Minggu, 29 April 2012

LDII DAN 3 PILAR UTAMA

JEJAK LDII; BERJUANG DENGAN FATHONAH,
BITHONAH DAN BUDI LUHUR

Kader Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) bukan cuma dikenal mili-tan, fanatik. Tapi, mereka juga harus pandai-pandai berbohong demi kese-lamatan perjuangannya. Doktrin ini dikenal dengan istilah Fathonah, Bitho-nah dan Budi Luhur. H. Nanang H. Kaharuddin (Pimpinan Redaksi Radar Minggu Jombang, Jawa Timur, pen.) mensarikan dari sebuah makalah ber-subjudul “Meningkatkan Perjuangan Qur’an Hadits Jama’ah”, yang disam-paikan H. Ikhwan Abdillah, Paku Bumi, pada 13 Juli 2000 berikut ini:
Bila ada orang LDII bermanis-manis muka tapi ternyata di bela-kangnya memusuhi, jangan kaget. Sebab, memang begitulah prinsip per-juangannya. Mereka tetap memandang kafir golongan lain, tapi setiap di-tanya di luar jama’ahnya, pasti tidak diakui.
Bahkan untuk menyembunyikan doktrin yang sebenarnya, LDII me-nerbitkan Direktori LDII untuk menjawab isu-isu negative. Termasuk untuk menjawab pertanyaan: “Benarkah warga LDII menganggap kafir orang luar LDII?”
Tentu jawaban dalam DIREKTORI LDII yang diterbitkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ini jelas menyebut: “Tidak”. Sebab buku yang dice-tak edisi ke dua tahun 2002 itu memang sengaja dibagikan kepada umum.
Tapi dalam doktrin penggemblengan kadernya, tak pernah absen menganggap orang di luar Jama’ahnya sebagai golongan kafir. Salah satu-nya bisa disimak dalam doktrin perjodohan. Dalam pilih memilih jodoh, di-larang mengambil orang di luar Jama’ah.
“Sebab, bagaimanapun cantiknya, gantengnya orang-orang di luar Jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh orang iman, calon ahli ne-raka yang tidak boleh dikasihi”, tulis salah satu makalah doktrin LDII ke-pada para remajanya (Baca Radar Minggu Edisi XXXVII Minggu, 1 Februari 2004).
Mengapa antara doktrin di dalam Jama’ah dengan pembicaraan di luar berbeda? Hal ini bisa dimaklumi. Di samping ada catatan sejarah ke-lam tentang larangan Islam Jama’ah, LDII juga punya pertimbangan agar tidak senasib dengan Islam Jama’ah.
Meski, pada hakekatnya, antara Islam Jama’ah dengan LDII adalah “Setali Tiga Uang”, alias sama saja.
Karena itu, prinsip-prinsip perjuangan dengan Fathonah, Bithonah dan Budi Luhur selalu ditekankan kepada kadernya. Katanya Perjuangan secara fathonah, bithonah, budi luhur merupakan karakter perjuangan Rosulullah SAW. Dengan cara tersebut Rosulullah SAW berhasil menyam-paikan risalah Alloh sehingga dapat diterima masyarakat luas khususnya kaum beliau sendiri yaitu kaum Quraisy di Mekkah.
Arti fathonah, bithonah, budi luhur dalam konteks perjuangan Quran Hadits Jama’ah adalah sebagai berikut:
Fathonah artinya untung menguntungkan, maksudnya dalam perjuangan diusahakan Jama’ah tetap untung dan masyarakat tidak dirugikan bahkan bisa merasa diuntungkan. Bithonah artinya sesuatu yang apabila dikeluarkan akan menimbulkan kerusakan, Budi luhur artinya budi pekerti yang baik, budi yang selalu mentho’ati peraturan-peraturan, maksudnya dalam perjuangan, orang-orang Jama’ah menerapkan akhlaqul karimah dan selalu berusaha mentaati peraturan yang sah.
Jadi, fathonah, bithonah, budi luhur dapat diartikan cara berjuang yang tidak melanggar ketentuan agama dengan menerapkan akhlaqul karimah, selalu berusaha menaati peraturan yang sah, tidak menimbulkan ke-rusakan sehingga masyarakat merasa diuntungkan.
Fathonah, bithonah, budi luhur merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam penerapannya disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi. Unsur bithonah akan lebih dominan ketika iman dalam keadaan lemah dan tertekan, seperti yang dialami oleh orang-orang iman yang tidak mampu hijrah, mereka tetap tinggal di Mekkah dengan menyembunyikan keimanan mereka. Demikian pula Rosulullah Saw, pernah berpesan kepada shohabat Abi Dzar agar menyembunyikan keimanan di negerinya sampai datangnya kemenangan Islam. Tetapi Abu Dzar justru masuk ke Masjid lalu mengucapkan kalimat syahadah dengan keras, sehingga saat itu orang-orang kafir Quraisy memukulinya.
Sudah menjadi ijtihad di dalam Jama’ah, bahwa semua Jama’ah dalam rangka menetapi, membawa menyiarkan dan memperjuangkan Quran Hadist Jama’ah di tengah-tengah masyarakat haruslah serta dengan fathonah, bithonah dan budi luhur. Hasilnya pun sudah dapat kita lihat dan kita rasakan bersama, bahwa citra Jama’ah kita sekarang semakin baik dan semiakin bersinar di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat telah menilai baik terhadap kita, sudah banyak orang-orang yang dulu membenci seka-rang sudah menaruh simpati kepada kita, dan atas pertolongan Alloh Jama’ ah pun terus berkembang di mana-mana, banyak para penginsaf yang datang sendiri ke tempat pengajian-pengajian kita, atau ke perseorangan Jama’ah untuk minta diisi pengajian.
Dalam keadaan seperti sekarang ini maka unsur peningkatan budi luhur (akhlaqul karimah) yang perlu mendapatkan perhatian serius dari satu-satunya Jama’ah.
(Radar Minggu, 23-29 Feburari 2004)

LAPORAN MANTAN JAMA’AH LDII

Beliau Masih Tetap Ngaji di LDII
Untuk Mendapatkan Data-Data Kesesatan Dan Kebohongan LDII

Ada puluhan orang mantan LDII yang sudah sadar bahwa LDII itu sesat–menyesatkan. Akhirnya mereka keluar dari LDII, tapi sebagian mereka kita suruh tetap ngaji di LDII untuk mendapatkan data-data terbaru dan otentik sebagai bahan penelitian kami.

Data Pendukung:

NOTULEN
AMANAT PENGAJIAN BULANAN DAERAHAN LDII
AGUSTUS 2006

H. Diky Sunaryo:
………….Tidak salah niat, niatnya semata-mata ibadah, cari surga selamat dari neraka.
Harus Fathonah Bithonah  Budi Luhur. Bab Budi luhur supaya lebih ditekankan lagi, karena masih ada beberapa daerah yang masih banyak rintangan, gegeran ternyata setelah diteliti ternyata jama’ah kurang bisa budi luhur. Jama’ah supaya meningkatkan amar makruf karena amar makruf bisa mendatangkan keuntungan keuntungan di antaranya:
  • Pahala kita tambah banyak
  • Jama’ah kita tambah kuat.

Pengajian Daerahan LDII Bulan Maret 2006

Nasehat Bapak Suparto, Wakil IV (Nasehat Pembukaan)
Kita bersyukur diberi hidayah QHJ, orang yang dipilih menjadi Jama’ah sekaligus dicintai oleh Alloh tidak lepas  dengan cobaan, baik cobaan jiwa ataupun harta benda, seperti bapak Imam dicoba sakit…….

Demikan pula perubahan yang cepat yang terjadi dalam organisasi sebagaimana hubungan dengan MUI yang dulu beku sekarang sudah cair, baik di pusat maupun di daerah. Demikian pula dengan ormas-ormas yang lain baik di pusat maupun di daerah.
Perubahan ini tetap diikuti dengan fathonah bithonah  budi luhur.

Nasehat Bapak Ahmad Suwarno:
Ronaldo adalah seorang ahli sepak bola, komentarnya tidak mencetak gol yang banyak, tetapi bagaimana bisa memenangkan team Brazil. Dalam jama’ah ini ada organisasi untuk memenangkan perjuangan jama’ah agar rela mengorbankan kemampuannya untuk jama’ah. Tindak lanjut untuk memenangkan jama’ah agar tetap Fathonah Bithonah  Budi Luhur. Sinkom bekerja dengan ke Imaman sehingga dicari orang yang bisa dipercaya dan bisa diamanati.

Nasehat Bapak Sultan Aulia (Nasehat penutup):
Dalam peramutan QHJ terjadi perkembangan pola peramutan, hal ini untuk kelancaran QHJ agar bisa terus meningkatkan Fathonah Bithonah budi luhur dan bisa menyesuaikan meramut jama’ah kedalam, dan melestarikan QHJ ini secara turun temurun, walaupun mengalami berbagai cobaan.”

C A T A T A N :

Imam LDII yang diberi cobaan sakit tersebut adalah Abd. Dhohir. Kemudian meninggal dunia pada hari selasa malam tanggal 12 September 2006. Sehingga posisi keimaman digantikan oleh adiknya, Abd. Azis, sebagai Imam/Amir LDII yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar