Minggu, 29 April 2012

Qadian dan Rabwah = Kota Suci Ahmadiyah

Inilah Kesaksian dari Seorang Ahmadi :
(Kota Suci Jemaat Ahmadiyah Bukan Mekah & Madinah)
“...You won’t believe Rabwah and Qadian are so spiritual that one feels to weep bitterly in his prayers. Nearly, everyday I weep in front of my Lord, the creator of the Universe... “


MENJADI TAMU ALLAH
Suatu Reportase
Oleh : Ny. Kamilah Daniel


Sejak lama saya berhasrat besar untuk melihat kedua kota suci zaman akhir, Qadian di India dan Rabwah di Pakistan. Namun baru di penghujung tahun 79 yang lalu saya diundang Tuhan ke sana. Sengaja saya memakai istilah “diundang”, sebab menurut wahyu Ilahi yang diturunkan kepada wujud suci Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ahmad a.s.: “Telah Aku sediakan orang-orang dari seluruh penjuru bumi untuk datang ke tempatmu”. Selama kami berada di kedua kota suci itu kami selalu disebut tamu-tamu Allah, karena kedua hal inilah saya memakai istilah diundang itu. Keyakinan sebagai “tamu Allah” meresap jauh ke dalam lubuk hati, yang mampu meampakkan panorama indrawi yang serba indah.

Kota Qudus Qadian
Sekitar dua ratus ribu mukhlisin Jemaat Ahmadiyah dari seluruh penjuru bumi memadati arena Jalsah di Rabwah, termasuk 23 orang peserta yang mewakili Jemaat Ahmadiyah Nusantara. Mereka telah menghabiskan waktu dan harta untuk berkunjung ke kota pelayaran rohani ini, yang kesemuanya itu dilandasi kecintaan kepada Imamuz Zaman, Pendiri Gerakan Suci Jemaat Ahmadiyah dalam Islam.
Qadian maupun Rabwah adalah dua kota yang biasa saja bila kita melihatnya lewat kacamata duniawi. Dua kota yang tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kota-kota di Indonesia. Tetapi bila kita menengoknya lewat dimensi rohani, maka yang nampak tiada lain kecuali kekuatan yang menyelimutinya, ditimpali guyuran salju rohani yang setiap detik mengalir lewat jalur-jalur kehidupan dan menjumpai insan-insan yang dahaga akan air langit di seluruh ketiak bumi.

Kutulis dalam catatan perjalanan ini, bahwa Qadian adalah kota yang syahdu dan Rabwah yang megah sebagai kota gemilang. Entah sukma apa yang mengantar jari-jari saya untuk menulis julukan kedua kota ini, saya sendiri kurang jelas. Namun, mengingat hubungan erat kedua kota ini dengan langit, maka saya kemudian melanjutkan catatan ini, bahwa kedua kota itu adalah hasil proyeksi dari kehidupan makhluk di langit sana. Kehidupan yang aman, sentosa dan sejahtera. Demi tuhan, penulisan ini seperti membual, akan tetapi mereka yang sudah berkunjung dan menyaksikan sendiri, akan membenarkan tulisan saya. 
Qadian, kota sunyi, gedung-gedung seperti rumah-rumah yang terbengkalai, sambung menyambung menjadi suatu rentetan bangunan yang sukar dilukiskan. Singkatnya, yang disebut rumah di sini, jauh berbeda dengan rumah-rumah di Indonesia. Tanahnya berpasir halus, bila ditiup angin akan mengotori segala-galanya. Rumah-rumah tak mengenal kain pel kecuali sapu, sebab bila dipel bukannya tambah bersih, melainkan sebaliknya. Perhiasan rumah hampir tidak dikenal, jauh berbeda dengan kita di Indonesia, semuanya serba sederhana. Tempat yang paling bagus adalah masjid. Di sinilah orang-orang berkumpul dengan wajah yang cerah dan berdoa dengan khusyu’.
Orang-orang Muslim Ahmadiyah hanya sibuk dengan urusan agama, keduniaan tampaknya hanya dikerjakan sambil lewat, bagi mereka masalah ini tak berarti apa-apa. Saya tanyakan kepada salah seorang siswa kader missionaris Ahmadiyah asal Indonesia yang studi pada Jamiah Ahmadiyah Rabwah. Jawabnya memang demikian. Sampai saya sendiri berfikir, apakah mereka tidak ingin kaya, harta warisan untuk keturunan dan masa depan? Mereka laksana orang-orang ynag sedang menghadapi kematian. Segala amal tindakan mereka ditujukan kepada kehidupan nanti di seberang sana, akherat. Sedang kehidupan dunia ini tidak mereka hiraukan sama sekali.
Saya menanyakan masalah ini kepada salah seorang Musiah (wanita Ahmadi yang benar-benar telah menempuh hidup kesucian selaras ajaran Islam). Beliau menjawab: “Anakku, Allah Ta’ala menciptakan 100 kenikmatan untuk umat manusia dan Dia menyimpan 99 bagian di langit sana. Hanya satu bagian Dia turunkan ke bumi ini. Karena itu apakah engkau akan merebut satu bagian itu yang sudah terpecah belah di bumi ini ataukah engkau akan mengejar 99 bagian yang ada di atas sana?” Saya terdiam, mulut saya terkatup, air mata membasahi pipi. Saya terharu bahkan tersentak mendengar peringatan rohani itu. “Ya Allah, apakah engkau akan berkenan menakdirkan saya untuk mencicipi kenikmatan yang engkau siapkan untuk hamba-hamba-Mu kelak itu?” Catatan ini saya garis bawahi. Suatu catatan yang selalu mengundang deraian air mata.

Genggaman Ghaib
Dari menara Masjidil Aqsa, saya melihat secara keseluruhan kota Qadian. Tidak besar, tidak hebat, malah sunyi dan memilukan. Andaikata ini bukan tempat kelahiran Hadhrat Imam Mahdi a.s., sungguh di sana tidak ada apa-apa. Di tempat inilah terpancar suasana syahdu. Kekudusan rumah inilah yang membuat Qadian menjadi zamrud yang tidak ternilai harganya. Tak seorang pun dapat menahan air matanya di saat berada di dalam rumah suci ini. Terasa genggaman ghaib meliputi semua suasana. Doa-doa yang dipersembahkan larut dalam rangkuman sayap-sayap kalam Ilahi. Ini tercakup dalam “lead” reportase ini, diungkapkan oleh seorang saudara rohani dari Mauritius dalam suratnya kepada saya baru-baru ini.
“... You won’t believe Rabwah and Qadian are so spiritual and one feels to weep bitterly in his prayers. Nearly everday i weep in front of my Lord, the creator of the Universe...”. Membaca kata-kata yang penuh nada spiritual itu saya tidak sanggup menahan rasa haru saya. Sisa ketenangan itu tertimbun menjadi pupuk rohani yang tidak bertara. Membaca penggalan surat dalam “lead” itu, saya merasa bahwa bukan hanya delegasi Ahmadiyah Indonesia saja yang cengeng di sana. Akan tetapi saudara-saudara rohani murid terkasih pendiri Jemaat Ahmadiyah dari berbagai penjuru bumi yang lain pun demikian juga.
Pada saat kami di Qadian, Jalsah di kota ini juga berlangsung beberapa hari sebelum Jalsah di Rabwah. Pengunjung memadati seluruh pelosok Qadian. Pengunjung Jemaat dari Eropa, Afrika, Amerika dan Asia sediri berbaur menjadi suatu kawan rohani dan jasmani yang amat setia. Aneka warna dan bentuk jasmani bukanlah penghalang untuk mewujudkan kasih dan persaudaraan antara umat manusia se-dunia. Apakah ini bukan suatu mukjizat tak kentara selaku pertanda kebenaran Jemaat Ahmadiyah dan Pendirinya?
Setiap waktu shalat, bangunan kecil itu penuk sesak. Tapi anehnya kekudusan tempat ini tak tercemar oleh banyaknya manusia. Suasana tetap tenang dan berwibawa. Di bangunan ini pula kami seolah-olah selalu mandi, selalu merasa sejuk dan bersih. Doa dan sembahyang maupun tahajjud bersama setiap waktu selalu menggores kalbu. Imam masjid Qadian ini biasanya Hadhrat Mirza Washim Ahmad, cucunda Hadhrat Imam Mahdi a.s.. Pada saat doa disampaikan, kita seolah telah melihat seorang hamba yang bersimpuh, ta’zim di hadapan suatu wujud Yang Maha Agung lagi Perkasa, dan kami duduk berderet-deret di belakang hamba itu.
Suara dan doa hamba itu demikian khusyuk, di sampaikan dengan suara kerendahan hati yang tulus dari seorang hamba yang penuh keyakinan akan kemurahan Sang Pencipta. Doa itu terucap berulang-ulang penuh harap, disertai suara sendu yang amat mengharukan. Doa itu merasuk hati, sehingga tak ada sekeping hati baja dari bangsa mana pun yang tak meleleh karenanya. Pemanjatan doa yang tersendat penuh haru itu membuat setiap hati ini merasa kerdil di hadapan Penata Alam Semesta. Kesemuanya itu membuat hati ini menyadari kelemahan yang sebenar-benarnya, sehingga segalanya hanya tertumpu pada dia, Allah Ta’ala Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Paduan isak tangis dan tatapan doa dari sekian insan-insan lemah, yang berasal dari berbagai sudut dunia, di selang-seling oleh rintihan yang memilukan. Kesemuanya bagaikan simponi rohani yang mengalun tiada  henti: “Ya Allah Rabb kami, kesemuanya ini kami persembahkan demi kejayaan Islam, Ahmadiyah dan perikemanusiaan secara universal”.
Di tengah gemuruh dan ketegangan rohani ini memo saya kembali mencatat: “Ya Allah, Perencana Terbaik! Tiada alasan-Mu untuk menolak doa-doa kami ini. Kami yakin benar, di dunia ini tak ada satu golongan dari agama dan kepercayaan manapun yang bersedia sekhusyu’ ini yang semata berharap untuk kesejahteraan rohani ummat manusia. Karena itulah ya Allah, Penguasa Tunggal, kami yakin benar akan datangnya suatu hari kemenangan yang gemilang bagi Islam dan Jemaat Ahmadiyah, suatu hari di mana segala persoalan makhluk bumi akan diatur dan diselesaikan secara tuntas sesuai dengan prinsip-prinsip hukum-Mu sendiri.”

Nubuwah Yang Mengharukan
Karena keyakinan akan kemenangan inilah hati ini begitu kembang dan membuat apapun yang nampak, indah adanya. Hati ini begitu bahagia sehngga tak dapat diucapkan oleh bibir manusia, hanya air mata yang selalu menampilkan diri memberikan kesaksiannya. Dalam kondisi rohani yang mencapai klimaks ini, saya teringat saudara-saudara rohani di Tanah Air yang belum sempat diundang Tuhan untuk berkunjung ke kota yang penuh atraksi samawi ini. Semoga Allah memudahkan perjalanan mereka ke tempat ini.
Bukan catatan kaki di atas itu saja yang menambah keimanan kami kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Akan tetapi ruangan-ruangan tempat beliau beribadat dan tulisan-tulisan wahyu yang turun kepada beliau ikut menguatkan. Misalnya yang tertulis di salah satu ruangan sebuah nubuwatan yang agung, “Akan datang kepadamu orang-orang dari seluruh penjuru dunia”. Kami baca tulisan itu dan melihatnya bersama rekan seiman dari berbagai bangsa yang hadir dalam ruangan itu. Lalu melihat diri kami dan kami merasa bercermin kepada kaca yang berkepanjangan. Merasa kehadiran kami itu tepat sebagai penggenap nubuwah yang datang dari suatu Zat Perencana yang tak dapat dijangkau oleh dimensi ruang dan waktu.  Tulisan ini melukiskan kehadiran kami, seolah kami sudah ditunggu berpuluh-puluh tahun oleh tulisan wahyu itu. Seolah rupa dan bayangan kami telah terukir lama pada papan ini dan kami menyaksikannya, sekian puluh tahun kemudian.
Di Baitul Doa, tempat doa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. seakan tampak beliau sedang tekun berdoa, berkeluh kesah seorang diri memohon kepada Ilahi, untuk kebahagiaan umat manusia. Sedangkan di Baitul Fikri, seakan beliau tampak berkerut dahi,  memikirkan bagaimana mestinya memecahkan persoalan kemanusiaan di dunia ini. Di lain tempat, yaitu di Baitul Zikr, beliau terbayang kepada kami sedang duduk berzikir dengan segala kekhusu’an. Dan di tempat beliau a.s. terkena cipratan “tinta merah” Ilahi, seolah kami melihat beliau terlena beristirahat dari segala kelelahan. Kemanapun kami menengok seolah tampak wujud suci beliau dengan segala bentuk pekerti yang agung, sehingga terasa di hati ini suatu keikhlasan untuk setia dan iman kepadanya.

Bahisti Makrabah
Bahisti Makrabah adalah taman makam, dimana jasad wujud suci Imam Mahdi a.s. dan Khalifahnya yang pertama terbaring untuk selamanya. Taman ini adalah satu tempat yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah  lewat kasyaf, sebagai sebuah taman ahli surga. Taman itu sendiri adalah taman biasa bagi pemandangan orang Indonesia. Ia merupakan kebun kecil ditumbuhi beraneka pohon dan bunga-bungaan. Akan tetapi bila kita mengamati lebih jauh dari segi geografisnya, taman ini merupakan keajaiban alam. Sungguh suatu taman di atas sebidang tanah yang tidak terlalu luas ditumbuhi pepohonan yang menghijau dan subur, menyejukkan suasana. Sedangkan di sekelilingnya terhampar tanah keras yang berdebu dan gersang.
Tentang keajaiban alam ini kutulis kemudian dalam catatanku: “Ya Allah rupanya taman ini sengaja Engkau ciptakan demikian sebagai perlambang, sebagai misal wujud yang berbaring di dalamnya. Bahwa beliau itu adalah tanah dan pepohonan yang subur yang langsung mendapat peliharaan dari langit, bebas dari kegersangan makhluk bumi yang lain, malahan memberikannya curahan air kehidupan sejati. Kehidupan yang tenteram dan obat penawar bagi manusia yang gersang dari peradaban rohani sekitarnya.”
Nisan putih makam beliau sungguh memikat, sederhana dan anggun. Saya bersimpuh di tepinya seraya berkata, “Alangkah pendeknya usiamu, wahai Imam. Bagimu yang bertugas memikul beban seberat itu usiamu terlalu pendek walau hidup 1000 tahun”.

Rabwah Simbol Kemegahan Rohani
Kami sampai di Rabwah setelah perjalanan kami di Qadian. Pimpinan perjalanan Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengambil rute yang ditetapkan semula. Dari perlabuhan Halim Perdanakusumah Jakarta ke Singapura, Kuala Lumpur, Karachi kemudian ke Lahore, Pakistan. Menyebrang ke India menuju Qadian kembali ke Lahore menuju Rabwah, untuk mengikuti Jalsah Pusat setelah menghadiri Jalsah lokal di Qadian, yang dihadiri oleh cabang-cabang Jemaat dari India dan Kashmir.
Rabwah memang megah. Tata kehidupan ala Islam benar terwujud tanpa dipaksakan oleh rejim yang bertangan besi. Di sinilah kota Muslim sejati dimana wanita tertutup sekali untuk pandangan pria. Ketinggian budi dan adab Islam yang terpancar di kota ini semuanya lahir dari hati tulus dan kesadaran imaniat yang tinggi. Di mana masyarakat memfokuskan segala kehidupannya pada persoalan kerohanian. Melihat pola kehidupan mereka, saya teringat sebuah wahyu Tuhan dalam Tadzkirah, hal. 238: “Kamu adalah sebaik-baiknya umat yang dijadikan untuk manusia dan kebanggaan bagi orang-orang beriman.” Yakni masyarakat dunia dewasa ini berhasrat melihat kebenaran dan keindahan Islam cukup banyak dengan melihat penampilan karakter dan akhlak orang-orang Ahmadi.
Saya yang serba lemah hanya menelan air liur, ingin seperti mereka tapi belum ada kemampuan. Akhirnya hari ini hanya mengeluh dan memohon semoga turunan kita di masa mendatang berpola hidup seperti mereka. Hidup bergelimang dengan kesucian Al Qur’an, berjalan di atas jembatan kebenaran dan terjaga benteng keimanan yang kokoh kuat. Alangkah bahagianya mereka. Saya jadi teringat cerita orang tua, ada segolongan ahli-ahli surga, ada lagi segolongan ahli neraka, dan ada segolongan orang yang berdiam diri di sebuah bukit di antara kedua tempat itu. Mereka yang berdiam di bukit ini mendambakan untuk menjadi ahli surga. Dan mereka takut bila menengok ke neraka. Keadaan saya bagaikan orang yang berada di bukit itu.
Pada saat-saat Jalsah berlangsung, sungguh terasa suatu nikmat yang sukar diutarakan dengan kata-kata. Lama saya termangu memikirikan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya. Kebahagiaan itu belum pernah saya alami sebelumnya. Saya begitu bahagia, seolah-olah dunia ini telah dianugerahkan kepada saya sendiri. Betapa tidak, semua rekan-rekan seiman yang hadir tersenyum manis kepada saya, kaum ibu Ahmadi yang tergabung dengan Lajnah Imaillah Jemaat Ahmadiyah dari seluruh dunia, semuanya memeluk saya dengan mesra. Dalam perpisahan mereka menyalami dan mencium saya dengan keharuan yang tiada henti-hentinya. Saya benar-benar seperti dalam mimpi, seolah tak percaya akan kebahagiaan yang saya rasakan sendiri. Saya baru sadar setelah seorang saudara rohani mengingatkan akan ayat 14 dari surah Ali-Imran: “Dan ingatlah kamu akan nikmat Allah kepadamu dahulu tatkala kamu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu karena nikmat Allah, kamu menjadi orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 104)
Wahyu kepada pendiri Jemaat Ahmadiyah: “Maka Allah Ta’ala menimbulkan kecintaan di antara kamu, sehingga dengan nikmat-Nya itu kamu satu dengan yang lain bersaudara.” (Tadzkiratussahadatain)
Surah Ali Imran ayat 104 di atas diwahyukan oleh Allah Ta’ala kepada Yang Mulia Rasul Suci Muhammad Saw., bahwa mukmin berhak menerima nikmat itu. Kemudian Allah Ta’ala mewahyukan pula perkataan itu kepada Hadhrat Masih Mau'ud a.s., sebagai wahyu ulangan. Dari kedua wahyu itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa Jemaat Ahmadiyah pewaris tunggal yang berhak menerima nikmat itu. Hal ini dibenarkan oleh setiap Ahmadi yang merasakan bagaimana indahnya nikmat itu tidak peduli dari benua dan bangsa apa saja, setiap mereka bertemu satu sama lain kasih mengasihi dengan wajah berseri-seri.
Menulis sampai di sini, saya teringat kembali kepada mereka. Saya teringat kepada Miss Jumila, wanita Ahmadi asal Mauritius yang kini menetap di London, ia menangis tersedu-sedu di dada saya sebelum naik ke kendaraan yang menjemputnya. Miss Huzaefa dari Nigeria (Afrika) terisak-isak memeluk saya seperti tak mau lepas-lepas. Juga seorang kawannya, Miss Waseela. Tak lupa pula Miss Walid Kanta, Nasiratul Ahmadiyah dari Swiss, yang sangat cantik, ia menangis di bawah curahan air hujan sambil memegangi tangan saya tidak kurang dari setengah jam. Beberapa kali saya minta agar supaya ia berteduh, tapi ia menolak seraya berkata bahwa di negerinya ia sudah biasa dengan hujan seperti itu. Gadis ini sampai melepaskan cincin berlian mata satu dan memasukkan ke jari tangan saya. Saya terkejut dan terharu karenanya, saya lepaskan cincin itu dan memasukkannya kembali ke jari tangannya. Saya katakan kepadanya “Cinta persaudaraanmu yang amat tulus itu jauh lebih tinggi dan bernilai dari cincin ini, saya sangat berterima kasih.
Seorang wartawati kenamaan Amerika Serikat, Nyonya Mubarakah Malik, yang juga seorang mukhlisah Ahmadi, benar-benar adalah seorang wanita Islam yang sejati. Kasih sayangnya kepada sesama amat luar biasa. Ia adalah wanita Islam Ahmadi pertama yang menyerahkan “The Holy Quran” terbitan Jemaat Ahmadiyah kepada Mr. Ford ketika masih menjabat Presiden Amerika Serikat. Klise fotonya dengan Presiden Ford diberikan kepada saya oleh ia sendiri (h. 40). saya terharu lagi, apa kesan beliau mengenai saya sehingga klise foto yang amat berharga itu diberikan kepada saya. Ketia ia ditanya oleh seorang wartawati Pakistan tentang pemakaian pardah di kalangan wanita Ahmadi di Amerika, ia menjawab: “Ya, saya harus menjadi contoh untuk generasi mendatang! Kalau saya tak berpardah, apa yang akan terjadi kelak”.
Dan untuk Lajnah Imaillah Indonesia, beliau berpesan lewat catatan saya: “Assalamualaikum. Dear sister, it has been an honor meeting all the sisters from different places in the word. May Allah bless you and keep us faithful Ahmadis. Your sincere loving sister.”

Kasih dan Bahasa Cinta
Mrs. Sogra Hossainy, Lajnah dari Mauritius, seorang ibu Ahmadi yang tak bisa saya lupakan. Beliau sungguh luar biasa. Beliau mengangkat saya sebagai anak sendiri. Beliau tak bisa berbahasa Inggris, bahasa beliau hanyalah bahasa cinta dan kasih yang mendalam, sehingga tak pernah saya mengingat beliau tanpa mengucurkan air mata. Saya memanggil beliau mama dan beliau memanggil saya Kamilah dengan akrabnya. Beliau lewat penterjemahnya menyuruh saya banyak berdoa agar kami bertemu bisa bertemu lagi pada akhir 80 nanti. Kemudian seorang gadis yang manis juga kami kenal pada waktu jalsah, namanya Tahirah. Ia juga memperlihatkan cinta persaudaraan yang amat tulus. “Saya mengangkat kakak sebagai kakak kandung saya sendiri”, katanya suatu ketika dalam bahasa Inggris. Jawaban saya lagi-lagi air mata haru. Ia lahir dan dibesarkan sebagai Nasiratul Ahmadiyah di Distrik Desa Ghazzi Khan, Pakistan. Sampai saat ini dan semoga untuk seterusnya surat kami terus berbalasan tak henti-hentinya. Dan saya sering berlinang air mata dalam mengenangnya.
Tidak semua tamu-tamu Tuhan yang hadir dalam Jalsah itu memahami bahasa Inggris, tetapi kami, atas kebijaksaan-Nya dikaruniai bahasa yang lebih Internasional, bahasa yang mudah dimengerti, merdu didengar dan lezat dirasa. Bahasa itu ialah “bahasa cinta”. Kami langsung merasa bersaudara tanpa mengenal nama dan alamat.
Suatu catatan yang penting, ketika kami berbicara di kalangan Ahmadi, yaitu dengan saudara-saudara kita di Pakistan, bahwa kami punya negara Indonesia yang indah, dan kami sebutkan Bali, maka dengan bangga mereka berkata: “Tapi kami punya Hudhur, Imam kita tercinta, Hadhrat Khalifatul Masih III, ayyadahullahu ta’ala binashirihil aziz”. Jawaban mereka membuat kami kecut dan sadar. Apa artinya segala kemewahan kita jika dibandingkan dengan “wujud suci”, penarik segala berkat dan nikmat dari langit itu! Apa artinya kemewahan ketimbang kebahagiaan yang sejati!

Penutup
Rasa terima kasih yang tak putus-putus dari hamba yang lemah ini kutujukan kepada wujud agung Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.. Karena “magnit rohani” beliaulah saya sempat mereguk sejuknya curahan salju spiritual, kedambaan insan-insan pencari Wujud Pencipta alam semesta. Doa kami, semoga segenap umat manusia di zaman ini sempat pula menemui kebahagiaan hakiki itu, Amin!

Fadhal dan karunia Tuhan memberkati Jalsah Salanah (Pertemuan Tahunan) Jemaat Ahmadiyah Internasional di Rabwah, Pakistan, pada akhir bulan Fatah 1359 HS / Desember 1980.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar