Senin, 07 Mei 2012

Ada Pemurtadan di UIN

Mau Menyanggah  
 Buku Ada Pemurtadan di IAIN Malah Kejeblos Meneguhkan

            Maunya menepis dan menyanggah isi buku Ada Pemurtadan di IAIN , tetapi justru terperosok menjadi bukti nyata dan secara tidak langsung malah meneguhkan bahwa di IAIN memang ada pemurtadan.
            Itulah yang bisa disimpulkan dari acara bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz yang berlangsung di Masjid Kampus UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16 April 2005/ 7 Rabi’ul Awwal 1426H.
Acara itu dihadiri 1000-an peserta, sebagian besar dari luar kampus UIN. Hingga tempat semula di Fak Ushuluddin dan Filsafat tidak mampu menampung, kemudian dialihkan ke masjid lantai 2 dan 3. Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan adanya pemurtadan di IAIN adalah penulis buku Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad At-Tamimi dari Purwakarta Jawa Barat. Sedang dua pembicara yang tampaknya mau menepis adanya pemurtadan di IAIN namun justru hujjah-hujjahnya pakai pemahaman, materi, dan metode orang murtad adalah Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga termasuk penyusun CDL KHI (Counter Draft Legal Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia yang telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan dan bertentangan dengan Islam.

Ahmadiyah & 10 Kriteria Sesat MUI

Inilah
Fakta Kesesatan Ajaran
AHMADIYAH
Oleh ust Dudung Ramdani, Lc 
Pendahuluan
Menjaga kemurnian aqidah dan ajaran Islam adalah kewajiban bersama, seluruh umat Islam. Khususnya, kewajiban ini diemban oleh para ulama kaum muslimin. Untuk membentengi aqidah umat Islam Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah para ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia di dalam Rakernas MUI Desember 2007 telah menetapkan 10 (sepuluh) Kriteria Aliran Sesat, sebagai berikut :
1.    Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima.
2.    Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunnah).
3.   Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an.
4.   Mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an.
5.   Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6.   Mengingkari kedudukan hadits Nabi SAW sebagai sumber ajaran Islam.
7.   Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8.   Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
9.   Mengubah, menambah, dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu.
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syariah, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ajaran Ahmadiyah merupakan ajaran yang haq atau sebaliknya, sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan?
Berdasarkan hasil penelitian, ajaran Ahmadiyah memiliki banyak perbedaan dan kesesatan prinsipil  –baik dari sisi aqidah maupun tata cara ibadah–  dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mulai dari perbedaan nama-nama bulan dan tahun, predikat kota suci, penafsiran Al-Qur`an, kedudukan hadits Nabi SAW, dan lain sebagainya.
Selain itu, kehadiran Ahmadiyah juga menjadi pemicu bentrokan di mana-mana. Misalnya bentrokan yang pernah terjadi antara jamaah Ahmadiyah dengan massa di Desa Manislor, Kuningan Jawa Barat pada 2010 yang mayoritas penduduknya (hampir 70%) adalah anggota jamaah Ahmadiyah.
Oleh karena itu, sebagai wujud kepedulian kita terhadap Islam, mari kita buktikan, apakah ajaran Ahmadiyah termasuk ke dalam 10 Kriteria Aliran Sesat MUI ataukah tidak? Apakah Ahmadiyah itu masuk ke dalam kategori perbedaan keyakinan ataukah penodaan agama?
 

LDII dan 10 Kriteria Sesat MUI

Inilah Fakta Ajaran LDII
Oleh Tim Peneliti Ar-Risalah  

Pendahuluan
Menjaga kemurnian aqidah dan ajaran Islam adalah kewajiban bersama, seluruh umat Islam. Khususnya, kewajiban ini diemban oleh para ulama kaum muslimin. Untuk membentengi aqidah umat Islam Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah para ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia di dalam Rakernas MUI Desember 2007 telah menetapkan 10 (sepuluh) Kriteria Aliran Sesat, sebagai berikut :
1.    Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima.
2.    Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunnah).
3.   Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an.
4.   Mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an.
5.   Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6.   Mengingkari kedudukan hadits Nabi SAW sebagai sumber ajaran Islam.
7.   Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8.   Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
9.   Mengubah, menambah, dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu.
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syariah, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ajaran LDII merupakan ajaran yang haq atau sebaliknya, sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan?
Berdasarkan hasil penelitian, ajaran LDII memiliki banyak perbedaan dan penyimpangan prinsipil  –baik dari sisi aqidah maupun tata cara ibadah–  dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mulai dari perbedaan dalam shalat (tidak boleh bermakmum dengan orang non LDII), penafsiran Al-Qur`an (menafsirkan tanpa kaidah tafsir), membolehkan mencuri harta non LDII asal tidak ketahuan, kedudukan hadits Nabi SAW (menyuruh untuk membuang ilmu mushthalah hadits; ngaji harus manqul dan jangan belajar hadits sembarangan/kepada guru non LDII), dan lain sebagainya.