Senin, 09 April 2012

Identifikasi Aliran Sesat Menurut MUI Pusat


PEDOMAN IDENTIFIKASI ALIRAN SESAT
MAJELIS ULAMA INDONESIA

MUKADDIMAH

Bismillahirrohmanirrohiem
Kebebasan, khususnya dalam kehidupan beragama, yang terjadi pada era reformasi telah melahirkan banyak peluang dan sekaligus tantangan. Di satu sisi berbagai aktifitas dakwah berjalan dengan lancar dan berbagai nilai Islam yang mendasar dengan leluasa disuarakan tanpa hambatan yang berarti. Tapi di sisi lain, dengan kebebasan itu pula aliran sesat atau kelompok yang menyuarakan pemikiran, paham dan aktifitas yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam juga dengan leluasa bergerak dan berkembang di tengah masyarakat.

Pemikiran, faham dan aktifitas yang bertentangan dengan aqidah dan syariah tentu tidak boleh berkembang begitu saja di tengah masyarakat karena pasti akan menimbulkan keresahan umat disamping akan menimbulkan korban dari kalangan umat yang telah disesatkan. Oleh karena itu, harus ada upaya sungguh-sungguh untuk menangkal dan menghentikan aliran itu dan menyadarkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Ulama sebagai pewaris nabi memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam membimbing umat untuk tetap istiqamah menjalankan nilai-nilai Islam yang benar sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu, ulama harus bersikap tegas, arif dan bijaksana terhadap setiap penyimpangan baik terkait dengan aqidah maupun syariah Islam. Ketidak tegasan sikap akan membuat penyimpangan dalam aqidah dan syariah semakin marak dan meluas.
MUI sebagai wadah para ulama dan zuama serta cendikiawan muslim harus mengambil peran aktif dalam menjaga nilai-nilai Islam dan melindungi umat dari setiap paham dan aliran yang menyimpang, diantaranya dengan menetapkan pedoman untuk menyikapi suatu kelompok atau aliran tersebut sesat atau tidak, berdasarkan analisa, kajian dan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Penetapan ini akan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menilai suatu faham, sehingga bisa menyikapinya dengan benar...

KRITERIA SESAT

Suatu faham atau aliran keagamaan dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dari kriteria berikut :
1.     Mengingkari salah satu rukun dari rukun iman yang 6 (enam) yakni beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepda kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-Rasul-Nya, kepada Hari Akhirat, kepada Qadla dan Qadar dan rukun Islam yang 5 (lima) yakni mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji.
2.     Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunah);
3.     Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an;
4.     Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an;
5.     Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir;
6.     Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam;
7.     Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul;
8.     Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir;
9.     Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh Syari’ah, seperti haji tidak boleh ke Baitullah, shalat fardu tidak 5 waktu.
10.  Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

POKOK-POKOK AJARAN SYI’AH :

I. Rukun Iman Syi’ah :
  1. Percaya kepada Keesaan Allah SWT (At-Tauhid)
  2. Percaya kepada Keadilan (Al-Adalah)
  3. Percaya kepada Kenabian (An-Nubuwwah)
  4. Percaya kepada Imamah (Al-Imamah)
  5. Percaya kepada Hari Kiamat (Al-Ma’ad)
II. Rukun Islam Syi’ah
1.     Shalat
2.     Puasa
3.     Zakat
4.     Haji
5.     Al-Wilayah (Kekuasaan Imam)

Berdasarkan data-data di atas disimpulkan bahwa Syi’ah telah mengingkari salah satu dari Rukun Iman yang 6 (Enam), yaitu tidak percaya kepada Qada dan Qadar dari Allah SWT di dalam Rukun Imam mereka.

Kemudian di dalam Rukun Islam, Syi’ah tidak mencantumkan kewajiban mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini berarti bahwa Syi’ah telah mengingkari salah satu Rukun Islam yang 5 (Lima).

III. Di antara ajaran sesatnya :

1. Terhadap Al-Qur`an
a. Mengingkari keotentikan Al-Qur`an
Syiah meyakini bahwa Al-Qur`an Utsmani tidak asli, karena telah dirubah oleh para sahabat. Ahlu Sunnah berkata bahwa jumlah seluruh ayat di dalam Al-Qur`an adalah 6236 ayat. Akan tetapi di dalam kitab Syiah Al-Kaafie fil Ushuul 2/634 disebutkan :
إن القرآن الذي جاء به جبريل عليه السلام إلى محمد صلى الله عليه وسلم سبعة عشر ألف آية.
“Sesungguhnya Al-Qur`an yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Muhammad SAW adalah berjumlah 17.000 ayat.”
Menafsirkan Al-Qur`an secara menyimpang :
قال دود الجصاص : سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: و علامات و بالنجم هم يهتدون، قال: النجم رسول الله صلى الله عليه وسلم و العلامات هم الأئمة عليهم السلام.
“Dawud Al-Jassos berkata, “Aku pernah mendengar Abu Abdullah AS berkata, “Dan dengan tanda-tanda dan dengan bintang mereka mendapatkan petunjuk. Beliau berkata, “Yang dimaksud dengan bintang adalah Rasulullah SAW dan yang dimaksud dengan tanda-tanda adalah para imam AS.”

b. Menyimpangkan tafsir Al-Qur`an.
Contoh 1:
            
“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah,” (QS Al-Qasas [28]: 88).
Imam Shadiq as dalam menafsirkan ayat, “Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah Allah…” berkata, “Yang dimaksud dengan Wajah Allah dalam ayat ini adalah Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 22).

Sedangkan Ahlu Sunnah memahami bahwa yang dimaksud dengan wajah di dalam ayat di atas adalah Allah SWT dan bukan Ali.

Contoh 2:
 “Dan sesungguhnya dia (Ali as) dalam induk al-Kitab (Lauhul-mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 49).
                  
”Dan sesungguhnya Al Qur'an itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah,” (QS. Az-Zukhruf [43]: 4).

2. Terhadap Al-Hadits
a. mengingkari kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam kedua.
Syiah tidak mengakui keabsahan Al-Kutub As-Sittah yaitu Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan An-Nasai, Sunan Ibnu Majah sebagai rujukan. Mereka hanya mau menerima hadits jika dirwayatkan oleh Ahlul Bait. Mereka mempunyai kitab tersendiri yaitu Al-Kaafie, At-Tahdziib, Al-Istibshaar dan Man Laa Yahdhuruhul Faqiih. Kitab-kitab ini sulit didapatkan.
Di dalam kitab Ashlu Asy-Syiiah wa Ushuuliha karangan Muhammad Husain Kasyif Al-Ghitha hal. 79 disebutkan,
إن الشيعة لا يعتبرون من السنة [أعني الأحاديث النبوية] إلا ما صح لهم من طريق أهل البيت....أما ما يرويه مثل أبي هريرية و سمرة بن جندب و عمرو بن العاص و نظائرهم فليس لهم عند الإمامية مقدار بعوضة.
"Sesungguhnya orang-orang Syiah tidak menganggap sunnah (maksudnya hadits-hadits nabi), kecuali apa-apa yang shahih menuirut mereka yang diriwayatkan dari jalan Ahlul Bait…adapun hadits-hadits yang diriwayatkan seperti oleh Abu Hurairah, Samurah dan Amer bin Ash dan yang semisalnya, maka mereka itu di dalam pandangan Imamiyah (Syiah) kecuali hanya seperti nyamuk."

b. Menyimpangkan makna Al-Hadits/As-Sunnah
Ahlu Sunnah menetapkan bahwa sumber hukum Islam yang kedua adalah Sunnah Rasulullah SAW. Sedangkan menurut Syiah bahwa sumber hukum Islam yang kedua yaitu Sunnah Rasulullah SAW ditambah dengan Sunnah 13 orang suci dan maksum (para Imam Syiah). Jadi seluruh ucapan Imam mereka yang berjumlah 13 Imam tersebut kedudukannya sama dengan ucapan Rasulullah SAW.  Inilah sumber hukum Islam menurut Syiah :

  1. Hadits/Sunnah Rasulullah SAW

  1. Hadits/Sunnah Imam Ali bin Abi Thalib AS
Lahir   : 13 Rajab
Wafat  : Malam Jum’at, 21 Ramadhan 40 H.

  1. Hadits/Sunnah Fathimah Az-Zahra AS
Lahir   : Makkah, Jum’at 20 Jumadi Al-Tsani
Wafat  : Selasa, 3 Jumadi Al-Tsani 11 H.

  1. Hadits/Sunnah Imam Hasan bin Ali AS
Lahir   : Madinah, Selasa 15 Ramadhan 2 H.
Wafat  : Kamis, 7 Shafar 49 H.

  1. Hadits/Sunnah Imam Husein bin Ali AS
Lahir   : Madinah, Kamis 3 Sya’ban 3 H.
Wafat  : Jum’at, 10 Muharram 61 H.

  1. Hadits/Sunnah Imam Ali bin Husein As-Sajjad AS
Lahir   : Madinah, 15 Jumadil Ula 36 H.
Wafat  : 25 Muharram 95 H.

  1. Hadits/Sunnah Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir AS
Lahir   : Madinah, 1 Rajab 57 H.
Wafat  : Senin, 7 Dzulhijjah 114 H.

  1. Hadits/Sunnah Imam Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq AS
Lahir   : Madinah, Senin 17 Rabiul Awal 83 H
Wafat  : 25 Syawal 148 H

  1. Hadits/Sunnah Imam Musa bin Ja’far Al-Kadzim AS
Lahir   : Abwa, Malam Ahad 7 Shofar 128 H
Wafat  : Jum’at 25 Rajab 183 H

  1. Hadits/Sunnah Imam Ali bin Musa Ar-Ridha AS
Lahir   : Madinah, Kamis 11 Dzul Qa’dah 148 H
Wafat  : Selasa, 17 Shafar 203 H

  1. Hadits/Sunnah Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad AS
Lahir   : Madinah, 10 Rajab 195 H
Wafat  : Selasa, Akhir Dzul Hijjah 220 H

  1. Hadits/Sunnah Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi AS
Lahir   : Madinah, 15 Dzul Hijjah/5 Rajab 212 H
Wafat  : Senin, 3 Rajab 254 H

  1. Hadits/Sunnah Imam Hasan bin Ali Al-Askari AS
Lahir   : Madinah, 10 Rabiul Tasani 232 H
Wafat  : Jum’at, 8 Rabiul Awal 260 H

  1. Hadits/Sunnah Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi AS
Lahir   : Samara, Malam Jum’at 15 Sya’ban 255 H
Wafat  : Selama 74 tahun, dimulai sejak kelahirannya hingga tahun 329 (ghaib sughra). Sejak tahun 329 hingga saat ini (ghaib kubra).
(Lihat buku, 560 Hadis dari 14 Manusia Suci, Fatih Guven, diterbitkan oleh Yayasan Islam Al-Baqir Bangil, cet. Pertama Dzulhijjah 1415 H/Mei 1995 M hal. 17-393).

Contoh hadits-hadits Syiah dari Imam mereka :
  1. Dari Imam Ali bin Musa Ar-Ridha AS dia berkata, “Mukmin hakiki adalah yang menyandang tiga karakter; Mengikuti hukum Allah, sunnah rasul-Nya dan sunnah wali-Nya. Adapun mengikuti hukum Allah adalah menyimpan rahasia. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dia yang mengetahui segala hal yang tersembunyi dan tidak mengabarkan pada siapa pun kecuali kepada orang-orang yang telah dapat kerelaan-Nya.” Adapun sunnah rasul-Nya yaitu berusaha untuk beradaptasi dengan manusia di sekelilingnya. Sesungguhnya Allah memerintah Nabi-Nya untuk beradaptasi dengan selainnya, sebagaimana firman-Nya : “Mintalah maaf dan peruintahkanlah untuk berbuat kebaikan.” Adapun mengikuti sunnah para wali-Nya yaitu hendaknya bersabar di saat ada kesulitan dan bencana,” (560 Hadis dari 14 Manusia Suci, Fatih Guven, diterbitkan oleh Yayasan Islam Al-Baqir Bangil, cet. Pertama Dzulhijjah 1415 H/Mei 1995 M hal. 305).
  2. Dari Imam Mahdi AS dia berkata, “Aku adalah pewaris Allah di bumi ini dan yang akan menghukum musuh-musuh-Nya,” (560 Hadis dari 14 Manusia Suci, hal. 411).
  3. Dari Imam Shadiq AS dia berkata, “Imam Shadiq (as) ditanya tentang seorang lelaki yang keluar telanjang, kemudian dating waktu salat. Beliau berkata, “Ia salat telanjang dengan berdiri bila tidak ada yang melihatnya, dan dengan duduk bila ada yang melihatnya.” (Fiqih Ja’fari, Muhammad Jawad Mughniyah, hal. 141).
  4. Imam Shadiq AS berkata, “Awal waktu Magrib adalah hilangnya mega merah dan akhir waktunya adalah tengah malam.” (Fiqih Ja’fari, Muhammad Jawad Mughniyah, hal. 124).
  5. Imam Ja’far AS berkata, “Sujud di atas tanah kuburan Husain AS menyinari tujuh bumi. Siapa yang memiliki tasbih yang terbuat dari tanah kuburan Husain maka ia dicatat sebagai orang yang bertasbih, sekalipun ia tidak bertasbih dengannya.” (Fiqih Ja’fari, Muhammad Jawad Mughniyah, hal. 146).

3. Nikah Mut’ah adalah Halal
Para ulama Syiah sangat menganjurkan kepada para pengikutnya untuk melaksanakan nikah mut’ah, di mana dan kapan pun dan dengan siapa pun, sampai dibolehkan mut’ah dengan seorang pelacur dan jumlahnya tidak dibatasi (boleh sampai mut’ah dengan 1000 wanita).

4. Bersikap ghuluw (berlebihan) terhadap Ali

a. Memandang wajah Ali adalah ibadah.
”Bukanlah tanpa dalil bahwa namanya diambil dari nama Allah, pikiran dia adalah pikiran Allah hingga jika memandangnya maka dinilai sebagai perbuatan ibadah kepada Allah. Begitu halnya dalam hadis yang telah diriwayatkan oleh Nabi saw sang pembawa rahmat bagi semesta alam, ”Memandang Ali adalah ibadah.” Dalam keterangan lain, ”Memandang wajah Ali adalah ibadah.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 24).

b. Malaikat Jibril diajari oleh Ali as.
...’Ya, dikarenakan dia memiliki hak pengajaran kepadaku.’ Rasul saw berkata, ”Apakah hak itu? Jibril menjelaskan, ’Ketika Allah menciptakanku, lalu Dia menanyaiku, ’Siapakah engkau, siapa namamu, siapa Aku dan siapa nama Aku? Saya merasa kikuk, apa yang harus aku jawab, secara tiba-tiba seorang pemuda (Ali as), manifestasi dari Alam Nuraniyah berkata, ’Katakanlah! Engkau adalah Tuhan Yang Maha Agung, nama-Mu Indah, dan aku adalah hamba-Mu yang hina-dina, namaku Jibril.’  (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 35).

c. Keagungan Ali as akan nampak di hari kiamat.
”...dan di hari kiamat keagungan beliau as akan tampak di hadapan para nabi as, para wali, malaikat dan seluruh makhluk.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 39).

d. Ali adalah penghitung amal perbuatan manusia di hari kiamat.
”Keimanan dan perbuatan kaum mukmin haruslah sesuai dengan keimanan dan perbuatan Imam Ali as. Melalui perhitungan ini, salah satu makna dari ’neraca’ di hari kiamat adalah Imam Ali as. Imam Ali as adalah penghitung amal perbuatan di hari kiamat.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 41).

e. Ali adalah yang akan mengazab penduduk neraka.
”...Aku adalah yang paling utama dari Bani Adam dan aku akan menghisab (perbuatan) makhluk Allah (manusia) serta memberikan azab bagi penghuni neraka di tempat-tempat mereka.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 41).

f. Ali adalah hakim di hari kiamat.
”Imam Ali as adalah hakim yang mengadili di hari kiamat sesuai dengan keadilan Ilahi. Beliau adalah pemilik telaga Kautsar dan pembagi surga dan neraka (yang menentukan derajat surga dan neraka bagi para makhluk-Nya).” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 42).

g. Api neraka taat kepada Ali.
”...Amirul Mukminin memerintahkan kepada api neraka untuk tidak membakarnya.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 43).

h. Yang dimaksud ulil amri adalah Ali as.
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil-amri di antara kamu.” Bagian ketiga: Ayat-ayat khusus yang berkenaan dengan Imam Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 49).

i. Doa Nudbah adalah untuk Ali as.
”Dalam Doa Nudbah ada kata ’li ’Aliyyi(n)’ yang tafsirannya adalah Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 49).
                 
”Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia,” (QS Maryam [19]: 50).

j. Makna ayat, ’telinga yang mau mendengar’ adalah ditujukan kepada Ali as.
”Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. Yang dimaksud dengan ’telinga yang mau mendengar’ adalah Ali as, yang memahami kedalaman (kandungan makna) Al-Qur`an.”(Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 50).

k. Ali adalah penyeru di hari kiamat.
“Kemudian seorang penyeru mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim.” Imam Ali as adalah seorang penyeru di hari Kiamat, yakni menetapkan siapa yang akan menjadi penghuni neraka dan siapa yang akan menjadi penghuni kebaikan (surga). (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 50).
                                                          
“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?" Mereka (penduduk neraka) menjawab: "Betul". Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim,” (QS Al-A’raf [07]: 44).

l. Ali dan para pengikutnya adalah sebaik-baik makhluk.
‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.’ “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Aden yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”Maka dari turunnya ayat ini, Nabi saw berkata kepda Ali as, “Wahai Ali! Engkau dan Syiahmu adalah sebaik-baik makhluk dan di hari Kiamat kelak (kalian) akan senang dan dicintai.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 159).

                                                                        
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya,” (QS Al-Bayyinah [98]: 7-8).

5. Bersikap ghuluw terhadap para imam Syiah.
a. Alam diciptakan setelah penciptaan 14 Imam Suci.
”Diriwayatkan juga bahwa alam diciptakan setelah penciptaan Empat Belas Manusia Suci as. Dalam riwayat lain diberitakan bahwa para malaikat diciptakan berasal dari cahaya Ali as.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 28).

b. 14 Imam Suci lebih dahulu bertasbih dan mensucikan Allah SWT.
”...Bagaimana hal itu tidak menjadikan kita lebih mulia daripada para malaikat? Kita terlebih dahulu bermakrifat kepada Allah, bertasbih dan menyucikan-Nya. Awal suatu keberadaan yang telah Allah ciptakan adalah arwah-arwah kita dan telah (terlebih dahulu) bertauhid dan memuji kepada-Nya.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 34).

c. 14 Imam Suci lebih hebat dari malaikat.
”Kita mengajarkan tahlil kepada para malaikat, bahwa tidak ada tuhan selain-Nya dan kita adalah hamba-Nya.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 34).

d. 14 Imam Suci sebagai perantara para malaikat menerima hidayah Allah SWT.
”Melalui perantara kitalah malaikat diberi petunjuk untuk bertauhid, bertasbih, bertahlil dan memuji Allah.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 34).

e. Para Imam Syiah mempunyai mukjizat.
”Lebih dari seribu tahun yang lalu, para manusia suci as telah mengabarkan dari penemuan mereka atas hauzah ilmiah Qum. Ini adalah mukjizat lain dari para imam dan dalil yang jelas bagi kebenaran mazhab yang selamat, yakni Syiah,” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 168).

f. Yang dimaksud kalian adalah ‘umat terbaik’ adalah Ahlulbait.
“Dalam riwayat Jabir dari Imam Baqir as, bahwa beliau as berkata, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia” adalah Ahlulbait Nabi (saw).”
….Yakni Ahlulbait yang maksum dan suci.” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 135).

g. Yang dimaksud dengan Golongan Kanan adalah Syiah.
“Syiah yang memiliki amal-amal saleh, hingga mereka mengetahui dan mampu untuk taat kepada beliau as. Dalam al-Quran mereka adalah sahabat ‘yamin’ (golongan kanan).” (Kecuali Ali, Abbas Rais Kermani, Penerbit Al-Huda Jakarta, Juli 2009, hal. 167).

h. Ulil Amri menurut Syiah adalah para imam yang maksum.
“Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kamu.” maka turunlah ayat ini berkenaan dengan Ali, Al-Hasan dan Al-Husayn....Apa hubungannya antara Ulil Amri dengan kemaksuman? Al-Fakhr Al-Razi menulis, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan ketaatan kepada Ulil Amri dengan sangat tegas…bahwa semua orang yang wajib ditaati berdasarkan perintah Allah SWT yang tegas wajib terpelihara dari segala kesalahan. Dengan begitu bisa kita tetapkan dengan pasti bahwa Ulil Amri yang disebutkan dalam ayat ini tidak bisa tidak harus maksum (Al-Tafsir Al-Kabir, 10:144),” (40 Masalah Syiah, Emilia Renita AZ, hal. 95).

6. Penyimpangan dalam beribadah.
a. Mengganti kewajiban membaca Al-Fatihah ketika shalat.
“Pada rakaat ketiga salat Magrib dan pada dua rakaat terakhir salat Zuhur, Asar, dan Isya, orang boleh memilih antara membaca al-Fatihah dan membaca :
سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ ِللهِ وَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ.
sekali. Namun disunnahkan membacanya tiga kali.” (Fiqih Ja’fari, hal. 162).

b. Membolehkan shalat dalam keadaan telanjang.
“Imam Shadiq (as) ditanya tentang seorang lelaki yang keluar telanjang, kemudian datang waktu salat. Beliau berkata, “Ia salat telanjang dengan berdiri bila tidak ada yang melihatnya, dan dengan duduk bila ada yang melihatnya.” (Fiqih Ja’fari, hal. 141).

c. Tentang air yang terkena najis.
“Air yang bekas digunakan untuk membersihkan tempat keluarnya kencing dan tinja adalah suci dengan syarat ia tidak berubah karena najis tersebut, tidak ada najis dari luar yang mengenainya, kencing atau tinja yang keluar itu tidak meluber ke mana, tidak ada darah yang keluar bersamanya, dan tidak terdapat bagian-bagian tinja pada air tersebut.” (Fiqih Ja’fari, hal.  43).

d. Tata cara shalat Rasulullah saw menurut Syiah.
”….Perawi berkata, “Jika begitu, ajarkanlah shalat (Rasulullah SAW) tersebut kepadaku!” Beliau berkata, “Kerjakanlah shalat 2 rakaat, dan di setiap rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan innaa anzalnaahu (surah al-Qadr) 15 kali. Bacalah juga surah al-Qadr tersebut ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud pertama, sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua masing-masing 15 kali. Setelah itu, bacalah tasyahud dan salam. Jika engkau telah selesai melaksanakan shalat, tidak akan ada dosa yang tersisa dalam dirimu kecuali akan diampuni oleh Allah dan setiap keperluan yang engkau minta, pasti akan dikabulkan….” (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 150).

e. Tata cara shalat Ali bin Abi Thalib menurut Syiah
“Syekh Thusi dan Sayid Ibnu Thawus ra meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Sesiapa di antara kalian melaksanakan shalat Amirul Mukminin as yang berjumlah 4 rakaat, niscaya ia akan terbersihkan dari dosa seperti ia baru lahir dari perut ibunya dan segala keperluannya akan dipenuhi. Pada setiap rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan surah al-Ikhlas 50 kali. Setelah selesai mengerjakannya, bacalah tasbih beliau berikut ini :
سُبْحَانَ مَنْ لَا تَبِيْدُ مَعَالِمُهُ، سُبْحَانَ مَنْ لَا تَنْقُصُ خَزَائِنُهُ، سُبْحَانَ مَنْ لَا اضْمِحْلَالَ لِفَخْرِهِ، سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنْفَدُ مَا عِنْدَهُ، سُبْحَانَ مَنْ لَا انْقِطَاعَ لِمُدَّتِهِ، سُبْحَانَ مَنْ لَا يُشَارِكُ أَحَدًا فِيْ أَمْرِهِ، سُبْحَانَ مَنْ لَا إِلَهَ غَيْرُهُ يَا اَللهُ نَفْسِيْ نَفْسِيْ، أَنَا عَبْدُكَ يَا سَيِّدَاهْ، أَنَا عَبْدُكَ بَيْنَ يَدَيْكَ.
“Mahasuci Zat yang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) tak kan pernah sirna, Mahasuci Zat yang harta-Nya tak pernah berkurang, Mahasuci Zat yang kebanggaan-Nya tak pernah usang, Mahasuci Zat yang miliknya tak pernah habis, Mahasuci Zat yang masa-Nya tak kenal akhir, Mahasuci Zat yang tak pernah mengikutkan selain-Nya dalam segala urusan-Nya, Mahasuci Zat yang tiada Tuhan selain-Nya. Ya Allah, disiksa diriku, akulah hamba-Mu, duhai junjungan, akulah hamba-Mu yang kini berdiri di hadapan-Mu.” (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 152-153).

f. Tata cara shalat Fathimah binti Rasulullah SAW menurut Syiah
“Diriwayatkan bahwa Sayidah Fathimah az-Zahra as selalu melaksanakan shalat dua rakaat (di siang hari Jumat) yang telah diajarkan malaikat Jibril kepada beliau. Pada rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, beliau membaca surah al-Qadr 100 kali dan pada rakaat kedua setelah itu, membaca surah al-Ikhlas 100 kali. Setelah mengucapkan salam, beliau membaca doa berikut ini :
سُبْحَانَ ذِيْ الْعِزِّ الشَّامِخِ الْمُنِيْفِ، سُبْحَانَ ذِيْ الْجَلَالِ الْبَاذِخِ الْعَظِيْمِ، سُبْحَانَ ذِيْ الْمُلْكِ الْفَاخِرِ الْقَدِيْمِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْبَهْجَةَ وَ الْجَمَالَ، سُبْحَانَ مَنْ تَرَدَّى بِالنُّوْرِ وَ الْوَقَارِ، سُبْحَانَ مَنْ يَرَى أَثَرَ النَّمْلِ فِيْ الصَّفَا، سُبْحَانَ مَنْ يَرَى وَقْعَ الطَّيْرِ فِيْ الْهَوَاءِ، سُبْحَانَ مَنْ هُوَ هَكَذَا وَ لَا هَكَذَا غَيْرُهُ.
“Mahasuci Zat Pemilik kemuliaan yang Tinggi. Mahasuci Zat pemilik keagungan yang agung. Mahasuci Zat Pemilik kerajaan Agung dan Azali. Mahasuci Zat yang berpakaian keindahan. Mahasuci Zat yang berselimut cahaya dan kewibawaan. Mahasuci Zat yang melihat bekas kaki semut di atas batu hitam yang keras. Mahasuci Zat yang melihat bekas burung (terbang) di udara. Mahasuci Zat yang memiliki sifat demikian, dan selain-Nya tidak memiliki sifat yang demikian.” (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 156).

g. Tata cara shalat Imam Husain as menurut Syiah.
“Shalat Husain as adalah 4 rakaat. Pada setiap rakaat membaca surah al-Fatihah dan al-Ikhlas masing-masing 50 kali. Membaca kedua surah di atas masing-masing 10 kali pada saat ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.” (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 160).

h. Tata cara shalat Imam Ja’far Shadiq as menurut Syiah.
“Shalat beliau adalah 2 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah sekali dan ayat syahidallaahu annahuu laa ilaaha illaa huwa wal malaaikatu wa ulul ilmi qaaiman bil qisth, laa ilaaha illaa huwal aziizul hakiim, innaddiina indallaahil islaam, wa makhtalafal ladziina uutul kitaabi illaa min ba’di maa jaat humul ilmu baghyan bainahum, wa man yakfur bi aayaatillaahi fa innallaaha sariiul hisaab 100 kali. Doa beliau setelah melaksanakan shalat ini adalah :
يَا صَانِعَ كُلِّ مَصْنُوْعٍ، يَا جَابِرَ كُلِّ كَسِيْرٍ [كَسٍْر]، وَ يَا حَاضِرَ كُلِّ مَلَإٍ، وَ يَا شَاهِدَ كُلِّ نَجْوَى، وَ يَا عَالِمَ كُلِّ خَفِيَّةٍ، وَ يَا شَاهِدَ [شَاهِدًا] غَيْرَ غَائِبٍ وَ يَا غَالِبَ [غَالِبًا] غَيْرَ مَغْلُوْبٍ وَ يَا قَرِيْبُ [قَرِيْبًا] غَيْرَ بَعِيْدٍ وَ يَا مُوْنِسَ كُلِّ وَحِيْدٍ، وَ يَا حَيُّ مُحْيِيَ الْمَوْتَى وَ مُمِيْتَ الْأَحْيَاءِ الْقَائِمُ [الْقَائِمَ] عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ، وَ يَا حَيًّا حِيْنَ لَا حَيَّ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ.
“Wahai Pencipta setiap makhluk, wahai penenang setiap yang  patah hati (gundah), wahai Zat yang selalu hadir di setiap khalayak, wahai penyaksi setiap rintihan, wahai Zat yang mengetahui setiap yang tersembunyi, wahai Zat yang tampak dan tak tersembunyi, wahai Zat yang selalu menang dan tak terkalahkan, wahai Zat yang dekat dan tak jauh, wahai Penenteram orang yang sendirian, wahai Zat yang hidup dan menghidupkan orang-orang yang mati, serta mematikan orang-orang yang hidup, yang mengawasi setiap perilaku jiwa, wahai Zat yang Mahahidup ketika tak ada satu makhluk pun yang hidup, tiada Tuhan selain Engkau, curahkanlah shalawat-(Mu) kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 167).

i. Tata cara shalat Ja’far ath-Thayyar menurut Syiah
“Shalat ini adalah yang paling mujarab. Shalat ini diriwayatkan dengan sanad-sanad mu’tabar dan memiliki banyak keutamaan. Terutama adalah pengampunan dosa-dosa besar.
Waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat ini adalah permulaan siang hari Jumat. Shalat ini berjumlah 4 rakaat dengan dua tasyahud dan salam. Pada rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, bacalah surah al-Zilzal, pada rakaat kedua bacalah surah al-Adiyat, pada rakaat ketiga bacalah surah an-Nashr, dan pada rakaat keempat bacalah surah al-Ikhlas. Setelah membaca setiap surah-surah di atas, bacalah subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaaha ilaallaahu wallaahu akbar 15 kali. Juga bacalah tasbih di atas ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud, sujud kedua dan duduk istirahat antara dua rakaat masing-masing 10 kali. Jumlah tasbih yang harus dibaca pada empat rakaat tersebut adalah 300 kali.” (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 173-174).

Berdasarkan dari data-data di atas, kami simpulkan bahwa :

  1. Mayoritas umat Islam Indonesia adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
  2. Cukuplah faham Syiah berada di Iran dan jangan diekspor ke Indonesia, sehingga tidak menimbulkan kekacauan di Indonesia.
  3. Ajaran Syi’ah telah terbukti menodai dan mencemari agama Islam karena mengajarkan ajaran yang menyimpang dari Syariat Islam.
  4. Ajaran Syi’ah adalah ajaran yang bertentangan dengan ajaran Islam serta SESAT dan MENYESATKAN.
  5. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti ajaran Syi’ah supaya bertaubat dan segera kembali kepada ajaran Islam (al ruju’ ila al haq) yang sejalan dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits.
  6. Mendesak kepada Pemerintah untuk melarang penyebaran ajaran Syi’ah dan menutup semua lembaga, yayasan dan tempat kegiatan Syi’ah serta menindak tegas pimpinan seluruh lembaga atau yayasan yang berafiliasi kepada ajaran Syi’ah tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebab jika para pengikut Syi’ah di Indonesia sudah banyak, maka Indonesia tidak akan aman dan tenang, karena mereka akan memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI. Hal ini dikarenakan Ulil Amri (Pemegang Pemerintahan) yang sah menurut faham Syiah adalah harus dari golongan mereka.

Jakarta, 9 April 2012



Ar-Risalah Institute

Tidak ada komentar:

Posting Komentar