Senin, 23 April 2012

Apakah Ahmadiyah Islam Sejati?


AHMADIYAH ISLAM SEJATI
Oleh Anonim (JAI)
Berikut ini akan saya tampilkan tulisan yang menegaskan bahwa Ahmadiyah tidak termasuk aliran sesat. Tulisan ini merupakan tanggapan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia terhadap kriteria aliran sesat yang dikeluarkan oleh MUI pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 4-6 November 2007 di Hotel Sari Pan Pacifik. Berikut tanggapannya:

1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam,
Tanggapan: Ahmadiyah berpegang teguh kepada rukun Iman dan rukun Islam sebagaimana pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, “Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal, yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, yang Maha Esa, dengan pengakuan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada kitabullah Al-Qur`an dan Rasul-Nya, paduka kita Muhammad Khataamun Nabiyyin; kami beriman kepada Malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka . . . dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti maupun kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang meng-esakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul Haq, Juz I, hal. 5).

2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As Sunnah),
Tanggapan: Ahmadiyah tidak meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pendiri Ahmadiyah menyatakan dengan tegas: “Tidak masuk ke dalam Jemaat kami kecuali orang yang telah masuk ke dalam Islam dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah-sunnah pemimpin kita sebaik-baik manusia (Muhammad Rasulullah SAW) dan beriman kepada Allah, Rasul-Nya yang Maha Mulia yang Maha Pengasih dan beriman kepada khasyr dan nasyr, surga dan neraka jahiim; dan berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam dan akan mati di atas agama ini, agama fitrah, dengan berpegang teguh kepada kitab Allah yang Maha Tahu; dan mengamalkan setiap yang telah ditetapkan dari Sunnah, Al-Qur`an dan Ijma’ para sahabat yang mulia; siapa yang mengabaikan tiga perkara ini sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam api neraka. (Lihat buku Ruhani Khazain jilid XIX, hal.315 dan Mawahibur-Rahman, hal. 96).

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur`an
Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al-Qur`an itu wahyu Allah yang mengandung syariat yang lengkap dan terakhir, karena itu tidak akan turun lagi wahyu sesudah Nabi Muhammad SAW yang mengandung syariat yang mengganti atau merubah syariat Al-Qur`an . Keyakinan Ahmadiyah tentang wahyu didasarkan pada surah Asy Syura, 42:52 yang artinya, “Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Luhur, Maha Bijaksana.” Kalimat ‘yukallimahullahu’ dalam ayat ini berbentuk fi’il mudhori yang menunjukkan waktu sekarang, dan akan datang. Ini menunjukkan bahwa adanya wahyu adalah kekal sebagaimana kekalnya Dzat Allah Taala sebab ia terbit dari sifat mutakallim Allah Yang Maha Kekal. Sedangkan wahyu yang diturunkan hanya untuk menjelaskan dan menjunjung tinggi Al-Qur`an akan tetap ada dan tetap diperlukan sampai kiamat dan wahyu-wahyu semacam itu pernah diterima para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat, para sahabat yang akan memandikan jenazah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang bagaimana hendaknya jenazah Rasulullah Muhammad SAW, “Mandikanlah Nabi SAW sedang padanya ada pakaiannya.” (Hadits Al Baihaqi dari Siti Aisyah r.a. dalam Tarikhul Kamil jilid 2 hal. 16 dan Misykatus Syarif, jilid 3 babul Kiromat hal. 196-197). Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Muhyiddin Ibnu Arabi dan lain-lain, juga pernah menerima wahyu jenis ini. (tentang hal ini dapat dibaca pada buku Muzhatul-Majalis, jil. 1 hal. 107, babul-khilmi washfchi; Al Mathalibul Jamaliyah, Cetakan Mesir tahun 1344 halaman 23; dan Al Futuhatul Makiyyah, jilid III, halaman 35).

Pendapat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada wahyu dalam bentuk apapun setelah kewafatan Rasulullah Muhammad SAW sama saja dengan mengatakan bahwa sifat mutakallim Allah Taala telah terhenti, dengan kata lain Allah telah mengalami pengurangan dalam sifat-sifat-Nya. Bila salah satu sifatnya dinyatakan telah tidak berlaku lagi maka tidak tertutup kemungkinan bagi sifat-sifat-Nya yang lain akan berkurang dan ini akhirnya merusak keimanan seseorang kepada Allah.

4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al-Qur`an ,
Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al-Qur`an yang kita warisi sekarang ini asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dulu, dan Ahmadiyah menerimanya secara utuh. Pendiri Ahmadiyah menyatakan: “Siapa yang menambah atau menguranginya maka mereka itu tergolong setan.” (lihat, Mawahibur Rahman, halaman 285) ”…. Kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu dari Al-Qur`an dan di atasnya kami hidup dan mati. Siapa yang menambah pada syariat Al-Qur`an ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak akidah ijma’iyah. Maka baginya kutukan Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atham, halaman 144) ; “…Al-Qur`an itu sesudah Rasulullah SAW (wafat) terpelihara dari perubahan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al-Qur`an itu tidak akan dimanshukhkan dan tidak akan bertambah dan berkurang sesudah Rasulullah (wafat).”  (lihat, Ainah Kamalati Islam, halaman 21).

5. Menafsirkan Al-Qur`an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,
Tanggapan: Ahmadiyah menafsirkan Al-Qur`an berdasarkan 7 kaidah penafsiran yang satu dengan lainnya tidak boleh saling bertentangan, yaitu:
(A) Dengan Al-Qur`an sendiri. Tafsir suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain,
(B) Dengan tafsir Rasulullah SAW. Jika satu arti dari ayat Al Quran terbukti telah diartikan oleh Rasulullah SAW maka kewajiban seluruh orang Islam untuk menerima itu tanpa keraguan dan keseganan sedikitpun,
(C) Dengan tafsir para Sahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka adalah pewaris utama dan pertama dari nur ilmu-ilmu nubuwat Rasulullah SAW,
(D) Dengan merenungkan isi Al Quran dengan jiwa yang disucikan,
(E) Dengan Bahasa Arab,
(F). Dengan hukum Alam, sebab tidak ada pertentangan antara tatanan rohani dengan tatanan alam semesta,
(G) Dengan tafsir yang diperoleh melalui bimbingan langsung dari Allah seperti wahyu, mimpi, dan kasyaf. (disarikan dari buku ‘Barakatud do’a’, karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad).

6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menegaskan, “Sarana petunjuk ketiga adalah Hadits, sebab banyak sekali soal-soal yang berhubungan dengan sejarah Islam, budi pekerti, fiqh dengan jelas dibentangkan di dalamnya. Faedah besar daripada Hadits selain itu ialah, Hadits merupakan khadim (abdi) Al-Qur`an .” (Bahtera Nuh, bahasa Indonesia, edisi kelima, halaman 87-88)

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah menghina, melecehkan atau merendahkan Nabi dan Rasul. Ahmadiyah menghormati dan mengimani semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana Al-Qur`an mengajarkan kepada kaum Muslim, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari Rasul-Rasul-Nya yang satu terhadap yang lain.” (Q.S Al Baqarah: 286).

8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syari’at. Nabi Muhammad SAW sendiri memberitakan bahwa di akhir zaman akan turun Isa Ibnu Maryam yang kedudukannya adalah Nabi, (Hadits Bukhari, Kitabul Anbiya’, bab Nuzul Isa Ibnu Maryam), namun tidak membawa syari’at baru melainkan menegakkan syari’at Islam.

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, bahkan Ahmadiyah berupaya melaksanakan semua sunnah Rasulullah SAW dan Ijma’ sahabatnya Yang Mulia. Pendiri Ahmadiyah menyatakan : “Kami berlepas diri dari semua kenyataan yang tidak disaksikan syariat Islam.” (Tuhfah Baghdad, halaman 35)

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i,
Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengafirkan seorangpun yang mengaku Islam atau mengucapkan dua Kalimah Syahadah. Perlu diingat dan dipedomani bahwa Nabi Besar Muhammad SAW telah membuat definisi seorang dikatakan Muslim yang didasarkan atas amal seseorang dan bukan atas niat atau pikiran yang ada dalam benaknya. Misalnya, “Siapa saja yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kepada kiblat kami dan memakan sesembelihan kurban kami, maka itu petunjuk bagimu (bahwa ia adalah) seorang muslim. Ia menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu merusak tentang tanggungan Allah itu.” (Bukhari dan An Nasaai dan Kanzul Umal juz 1/398). Dengan demikian Ahmadiyah sama sekali tidak termasuk kedalam aliran sesat. (Jakarta, 8 November 2007, P.B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia) []


BANTAHAN AR-RISALAH INSTITUTE UNTUK MAKALAH
“AHMADIYAH ISLAM SEJATI”
Oleh Ar-Risalah Institute

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 1 :
Mirza Ghulam Ahmad tetap mengajarkan kepada para pengikutnya untuk meyakini Rukun Islam dan Rukun Iman. Mereka juga sama dengan umumnya kaum muslimin, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, baik di dalam shalat maupun ketika adzan. Akan tetapi yang dimaksud dengan Muhammad di dalam syahadat mereka adalah Mirza Ghulam Ahmad. Jadi ketika mereka mengatakan, ”Saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah,” yaitu mereka memaksudkan kata Muhammad di dalam syahadat tersebut adalah Mirza Ghulam Ahmad. Lihat bukti berikut ini, ”Dalam wahyu ini (QS Al-Fath [48]: 29/Barahin Ahmadiyah hal. 504) Allah SWT menyebutkan namaku (Mirza Ghulam Ahmad) Muhammad dan Rasul.” (Eik Ghalti Ka Izalah, karya Mirza Ghulam Ahmad, 5 November 1901, edisi Indonesia, Memperbaiki Suatu Kesalahan, JAI Cab. Bandung, 1993, hal. 5).

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 2 :
Mirza Ghulam Ahmad mengajarkan dan menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan dalil syar’ie (Al-Qur`an dan As-Sunnah). Misalnya :
  1. Membolehkan bersentuhan kulit dengan wanita bukan mahram
“Mirza Ghulam Ahmad sering dipijat oleh perempuan-perempuan yang bukan mahramnya. Tapi, karena dia adalah seorang nabi, maka tidak menjadi dosa. Bahkan menjadi keberkahan bagi perempuan yang suka memijatnya itu.” (Al-Hukam Qadiyan, jilid 11 no. 13, 17 April 1907).
  1. Nama Mirza Ghulam Ahmad sempurna sedangkan nama Allah SWT tidak sempurna. ”Wahai Ahmad, namamu akan menjadi sempurna walaupun nama-Ku tidak sempurna,” (Arbaine Ahmadiyah no. 3 hal. 6).
  2. Mirza menerima wahyu, ”Kedudukanmu di hadapan-Ku adalah seperti anak-Ku,” Haqiqatul Wahyi hal. 86).

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 3 :
Jumhur para ulama telah sepakat bahwa Islam telah sempurna dan Al-Qur`an telah lengkap, tidak mungkin Allah SWT akan mengirimkan wahyu kepada seseorang setelah Rasulullah SAW wafat. Akan tetapi, wahyu dalam artian ilham memang bisa saja masih terjadi. Akan tetapi, sebuah ilham tidak bisa dijadikan sumber hukum di dalam beragama. Yang jelas wahyu dalam artian firman Allah SWT yang dibawa oleh malaikat Jibril adalah sudah terhenti sejak Rasulullah SAW wafat. Oleh karena itu, jika ada seorang muslim yang meyakini bahwa Allah SWT tetap berfirman, maka keyakinannya ini adalah keyakinan batil dan sesat. Sebab kata kerja sekarang atau present tense di dalam ayat yang berbunyi ‘yukallimahullahu’ tidak mesti diartikan sedang atau akan. Sebab, ada juga beberapa ayat di dalam Al-Qur`an yang memakai kata kerja telah, tetapi maknanya sedang dan ada juga ayat yang memakai kata kerja sedang, tetapi maknanya telah.
Perhatikan firman Allah SWT yang terdapat di dalam QS An-Nahl [16]: 98.
                
Di dalam ayat ini Allah SWT menggunakan kata kerja lampau atau fi’il madhi. Yaitu qara`ta (engkau telah membaca). Akan tetapi, bagaimanakah Rasulullah SAW memberikan contoh ketika beliau membaca ta’awwudz? Apakah sebelum membaca Al-Qur`an atau setelah membaca Al-Qur`an? Ternyata Rasulullah SAW mencontohkan bahwa membaca ta’awwudz itu adalah sebelum seorang muslim membaca Al-Qur`an. Ketika ada seseorang yang ingin membaca Al-Qur`an, maka sebelumnya dia harus membaca ta’awwudz. Artinya, tidak semua kata kerja present tense diartikan sekarang atau akan. Demkikian pula kata kerja past tense, tidak semuanya diartikan lampau. Karena terkadang kata kerja past tense diartikan dengan arti akan atau sedang.   

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 4 :
Saya ajukan pertanyaan, “Mengapa Ahmadiyah mencetak sebuah buku yang bernama Tadzkirah?“ Saya berkeyakinan bahwa Ahmadiyah telah mengingkari keotentikan Al-Qur`an. Pertama dengan mencetak kitab Tadzkirah yang tercantum tulisan berbunyi, wahyun muqaddasun/wahyu suci.“ Kedua nama-nama bulan yang dipakai oleh orang-orang Ahmadiyah berbeda dengan nama bulan yang dipakai kaum muslimin. Padahal mereka mengaku sebagai muslim. Apakah mereka tidak tahu jika nama-nama bulan Qamariyah adalah penamaan langsung dari Allah SWT untuk kaum muslimin dan telah diterangkan di dalam Al-Qur`an surah At-Taubah [09]: 36:
                                     
Dengan ini, mereka saya cap sebagai orang-orang yang mengingkari keotentikan Al-Qur`an, karena mereka tidak mau memakai nama-nama bulan yang digariskan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur`an. (Tidak percaya, silahkan baca tafsir para ulama mengenai QS At-taubah [09]: 36 tersebut).

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 5 :
Untuk menjawab poin nomor 5 dari Ahmadiyah, saya cukupkan dengan mengutip tafsir Al-Qur`an versi Ahmadiyah yang berjudul, ”Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Jilid III, Edisi Pertama, Yayasan Wisma Damai Jakarta, 1983” berikut ini yang membahas surah Al-Jumu’ah.
Surah 62
AL-JUMU’AH

Diturunkan
:
Sesudah Hijrah
Ayatnya
:
12, dengan bismillah
Rukuknya
:
2

Waktu Diturunkan dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya.
            Surah ini agaknya diturunkan beberapa tahun sesudah Hijrah (lihat ayat 4). Dalam surah sebelumnya telah disinggung nubuatan Nabi Isa a.s. tentang kedatangan Nabi Ahmad a.s. .....Surah ini kemudian mengisyaratkan pula kepada gejala rohani yang akan terjadi pada suatu ketika kelak dengan perantaraan wakil agung Rasulullah s.a.w. ialah Masih Mau’ud.....Menjelang penutup, ditekankannya soal kepentingan salat Jum’at dan tersirat bahwa di zaman kedatangan Rasulullah s.a.w. kedua kali yang diumpamakan sebagai salat Jum’at...

“Dan Dia akan membangkitkan di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka3046 dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
                             

---------------------
3046. ....Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabi s.a.w. yang termasyhur tertuju kepada pengutusan Rasulullah s.a.w. sendiri untuk kedua kali dalam wujud Hadhrat Masih Mau'ud a.s. di akhir zaman......Jadi, Alquran dan hadis kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Rasulullah s.a.w. dalam wujud Hadhrat Masih Mau'ud a.s.

Saya ajukan pertanyaan, ”Adakah ahli tafsir yang menafsirkan ayat ini seperti tafsir Ahmadiyah ini?” Jika ada, tolong sebutkan! Apakah Ibnu Katsir atau Al-Qurthubi atau yang lainnya?!
Dari bukti ini sudah sangat jelas jika orang-orang Ahmadiyah tidak pernah menafsirkan sesuai kaidah-kaidah tafsir.

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 6 :
Apakah kalian tahu wahai orang-orang Ahmadiyah jika ”nabimu” pernah berkata seperti ini, ”Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA buang saja ke tempat sampah.” (Barahine Ahmadiyah jilid 5 hal. 238).
Silahkan kalian menafsirkan kata-kata nabi kalian ini!
Menurut saya, bukankah dengan ucapan ini Mirza Ghulam Ahmad telah mengingkari kedudukan hadits Rasulullah SAW sebagai sumber ajaran Islam?

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 7 :
Di dalam buku-buku karangan Mirza Ghulam Ahmad, dia sering menuliskan kata-kata bernada pelecehan terhadap para nabi dan rasul Allah SWT. Berikut ini petikannya:
  1. “Mukjizat-mukjizat yang turun untuk membuktikan saya (Mirza Ghulam Ahmad) sebagai nabi adalah lebih banyak daripada mukjizat Nabi Musa AS,” (Haqiqatul Wahyi hal. 83).
  2. “Ramalan dan mukjizat saya (Mirza Ghulam Ahmad) lebih banyak daripada mukjizat ratusan nabi.” (Review of Religion jilid 1 hal. 393, Al-I’tisham Lahore, 9 Desember 1966).
  3. “Mein kabhi Adam kabhi Musa kabhi Ya’qub hun niz Ibrahim hun naslein hein meri besyumar.” (bahasa Urdu, yang artinya, “Saya (Mirza Ghulam Ahmad) adalah Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, Nabi Ya’qub AS dan Nabi Ibrahim AS, dan saya mempunyai banyak silsilah keturunan.” (Dure Samin hal. 123).

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 8 :
Sudah jelas-jelas Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi dan rasul. Berikut ini petikannya :
  1. ”Dan Allah lah yang menggenggam ruhku, Dia lah yang telah mengutusku dan menamaiku Nabi...dan Allah memberikan bukti-bukti yang jelas atas kebenaran pengakuanku yang bukti-bukti tersebut mencapai angka 300.000 bukti,” (Tatimmah Haqiqatul Wahyi, hal. 503).
  2. ”Tatkala aku menjadi reinkarnasi dari Nabi Muhammad SAW yang telah ada sebelumnya sejak lama, (maka) aku pun menerima kenabian reinkarnasi,” (Ruhani Khazain jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah hal. 215).
  3. ”Dengan pengayoman melalui Muhammad Al-Musthafa, aku dinamai Muhammad dan Ahmad. Maka aku pun merupakan seorang nabi dan rasul,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 211).

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 9 :
Bukti bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah mengubah pokok-pkok ibadah adalah ucapan dia berikut ini, ”Sejak 16 tahun yang lalu, saya (Mirza Ghulam Ahmad) berusaha untuk menjelaskan dengan tulisan saya bahwa menaati Pemerintah Inggris hukumnya wajib dan jihad hukumnya haram!” (Tablighe Risalat jilid 3 hal. 196).

Jawaban Ar-Risalah Institute untuk nomor 10 :
Di dalam Kalimatul Fashl/Review of Religion jilid 14 hal. 110 dikatakan, “Setiap orang yang beriman kepada Nabi Musa AS tapi tidak beriman kepada Nabi Isa AS, atau beriman kepada Nabi Isa AS tapi tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW, atau beriman kepada Nabi Muhammad SAW tapi tidak beriman kepada Masih Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad), maka orang tersebut adalah KAFIR. Bukan hanya kafir biasa, tapi benar-benar kafir dan dia sudah ke luar dari garis/lingkaran agama Islam.” (Kalimatul Fashl/Review of Religion karya Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad bin Mirza Ghulam Ahmad, jilid 14 hal. 110).


Salam perjuangan,


Ar-Risalah Institute

3 komentar:

  1. Terima kasih. orang awam pun akan tau jawaban atas tulisan diatas.
    mana yang benar-benar islam.

    BalasHapus
  2. Maaf, saya kira orang awam tidak akan faham, karena justru yang banyak menjadi pengikut ahmadiyah adalah dari kalangan orang-orang awam. mereka menyangka ahmadiyah itu sama dengan muhammadiyah.

    BalasHapus
  3. goblok !!!!!!

    BalasHapus