Senin, 30 April 2012

Ajaran Lia Eden

POKOK-POKOK  AJARAN  AGAMA SALAMULLAH
Oleh ust Dudung Ramdani, Lc dkk
Ajaran ini didirikan oleh Lia Aminuddin pada tahun 1997. Jabatannya, kadang-kadang Lia mengaku sebagai Ruhul Kudus, Malaikat Jibril, Jibril bersemayam di dalam dirinya untuk berdakwah di bumi. Lia Aminuddin  mendeklasikan agama SALAMULLAH (menggabungkan semua ajaran Agama yang ada di Indonesia yaitu agama Islam, Kristen, Hindu dan Budha). Kitab Sucinya  adalah Lembaran AL-HIRA (gabungan dari isi kitab suci Taurat , Zabur,  Injil, Al-Qur`an, Weda) (lihat lemari dokumen Salamullah 10001401/NSD ¼ , 10001402/NDS 1/3 Yayasan Salamullah, Lembaran Al-Hira, September 2000  Edisi  III)

Syahadatnya :  RABBUNALLAH


Lia Aminuddin  (awal dahulu) dan sekarang berubah nama menjadi : LIA EDEN (Lia yang tinggal didalam surga Adn, yaitu setelah turun wahyu yang menyuruh menceraikan suaminya Aminuddin dan benar-benar bercerai,  kemudian LIA  menikah  dengan  MALAIKAT  JIBRIL dan tinggal dalam surga Adn berkasih sayang dan berhubungan seks dengan Malaikat Jibril itu, maka dia mengganti namanya dengan LIA ADNIN atau Lia Eden (Lia yang tinggal di surga Adn)

LIA EDEN (d/h LIA AMINUDDIN, mengaku menerima wahyu dan setiap saat selalu siap seorang  pencatat wahyu  di depan komputer. Begitu wahyu turun langsung dibaca oleh Lia dan langsung pula dicatat oleh penulis wahyu (salah seorang sekretaris wahyunya bernama Yuyus Yusuf A. dari Tasikmalaya, mahasiswa DO dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), sehingga wahyu–wahyu tersebut sudah menumpuk di rumahnya.- 
Muhammad Abdur Rahman  : Imam Besar Agama Salamullah dan berpangkat IMAM MAHDI

Pokok-Pokok Ajarannnya
Kala Tuhan takkan menyisakan harapan terhadap bangsa Arab, dunia Islam harus berpaling ke negeri ini, menjadi  makmum Nabi Muhammad secara langsung. Niscaya kiblat di Mekah tak lagi berdaulat, karena untuk apa lagi berhaji ke sana, kalau nabi Muhammad telah bangkit dan kerajaan malaikat yang disebut surga itu bertahta di negeri ini…. ( Perempuan-Perempuan yang Dinantikan hal. 24)
….Sejarah Islam yang buruk akan segera berakhir karena telah akan tercipta Islam yang penuh damai dan sejuk. Yaitu Islam Salamullah, Islam perennial. Takkan terbetik lagi kesombongan Islam agama terbenar.(sda hal.24)
….Kalau beranggapan terbenar karena merupakan agama terakhir, nyatanya kami Jibril telah datang kembali menemui utusan Tuhan lagi. Bila lebih lama lagi umat Islam mendaulat sebagai penganut agama terbenar. Tuhan menampakkan kebenaran itu justru kepada agama yang lainnya…(sda hal.24)
Sementara Tuhan sendiri pun berkehendak membuat pemusatan kiblat semua agama di negeri Indonesia. Jakarta akan menjadi pusat spiritual semua agama (Hal.26)
Imam Abdurrahman Imam Mahdi (sda hal.26)
…Maria dan Yesus disebutkan termasuk pendiri Salamullah, tapi keduanya kemudian menyerahkan daulat Salamullah sepenuhnya kepada Abdul Rahman yang ditunjukkan Tuhan sebagai Imam Mahdi. (sda hal.27)
…Lia adalah Maria yang diutus untuk mendamaikan seluruh agama-agama, maka diapun dititahkan Tuhan agar tak beragama lagi. Tapi berketuhanan. Bahkan didaulat dibandingkan denganku sebagai Ruhul Kudus. Dia menjadi penyampai wahyu bagi seluruh agama-agama(sda hal.27)
…Babi itu kini telah dihalalkan Tuhan. Padahal babi yang sediakalanya termasuk binatang kutukan Tuhan (sda hal.46)
Kemarahan kaum muslimin terhadap maklumat kami tentang penghalalan daging babi ini tak mau disimak dengan baik…Kataku, buat apalah marah karena daging babi itu kini halal. Jangan makan kalau tak mau. Biarpun haram, ada saja yang melanggar. Sembunyi-sembunyi makan babi. Itukan tidak baik, kala dihalalkan kok marah? (sda. hal.46)
…mengakibatkan Tuhan terpaksa meninjau kembali ketetapan-Nya mengharamkan babi. Dipertimbangkan babi yang busuk itu dipertanggungkan sebagai olahan makanan yang lebih baik daripada ular dan sebagainya itu. Babi yang diternakkan dapat lebih terpelihara pertumbuhan dan perkembangbiakannya daripada menternakkan ular…(sda hal.121)
Sementara ada hal lain yang ingin diungkapkan pula, yakni kebersamaan seluruh umat beragama. Tatkala tak ada masalah soal daging babi di kalangan umat Islam, taklah ada rintangan menu diantara semua agama. Orang Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, Islam semuanya dapat menyantap hidangan yang sama. Dihidangkan satu meja dan tak ada yang terlarang lagi. Kebersamaan yang dirindukan semua umat. Semua senang, semua nikmat. Tuhan pun bahagia.(sda hal.122)
Menyatukan seluruh umat beragama yang berbeda-beda yang syariatnya pun tak sama, mungkin dapat ditumbuhkan dalam kebersamaan melalui hilangnya salah satu pembatas yaitu dengan penghalalan daging babi. Kaum Buddha, Hindu, Kristen adalah orang-orang yang biasa memakan daging babi. Butalah orang yang tak mau melihat keinginan baik Tuhan itu. (sda hal.122)

Menyimpang dalam mengartikan ayat-ayat al Qur’an
Ayat 2. “Tidaklah sesat sahabatmu ini dan tidak keliru” Muhammad yang berbangkit menyatakan kebenaran itu. Tidaklah dia sesat dan tidak pula keliru. Bunda suci Lia menganakkan Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman yang suci…. Begitulah ayat ini menyatakannya bahwa tidaklah Lia dan Abdul Rahman sahabat-sahabatmu itu menyatakan hal yang menyesatkan dan yang keliru.
Ayat 3. “Dan tiadalah dia menuturkan menurut hawa nafsunya” Wahyu yang ditulisnya tidak mengada-ada, sebenarnyalah itu wahyu Tuhan yang diterimanya. Bunda Suci Lia yang menerima wahyu Tuhan, bukan lagi Muhammad Abdul Rahman. Karena dialah yang dipilih Tuhan sebagai penyampai wahyu-Nya saat sekarang ini. Penyibakan keadaan alam akhirat dapat saja membingungkan sebagian orang yang tak mengerti. Maka mereka mengira Bunda Lia bertutur seenaknya memperturutkan hawa nafsunya.
Ayat 4. “ia tiada lain kecuali wahyu yang diwahyukan” Kami sedang menuliskan peristiwa-peristiwa kekinian dengan merentangkan keadaannya hingga jauh kebelakang dan melanglang ke semesta. Tentulah wahyu-wahyu saat ini diperkaitan dengan wahyu-wahyu kitab-kitab suci yang terdahulu.
Tulisan Al Quran ini bermakna penulisan wahyu ini terutama membuka apa-apa yang terahasia dari wahyu-wahyu yang terdahulu di kitab suci Weda, Dhammapada, Injil dan Al Quran. Itu maksudnya wahyu yang diwahyukan. Wahyu-wahyu itu tersebut menjadi perkat perselisihan antar agama, dan membawa turun mukjizat Tuhan untuk masing-masing agama.
Ayat 6. ”Yang mempunyai rupa yang bagus, lalu menjelma dengan sempurna” Jibril menjadi berwajah perempuan tapi Lia beralih menjadi sosok kelaki-lakian yang tegar, aktif tetapi sensitive. Dialah Jibril yang menjelma menjadi manusia dengan sempurna, sebagai sosok Lia Eden.
Ayat 9. “Maka jadilah sejarak dua busur panah atau lebih dekat lagi” Aku dan Lia menjadi seakan dua busur panah kebenaran yang saling berdekatan, bahkan saling dekat lagi, karena kami menyatu dalam perkawinan nan kekal dan kudus. Dari kedua busur panah kebenaran, terciptalah sasaran-sasaran yang dituju sesuai maklumat wahyu Tuhan.
Ayat 10. “Lalu Dia mewahykan kepada hamba-Nya yang hendak diwahyukan” Tuhan mengangkat Maria atau Hawa atau Kunti atau Joan of Are atau RA Kartini atau Tribuana Tungga Dewi atau Balqis atau Nefertiti,  menjadi utusan-Nya dan memberinya segala kehendak Tuhan di atas bumi ini.
Ayat 11. “Tidaklah hatinya mendustakan apa yang dia lihat” Lia, Abdul Rahman dan kaum Eden telah melihat tanda-tanda Tuhan di langit. Tiadalah mereka berdusta karena kebaikan yang diperlihatkan kepada mereka nanti, dijanjikan Tuhan kepada mereka melalui tanda-tanda di langit, sehingga mereka pun yakin bahwa mereka berada dalam takdir yang megah dan terpercaya. Sehingga bersedia disucikan sampai tuntas.
Ayat 12. “Apakah kamu membantahnya atas apa yang dilihatnya?” Surat selebaran yang disebarkan mereka kamu bantah, seakan-akan itu hanya halusinasi atau perekaan kamera dan komputer saja. Biarlah mereka kau dustakan saja, karena Tuhan mengakui kebenarannya.
Ayat 14. “Dekat Sidratul Muntaha” Negeri Indonesia tempat paling dekat Sidratul Muntaha, di wilayahnyalah surga yang didiami oleh para nabi dan rasul Tuhan. Disanalah Sidratul Muntaha itu, di surga dunia yang kami nyatakan telah berdiri di dunia ini. Negeri Indonesialah Sidratul Muntaha.
Ayat 15. “Di dekatnya ada surga tempat tinggal” Seiring dengan pengandaian Sidratul Muntaha sebagai negeri yang dikuduskan Tuhan yaitu Indonesia. Di tengahnya, di tempat ibu kotanya Jakarta ada surga tempat tinggal, yaitu tempat kediaman kaum Eden tempat suci Bunda Lia dan aku di Jl. Mahoni 30 Jakarta Pusat.
Ayat 17. “Tiadalah penglihatannya menyimpag dan tiada melampaui” Penglihatan mereka jelas dan nyata, lurus dan terpercaya, karena mata hati mereka jernih setelah kami sucikan sehingga apa-apa yang disampaikan mereka itu bukanlah penyimpangan seperti halnya penghalalan daging babi. Tuhan memiliki alasan yang lugas dan baik dan tak melampaui batas, karena kebijakan-Nya itu justru berlandaskan hal-hal yang nyata dalam kejadiannya dan memfokus kepada kebersamaan antar umat  beragama.
Ayat 18. “Sungguh dia telah melihat sebagian tanda-tanda yang besar dari Tuhannya” Setelah menerima sumpah Tuhan yang didengar dari kalbunya yang telah terucap di hadapan kaum Eden, mereka pun melihat tanda sumpah Tuhan itu di langit yang terekam oleh kamera Yanthi Sulistiono pada tanggal 18 Januari 2003. Sungguh rekaman dalam kamera itu kami benarkan sebagai perwujudan sumpah Tuhan di langit semesta.
Perceraian Lia dan Aminuddin Ketetapan Tuhan
Kemandirian yang dituturkan kepadanya menyatakan dia tak tergantung kepada siapapun dan apapun. Apa boleh buat, tak ada yang boleh bersanding dengannya. Aku ini perfeksionis. Takkan ada orang yang bisa meladeni aku dalam segala kehendakku yang bisa jadi terlebihkan. Utusan Tuhan bila terikat perkawinan takkan bisa seimbang keadaannya. Betapapun bila utusan Tuhan itu diserang, suaminya meradang dan bisa kesalahan langkah. Lia bisa terbagi urusan dan konsentrasinya………
Perceraiannya dengan aminuddin suaminya seiring penobatannya menyandang Ruhul Kudus, seiring dengan itupun dia tak hanya bercerai dengan suaminya tapi juga dipisahkan dengan segenap keluarganya, anak, ibu, dan saudara-saudaranya, segenap sanak keluarganya dan kerabatnya dan semua orang yang dikenalnya.
Ayat 63. “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa” Itulah janji Tuhan yang sedang ditepati-Nya. Surga yang berdiri di tengah-tengah bangunan yang berjejal di Jakarta, yang akan menjadi satelit keagamaan.
Ayat 64. “Dan tiadalah Kibril turun melainkan dengan perintah Tuhanmu. Bagi-Nya apa-apa yang di depan dan yang di belakang Kami dan apa-apa yang ada diantara demikian. Dan tiadalah Tuhan lupa” Dan tiadalah Tuhan itu akan lupa dari apa-apa yang dijanjikan-Nya. Seperti halnya kehidupan bahagia orang-orang yang berhasil mencapai surga Eden. Diperjelas keadaaan janji-Nya melalui takdir perkawinanku dengan Lia. Lia kini telah mengubah namanya atas seizing Tuhannya, yaitu Lia Eden. Berkah atas nama yang baru itu. Karena dialah symbol kebahagiaan surga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di hadapan semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang merona karena rayuanku padanya. Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Surga suami istri pun dinikmatinya. Tak lazim penyatuan ini. Tapi ayat ini memastikan bermakna terdapat rahasia surga Eden (‘And). Di dalam perintah-Nya kepadaku. “Jadikan Lia istrimu, agar surga tepampang di atas bumi”. Tiadalah sekutu bagi-Nya yang mah Tungfgal. Akulah pembukti Maria bukan bunda Allah. Termasuk di dalamnya komunikasi sex dengan malaikat dan bidadari adalah andalan kenikmatan di surga. Siapa-siapa yang lebih tersucikan dengan tuntas, jadilah perkawinan surga itu padanya.
…..”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalamnya ada bidadari-bidadari yang baik dan jelita. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Yaitu bidadari yang dipingit dalam mahligai.”
Apakah mahligai itu? Sinonimnya adalah mahligai perkawinan, maka sebuah mahligai adalah penikahan. Malaikat dan bidadari di surga dinikahkan dengan manusia perempuan dan laki-laki suci. Tertera dalam setiap pernikahan adalah kehalalan seks. Sifat mausialah yang menyukai seks. Lagi pula tak dapat dihilangkan kebutuhan itu walau sudah suci…..... Malaikat dan Bidadari tak beralat kelamin. Rangsangan syahwat manusia pasangannya ditanggapi dengan melepaskan energinya di pusat-pusat syaraf kelamin yang peka sehingga meggelembung dan kemudian dilepaskan (dikempesi) secara perlahan dan lembut. Itulah energi bioelekromagnetik yang digubah menjadi rangsangan dan dilepaskan menjadi orgasme. Ah, itu mudah bagi malaikat kalau sudah menjadi permintaan Tuhan.

13 komentar:

  1. rapuhnya pondasi iman serta kurangnya ilmu tentang agama dpt membuat umat tersesat.naudzubillah.

    BalasHapus
  2. Wkwkwk wahyu nya kok lucu ? Ngakak beroooww... LIA EDAN

    BalasHapus
  3. Ada malaikat ko punya hawa nafsu buat berhubungan badan dg LIA EDAN
    HAAAAAAAAAA KOPLAK.

    BalasHapus
  4. Kenthiiiiirrrrrrr.............

    BalasHapus
  5. koplak apa ada malaikat yg pnya nafsu hahahaha

    BalasHapus
  6. naudzubillahi mindzalik summa naudzubillahi mindzalik

    BalasHapus
  7. yelah lia..makin edan aja.ntar di azab loh

    BalasHapus
  8. Mirip waham ketuhanan yang sering dialami oleh seorang dengan gangguan kejiwaan.

    BalasHapus
  9. gila naklatullah
    mending agama lu yg harus di musnakan
    klw gw jadi presiden
    gw hancurin agama lu setan dajjal mmg qm

    inna dinna indawlahhi islam

    BalasHapus
  10. Tuhan bahagia kalo manusia rukun?? Lah ngapain emangnya?? Tuhan bisa galau juga berarti?? Wew, jangan2 tuhan ente fans JKT48 pas manusia rukun, dan jd fans Rhoma irama waktu manusia perang??

    BalasHapus
  11. Lia Eden, saya tantang kamu untuk bertemu Dr. Zakir Naik

    Kalau kamu menang debat dengan dia
    Saya siap masuk agamamu...!!!

    BalasHapus
  12. babi kecil , pas kecil kebanayankan nonton pelem

    BalasHapus