam kitab Ar-Raudhah minal Kaafie 8/245 disebutkan:
كان الناس أهل ردة بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ثلاثة : المقداد بن الأسود و أبو ذر الغفاري و سلمان الفارسي.
“Adalah para sahabat menjadi murtad setelah wafat Rasulullah SAW, kecuali hanya 3 orang sahabat saja: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari dan Salman Al-Farisi.”
و كون أئمتنا أفضل من سائر الأنبياء هو الذي لا يرتاب فيه من تتبع أخبارهم عليهم السلام على وجه الإذعان و اليقين.
“Adalah para imam kami lebih utama dari semua para nabi yang mana hal ini tidak diragukan lagi bagi orang yang sering menelaah berita atau kabar mereka AS dengan cara pasti dan yakin.” (Bihaarul Anwaar, karya Al-Majalisi, jilid 26 hal. 297-298)
و إن من ضروريات مذهبنا أن لأئمتنا مقاما لا يبلغه ملك مقرب و لا نبي مرسل.
“Di antara ajaran penting madzhab kami bahwasanya bagi para imam itu mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh Malaikat yang sangat dekat dan tidak juga oleh nabi yang diutus.” (Al-Hukuumah Al-Islaamiyyah karya Khumaini, hal. 52).

  1. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
Orang-orang Syi’ah mengimani bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Dalam hal ini, keimanan mereka sama dengan keimanan kaum muslimin Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

  1. Mengubah, menambah, dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu.
Syiah mengubah shalat 5 waktu menjadi 3 waktu atau 1 waktu dengan jamak dan qasar tanpa syarat; mengharamkan shalat Jum'at; mewajibkan wuquf/haji ke Karbala Iraq dan menganjurkan kepada kaum muslimin untuk mengalihkan kiblat ke Karbala Iraq dan tidak ke Mekkah lagi juga menghapus Rukun Islam yang kelima; membolehkan shalat jenazah tanpa berwudlu; mewajibkan shalat sunnah dua hari raya dan shalat gerhana; mengganti ucapan aamiin dengan ucapan hamdalah, dll.
لقد أوقف الشيعة بسبب الغيبة للمنتظر إقامة صلاة الجمعة كما منعوا إقامة إمام للمسلمين و قالوا : الجمعة و الحكومة لإمام المسلمين و الإمام هو هذا المنتظر.
“Syiah telah menghentikan ibadah Jum’at karena Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu masih ghaib. Hal ini semakna ketika orang-orang Syiah dilarang menunjuk seorang Imam bagi kaum muslimin. Mereka berkata, “Shalat Jum’at dan pemerintahan itu bagi Imam kaum muslimin, sedangkan Imamnya yaitu imam yang sedang ditunggu-tunggu itu.” (Ushuulu Madzhabi Asy-Syiiah, 2/386).
وقال أبو عبد الله جعفر:  لو أني حدثتكم بفضل زيارته و بفضل قبره لتركتم الحج رأسا و ما حج منكم أحد، ويحك أما علمت أن الله اتخذ كربلاء حرما آمنا مباركا قبل أن يتخذ مكة حرما.
“Abu Abdullah Ja’far berkata, “Andai saja saya menceritakan kepada kalian tentang fadilah (keutamaan) berziarah ke Karbala dan juga fadilah kuburan Husein, tentu kalian akan meninggalkan ibadah haji dan tidak akan ada yang pergi haji salah seorang dari kalian. Celakalah kamu, apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah SWT telah menjadikan Karbala sebagai tanah suci yang aman dan juga diberkahi sebelum Allah SWT menjadikan Mekah sebagai tanah suci.” (Bihaarul Anwaar 33/101).
Imam Ridha berkata, “Dan kami membolehkan shalat atas mayat tanpa wudlu, karena dalam shalat tersebut tidak ada rukuk dan sujud, sedang kewajiban wudlu itu hanyalah untuk shalat yang ada rukuk dan sujud.” (Fiqih Ja’fari, hal. 46).
“Shalat dua hari raya adalah wajib, begitu juga shalat Kusuf.” (Fiqih Ja’fari, hal. 250).
“Shalat Khusuf (gerhana) adalah wajib.” (Fiqih Ja’fari, hal. 253).
“…berdasarkan ucapan Imam Shadiq (as), “Jika engkau shalat di belakang seorang imam, lalu ia membaca Al-fatihah dan selesai, maka ucapkanlah, ‘alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.’ Janganlah engkau mengucapkan ‘aamiin.” (Fiqih Ja’fari, hal. 173).

  1. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syariah, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Syiah berkeyakinan bahwa muslim selain Syiah adalah halal darahnya dan boleh dibunuh.
عن داود بن فرقد قال: قلت لأبي عبد الله: ما تقول في الناصب؟ قال حلال الدم، ولكني أتقي عليه فإن قدرت تقلب عليه حائطا أو تغرقه في ماء لكي لا يشهد به فافعل قلت: فما ترى في ماله؟ خذ ما قدرت.
“Dari Dawud bin Farqad dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdullah : ”Bagaimana pendapat Tuan tentang An-Nashib (orang non Syiah)?” Maka dia menjawab, “Halal darahnya (boleh dibunuh). Akan tetapi aku bertaqiyyah dengannya. Kalau engkau mampu menimpakan dinding kepadanya atau engkau menenggelamkannya ke dalam air supaya dia (non Syiah) tidak bisa bersaksi atas perbuatanmu ini, maka kerjakanlah.” Aku bertanya kembali, “Bagaimana dengan hartanya?” Dia menjawab, “Ambillah apa yang engkau bisa ambil.” (Al-Anwaar An-Nu’maaniyyah karya Al-Jazairi, 2/308).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar