Selasa, 03 April 2012

Sepak Terjang Syiah dari Zaman ke Zaman

SENIN, 02 APRIL 2012  

Berikut ini ringkasan sejarah agama Syiah Rafidhah, kanker umat dan penyakitnya yang ganas. Dengan izin Allah, kami menjelaskan peristiwa-peristiwa paling penting yang memiliki kaitan langsung dengan sejarah Syiah Rafidhah dalam memerangi kaum muslimin. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum.
Dengan nama Allah, saya memulai:



No.
Tahun
Peristiwa
1.
14 H
Tahun ini merupakan asal muasal cekikan kelompok Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin. Hal itu dikarenakan pada tahun ini terjadi perang Qadisiyah, di mana kaum muslimin meraih kemenangan telak atas nenek moyang kelompok Rafidhah, yaitu bangsa Persia Majusi. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khathab RA.
2.
16 H
Ibukota imperium Persia, Madain, jatuh ke tangan kaum muslimin. Peristiwa ini meninggalkan kekecewaan, kemarahan, dan kebencian yang mendalam di dalam hati kelompok Rafidhah.
3.
23 H
Abu Lu’luah Al-Majusi membunuh khalifah Umar bin Khaththab RA. Kelompok Rafidhah memberi Abu Lu’luah gelar Baba Alauddin, sebagai symbol dan tokoh penting mereka dalam memerangi Islam.
4.
34 H
Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi dari Shan’a yang bergelar Ibnu Sauda’ muncul dan menampakkan dirinya masuk Islam secara lahir meski dalam hatinya memendam kekafiran. Ia mulai menggerakkan kelompok-kelompok untuk melawan khalifah Utsman bin Affan. Provokasinya berhasil dan orang-orang yang menjadi pengikutnya membunuh khalifah Ustman bin Affan pada tahun 35 H.
Aqidah Abdullah bin Saba’ memiliki akar pada ajaran Yahudi, Nasrani, dan Majusi yaitu penuhanan Ali bin Abi Thalib, pewasiatan kepemimpinan baginya, raj’ah (Ali akan hidup kembali di akhir zaman untuk menghukum lawan-lawan politiknya), wilayah, imam, bada’, dan lain-lain.
5.
36 H
Satu malam sebelum terjadinya perang Jamal, kedua belah pihak sahabat berdamai dan bermalam dengan tenang. Adapun Abdullah bin Saba’ dan para pengikutnya tidak tinggal diam. Mereka melakukan kekacauan di kedua belah pihak sehingga mereka berhasil menyebabkan kesalah pahaman dan peperangan di antara kedua belah pihak. Pada masa kekhalifah Ali bin Abi Thalib, para pengikut Abdullah bin Saba’ (Saba’iyah) mendatangi Ali dan menyatakan secara terus terang bahwa Ali adalah Tuhan yang menciptakan dan memberi rizki kepada mereka. Ali meminta mereka untuk bertaubat namun mereka tidak mau bertaubat, maka Ali menghukum mati mereka dengan hukuman bakar.
6.
41 H
Tahun yang paling dibenci oleh kelompok Rafidhah, di mana kaum muslimin bersepakat untuk mengakui satu khalifah yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA. Hasan bin Ali mengundurkan dirinya dari jabatan khalifah dan tahun tersebut dikenal dengan nama tahun jama’ah. Makar Rafidhah untuk memecah belah kaum muslimin gagal.
7.
61 H
Husain bin Ali RA terbunuh pada tanggal 10 Muharam setelah para pengikutnya mengkhianatinya dan membiarkannya sendirian menghadapi pasukan daulah Umawiyah/Bani Umayyah.
8.
260 H
Wafatnya Hasan Al-Askari yang dianggap sebagai imam ke-11 kelompok Rafidhah. Maka muncul kelompo Rafidhah Itsna Asyariyah yang meyakini imam mereka adalah imam yang ditunggu-tunggu karena masih bersembunyi di sebuah gua di Samarra, yaitu Muhammad bin Hasan Al-Askari. Padahal Hasan Al-Askari meninggal dunia tanpa memiliki anak. Rafidhah Itsna Asyariyah meyakini Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari adalah Imam Mahdi yang akan keluar untuk menegakkan kerajaan Rafidhah dan menghukum lawan-lawan politiknya.
9.
277 H
Di kota Kufah muncul kelompok Qaramithah Rafidhah, dipimpin oleh Hamdan bin Asy’ats yang bergelar Qarmith.
10.
278 H
Di Ahsa’ dan Bahrain muncul kelompok Qaramithah Rafidhah di bawah pimpinan Abu Sa’id Al-Janabi Ar-Rafidhi.
11.
280 H
Berdiri kerajaan Syiah Zaidiyah Rafidhah di Sha’dah dan Shan’a, Yaman, dengan pemimpinnya Husain bin Qasim Ar-Rasi.
12.
297 H
Berdiri kerajaan Ubaidiyah Rafidhah di Mesir dan Magrib (Maroko dan Afrika Utara), di bawah pimpinan Ubaidullah bin Muhammad Al-Mahdi. Mereka menipu kaum muslimin dengan mengklaim sebagai keturunan Ahlul Bait dan mereka menamakan kerajaan mereka kerajaan Fathimiyah.
13.
317 H
Pemimpin Qaramithah Rafidhah di Ahsa dan Bahrain, Abu Thahir ar-Rafidhi bersama kelompoknya berhasil menguasai kota Makkah pada hari Tarwiyah, 8 Dzulhijah. Mereka membantai jama’ah haji di Masjidil Haram, membuang seluruh mayat korban pembantaian ke dalam sumur zamzam, dan mencongkel Hajar Aswad kemudian mereka bawa ke Ahsa’. Hajar Aswad tetap mereka kuasai di Ahsa’ sampai tahun 335 H. Adapun kekuasaan mereka di Ahsa’ bertahan sampai tahun 466 H.
Pada tahun 317 H berdiri pula kerajaan Hamdaniyah Rafidhah di Moshul (Irak) dan Halab (Suriah). Kerajaan ini tumbang pada tahun 394 H.
14.
329 H
Tahun ini oleh kelompok Rafidhah disebut tahun Ghaibah Kubra (persembunyian skala besar), di mana mereka mengklaim telah sampai kepada mereka sebuah surat dengan tanda tangan Imam Mahdi yang mereka tunggu-tunggu. Menurut klaim mereka, dalam surat tersebut Imam Mahdi menulis, “Telah terjadi ghaibah (persembunyian) secara sempurna, maka tidak akan muncul kecuali setelah mendapat izin dari Allah. Maka barangsiapa yang mengklaim telah melihat aku, niscaya ia adalah seorang pendusta yang mengada-ada.” Surat palsu tersebut mereka buat karena para ‘dukun’ mereka kewalahan menghadapi pertanyaan para pengikut mereka tentang kapan waktu munculnya Imam Mahdi yang mereka tunggu-tunggu.
15.
334 H
Berdiri kerajaan Buwaihiyah Rafidhah di Dailam dengan pemimpinnya Abu Syuja’ Ad-Dailami. Mereka melakukan perusakan di Baghdad dan pada masa mereka caci makian terhadap generasi sahabat beredar luas.
16.
339 H
Hajar Aswad dikembalikan oleh pemimpin Qaramithah Rafidhah di Ahsa’ ke Makkah atas perantara Raja Ubaidiyah Rafidhah Mesir.
17.
352 H
Penguasa kerajaan Buwaihiyah yang mendominasi kerajaan Abbasiyah memerintahkan rakyat untuk menutup pasar-pasar pada hari Asyura, melarang berjual beli dan menyalakan lilin. Para wanita disuruh untuk ke luar rumah dengan rambut terurai sambil menampar pipi di pasar-pasar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, di Baghdad dilaksanakan peringatan ratapan atas terbunuhnya Husain bin Ali.
18.
358 H
Kelompok Ubaidiyah Rafidhah menguasai Mesir dan mendirikan kerajaan Ubaidiyah. Rajanya yang paling menonjol adalah Al-Hakim bi-Amrillah yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan mempropagandakan ajaran reinkarnasi. Dengan runtuhnya kerajaan Ubaidiyah ini pada tahun 568 H, berdirilah kelompok Druz Bathiniyah.
19.
402 H
Para ulama, pejabat, dan tokoh masyarakat di Baghdad berkumpul dan sepakat mengeluarkan fatwa tentang kepalsuan nasab penguasa Ubaidiyah Rafidhah Mesir dan cacatnya akidah mereka. Mereka adalah orang-orang zindiq dan kafir. Fatwa tersebut ditanda tangani oleh para ulama, pejabat, dan tokoh masyarakat dari kalangan Ahlu Sunnah dan Syiah sendiri.
20.
408 H
Penguasa Ubaidiyah Rafidhah Mesir, Al-Hakim bi-Amrillah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Ia dua kali berencana membongkar makam Nabi SAW dan memindahkan jenazah beliau ke Mesir. Rencana pertama ditentang masyarakat Mesir. Rencana kedua, ia mengirim orang-orangnya dengan menyewa sebuah rumah di dekat Masjid Nabawi. Mereka menggali terowongan ke arah makam Nabi SAW. Namun usaha mereka terbongkar dan penduduk Madinah membunuh mereka.
21.
483 H
Berdiri kelompok Hasyasyiyin yang mempropagandakan kekuasaan politik kerajaan Ubaidiyah Rafidhah Mesir. Pemimpinnya adalah Hasan Ash-Shabah, yang memulai gerakannya dari propinsi Faris tahun 473 H.
22.
500 H
Penguasa Ubaidiyah Rafidhah membangun bangunan makam di Mesir yang mereka namakan Tajul Husain (Mahkota Husain). Mereka mengklaim di dalamnya ada kepala Husain bin Ali. Mereka selalu menziarahi bangunan makam tersebut sampai hari ini.
23.
656 H
Pengkhianatan terbesar kelompok Rafidhah melalui pemimpinnya, Nashiruddin Ath-Thusi dan Ibnu Alqami yang bersekongkol dengan pasukan Mongol sehingga pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan berhasil meruntuhkan kerajaan Abbasiyah dan menghancur leburkan kota Baghdad. Pasukan Mongol membantai dua juta kaum muslimin Sunni dan dibantu oleh Rafidhah. Pada tahun ini pula muncul kelompok Nushairiyah Rafidhah di bawah pimpinan Muhammad bin Nuhsair Ar-Rafidhi. Tidak ada yang selamat dari pembantaian Mongol/Tartar ini kecuali kaum Rafidhah dan orang-orang Kafir Dzimmi (Yahudi dan Nashara).
24.
907 H
Berdiri kerajaan Shafawiyah Rafidhah di Iran di bawah pimpinan Shah Ismail bin Haidar Ash-Shafawi Ar-Rafidhi. Ia membantai satu juta lebih muslim Ahlu Sunnah di Iran karena mereka tidak mau memeluk agama Rafidhah. Ketika ia mendatangi Baghdad, ia mencaci maki secara terang-terangan Khulafa’ Rasyidin, membantai warga muslim yang tidak mau memeluk agama Rafidhah, dan membongkar banyak kuburan Ahlu Sunnah. Di antaranya kuburan Imam Abu Hanifah.
Di antara peristiwa yang menonjol dalam sejarah kerajaan Shafawiyah Rafidhah adalah pemimpinnya, Shah Abbas Al-Kabir As-Shafawi memulai program haji ke Mashad Iran sebagai ganti dari berhaji ke Makkah. Pada masa Shafawiyah, muncul Shadruddin Ash-Shairazi Ar-Rafidhi yang membentuk agama Bahaiyyah. Pengikutnya, Mirza Ali Muhammad Ash-Shairazi Ar-Rafidhi mengklaim bahwa Allah telah bersatu dengan jasadnya (manunggaling kawula gusti). Ia digantikan oleh muridnya, Bahaullah.
Jejaknya ditiru oleh Mirza Ghulam Ahmad dari India, seorang boneka Inggris yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru, menerima kitab suci baru, dan mendirikan agama Qadiyaniyah. Kerajaan Shafawiyah runtuh pada tahun 1149 H.
25.
1218 H
Seorang Rafidhah yang keji datang dari Irak ke Dir’iyyah (pusat pemerintahan kerajaan Arab Saudi waktu itu). Dia menampakkan dirinya sebagai ahli ibadah yang hidup zuhud. Seperti halnya Abu Lu’luah Al-Majusi yang pura-pura ikut shalat untuk membunuh khalifah Umar bin Khaththab. Orang Rafidhah Irak ini juga berpura-pura ikut berjamaah shalat Ashar di masjid Tharif di kota Dir’iyyah. Saat raja Abdul Aziz bin Muhammad bin Sa’ud yang mengimami shalat sedang sujud, orang Rafidhah ini mencabut belati yang telah disembunyikan di balik bajunya dan menusukkannya ke punggung raja Abdul Aziz. Raja Abdul Aziz meninggal akibat peristiwa itu. Orang Rafidhah ini berani membunuh raja Abdul Aziz karena raja Abdul Aziz dan pasukannya telah meratakan bangunan kuburan Husain bin Ali di Karbala ketika menaklukkan wilayah tersebut.
26.
1289 H
Iran mencetak dan menerbitkan buku Fashlul Khithaab fii Itsbaati Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbaab karya ulama Rafidhah dari Najaf, Irak yang bernama Mirza Husain bin Muhammad Nuri Ath-Thibrisi. Dalam buku tersebut, penulis mengumpulkan seluruh pernyataan para ulama Rafidhah yang menyatakan bahwa Al-Qur`an yang berada di tangan kaum muslimin adalah Al-Qur`an yang telah ditambah dan dikurangi. Rafidhah memiliki kitab suci tersendiri yang disebut Mushaf Fatimah, yang menurut pernyataan mereka, tidak ada satu huruf pun di dalam Mushaf Fatimah ini yang sama dengan ayat-ayat di dalam Al-Qur`an. Isi (jumlah surat dan ayat) mushaf Fatimah menurut keyakinan mereka adalah tiga kali lipat dari isi Al-Qur`an sekarang.
27.
1366 H
Terbit koran Rafidhah bernama Barjamul Islam, yang menyatakan Karbala lebih mulia daripada Makkah. Shalat dan thawaf mengelilingi kuburan Husain di Karbala menurut mereka adalah lebih mulia daripada shalat di Masjidil Haram dan thawaf mengelilingi Ka’bah di Makkah.
28.
1389 H
Pemimpin agama tertinggi Rafidhah Iran, Ayatollah Khomeini menerbitkan bukunya Wilaayatul Faqiih Al-Hukuumah Al-Islaamiyyah. Di antara kekafirannya di dalam bukunya tersebut terdapat pada hal. 35, di mana Khomeini menulis, “Sesungguhnya di antara perkara yang pasti di dalam madzhab kami adalah keyakinan bahwa para imam kami memiliki kedudukan yang tidak mampu digapai oleh seorang malaikat yang dekat dengan Allah maupun seorang nabi yang diutus oleh Allah.”
29.
1399 H
Berdiri Republik Rafidhah Iran dengan pemimpin pertamanya Khomeini setelah menggulingkan pemerintahan Shah Pahlevi. Di antara ciri khasnya adalah melakukan demonstrasi dan perusakan di kota suci Makkah pada musim haji setiap tahun dengan mengatas namakan revolusi Islam.
30.
1400 H
Pada tanggal 15 Sya’ban Khomeini menyampaikan khutbah dalam peringatan yang disebut ‘Maulid Imam Al-Mahdi’. Di antara isi khutbahnya saat itu adalah perkataannya, “Seluruh nabi datang untuk membina pondasi-pondasi keadilan di dunia. Namun mereka tidak berhasil. Bahkan Nabi SAW sebagai penutup para nabi yang datang untuk memperbaiki kondisi manusia dan merealisasikan keadilan, juga tidak berhasil melakukan hal itu pada masa hidupnya…sosok yang akan sukses dalam tugas itu dan membina pondasi-pondasi keadilan di seluruh penjuru dunia serta meluruskan penyimpangan-penyimpangan adalah Imam Al-Mahdi Al-Muntazhar.”
31.
1407 H
Orang-orang Rafidhah yang berafiliasi ke negara Rafidhah Iran melakukan kekacauan dan perusakan di kota Makkah pada musim haji. Ribuan orang Rafidhah menyamar sebagai jama’ah haji Iran, melakukan demonstrasi pada hari Jum’at, melakukan penyerbuan, pembunuhan, dan perusakan di kota suci Makkah. Dalam peristiwa itu, mereka membunuh 402 orang, sebanyak 85 orang korban adalah polisi dan warga Saudi. Sisanya adalah jama’ah haji dari berbagai negara. Mereka juga menyerbu, menghancurkan, dan membakar toko-toko dan kendaraan-kendaraan beserta orang di dalamnya di Makkah. Tindakan biadab tersebut mencontoh jejak nenek moyang mereka, Qaramithah Rafidhah.
32.
1408 H
Konferensi Islam III yang diadakan oleh Rabithah Alam Islami di Makkah mengeluarkan fatwa kafirnya Ayatollah Khomeini.
33.
1409 H
Orang-orang Rafidhah menyamar sebagai jama’ah haji memasukkan bahan peledak secara sembunyi-sembunyi ke wilayah Makkah. Pada sore tanggal 7 Dzulhijah, mereka meledakkan bom di sekitar Masjidil Haram. Seorang jama’ah haji dari Pakistan meninggal akibat ledakan tersebut, sedangkan 16 jama’ah haji lainnya mengalami luka-luka parah. Investigasi aparat keamanan Saudi pada tahun 1410 H membuahkan hasil penangkapan, pengadilan, dan pelaksanaan hukuman mati terhadap 16 orang Rafidhah yang terlibat dalam peledakan tersebut.
34.
1410 H
Pemimpin tertinggi Rafidhah Iran, Ayatollah Khomeini meninggal. Rafidhah Iran telah membangun di atas kuburannya bangunan menyerupai Ka’bah di Makkah. Mereka berthawaf di sekeliling Ka’bah Khomeini tersebut.
35.


Oleh: Abu Daud al-Filasthini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar