Minggu, 29 April 2012

Selayang Pandang Ahmadiyah

BERKENALAN DENGAN AHMADIYAH


SIAPA SEBENARNYA MIRZA GHULAM AHMAD ?

Mirza Ghulam Ahmad lahir dari keluarga Muslim di suatu Desa/Kota kecil bernama Qadiyan di daerah Gurdaspore, Propinsi Punjab, India Utara.
Mengenai tanggal dan bulan kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, tidak ada yang mengetahuinya dan tidak terdapat dalam literatur milik Ahmadiyah. Bahkan, mengenai tahunnya pun tidak ada yang mengetahuinya, termasuk Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Akan tetapi, ada beberapa versi yang menyebutkan tahun kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, di antaranya:
a.     Mirza menulis dalam bukunya bahwa dia lahir pada tahun 1839/1840. (Kitabul Bariyya, hal. 146).
b.     Mirza menulis lagi dalam bukunya bahwa dia lahir pada tahun 1845. (Taryaqul Qulub, hal. 68).
c.     Khalifah Pertama Ahmadiyah, yakni Hakiim Nur ad Din menulis bahwa Mirza lahir pada tahun 1840. (Risalah Nuruddin).
d.    Anak Mirza, yakni Bashir Ahmad menulis bahwa Bapaknya lahir pada tahun 1836 / 1837 M. (Siratul Mahdi, Jilid 2 hal. 150)
e.     Anaknya itu menulis lagi bahwa bapaknya lahir pada tahun 1831 M. (Siratul Mahdi, Jilid 3 hal. 74)
f.      Anaknya itu menulis lagi bahwa bapaknya lahir pada tahun 1835 M. (Siratul Mahdi, Jilid 3 hal. 76)
g.     Anaknya itu menulis lagi bahwa bapaknya lahir pada tahun 1833 / 1834 M. (Siratul Mahdi, Jilid 3 hal. 194)
h.     Anaknya itu menulis lagi bahwa bapaknya lahir pada tahun 1832 M. (Siratul Mahdi, Jilid 3 hal. 302)

Kebanyakan sumber asli buku-buku Ahmadiyah menyebutkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad lahir pada tahun 1835 M. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa ada monopoli para pengikut setia Mirza Ghulam Ahmad dalam menentukan tahun kelahirannya, dengan tujuan untuk mencocokkan umurnya dengan ramalan yang pernah dia umumkan mengenai umurnya sendiri, yaitu:
Tuhan telah memberitahukan kepada saya dengan kata-kata yang jelas, umur saya akan mencapai 80 tahun atau 5 atau 6 tahun lebih dari itu atau 5 atau 6 tahun kurang dari itu” (dengan kata-kata yang jelas dalam wahyu ini telah ditentukan umur Mirza akan antara 74 sampai 86 tahun). (Zamima Jilid 5; Barahin Ahmadiyah, hal. 97).
          Perkataan ini diklaim sebagai Wahyu Tuhan kepada Mirza Ghulam Ahmad. Oleh karena itu, para pengikutnya termasuk anaknya sendiri berusaha untuk mencocokkan antara umur Mirza Ghulam Ahmad dengan “wahyu” yang diterimanya, untuk meyakinkan para jamaah Ahmadiyah tentang kenabian dan kerasulannya.
          Adapun mengenai nama MIRZA GHULAM AHMAD QADIYAN, memiliki pengertian sebagai berikut:
MIRZA,       adalah marga atau fam keluarga, bisa disebut juga tuan tanah atau bangsawan. Di India dan Pakistan banyak sekali keluarga yang menggunakan marga atau fam “MIRZA”. Mereka ada yang memeluk agama Islam dan ada pula yang memeluk agama Hindu.
GHULAM,   dalam bahasa Urdu disebut naukar atau ghulam; dalam bahasa Indonesia bermakna pembantu, hamba, atau budak; sedangkan dalam bahasa Inggris berarti slave or servant.
AHMAD,     adalah nama kedua Nabi Muhammad SAW, dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sering dipakai untuk nama Nabi Muhammad SAW. (Biasanya orang-orang memakai nama-nama suci seperti  Muhammad, Ahmad, atau menggunakan akhiran “Allah” – Abdullah, dll. – untuk namanya sendiri, agar mendapat keberkahan dari nama-nama suci tersebut).
QADIYAN,  adalah kota kecil di Gurdaspore, propinsi Punjab, India. Karena Mirza lahir di kota ini, maka dipanggil dengan nama Qadiyani (sesuai dengan kaidah penamaan orang yang berlaku di India dan Pakistan).

Jadi, kita bisa menyebut “Ghulam Ahmad” dengan kata-kata seperti di bawah ini:
a.      Ahmad ka naukar / ghulam                                    ( bahasa Urdu)
b.      Pembantunya / hambanya / budaknya Ahmad        ( bahasa Indonesia)
c.      Slave / servant of Ahmad                                      ( bahasa Inggris)

Ada juga sebuah istilah dalam bahasa Urdu, yaitu “Naukar Ko Malik Ke Khawab” dalam bahasa Indonesia berarti “Pembantu Bermimpi Menjadi Majikan”. Kata-kata inilah yang akan membantu dalam memahami dan mengungkap hakikat sebenarnya tentang Mirza Ghulam Ahmad dan ajarannya.
Mirza Ghulam Ahmad hanya mendapatkan pendidikan agama di rumah. Dalam hal kesehatan, dia menderita berbagai penyakit fisik dan mental, serta memiliki kebiasaan buruk yaitu memakai opium dan meminum anggur beralkohol. Bahkan, di bawah penjajahan Inggris di India, dia berani menjual keimanannya demi mendapatkan keuntungan harta.
Mirza Ghulam Ahmad meninggal pada tanggal 26 Mei 1908 M. Dia meninggal dengan sangat mengenaskan karena komplikasi berbagai penyakit yang dideritanya. Akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di WC yang ada di dalam kamarnya. Kemudian mayatnya dibawa ke tempat pemakaman di daerah keahirannya yaitu Qadiyan. Akan tetapi, selama menempuh perjalanan dari Lahore ke Qadiyan, kotorannya tak henti-hentinya keluar terus menerus dari lubang bawah dan lubang atas. Melihat kejadiaan tersebut, banyak para pengikutnya yang meninggalkan ajaran yang dibawa Mirza Ghulam Ahmad, lalu bertaubat kembali kepada ajaran Islam yang benar yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.


KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN GERAKAN AHMADIYAH

Mirza Ghulam Ahmad mendirikan gerakan Ahmadiyah pada tanggal 23 Maret 1889 M (Azar) di sebuah kota yang bernama Ludhiana di Punjab, India. Negeri ini oleh para jemaat Ahmadiyah disebut sebagai “Darul Bai’at”.
Mirza Ghulam Ahmad memberi istilah kepada para pengikutnya dengan sebutan “Ahmadi Muslim”. Dan dia juga memberi label kepada umat Islam yang tidak mau menerimanya dan tidak menerima kenabiannya sebagai “Haram Jadah” (Bastards).
Lalu, dia mengklaim dirinya sebagai Messiah yang dijanjikan, al-Mahdi, Rasul, dan Nabi Muhammad yang SAW yang datang untuk kedua kalinya dalam bentuk Mirza Ghulam Ahmad untuk menyiarkan agama Islam. Dia juga mengklaim telah menerima Wahyu dari Allah SWT.
Ajaran seperti inilah yang diajarkan dan ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad dalam buku-bukunya yang berjumlah lebih dari 80 buku. Intisari dari buku-buku tersebut terdapat / dikumpulkan dalam buku suci Tadzkirah yang disebut oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai wahyu-wahyu suci dari Allah SWT. Kitab ini dianggap sebagai Kitab Suci yang kedudukannya sama seperti Kitab Suci Al Qur’an. Nauzubillah min dzalik.
Setelah kematian Mirza Ghulam Ahmad, gerakan Ahmadiyah terus berlanjut dan dilanjutkan oleh para Khalifahnya. Pada masa-masa awal, gerakan Ahmadiyah berjalan di bawah “Petunjuk” pada majikannya yaitu penjajah Inggris. Bahkan, sampai saat ini pun Pusat Gerakan Ahmadiyah berada di kota London, Inggris. Dan sekarang mereka mendapat sokongan dari Amerika Serikat dan Negara-negara anti-Islam lainnya.
Sampai saat ini ada 5 (lima) Khalifah Ahmadiyah yang menjadi pusat kepemimpinan Jemaat Ahmadiyah di dunia, yaitu:
1.      Khalifah Pertama bernama Mirza Hakiim (Tabib) Nuruddin;
2.     Khalifah Kedua bernama Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (anak kandung Mirza Ghulam Ahmad);
3.     Khalifah Ketiga bernama Mirza Nashir Ahmad;
4.     Khalifah Keempat bernama Mirza Thohir Ahmad;
5.     Khalifah Kelima bernama Mirza Masrur Ahmad.

Mengenai jumlah pengikut Ahmadiyah, dari tahun ke tahun mengalami perkembangan dan pertambahan. Setelah berdiri kurang lebih 15 tahun, Ahmadiyah telah memiliki pengikut sekitar 10 juta jiwa yang tersebar di 80 negara, dan pada tahun 1989 telah tersebar di 120 negara di seluruh dunia. (Pengakuan Khalifah ke IV Ahmadiyah, Mirza Thohir, dalam Majalah Britania/Sunday Times, Desember 1989).
Akan tetapi, pengakuan ini hanyalah propaganda semata. Sebab utama Organisasi Ahmadiyah tidak mau mengemukakan perhitungan secara rinci tentang jumlah mereka di setiap negara adalah tertumpu pada sebuah rencana politis yang dicanangkan sejak berdirinya, yaitu untuk menunjukkan betapa besarnya jumlah pengikut mereka. Dengan demikian akan membantu penyebaran dan pengembangan organisasinya itu.
Hal ini terbukti seiring perkembangan Ahmadiyah yang memasuki abad kedua dengan pengikutnya yang terus bertambah. Maka pada hari Jum’at tanggal 25 Oktober 1991 dalam khutbahnya Mirza Thohir Ahmad sebagai Khalifah Ahmadiyah ke IV mengumumkan bahwa jumlah pengikut Ahmadiyah tidak mencapai 10 juta jiwa. Padahal sebelumnya dia telah mengklaim jumlah pengikut Ahmadiyah sebanyak itu.
Propaganda seputar perkembangan aliran dan penyebaran ajaran Ahmadiyah yang sudah direkayasa baik oleh Ahmadiyah sendiri maupun oleh pihak lain yang berkepentingan terus berlanjut. Untuk merealisasikan penyebaran aqidah dan informasi Ahmadiyah kepada mayoritas kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, yang juga merupakan tujuan utamanya, adalah dengan menggunakan beberapa stasiun televisi dan radio. Maka berdirilah Muslim Television Ahmadiyya atau disingkat MTA yang merupakan stasiun televisi milik Ahmadiyah.
Sejak tahun 1994 Ahmadiyah sudah mulai melakukan transmisi luar angkasa melalui satelit dengan menggunakan beberapa bahasa dan menayangkannya setiap hari.
Adapun mengenai pendanaan, berdasarkan peraturan organisasi Ahmadiyah, setiap anggota diwajibkan mengeluarkan pendapatan bulanan sebesar 6 % sebagai ‘Pendanaan Umum’. Di samping itu, wajib mengeluarkan biaya sebesar 10 % s/d 30 % jika dia mushi (orang yang dimakamkan di “Pekuburan Surga”). Ahmadiyah membuat tempat pemakaman khusus yang diberi nama “Bahesty Maqbaroh”. Orang yang ingin dimakamkan di pemakaman ini harus menginfakkan 10 % dari hartanya, dan akan mendapatkan “Sertifikat Wasiyyat”. Sehingga ada lebih dari 10 macam sumbangan yang diberikan oleh para jemaat Ahmadi, ada yang disebut dengan sumbangan-sumbangan umum atau AAM (candah) dan Wasiyat. Kedua macam sumbangan tersebut merupakan sarana primer perolehan dana dari orang-orang Ahmadi. Ada juga sumbangan yang dinamakan Tabarroat Sanawiyyah (Sumbangan Tahunan), meliputi Tahrik Jadid (Kegiatan Baru), Waqaf Jadid (Wakaf Baru), dan Jalsah Salanah (Pertemuan Tahunan). Di samping itu, ada juga proyek-proyek insidental yang meraup nbanyak dana, seperti Nashrat Jihan, Darwis Fund, dan Buyut Al-Hamd.


MODUS OPERANDI

Pengikut-pengikut Mirza Ghulam Ahmad menyebut diri mereka sendiri dengan “AHMADI MUSLIM”. Mereka berdakwah di daerah-daerah terpencil, dimana umat Islam tidak pernah mendengar nama Mirza Ghulam Ahmad atau Qadiyanisme atau Gerakan Ahmadiyah.
Dengan berpura-pura sebagai orang Muslim Sunni dan menggunakan sumber dayanya yang besar sekali; dengan menawarkan insentif finansial dan harta benda lainnya, mereka menjerumuskan umat Islam yang berstatus sosial miskin di berbagai belahan dunia, terutama di Afrika tengah dan barat, Negara-negara Timur jauh, dan Republik-republik di Asia Tengah.
Umat Muslim di wilayah-wilayah ini pada umumnya adalah pengikut Ahlussunnah wal Jamaah yang belum pernah mendengar tentang Mirza Ghulam Ahmad atau Ahmadi atau Gerakan Ahmadiyah, sehingga mereka belum mengetahui bahwa seluruh umat Islam di dunia telah menyatakan bahwa Jemaat Ahmadiyah itu Kafir dan Murtad dari Islam. Oleh karena itu, mereka berubah dari Muslim Sunni menjadi Muslim Ahmadi.


KEYAKINAN NON-ISLAMI MIRZA GHULAM AHMAD

Pada awal perkembangannya, Ahmadiyah mendapat dukungan penuh dari Penjajah Inggris di wilayah Hindustan. Sehingga ketika Inggris dibuat pusing karena adanya semangat Jihad di kalangan kaum Muslimin, maka dalam anjuran dan dakwahnya, Mirza Ghulam Ahmad menulis buku-buku dan pamflet-pamflet yang membatalkan/mencabut syariat Jihad serta menganjurkan kesetiaan kepada penjajah Inggris. Bahkan dimasukkan ke dalam “Rukun Iman”.
Mirza Ghulam Ahmad menulis lebih dari 80 buku selama hidupnya, yang memberikan pemahaman luar biasa ke dalam jiwa manusia serta menerangkan perjalanan keimanannya dari Islam menjadi Murtad dan Ingkar (apostacy and infidility). RUHANI KHAZAIN adalah judul dari kumpulan seluruh buku-buku yang ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad dan dicetak oleh Pusat Gerakan Ahmadiyah di London, Inggris.
Dalam garis keturunan, Mirza terlahir dari keluarga I’lam (terpelajar). Pada awalnya buku-buku yang dia tulis mengandung keyakinan yang sama dengan sesama Islam Sunni. Namun, dengan berjalannya waktu, kepercayaannya mengalami perubahan dramatis dan drastis, sehingga tulisan-tulisannya menjadi semakin mengarah kepada hal-hal Bid’ah dan sangat tidak Islami.
Namun demikian, dalam usaha untuk membuktikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad berserta Jemaat Ahmadi adalah juga Muslim Sunni, literatur-literatur propaganda Gerakan Ahmadiyah biasanya mengutip buku-buku yang diterbitkan terdahulu. Jemaat Ahmadi kebanyakan akan berbicara mengenai Kitab Suci Al-Qur’an dan hadits-hadits yang menaruh Mirza Ghulam Ahmad dalam posisi sebagai latar belakang dan biasanya mempresentasikan dia sebagai Reformer atau Mujaddid atau al-Mahdi atau Messiah, tergantung pada jenis dan masa orang yang menjadi sasaran dakwahnya. Sedangkan klaim Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian tidak dibicarakan.
Dari sekian banyak buku-buku Ahmadiyah, baik yang dikarang langsung oleh Mirza Ghulam Ahmad maupun oleh anaknya dan para khalifahnya, secara jelas telah melakukan penodaan terhadap Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Di antaranya AHMADIYAH menghina Allah SWT; menghina Al-Qur’an al-Karim; menghina Nabi Muhammad SAW, para Shahabatnya, dan keluarganya (Ahlul Bait); menghina Nabi Isa as., Siti Maryam as.; menghina Para Nabi-Nabi terdahulu; menghina Syiar Islam yaitu Haji dan Shaum (Puasa); menghina Para Ulama dan Umat Islam; menghina Hukum Jihad dan Membela Penjajah Inggris; bahkan menghina Agama Kristen dan Hindu.


FAKTA dan FATWA

Pada tahun 1974, para ‘Alim Ulama Islam dari 24 Negara mengadakan pertemuan di Makkah al-Mukarramah yang diselenggarakan oleh Rabithah al-‘Alam al-Islami. Dalam pertemuan tersebut dicapai kesepakatan bulat bahwa Mirza Ghulam Ahmad Qadiani dan pengikut-pengikutnya (Gerakan Ahmadiyah / Qadiani / Ahmadis / Mirzais / Lahoris) adalah INGKAR / MUNGKAR, KAFIR, DAN MURTAD dari ISLAM.
Selama 100 tahun, para Ulama di Makkah al-Mukarramah, Madinah al-Munawwarah, Mesir, Pakistan, serta semua negara-negara Islam dan Arab telah mengambil satu pandangan bahwa Jemaat Ahmadiyah telah Ingkar, Kafir, dan Murtad dari Islam.

Pelarangan Ahmadiyah di berbagai Belahan Dunia
  1. Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah golongan minoritas non muslim.
(Lembar Negara Pakistan No. S 1033 / L 7646, tanggal 8 April 1981)
  1. Majma’ al-Fiqh al-Islami Organisasi Konferensi Islam mengeluarkan Surat Keputusan yang menegaskan kembali bahwa Aliran Ahmadiyah adalah Murtad dan keluar dari Islam (Tahun 1985);
  2. Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.
4.     Brunai Darus Salam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunai Darus Salam.
5.     Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah kafir dan tidak boleh memasuki Makkah untuk melaksanakan ibadah Haji.

Pelarangan Ahmadiyah di Indonesia
  1. Majelis Tarjih Muhammadiyah pada tahun 1934 memutuskan bahwa orang yang mengimani ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad SAW adalah Kafir.
  2. Syuriah PBNU pada tahun 1995 mengeluarkan keputusan bahwa Aliran Ahmadiyah di Indonesia sudah menyimpang dari ajaran Islam.
  3. Kejaksaan Agung RI menyatakan bahwa aqidah Jemaat Ahamdiyah tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad sangat bertentangan dengan aqidah yang dianut umat Islam Indonesia. Dan hasil penelitan terhadap kitab Tadzkirah membuktikan bahwa isi Kitab tersebut merupakan pencampur-adukkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan kata-kata karangan Mirza Ghulam Ahmad sendiri.
(No. B.476/D.1/5/1980, tanggal 29 Mei 1980 dan                            No. B.924/0.1/10/1980, tanggal 31 Oktober 1980)
  1. Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.Ol/3099 /84 tanggal 20 September 1984, antara lain menyebutkan:
“Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad bukan nabi terakhir.”
  1. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam MUNAS II tahun 1980 menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah kelompok di luar Islam, sesat dan menyesatkan.
(No. 05/KEP/Munas/MUI/1980).
  1. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam MUNAS VII tahun 2005 menegaskan kembali bahwa Ahmadiyah adalah kelompok di luar Islam, sesat dan menyesatkan.
  2. Hasil Keputusan Rapat Koordinasi Tim Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) Pusat Kejaksaan Agung RI tanggal 18 Januari 2005 yang terdiri dari Kejagung (Jam Intel), BIN. Mabes TNI, Mabes Polri, Depdagri, Depag, Budpar, dan MUI Pusat, merekomendasikan diterbitkannya suatu Peraturan Presiden atau Keppres tentang Pelarangan organisasi, kegiatan, ajaran, dan buku-buku yang berisi ajaran Jemaat Ahmadiyah indonesia (Ahmadiyah Qadiyan) dan Gerakan Ahamdiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore) di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  3. Hasil Keputusan Rapat Koordinasi Tim Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) Pusat Kejaksaan Agung RI tanggal 15 Januari 2008 menyatakan bahwa Ahmadiyah harus melaksanakan 12 (duabelas) butir Penjelasan yang telah dibuat dan disepakati oleh PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada tanggal 14 Januari 2008. Kemudian pada tanggal 23 Januari 2008, setelah melakukan pertemuan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Bakor PAKEM memberi tenggat waktu pelaksanakan 12 (duabelas) butir Penjelasan PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia tersebut selama 3 (tiga) bulan. Dan pada tanggal 24 Januari 2008 dibentuk Tim Pemantau dan Evaluasi melalui SK Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2008.
  4. Hasil penelitian Tim Pemantau dan Evaluasi melaporkan bahwa pihak Ahmadiyah tidak melaksanakan 12 (duabelas) butir Penjelasan PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 14 Januari 2008 sebagaimana mestinya, sehingga Bakor PAKEM meerekomendasikan kepada Pemerintah untuk mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) dari 3 (tiga) instansi pemerintahan, yaitu Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri.
  5. Pada tanggal 9 Juni 2008 Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri diterbitkan, dan ditandatangani oleh Menteri Agama (Muhammad M. Basyuni), Jaksa Agung (Hendarman Supandji), dan Meteri Dalam Negeri (H. Mardiyanto); dengan nomor: 3 Tahun 2008; KEP-033/A/JA/6/2008; dan 199 Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat. Diktum Kedua menyebutkan bahwa, “Memberi Peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Penodaan Agama dan Hukumnya
a.     Pasal 1 Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama dengan tegas menyebutkan larangan mengusahakan dukungan umum dan untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama. Ketentuan pasal ini selengkapnya berbunyi:
“Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang utama di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran dari agama itu”.

b.     Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Bab V tentang Kejatahan terhadap Ketertiban Umum Pasal 156a menjelaskan tentang Penodaan Agama, selengkapnya berbunyi:
“Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang maha Esa.”

Kebebasan Beragama Bukan Kebebasan Mengacak-acak Agama
a.     UUD 1945 Pasal 28 E menyebutkan tentang kebebasan memeluk agama yang telah diakui negara dan beribadat sesuai dengan ajaran agama yang telah dianutnya. Pasal tersebut berbunyi:
1.      Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah Negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
Selanjutnya pada Pasal 28 J dijelaskan lebih terperinci lagi tentang batasan kebebasan itu sendiri. Bunyi pasal tersebut adalah:
1.      Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang  lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2.     Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

b.     Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 1 dan 2 menjamin kebebasan memeluk dan menjalankan agama, bukan menjamin kebebasan mengacak-acak agama yang telah diakui negara. Bunyi pasal tersebut adalah:
1.      Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.     Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.


EPILOG

Inilah kepercayaan dan keimanan yang sebenarnya dari Mirza Ghulam Ahmad Qadiani beserta Jemaatnya (Ahmadiyah). Namun, perlu diwaspadai bahwa propaganda-propagandanya akan selalu berusaha membuktikan bahwa mereka adalah umat Muslim Sunni. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan umat Muslim telah kehilangan keimanannya di tangan orang-orang Qadiani/Ahmadi karena ketidak tahuan mereka tentang siapa sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad dan bagaimana Gerakan Ahmadiyah menghancurkan Islam dari dalam.
Menurut sumber mereka, Ahmadiyah telah tersebar di 185 negara dan di Indonesia sendiri telah memiliki lebih dari 300 cabang di seluruh pelosok tanah air sejak masuk ke Indonesia pada tahun 1925.
Penguasa-penguasa di berbagai negara, khususnya negara-negara anti-Islam sangat takut akan Kebangkitan Islam serta semangat Jihad dari kaum Muslimin. Sehingga mereka membela mati-matian gerakan Ahmadiyah, karena mereka tahu bahwa dengan adanya Muslim yang memeluk Qadiani/Ahmadi, berarti berkurang lagi satu umat Muslim. Karena orang Ahmadi harus percaya bahwa JIHAD adalah HARAM.
Dengan demikian, Gerakan Ahmadiyah adalah agen anti kekuatan Islam dalam rangka membuang keimanan umat Islam atas nama agama Islam.
Semoga Allah SWT senantiasa menjada dan melindungi setiap Muslim dan generasi selanjutnya dari godaan-godaan yang menyesatkan. Amien.


Catatan:
Untuk data lebih lengkap dan terperinci, silahkan membaca sumber-sumber asli milik mereka.


Sumber:
Data ini diambil dari berbagai sumber.
Untuk pengaduan dan konsultasi silahkan hubungi ust. Dudung Ramdani, Lc CP 0856 711 5704


Tidak ada komentar:

Posting Komentar