Minggu, 29 April 2012

Ahmadiyah Pintar Berbohong

AHMADIYAH BERBOHONG
Tanggapan atas tulisan “Ahmadiyah Menjawab”
(oleh ust D.M. Tasdiq, Lc, MA) 

            Pada harian Republika tgl 23-5-2008 Shamsir Ali menulis bahwa selama ini mereka yang menulis artikel tentang Ahmadiyah tidak pernah mengkonfrontir isi artikel kepada Jemaat Ahmadiyah Indonesia, padahal hal itu sangat penting agar pembaca memperoleh informasi yang benar, akurat, dan berimbang. Benarkah demikian?
            Marilah sekarang kita konfrontir tulisan Shamsir Ali dengan buku-buku yang diterbitkan oleh Jemaat Ahmadiyah. Pertama pada paragraph 4,” Begitupula dalam Republika 16 April 2008 (“Wahyu Cinta Mirza Ghulam”) tertulis, “Ada 88 kitab- termasuk Tadzkirah- yang dikarang MGA…” padahal Tadzkirah bukan dikarang oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
            Kitab Tadzkirah adalah himpunan dari 86 buku-buku catatan wahyu yang diterima oleh MGA baik  berupa buku yang tipis dan tebal kemudian dibukukan oleh para pengikutnya setelah 27 tahun meninggal. Adapun buku-buku yang ditulis oleh MGA dapat dilihat pada buku “Kami Orang Islam” pada judul “Buku-Buku Karya Agung Imam Mahdi as Pendiri Jemaat Ahmadiyah. ”Halaman 139-141, terbitan PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Jadi kitab Tadzkirah isinya  adalah karangan Mirza Ghulam Ahmad sendiri.
            Kedua soal MGA pelayan imperialis Inggris dapat dibaca pada kitab Ruhani Khozain jilid 13 hal. 2-9, “Selama 17 tahun aku mengarang buku-buku dalam rangka menyokong imperialis Inggris dan menyuruh meninggalkan jihad. Karena jihad itu sekarang diharamkan dan tidak boleh seorangpun menentangnya  bahkan harus tunduk dan berserah diri kepada pemerintah Inggris karena itu merupakan nikmat dari Allah atas kita…”
            Ketiga, pada paragaraf ke 6, ”Dan Beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan…” Bukan hanya imam Mahdi dan Al-Masih tapi juga Rasul dan penjelmaan semua nabi. Dalam Majalah bulanan resmi Ahmadiyah, ”Sinar Islam” edisi 1 Nopember 1985 (Nubuwah 1364) rubrik Tadzkirah disebutkan, “Dalam wahyu ini, Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Barahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka…” (Haqiqatul Wahyi hal. 72). (hal. 11-12).
            Keempat pada paragrap ke 7 tertulis, ”Jemaat Ahmadiyah bukan sebuah agama baru. Jemaat Ahmadiyah bekerja untuk menghidupkan agama Islam dan menegakkan syariat Islam.” Kalau memang Ahmadiyah mengaku demikian mengapa meyakini MGA sebagai nabi dan Rasul dan orang yang tidak percaya kepadanya dianggap kafir. Dalam Kalimatul Fashl  hal. 110, disebutkan, ”Setiap orang yang tidak beriman kepada Musa, Isa, dan Muhamad tetapi tidak beriman kepada al-Masih Ma’uud (MGA) maka dia kafir keluar dari Islam bahkan mereka benar-benar kafir.”
            Kelima, tentang pernyataannya bahwa Ahmadiyah berpegang kepada kitab suci Al-Qur’anul Karim. Memang mereka mengklaim berpegang kepada Al-Qur’an tetapi dengan makna dan penafsiran yang menyimpang dari ajaran yang benar bahkan mereka berani menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ada pada Tadzkirah sebagai wahyu yang diturunkan Allah kepada MGA. (Lihat Tafsir Al-Qur`an versi JAI).
            Keenam, Tentang pernyataan syahadat Ahmadiyah, memang mereka bersyahadat seperti kaum muslimin tetapi maknanya berbeda. Nama Muhamad dalam syahadat tersebut menurut pengikut/tokoh Ahmadiyah adalah nabi dan rasul mereka MGA. Sebagaimana terdapat dalam buku “Memperbaiki Kesalahan, karya MGA yang diterjemahkan oleh Yahya Pontoh terbitan Jemaat Ahmadiyah hal. 5, surat Al-Fath ayat 29 “Dalam wahyu ini Allah swt menyebutku Muhammad dan Rasul,” (Kitab Tadzkirah hal.97).
            Ketujuh, keyakinan bahwa tidak ada nabi lagi sesudah nabi Muhammad saw sudah qath’ie di kalangan ummat Islam yang benar. Sedangkan  keyakinan MGA tetap sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad saw. sebagaimana dinyatakan dalam buku karya MGA Memperbaiki Suatu Kesalahan hal. 3.
            Kedelapan, berkembangnya Ahmadiyah di berbagai negara tidak menunjukkan Ahmadiyah suatu aliran yang benar.
            Kedelapan, keyakinan bahwa MGA sebagai al-Masih dan Imam Mahdi adalah tidak benar. Karena kedatangan al-Masih dan Imam Mahdi bukanlah dalam rangka mengacak-ngacak agama Islam. Tetapi menegakkan agama Islam yang benar dan bahkan akan memerangi musuh-musuh Islam. Jelaslah bahwa MGA bukan al-Masih dan Imam Mahdi yang benar alias palsu.

Salam perjuangan,

Ar-Risalah Institute
           
           
           
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar