Minggu, 29 April 2012

Bantahan dan Tanggapan Atas Penjelasan JAI

Salinan
KLARIFIKASI AHMADIYAH


PENJELASAN
PENGURUS BESAR JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA
( P B   J A I )
TENTANG POKOK – POKOK KEYAKINAN DAN KEMASYARAKATAN
WARGA JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA


1.          Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW yaitu, Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

2.          Sejak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).

3.          Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

4.          Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota Jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.

5.          Kami warga Jemaat Ahamdiyah meyakini bahwa:
a.     Tidak ada wahyu syariat setelah Al Quranul Karim yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW;
b.     Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.

6.          Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

7.          Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.

8.          Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.

9.          Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh Jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.

10.      Kami warga Jemaat Ahmadiyah sebagai Muslim selalu melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara-perkara lainnya berkenaan dengan itu ke Kantor Pengadilan Agama sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
  


11.      Kami warga Jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturrahim dan bekerjasama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam pengkhidmatan sosial kemasyarakatan untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

12.      Dengan penjelasan ini, kami Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah Indonesia khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.


Jakarta, 14 Januari 2008
PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI),


ttd.

H. Abdul Basith
Amir


Mengetahui:
  1. Prof. Dr. Atho Mudzhar (Kabalitbang dan Diklat Depag RI)
(    ttd.     )

  1. Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA (Dirjen Bimas Islam Depag RI)
(    ttd.     )

  1. Prof. Dr. H. Azzumardi Azra, MA (Deputi Seswapres Bidang Kesra)
(    ttd.     )

  1. Drs. Denty Ierdan, MM (Ditjen Kesbangpok Depdagri)
(    ttd.     )

  1. Ir. H. Muslich Zainal Asikin, MBA, MT (Ketua II Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia - GAI)
(    ttd.     )

  1. KH. Agus Miftah (Tokoh Masyarakat)
(    ttd.     )

  1. Irjen Pol. Drs. H. Saleh Saaf (Kaba Intelkam Polri)
(    ttd.     )

  1. Prof. Dr. H. M. Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
(    ttd.     )

  1. Ir. H. Anis Ahmad Ayyub (Anggota Pengurus Besar JAI)
(    ttd.     )

  1. Drs. Abdul Rozzaq (Anggota Pengurus Besar JAI)
(    ttd.     )



Lanjutan Penjelasan Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tentang Pokok-Pokok Keyakinan dan Kemasyarakatan Warga Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Salinan
HASIL RAKOR BAKOR PAKEM KEJAGUNG RI

RAKOR PAKEM
AULA JAKSA AGUNG MUDA INTELIJEN

SELASA, 15 JANUARI 19 JANUARI 2008
JAM 10.00


Rapat dipimpin dan dibuka oleh Jaksa Agung Muda Intelijen.

Dihadiri oleh:

  1. Sekretaris Jaksa Agung Muda Intelijen
  2. Direktur Sosial dan Politik
  3. Kasubdit Pakem dan Keagamaan
  4. Kabalitbang dan Diklat Depag RI
  5. Ditjen Kesbang dan Politik Depdagri
  6. Ditjen NBSF (Nilai Budaya Seni dan Film) Kementrian Budaya dan Pariwisata
  7. Aster Kasum TNI
  8. Kaba Intelkam Mabes Polri
  9. Deputi II BIN
  10. Asisten Intelijen Kejati DKI Jakarta

HASIL:
  1. BAKOR PAKEM telah membaca dan memahami isi 12 butir Penjelasan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang disampaikan dan ditandatangani oleh PB JAI atas nama H. Abdul Basit serta diketahui dan ditandatangani oleh Instansi Pemerintah dan para tokoh Agama Islam pada tanggal 14 Januari 2008.

  1. BAKOR PAKEM setelah membahas isi 12 butir Penjelasan PB JAI menilai perlu memberikan kesempatan kepada JAI untuk melaksanakan isi 12 butir Penjelasan tersebut dengan segala konsekuensinya secara konsisten dan bertanggung jawab.

  1. BAKOR PAKEM akan terus memantau dan mengevaluasi perkembangan atas pelaksanaan isi 12 butir Penjelasan PB JAI dimaksud di seluruh wilayah RI.

  1. Apabila terdapat ketidaksesuaian dalam pelaksanaan isi 12 butir Penjelasan PB JAI maka BAKOR PAKEM akan mempertimbangkan penyelesaian lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

  1. BAKOR PAKEM menghimbau semua pihak untuk dapat memahami maksud dan itikad baik PB JAI sebagai bagian dari membangun kerukunan umat beragama dengan mengedepankan kebersamaan serta menghindari tindakan-tindakan anarkis dan destruktif.


TANGGAPAN-TANGGAPAN DARI TIM PENELITI
AR-RISALAH INSTITUTE JAKARTA

TERHADAP DRAFT PENJELASAN PENGURUS BESAR JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA (PB JAI)
TENTANG POKOK-POKOK KEYAKINAN DAN KEMASYARAKATAN
WARGA JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA

Menanggapi draft akhir hasil rapat koordinasi/diskusi yang dilakukan oleh Balitbang Depag RI dan PAKEM Kejaksaan Agung RI, yang membahas tentang Ajaran Ahmadiyah, maka kami menganggap perlu memberikan tanggapan terhadap 12 butir Penjelasan/klarifikasi dari PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia tentang Pokok-pokok Keyakinan dan Kemasyarakatan Warga Jemaat Ahmadiyah Indonesia, sebagaimana tersebut di atas.
Redaksi draft tersebut secara keseluruhan telah menyakiti hati umat Islam yang benar-benar mengerti dan memahami hakikat ajaran Ahmadiyah, karena isinya hanya menjelaskan keyakinan-keyakinan Ahmadiyah dengan perubahan istilah-istilah untuk mengelabui umat Islam. Di samping itu, Draft terakhir yang dibuat oleh PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia – seperti dikutip di atas – terdapat sedikit perbedaan dengan Draft Hasil Rakor dengan Balitbang dan Diklat Depag RI serta PAKEM Kejaksaan Agung RI. Akan tetapi, tentu saja perbedaan itu sangat signifikan, misalnya ada beberapa kalimat penting yang dibuang serta susunannya yang berubah.
Untuk lebih jelasnya kami kutipkan kembali butir per butir draft tersebut beserta tanggapan dan penjelasan tentang hakikat yang sebenarnya tentang ajaran Ahmadiyah, yaitu sebagai berikut:

1.     KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 1:
“Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW yaitu, Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.”

TANGGAPAN Ar-Risalah Institute :
1.     Tentang Ahmadiyah
Kami kutipkan sebagian Anggaran Dasar Jemaat Ahmadiyah sebagai berikut:

ANGGARAN DASAR
DARI DJEMAAT INDONESIA

I.      Nama dan Waktu didirikan:
Djemaat Ahmadiyah bagian Indonesia diberi nama Djemaat Ahmadiyah Indonesia dapat tempat kedudukan Djakarta dan didirikan pada tahun 1925 (M), untuk waktu yang tidak tertentu.

II.    Maksud:
Maksud Djemaat ini ialah menyebarkan Agama Islam menurut peladjaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan para Khalifahnya ke seluruh Indonesia, dan membantu Djemaat Ahmadiyah di luar Indonesia dalam hal itu.

Dengan adanya pedoman ini, mereka mengklaim diri sebagai kelompok Islam yang paling benar. Untuk menguatkan argumennya, mereka membajak Al Qur’an dengan cara menafsirkan ayat-ayat sucinya secara serampangan. Hal ini bias kita lihat dalam penafsiran mereka terhadap ayat-ayat suci Al Qur’an yang terdapat dalam buku-buku dan majalah resmi mereka, di antaranya:




·       Dalam buku Bahtera Nuh terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia:

“Sebagaimana Nabi Nuh a.s diperintahkan membangun bahtera, demikian pula Hazrat Imam Mahdi a.s diperintahkan Allah Ta’ala untuk membangun bahtera.
“Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera ini dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Tiada yang dapat melindungi hari ini dari takdir Ilahi selain Allah Yang Maha Penyayang,” demikian wahyu turun kepada beliau.” (Prakata hal. I)

إِصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا إِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ إَنّمَا يُبَايِعُوْنَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوقَ أَيْديْهِمْ
 Buatlah bahtera itu dengan pengawasan petunjuk wahyu kami. Barangsiapa yang baiat kepada engkau, mereka sesunguhnya baiat kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka.”

Ayat-ayat ini wahyu ilahi dalam Al-Qur’an yang turun kepadaku:
ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرسَاهَا لاَ عَا صِمَ الْيَوْمِ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ رِحِمَ
Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera ini dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan  berlabuhnya. Tiada yang dapat melindungi hari ini dari takdir ilahi selain Allah Yang Maha Penyayang.” (hal. Iii)

“… Bahtera yang di anugrahkan kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s bukanlah terbuat dari papan dan paku melainkan terbuat dari sebuah ajaran.
“… Dia (Tuhan) akan menyelamatkan manusia. Sebab, siapapun yang tidak menaiki Bahtera ini tidak boleh berharap sedikitpun untuk mendapatkan keselamatan.”  (Kata Pengantar)

·       Dalam Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah “Sinar Islam” edisi 1 Juli 1986 (Wafa 1365 HS), pada salah satu tulisan dengan judul Ahmadiyah Bagaikan Bahtera Nuh Untuk Menyelamatkan Yang Berlayar Dengannya, oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih IV, dinyatakan:

“Aku ingin menarik perhatian kalian kepada sebuah bahtera lainnya yang telah dibuat di bawah mata Allah dan dengan pengarahanNya. Kalian adalah bahtera itu, yakni Jemaat Ahmadiyah. Masih Mau’ud a.s. diberi petunjuk oleh Allah melalui wahyu yang diterimanya bahwa beliau hendaklah mempersiapkan sebuah Bahtera. Bahtera itu adalah Jemaat Ahmadiyah yang telah mendapat jaminan Allah bahwa barang siapa bergabung dengannya akan dipelihara dari segala kehancuran dan kebinasaan.”.………….
Bahtera ini, Jemaat Ahmadiyah, adalah sebuah Bahtera Suci yang memiliki ciri-ciri khas yang dibentuk di bawah mata Allah dan sesuai dengan pengarahan-Nya. Masih Mau’ud a.s. tidak ambil bagian dalam hal ini. Allah telah berfirman dengan jelas dan secara khusus bahwa semua rinciannya ditentukan oleh-Nya dan bahwa Bahtera itu dibuat dengan pengarahan-Nya. Dengan demikian, jika ajaran Masih Mau’ud a.s. dalam bentuk Jemaat Ahmadiyah adalah Bahtera Nuh tersebut, dan memang demikianlah sebenarnya, maka setiap bagiannya, setiap partikelnya dan setiap seginya, telah dibentuk dengan petunjuk-petunjuk Allah.
Oleh karena itu, tanggungan kalianlah untuk mememlihara ciri-ciri khas dari Jemaat ini”. …………
“Ini adalah suatu pelajaran lain yang hendaknya diperhatikan oleh anggota-anggota Jemaat. Sungguh terdapat jaminan keamanan bagi mereka yang menaiki Bahtera Nuh, baik bagi para anggota keluarga Masih Mau’ud a.s. maupun bagi orang-orang yang, meskipun tidak mempunyai hubungan jasmani dengannya, menaiki Bahtera itu dengan jalan mengikuti ajaran beliau”. ………….
“Semoga Allah memberi kemampuan kepada kita untuk melindungi Bahtera ini dengan sebaik-baiknya, dengan ketakwaan dan ketabahan yang sempurna, dan dengan kebenaran yang sempurna – Bahtera yang telah dibina demi keselamatan seluruh dunia. Amin!”. (Hal. 12, 13, 16, 30)

2.     Tentang Syahadat Ahmadiyah
Pada butir nomor 1 draft tersebut, disebutkan bahwa kalimah Syahadat Jemaat Ahmadiyah sama dengan kalimah Syahadat umat Islam pada umumnya, yaitu:

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله
Artinya: “Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.”

Pada kenyataannya, meskipun redaksi kalimat Syahadatnya sama, akan tetapi orang yang dimaksud dalam kalimat syahadat tersebut berbeda. Nama MUHAMMAD dalam syahadat tersebut menurut para pengikut/tokoh Ahmadiyah adalah Nabi/Rasul mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, sebagaimana tercantum dalam buku Memperbaiki Kesalahan, karya Mirza Ghulam Ahmad, yang dialih bahasakan oleh H.S. Yahya Ponta, dan diterbitkan oleh Jamaah Ahmadiyah cab. Bandung, tahun 1993, pada halaman 5 tertulis:

محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم ...
“Dalam wahyu ini Allah SWT menyebutku Muhammad dan Rasul…”

Di sinilah umat Islam banyak tertipu dengan syahadatnya orang-orang Ahmadiyah, sehingga umat Islam menganggap bahwa yang dimaksud “Muhammad” dalam syahadat Ahmadiyah adalah Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah Al Mukarramah. Padahal, yang dimaksud “Muhammad” dalam syahadat Ahmadiyah adalah “Ahmad”, yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India yang menjadi Nabi jemaat Ahmadiyah.


2.     KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 2:
“Sejak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).”

Kalimat yang dibuang:
“.... dan tidak ada Nabi dan Rasul pembawa syariat sesudahnya.

TANGGAPAN Ar-Risalah Institute :
Tentang Kenabian/Kerasulan Mirza Ghulam Ahmad
Pada butir nomor 2 ini disebutkan bahwa Ahmadiyah mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai “Khatamun Nabiyyin (nabi penutup)”, akan tetapi membuang kalimat yang menyatakan pengakuan mereka bahwa tidak ada Nabi dan Rasul pembawa syariat sesudahnya (Nabi Muhammad SAW).
Hal ini – terlepas dari dibuang atau tidaknya kalimat tersebut – membuktikan bahwa sebenarnya mereka masih meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Rasul Ahmadiyah, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku mereka, berikut kutipannya:

·       Dalam buku Memperbaiki Suatu Kesalahan, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.), Jemaat Ahmadiyah Indonesia cabang Bandung, 1993, disebutkan:

Memperbaiki Suatu Kesalahan (Eik Ghalthi Ka Izalah)
Buktinya baru-baru ini seorang Ahmadi ditanyai oleh seorang yang tidak menyetujui pendirianku: “Orang yang kamu bai’at di tangannya, dia mengaku menjadi nabi dan rasul.” Ia menjawab dengan kata-kata yang mengingkarinya, padahal jawaban sedemikian itu adalah salah. Yang sebenarnya adalah bahwa itu wahyu suci dari Allah SWT yang diwahyukan kepadaku, di dalamnya mengandung kata-kata rasul, mursal dan nabi bukan hanya sekali atau dua kali, malah beratus-ratus kali digunakan.” (Hal. 3)

“… Sebagian dari wahyu-wahyu Allah SWT itu, yang sudah tersiar dalam kitab Barahin Ahmadiyah, ialah sebagai berikut:

هُوَ الَّذِى اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ
“Dia-lah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, guna memenangkan agama Islam di atas agama-agama lainnya.” (Peny.) – lihat Barahin Ahmadiyah hal. 498).
“Di dalam wahyu ini nyata benar, bahwa aku dipanggil dengan nama Rasul …” (Hal. 4)

“….. Lagi pula dalam kitab ini di dekat wahyu itu ada pula wahyu Allah Ta’ala:
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
 “Muhammad Rasulullah dan orang-orang yang beriman besertanya cukup berani dan sangat bersemangat terhadap orang-orang yang ingkar, tetapi lemah lembut dalam kasih terhadap sesama kawan mukmin” (Peny.).

Dalam wahyu ini Allah SWT menyebutkan namaku ‘Muhammad’ dan ‘Rasul’…” (Hal. 5)

“….. Akan tetapi kalau seseorang yang telah benar-benar fana dalam “khatamannabiyin” dan sudah mendapat namanya karena sudah bersatu betul dengan tidak ada perlainan dan perbedaan sedikit jua pun, serta sudah sebagai cermin yang amat bersih yang di dalamnya kelihatan jelas wajah Muhammad SAW, maka orang itu dengan tidak merusak cap, akan dikatakan nabi, karena dia itu Muhammad, meskipun secara zhilli.
….. karena Muhammad yang kedua ini adalah gambaran dari Muhammad yang dahulu.” (Hal. 10)

“Dengan berdiri di sisi Baitullah aku bersumpah, bahwa wahyu-wahyu suci yang diturunkan kepadaku adalah semuanya firman Tuhan yang dahulu pernah menurunkan wahyu-wahyu-Nya kepada Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan kepada yang mulia Muhammad Musthafa SAW.” (Hal. 13)

“….. Jika ada orang yang marah, karena wahyu kepadaku ada yang menerangkan bahwa aku ini Nabi dan Rasul, maka dalam hal ini menunjukan kebodohannya sendiri, sebab kenabian dan kerasulan ini tidak merusak cap Allah Taala.
Jelaslah bahwa aku menyatakan mengenai diriku, bahwa Allah Ta’ala menyebut namaku dengan panggilan nabi dan rasul.” (Hal. 15-16)

“Dan 20 tahun yang lalu, sebagai tersebut dalam kitab Barahin Ahmadiyah Allah Taala sudah memberikan nama Muhammad dan Ahmad kepadaku, dan menyatakan aku wujud beliau juga.” (Hal. 16-17)

“….. Dalam hal ini wujudku tidak ada, yang ada hanyalah Muhammad Musthafa SAW, dan itulah sebabnya aku dinamakan Muhammad dan Ahmad.” (Hal. 25)

·       Bahkan, dalam Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah “Sinar Islam” edisi 1 Nopember 1985 (Nubuwwah 1364 HS), rubrik Tadzkirah, disebutkan:

“Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Barahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku manifestasi dari semua Nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, Aku Seth, Aku Nuh, Aku Ibrahim, Aku Ishaq, Aku Ismail, Aku Ya’qub Aku Yusuf, Aku Musa, Aku Daud, Aku Isa, dan Aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad SAW, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi. (Haqiqatul Wahyi, h. 72).” (Hal. 11-12)


3.     KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 3:
“Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban mubasysyirat pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.”

TANGGAPAN:
Sesuai dengan hasil Rakor tanggal 6 Desember 2007 di kantor Badan Litbang dan Diklat, Gedung Bayt Al-Qur’an TMII Jakarta, butir ini (nomor 4 dalam draft) untuk sementara ditangguhkan karena Ahmadiyah akan mengkonsultasikannya terlebih dahulu dengan pimpinan pusatnya di London, Inggris. Kemudian akhirnya mereka menyepakati redaksi butir nomor 4 tersebut (nomor 3 dalam draft terbaru), yang disepakati dalam rakor, yaitu seperti tersebut di atas.
Akan tetapi, apabila kita membacanya dengan cermat, meskipun ada kalimat yang dibuang dari redaksi yang diinginkan oleh Ahmadiyah, yaitu “Beliau adalah Nabi Ummati yang tidak membawa syariat, Imam Mahdi serta Al Masih yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Muhammad Rasulullah SAW”, rumusan hasil rakor tersebut tetap saja memiliki pengertian bahwa Ahmadiyah masih meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Rasul, karena sebagaimana kita ketahui bersama bahwa fungsi Nabi dan Rasul Muhammad SAW adalah sebagai basyiran (pembawa berita gembira) dan nadziran (pemberi peringatan) kepada seluruh umat manusia.
Jadi, butir tersebut tetap menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul yang diyakini oleh para pengikutnya, termasuk yang ada di Indonesia. Hal ini diperkuat dengan penjelasan mereka sendiri dalam buku-buku yang mereka terbitkan, di antaranya:

·       Dalam buku Penjelasan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Jemaat Ahamdiyah Indonesia, 1995 disebutkan:

Dikatakan oleh Litbang DEPAG :
1.     Bahwa aliran Ahmadiyah Qadiyan itu… berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu adalah Nabi dan Rasul dan barangsiapa yang tidak mempercayainya adalah kafir dan murtad. Oleh karena itu ajaran Ahmadiyah Qadiyan itu… harus dilarang di seluruh Indonesia.

Penjelasan Ahmadiyah :
          Ahmadiyah meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu Nabi dan Rasul adalah berdasar pengakuan bahwa beliau mendapat wahyu dan diangkat oleh Tuhan. Jadi, bukan atas kemauan beliau sendiri. Tuhan mempunyai kekuasaan dan wewenang mengangkat siapa saja diantara hamba-hamba yang dipilih-Nya. (Lampiran VIII, Penjelasan Jemaat Ahmadiyah Indonesia terhadap keberatan-keberatan dari pihak Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam, hal. 1)

·       Dalam buku Ahmadiyah Apa dan Mengapa?, Syafi R. Batuah, Cetakan XVII, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1986: 

Rasulkah Mirza Ghulam Ahmad?
“Menurut Al-Qur’an setiap nabi adalah rasul dan sebaliknya setiap rasul adalah nabi. Seorang dikatakan nabi karena ia mendapat khabar ghaib dari Allah swt. (subhanahu wa ta’ala) yang menyatakan ia adalah seorang “nabi”. Dan ia diutus oleh Allah swt kepada manusia. Selaras dengan itu Hadhrat Mirza Ghulam a.s adalah nabi dan rasul.” (hal 5)

Haruskah orang Islam percaya pada Mirza Ghulam Ahmad?
“Menurut ajaran Al-Qur’an mengenai kepercayaan pada Nabi kaum mukmin tidak boleh membeda-bedakan. Mereka harus mendengar dan patuh pada semua Nabi, terutama kepada Nabi yang ada pada masa mereka.
Hal ini berlaku terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Beliau ialah nabi dan rasul Allah. Karena itu orang-orang Islam harus percaya padanya. Kalau tidak demikian mereka tidaklah mengikuti seluruh ajaran Al-Qur’an. Di samping itu Nabi Muhamad saw. Sendiri berpesan tegas bahwa kalau datang imam Mahdi yang dijanjikan beliau di akhir zaman maka orang-orang Islam harus ikut padanya walau halangan apa juga yang menghambat. Karena Imam Mahdi itu sudah datang – yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.- maka orang-orang Islam harus taat pada beliau. Kalau tidak begitu mereka tidak mengindahkan pesan Nabi Muhamad saw. Kebenaran dakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s dapat diuji dengan al-Qur’an dan Hadis.” (Hal. 22-23)

·       Dalam Buku Putih Kami Orang Islam, disebutkan:

“Menolak atau mengingkari seorang Nabi berarti menolak atau mengingkari semua Nabi  (An-Nisa 150-151;As-Syu’ara 105,123,141,160,176). – (Hal. 70)

“Setiap orang yang bermaksud menyerang padaku berarti orang itu menaruh dirinya dalam api yang menyala-nyala. Ketahuilah orang itu bukannya menyerang padaku, tetapi menyerang pada wujud (Allah) yang mengutusku. Wujud itu berfirman: “Inni Muhiinun man araada ihaanataka.” Maksudnya: “Aku akan menghina orang-orang yang bermaksud menghinamu.  (hal. 90)


4.     KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 4:
Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 (sepuluh) syarat baiat yang harus dibaca oleh setiap calon anggota Jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, maka dirasa perlu untuk mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.”

TANGGAPAN:
Tentang Bai’at
Pada butir nomor 4 ini, disebutkan bahwa ada 10 (sepuluh) syarat Bai’at yang harus dibaca oleh calon anggota jemaat Ahmadiyah dengan menambahkan kata Muhammad setalah kata Rasulullah pada salah satu butir bai’atnya. Akan tetapi, sebenarnya dalam BAI’AT tersebut, tujuannya tetap saja ditujukan kepada Mirza Ghulam Ahamd, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku mereka, berikut kutipannya:

·       Dalam buku Ajaranku, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Yayasan Wisma Damai, Bogor, catakan keenam,1993:

Ajaranku
“Hendaknya hal ini dipahami dengan jelas, bahwa bai’at hanya berupa ikrar di lidah saja tidaklah punya arti apa-apa, jika tidak ditunjang oleh suatu kebulatan tekad hendak melaksanakan janji itu sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mengamalkan ajaranku selengkapnya, ia masuk rumah ini – perihal rumah mana ada janji dari ALLAH S.W.T.:

إني أُحافِظُ كلَّ مَنْ في الدَّارِ
Ya’ni: “Tiap-tiap orang yang berada di dalam dinding pagar rumahmu akan kuselamatkan.”

Tetapi dalam hal ini hendaknya janganlah diartikan, bahwa perlindungan ILAHI ini hanya diberikan kepada mereka yang berdiam di dalam rumahku yang terbuat dari tanah dan batu bata ini, melainkan janji itu melingkupi pula mereka yang mentaati ajaranku se-lengkap-lengkapnya, dan yang karenanya benar2 dapat dikatakan sebagai penghuni rumah-rohaniku.” (Hal. 1)

Yang Mendapat Kemuliaan Di Langit
“....... Dan pada akhirnya, dari atas berkat rohaninya Tuhan mengirimkan kepada ummat manusia seorang Masih Mau’ud (Juru selamat yang dijanjikan) ke dunia ini, yang kedatangannya sangat diperlukan guna menyempurnakan bangunan gedung Islam.” (Hal. 10)

“..... Barangsiapa yang bai’at kepadaku dengan sesungguh-sungguhnya dan menjadi pengikutku dengan hati yang setulus-tulusnya, dan juga membuat dirinya mabuk di dalam ketaatan kepadaku hingga meninggalkan segala keinginan-keinginan pribadinya, rohku akan memberikan syafaat pada hari-hari yang penuh derita, bagi diri orang itu.”
Oleh karena itu wahai sekalian orang-orang yang merasa dirinya terakui sebagai warga Jemaatku! Di Langit kamu sekalian akan dianggap sebagai warga Jemaatku, ...” (Hal. 11)

“….. di dalam syariat Muhammad s.a.w akulah Masih Mau’ud. Oleh karena itu aku menghormati beliau sebagai rekanku …..” (Hal. 14)


5.     KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 5:
Kami warga Jemaat Ahamdiyah meyakini bahwa:
a.     Tidak ada wahyu syariat setelah Al Quranul Karim yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
b.     Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.”

TANGGAPAN:
Tentang Turunnya Wahyu
Pada butir nomor 5 ini, disebutkan bahwa Ahmadiyah meyakini tidak adanya wahyu syariat setelah Al Qur’an serta meyakini Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai sumber ajaran Islam yang menjadi pedomannya. Akan tetapi, sebenarnya mereka masih meyakini akan turunnya wahyu, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku mereka, berikut kutipannya:

·       Dalam buku Ajaranku, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Yayasan Wisma Damai, Bogor, catakan keenam,1993:

Pintu Wahyu Masih Tetap terbuka
“Janganlah hendaknya kamu punya prakiraan bahwa wahyu ILAHI itu tidak mungkin lagi ada di waktu yang akan datang; bahwa wahyu itu hanya berlaku pada masa yang telah lampau saja; janganlah mengira bahwa Rohulkudus tidak dapat turun di waktu sekarang dan bahwa hal itu hanya berlaku di masa dahulu saja. Aku berkata dengan sebenar-benarnya, bahwa segala pintu dapat tertutup, akan tetapi pintu untuk datangnya Rohulkudus itu tidak pernah tertutup.” (Hal. 27)

·       Dalam buku AjaranKu karangan Mirza Ghulam Ahmad terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1993:

“Barangsiapa yang baiat kepadaku dengan sesungguh-sungguhnya dan menjadi pengikutku dengan hati yang setulus-tulusnya dan juga membuat dirinya mabuk di dalam ketaatan kepadaku hingga meninggalkan segala keinginan-keinginan pribadinya, rohku akan memberikan syafaat pada hari-hari yang penuh derita.” (Hal. 15)

·       Dalam buku Apakah Ahmadiyah itu? Karangan HZ. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad hal 63-64:

“Hadhrat Masih Mau’ud a.s tampil ke dunia dan dengan lantangnya menyatakan, bahwa Allah Ta’ala bercakap-cakap dengan beliau dan bukan dengan diri beliau saja, bahkan Dia bercakap-cakap dengan orang-orang yang beriman kepada beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para pengikut beliau, agar mereka pun berusaha memperoleh ni’mat serupa itu.”


6.     KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 6:
“Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).”

Kalimat yang dibuang:
“Buku Tadzkirah bukanlah kumpulan wahyu syariat ...”

TANGGAPAN Ar-Risalah Institute :
Tentang Kitab “TADZKIRAH”
Pada butir nomor 6 ini, Ahmadiyah mengingkari kitab Tadzkirah sebagai kumpulan wahyu Syariat dan kitab suci mereka, mereka hanya menganggapnya sebagai catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan. Padahal, dalam kitab Tadzkirah yang asli tertulis di lembar awalnya bahwa TADZKIRAH YA’NI WAHYU MUQODDAS, artinya TADZKIRAH adalah WAHYU SUCI. Kemudian, penghilangan kalimat Tadzkirah bukanlah Kumpulan Wahyu Syari’at selaras dengan penghilangan kalimat “.... dan tidak ada Nabi dan Rasul pembawa syariat sesudahnya pada butir nomor dua, yang membuktikan bahwa mereka meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Rasul baru yang membawa syariat baru pula. Misalnya dengan peniadaan syariat JIHAD yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad SAW, dan lain-lainnya.




7.     KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 7:
“Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.”

TANGGAPAN Ar-Risalah Institute :
Tentang Pengkafiran Umat Islam Di Luar Jemaat Ahmadiyah
Pada butir nomor 7 draft tersebut, Ahmadiyah menyangkal bahwa mereka tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah. Tapi, ironisnya mereka menganggap murtad orang yang keluar dari Jemaat Ahmadiyah, dan dengan istilah lain mengklaim diri sebagai kelompok Islam paling sejati. Hal ini dapat dilihat dalam buku-buku mereka, berikut kutipannya:

·       Dalam buku Penawar Racun Fitnah terhadap Ahmadiyah – Tanggapan dan Penjelasan atas Buku Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah Qadiani, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan kedua, 1992:

Hikmah keluarnya Ahmad Hariadi
Dengan keluarnya Ahmad Hariadi dari Jemaat Ahmadiyah, berlaku pulalah firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ  لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antaramu murtad dari agamanya, maka segera Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya mereka dan merekapun akan mencintai-Nya, mereka akan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka akan berjuang di jalan Allah dan yang tidak takut akan celaan seorang pencela. Itulah karunia Allah. Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah itu Maha Luas pemberian-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Maidah : 55) – (Hal. 35-36)

Penutup
“2. Di dalam menyatakan dirinya keluar/murtad dari Ahmadiyah, Ahmad Hariadi tidak mendasarkan pada akidah-akidah dari Ahmadiyah….” (Hal. 38)

·       Dalam buku Amanat Imam Jemaat Ahmadiyah Khalifatul Masih IV Hazrat Mirza Tahir Ahmad Pada Peringatan Seabad Jemaat Ahmadiyah Tahun 1989 terbitan Panita Jalsah Salanah 2001, 2002 Jemaat Ahmadiyah Indonesia:

“Saya bersaksi kepada Tuhan Yang MahaKuasa dan Yang Selamanya Hadir bahwa seruan Ahmadiyah tidak lain melainkan kebenaran. Ahmadiyah adalah Islam dalam bentuknya yang sejati. Keselamatan umat manusia bergantung pada penerimaan agama damai ini.(Hal. 6)

“Bilakhir, perkenankanlah saya dengan tulus ikhlas mengetuk hati anda sekalian sekali lagi agar sudi menerima seruan Juru Selamat di akhir zaman ini.” (Hal. 10)

Bahkan, Ahmadiyah punya istilah sendiri untuk menamai para pengikut ajarannya, dengan tujuan membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya:

·       Dalam buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad – Imam Mahdi dan Masih Mau’ud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan kedua, 1995:

Pernyataan Sebagai Ahmadi Muslim
“Pada tahun 1901, akan diadakan sensus penduduk di seluruh India. Maka Hazrat Ahmad as. Menerbitkan sebuah pengumuman kepada seluruh pengikut beliau untuk mencatatkan diri dalam sensus tersebut sebagai Ahmadi Muslim. Yakni, pada tahun itulah Hazrat Ahmad as. Telah menetapkan nama Ahmadi bagi para pengikut beliau as., untuk membedakan diri dari orang-orang Islam lainnya.” (Hal. 47)


UNTUK BUTIR NOMOR 8 DAN 9 TENTANG PENAMAAN MASJID AHMADIYAH DAN PENGGUNAANNYA, SEMENTARA INI KAMI BELUM MENDAPATKAN DATA DAN INFORMASI TERBARU TENTANG PENYIMPANGANNYA. SEJAUH YANG KAMI TELAH PANTAU, BAHWA MASJID-MASJID YANG DIBANGUN DAN DIDIRIKAN OLEH AHMADIYAH, MAYORITAS HANYA DIGUNAKAN OLEH PARA JEMAAT AHMADIYAH SENDIRI.


10.      KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 10:
“Kami warga Jemaat Ahmadiyah sebagai muslim selalu melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara-perkara lainnya berkenaan dengan itu ke Kantor Pengadilan Agama sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”

TANGGAPAN Ar-Risalah Institute :
Tentang Perkawinan Antar Jemaat Ahmadiyah
Pada butir nomor 10 ini, Ahmadiyah menjelaskan tentang perkawinan dan perceraian. Adapun tentang pencatatan di KUA dan hal-hal lainnya yang berkaitan, itu semua sudah menjadi kewajiban sebagai warga negara Indonesia yang tentunya harus mematuhi dan mentaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Yang perlu diperhatikan tentang masalah ini, sebenarnya mereka memiliki peraturan sendiri tentang perkawinan, sebagaimana yang dijelaskan dalam buku-buku mereka, berikut kutipannya:

·       Dalam buku Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad – Imam Mahdi dan Masih Mau’ud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan kedua, 1995:

Perkawinan Antar Sesama Ahmadi

“Pada tahun 1908 itu juga, untuk mendisiplinkan dan mengokohkan Jemaat, serta untuk memelihara ciri khas keahmadiyahan, Hazrat Ahmad as. Telah menganjurkan kepada orang-orang Ahmadi peraturan-peraturan perkawinan serta cara-cara pergaulan hidup, dengan menetapkan bahwa wanita Ahmadi tidak boleh kawin dengan orang-orang non Ahmadi.(Hal. 46)


11.      KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 11:
“Kami warga Jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahmi dan bekerja sama dengan seluruh kelompok / golongan umat Islam dan masyarakat dalam pengkhidmatan sosial kemasyarakatan untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”



TANGGAPAN Ar-Risalah Institute :
Tentang Silaturahmi Yang Dilakukan Oleh Ahmadiyah
Pada butir nomor 11 ini, Ahmadiyah berjanji untuk meningkatkan silaturahmi dan kerjasama serta pengkhidmatan sosial kemasyarakatan. Akan tetapi, silaturahmi dan pengkhidmatan sosial kepada masyarakat yang dilakukan oleh Ahmadiyah akan tetap menjadi permasalahan jika Ahmadiyah masih tetap mempertahankan keyakinannya tentang Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Rasul, karena hal itu sangat prinsipil, berkaitan dengan masalah aqidah. Jadi, silaturahmi tidak akan menyelesaikan permasalahan apapun, karena yang harus diselesaikan adalah masalah kesesatan dan penyimpangan yang disebarkan melalui buku-buku mereka.

12.      KLARIFIKASI AHMADIYAH butir nomor 12:
Dengan penjelasan ini, kami Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah serta persatuan dan kesatuan bangsa.”

TANGGAPAN Ar-Risalah Institute :
Tentang Klarifikasi Ahmadiyah
Pada butir nomor 12 ini, Ahmadiyah meminta pengertian dari umat Islam. Akan tetapi, klarifikasi yang dilakukan oleh Ahmadiyah, yang kemudian didiskusikan beberapa kali dalam Rakor dengan Balitbang dan Diklat DEPAG RI serta PAKEM Jekasaan Agung RI tersebut, sebenarnya hanyalah penipuan yang dibungkus dengan istilah “Penjelasan”.
Untuk lebih jelasnya, silahkan mengkaji ulang buku-buku yang disebarkan oleh pihak Ahmadiyah.


Jakarta, 1 Mei 2012
Pusat Kajian dan Dakwah Islam
Ar-Risalah Institute



Dudung Ramdani, Lc
(Direktur)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar