Senin, 07 Mei 2012

Ahmadiyah & 10 Kriteria Sesat MUI

Inilah
Fakta Kesesatan Ajaran
AHMADIYAH
Oleh ust Dudung Ramdani, Lc 
Pendahuluan
Menjaga kemurnian aqidah dan ajaran Islam adalah kewajiban bersama, seluruh umat Islam. Khususnya, kewajiban ini diemban oleh para ulama kaum muslimin. Untuk membentengi aqidah umat Islam Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah para ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia di dalam Rakernas MUI Desember 2007 telah menetapkan 10 (sepuluh) Kriteria Aliran Sesat, sebagai berikut :
1.    Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima.
2.    Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunnah).
3.   Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an.
4.   Mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an.
5.   Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6.   Mengingkari kedudukan hadits Nabi SAW sebagai sumber ajaran Islam.
7.   Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8.   Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
9.   Mengubah, menambah, dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu.
10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syariah, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ajaran Ahmadiyah merupakan ajaran yang haq atau sebaliknya, sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan?
Berdasarkan hasil penelitian, ajaran Ahmadiyah memiliki banyak perbedaan dan kesesatan prinsipil  –baik dari sisi aqidah maupun tata cara ibadah–  dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mulai dari perbedaan nama-nama bulan dan tahun, predikat kota suci, penafsiran Al-Qur`an, kedudukan hadits Nabi SAW, dan lain sebagainya.
Selain itu, kehadiran Ahmadiyah juga menjadi pemicu bentrokan di mana-mana. Misalnya bentrokan yang pernah terjadi antara jamaah Ahmadiyah dengan massa di Desa Manislor, Kuningan Jawa Barat pada 2010 yang mayoritas penduduknya (hampir 70%) adalah anggota jamaah Ahmadiyah.
Oleh karena itu, sebagai wujud kepedulian kita terhadap Islam, mari kita buktikan, apakah ajaran Ahmadiyah termasuk ke dalam 10 Kriteria Aliran Sesat MUI ataukah tidak? Apakah Ahmadiyah itu masuk ke dalam kategori perbedaan keyakinan ataukah penodaan agama?
  
  1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam dan rukun Islam yang lima.
Pada Rukun Iman.
Ajaran Ahmadiyah meyakini 6 (enam) Rukun Iman. Rukun Iman Ahmadiyah sama dengan Rukun Iman Ahlu Sunnah wal Jamaah, yaitu (1) Beriman kepada Allah; (2) Beriman kepada para malaikat Allah; (3) Beriman kepada kitab-kitab Allah; (4) Beriman kepada para utusan Allah; (5) Beriman kepada hari Kiamat; (6) Beriman kepada ketentuan Allah, yang baik dan yang buruknya.  

Pada Rukun Islam.
Ajaran Ahmadiyah juga meyakini Rukun Islam. Rukun Islam Ahmadiyah sama dengan Rukun Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah, yaitu: (1) Syahadat; (2) Shalat; (3) Zakat; (4) Puasa; (5) Haji.

Akan tetapi, orang-orang Ahmadiyah ketika mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu :
أشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
“Aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah,”
Maka yang dimaksud dengan Muhammad di dalam syahadat mereka adalah ditujukan kepada Mirza Ghulam Ahmad. Hal ini dikarenakan Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Ahmad dan Muhammad.
Di dalam buku-bukunya, Mirza Ghulam Ahmad selalu mengaitkan nama Ahmad dan Muhammad yang disebutkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur`an bahwa yang dimaksudkan oleh Allah SWT tersebut adalah dirinya, Mirza Ghulam Ahmad.
Sebagai buktinya, kami kutipkan beberapa keterangan dari kitab-kitab Ahmadiyah. Di antaranya :
1.       Mirza Ghulam Ahmad mengaku bernama Ahmad
Di dalam tafsir Al-Qur`an versi Ahmadiyah yaitu Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, editor Malik Ghulam Farid, dialihbahasakan oleh Panitia Penterjemah Tafsir Al-Qur`an Jemaat Ahmadiyah Indonesia jilid III Edisi Pertama Penerbit Yayasan Wisma Damai Jakarta 1983, bahwa makna kata Ahmad di dalam surah Ash-Shaff ayat 6 yang berbunyi,
             
“dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad),” (QS Ash-Shaff [61]: 06) adalah ditujukan kepada Mirza Ghulam Ahmad. Penjelasan ayat ini oleh Ahmadiyah ditafsirkan di dalam footnote 3037 sebagai berikut : “…jadi, nubuatan yang disebut dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW, tetapi sebagai kesimpulan dapat pula dikenakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud AS, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Barahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah SAW…” (Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, footnote no. 3037, hal. 522).

2.      Mirza Ghulam Ahmad mengaku bernama Muhammad dan Rasul.
“Apakah kalian masih ragu-ragu (bimbang) menerima saya, bahwa Tuhan yang mengutus saya di Qadian (India) sebagai Nabi Muhammad SAW, untuk memenuhi janji kepada umatnya?” (Review of Religion jilid 15, hal. 115 no.3)

“Nabi Muhammad SAW telah turun kembali di Qadian (India), akan tetapi dalam keadaan lebih mulia dari sebelumnya. Kalau ada orang yang mau melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan lebih sampurna, lihat saja Mirza Ghulam Ahmad di Qadian (India).” (Al-Badar, Qadian 25 Oktober 1907).

“Barangsiapa yang tidak memahami akan kedatangan Masih Mau’ud sebagai kedatangan Nabi Muhammad SAW yang kedua kalinya, maka berarti dia telah mengingkari ajaran Al-Qur`an. Karena di dalam Al-Qur`an telah dijelaskan beberapa kali bahwa Nabi Muhammad SAW akan turun kembali ke dunia ini.” (Kalamatul Fashal, Review of Religion, Qadian jilid 14, hal. 105 no.3 oleh Mirza Bashir Ahmad)


  1. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Qur`an dan As-Sunnah).
Di dalam ajaran Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad telah mengajarkan akidah yang tidak sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Misalnya :
  1. Meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
Mirza Ghulam Ahmad mengutip QS Ash-Shaff [61]: 9, kemudian dia menafsirkannya sebagai berikut, “Di dalam wahyu ini nyata benar, bahwa aku (Mirza Ghulam Ahmad) dipanggil dengan nama Rasul.” (Eik Ghalti Ka Izalah, Terjemahan, JAI Cabang Bandung, 1993 hal. 4). 

Di dalam koran Jayakarta, Jumat Kliwon 1 Juli 1988, tokoh Ahmadiyah yang bernama Syafi R. Batuah pernah diwawancara oleh wartawan Jayakarta, dan hasil wawancaranya diberi judul, “Mencari Nabi dari India.” Berikut kutipannya, “Dalam percakapan ini, Syafi R. Batuah mengakui memang ada perbedaan prinsipil dengan umat Islam pada umumnya. Ahmadiyah, mempunyai seorang Nabi dari India yang diutus oleh Tuhan, bernama Mirza Ghulam Ahmad. Bagi jemaat Ahmadiyah menyebut nama ini harus diawali dengan kata hormat Al-Hajrat artinya yang mulia.”

Dalam buku Ahmadiyah Apa dan Mengapa?, Syafi R. Batuah, Cetakan XVII, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1986: 
Rasulkah Mirza Ghulam Ahmad? “Menurut Al-Qur`an setiap nabi adalah rasul dan sebaliknya setiap rasul adalah nabi. Seorang dikatakan nabi karena ia mendapat khabar ghaib dari Allah swt. (subhanahu wa ta’ala) yang menyatakan ia adalah seorang “nabi”. Dan ia diutus oleh Allah swt kepada manusia. Selaras dengan itu Hadhrat Mirza Ghulam a.s adalah nabi dan rasul.” (hal. 5)
Haruskah orang Islam percaya pada Mirza Ghulam Ahmad? “Menurut ajaran Al-Qur`an mengenai kepercayaan pada Nabi kaum mukmin tidak boleh membeda-bedakan. Mereka harus mendengar dan patuh pada semua Nabi, terutama kepada Nabi yang ada pada masa mereka. Hal ini berlaku terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Beliau ialah nabi dan rasul Allah. Karena itu orang-orang Islam harus percaya padanya. Kalau tidak demikian mereka tidaklah mengikuti seluruh ajaran Al-Qur`an. Di samping itu Nabi Muhamad saw. sendiri berpesan tegas bahwa kalau datang imam Mahdi yang dijanjikan beliau di akhir zaman maka orang-orang Islam harus ikut padanya walau halangan apa juga yang menghambat. Karena Imam Mahdi itu sudah datang – yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.- maka orang-orang Islam harus taat pada beliau. Kalau tidak begitu mereka tidak mengindahkan pesan Nabi Muhamad saw. Kebenaran dakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s dapat diuji dengan al-Qur`an dan Hadis.” (hal. 22-23)
  1. Membuat nama-nama bulan sendiri.
Nama-nama bulan Ahmadiyah berbeda dengan nama-nama bulan di dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Nama-nama bulan di dalam ajaran Ahmadiyah adalah sebagai berikut:
1. Suluh
5. Hijrah
9. Tabuk
2. Tabligh
6. Ihsan
10. Ikha
3. Aman
7. Wafa
11. Nubuwwah
4. Syahadat
8. Zhuhur
12. Fatah
Begitu pula nama tahun Ahmadiyah berbeda dengan nama tahun Islam. Nama tahun Ahmadiyah adalah Hijri Syamsi yang disingkat HS.
  1. Mempunyai 2 kota suci sendiri, yaitu Qadian (India) dan Rabwah (Pakistan).
Di dalam sebuah artikel yang berjudul MENJADI TAMU ALLAH, Suatu Reportase yang ditulis oleh Ny. Kamilah Daniel, dia menuliskan, “Sejak lama saya berhasrat besar untuk melihat kedua kota suci zaman akhir, Qadian di India dan Rabwah di Pakistan. Namun baru di penghujung tahun 79 yang lalu saya diundang Tuhan ke sana. Sengaja saya memakai istilah “diundang”, sebab menurut wahyu Ilahi yang diturunkan kepada wujud suci Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ahmad a.s.: “Telah Aku sediakan orang-orang dari seluruh penjuru bumi untuk datang ke tempatmu”. Selama kami berada di kedua kota suci itu kami selalu disebut tamu-tamu Allah, karena kedua hal inilah saya memakai istilah diundang itu. Keyakinan sebagai “tamu Allah” meresap jauh ke dalam lubuk hati, yang mampu meampakkan panorama indrawi yang serba indah.”
Dari artikel tersebut dapat dipastikan bahwa orang-orang Ahmadiyah menganggap suci kedua kota tersebut, Qadian di India dan Rabwah di Pakistan. Kalaulah anggapan penulis yaitu Ny. Kamilah Daniel ini salah, sudah pasti pihak Ahmadiyah tidak akan mempublikasikan tulisan tersebut.
  1. Membuat komplek pekuburan yang diklaim sebagai Komplek Kuburan Surgawi (Bahisti Maqbarah).
Ny. Kamilah Daniel meneruskan tulisannya, “Bahisti Maqbarah adalah taman makam, dimana jasad wujud suci Imam Mahdi a.s. dan Khalifahnya yang pertama terbaring untuk selamanya. Taman ini adalah satu tempat yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah  lewat kasyaf, sebagai sebuah taman ahli surga. Taman itu sendiri adalah taman biasa bagi pemandangan orang Indonesia. Ia merupakan kebun kecil ditumbuhi beraneka pohon dan bunga-bungaan. Akan tetapi bila kita mengamati lebih jauh dari segi geografisnya, taman ini merupakan keajaiban alam. Sungguh suatu taman di atas sebidang tanah yang tidak terlalu luas ditumbuhi pepohonan yang menghijau dan subur, menyejukkan suasana. Sedangkan di sekelilingnya terhampar tanah keras yang berdebu dan gersang.”

Jemaat Ahmadiyah mempunyai kapling kuburan surga di Qadiyan (kuburan Mirza Ghulam Ahmad). Ahmadiyah menjual sertifikat kuburan surga tersebut kepada jamaahnya dengan mematok harga yang sangat mahal. (copian sertifikat kuburan surga di Rabwah, dari buku Ahmad Hariadi, Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah Qadiyani, Rabithah Alam Islami, Makkah Mukarramah, 1408 H/1988 M, hal. 64-65).



  1. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an.
Dari tulisan-tulisan yang tercantum di dalam buku-buku Ahmadiyah bisa disimpulkan jika Ahmadiyah meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur`an. Berikut ini kami kutipkan sebagiannya :
    1. Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu.
“Aku bersumpah dengan nama Tuhan, yang memiliki diriku dan dengan kebesaran-Nya! Kata-kataku semua ini bersumber pada wahyu suci Ilahi. Tiada perlu bersilat lidah perihal lain, memadailah sudah hal ini bagi orang yang hatinya telah menjadi gelap pekat sebab mengingkari daku.” (Bahtera Nuh, hal. 124).  

    1. Para pengikut Mirza Ghulam Ahmad meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu berupa potongan-potongan ayat-ayat suci Al-Qur`an.
”Saya kira, yang sudah yakin bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu memang orang yang tulus dan memang dipilih oleh Allah SWT sebagai mujaddid, maka wahyu dalam bentuk apa pun tergantung Allah SWT. Apakah wahyunya merupakan potongan-potongan Al-Qur`an atau bukan potongan Al-Qur`an, bukan urusan Mirza Ghulam Ahmad, tetapi urusan Allah SWT.” (Benarkah Ahmadiyah Sesat? Penerbit: PB GAI Yogyakarta, hal. 13). 

    1. Pengakuan tokoh Ahmadiyah, H. Sayuti Aziz Ahmad (tokoh Ahmadiyah senior) yang pernah diwawancarai oleh INDO. POS, Jawa Pos News Network (JPNN) yang mana hasil wawancaranya dipublikasikan pada Kamis, 8 September 2005, di sana dia mengatakan, “Untuk dapat menjalankan titah Nabi Mirza Ghulam Ahmad, umatnya harus memahami isi “Kitab suci” Tazkiroh. Uniknya, umatnya justru banyak yang rajin membaca Al-Qur`anul karim.”

  1. Mengingkari otensitas dan atau kebenaran isi Al-Qur`an.
Kami berkeyakinan bahwa Ahmadiyah telah mengingkari keotentikan Al-Qur`an.
    1. Dengan mencetak kitab Tadzkirah yang mencantumkan tulisan yang berbunyi, ”wahyun muqaddasun” yang artinya ”wahyu suci.” Seolah-olah Ahmadiyah ingin mengatakan jika mereka mempunyai kitab suci selain Al-Qur`an, karena ”wahyu” yang diterima Mirza Ghulam Ahmad pun bertuliskan ”wahyu suci.”
    2. Dengan menggunakan nama-nama bulan yang berbeda dengan kaum muslimin, maka hal ini berarti Ahmadiyah mengingkari otensitas Al-Qur`an. Hal ini dikarenakan nama-nama bulan yang dipakai kaum muslimin (nama bulan-bulan Qamariyah dari Muharram - Dzulhijjah) adalah nama-nama bulan yang langsung diberikan oleh Allah SWT untuk kaum muslimin dan telah diterangkan di dalam Al-Qur`an surah At-Taubah [09]: 36:
                                     
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa,” (QS At-Taubah [09]: 36).
Dengan bukti ini, artinya mereka telah mengingkari keotentikan Al-Qur`an, karena mereka tidak mau memakai nama-nama bulan yang digariskan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur`an.

  1. Melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
Telah terbukti bahwa Ahmadiyah telah melakukan penafsiran Al-Qur`an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. Berikut ini kami kutipkan tafsir Al-Qur`an versi Ahmadiyah yang bernama, ”Al-Qur`an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Jilid III, Edisi Pertama, Yayasan Wisma Damai Jakarta, 1983 hal. 525-527 ketika membahas surah Al-Jumu’ah.
Surah 62
AL-JUMU’AH

Diturunkan
:
Sesudah Hijrah
Ayatnya
:
12, dengan bismillah
Rukuknya
:
2

Waktu Diturunkan dan Hubungan dengan Surah-surah Lainnya.
Surah ini agaknya diturunkan beberapa tahun sesudah Hijrah (lihat ayat 4). Dalam surah sebelumnya telah disinggung nubuatan Nabi Isa a.s. tentang kedatangan Nabi Ahmad a.s. .....Surah ini kemudian mengisyaratkan pula kepada gejala rohani yang akan terjadi pada suatu ketika kelak dengan perantaraan wakil agung Rasulullah s.a.w. ialah Masih Mau’ud.....Menjelang penutup, ditekankannya soal kepentingan salat Jum’at dan tersirat bahwa di zaman kedatangan Rasulullah s.a.w. kedua kali yang diumpamakan sebagai salat Jum’at...

“Dan Dia akan membangkitkan di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka3046 dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
                             

---------------------
3046. ....Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabi s.a.w. yang termasyhur tertuju kepada pengutusan Rasulullah s.a.w. sendiri untuk kedua kali dalam wujud Hadhrat Masih Mau'ud a.s. di akhir zaman......Jadi, Alquran dan hadis kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Rasulullah s.a.w. dalam wujud Hadhrat Masih Mau'ud a.s.

Kami ajukan pertanyaan, ”Apakah ada para ahli tafsir yang menafsirkan ayat ini seperti tafsir Ahmadiyah?” Jika ada, tolong disebutkan! Dari bukti ini sudah sangat jelas jika Ahmadiyah menafsirkan Al-Qur`an tidak sesuai dengan kaidah-kaidah tafsir.

  1. Mengingkari kedudukan hadits Nabi SAW sebagai sumber ajaran Islam.
Ahmadiyah mengaku jika mereka memakai hadits-hadits Rasulullah SAW sebagai rujukan kedua setelah Al-Qur`an. Akan tetapi, banyak yang tidak tahu jika Mirza Ghulam Ahmad pernah berkata seperti ini, ”Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA buang saja ke tempat sampah!” (Barahin Ahmadiyah jilid 5 hal. 238).
Menurut kami, ucapan Mirza Ghulam Ahmad ini menandakan jika dia telah mengingkari kedudukan hadits Rasulullah SAW sebagai sumber ajaran Islam. Hal ini dikarenakan Mirza Ghulam Ahmad menolak hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Padahal, Abu Hurairah adalah seorang sahabat yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah SAW.

  1. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
Di dalam buku-buku karangan Mirza Ghulam Ahmad, dia sering menuliskan kata-kata bernada pelecehan terhadap para nabi dan rasul Allah SWT.
Berikut ini petikannya :
  1. “Mukjizat-mukjizat yang turun untuk membuktikan saya (Mirza Ghulam Ahmad) sebagai nabi adalah lebih banyak daripada mukjizat Nabi Musa AS,” (Haqiqatul Wahyi hal. 83).
  2. “Ramalan dan mukjizat saya (Mirza Ghulam Ahmad) lebih banyak daripada mukjizat ratusan nabi.” (Review of Religion jilid 1 hal. 393, Al-I’tisham Lahore, 9 Desember 1966).
  3. “Mein kabhi Adam kabhi Musa kabhi Ya’qub hun niz Ibrahim hun naslein hein meri besyumar.” (bahasa Urdu, yang artinya, “Saya (Mirza Ghulam Ahmad) adalah Nabi Adam AS, Nabi Musa AS, Nabi Ya’qub AS dan Nabi Ibrahim AS, dan saya mempunyai banyak silsilah keturunan.” (Dure Samin hal. 123).
  4. ”Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Barahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, aku Seth, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya’qub, aku Yusuf, aku Musa, aku Dawud, aku Isa dan aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad s.a.w., yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi (Haqiqatul Wahyi, hal. 72).” (Sinar Islam, edisi Nopember 1985, hal. 12).
  5. ”Telah ditiupkan ruh Maryam kepada saya (Mirza Ghulam Ahmad), dan ditiupkan pula ruh Isa. Kemudian saya dijadikan hamil dalam isti’arah (kiasan), dan setelah beberapa bulan; kurang lebih 10 bulan saya dijadikan Isa ibnu Maryam, maka saya adalah Ibnu Maryam itu.” (Kasyti Nuh hal. 47, Ruhani Khazain jilid 19, hal. 50, karangan Mirza Ghulam Ahmad).
  1. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir.
Sudah sangat jelas jika Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai nabi dan rasul. Berikut ini petikannya :
  1. ”Dan Allah lah yang menggenggam ruhku, Dia lah yang telah mengutusku dan menamaiku Nabi...dan Allah memberikan bukti-bukti yang jelas atas kebenaran pengakuanku yang bukti-bukti tersebut mencapai angka 300.000 bukti,” (Tatimmah Haqiqatil Wahyi, hal. 503).
  2. ”Tatkala aku menjadi reinkarnasi dari Nabi Muhammad SAW yang telah ada sebelumnya sejak lama, (maka) aku pun menerima kenabian reinkarnasi,” (Ruhani Khazain jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah hal. 215).
  3. ”Dengan pengayoman melalui Muhammad Al-Musthafa, aku dinamai Muhammad dan Ahmad. Maka aku pun merupakan seorang nabi dan rasul,” (Ruhani Khazain, jilid 18, Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 211).
  4. Di dalam majalah bulanan resmi Ahmadiyah, ”Sinar Islam” edisi 1 Nopember 1985 (Nubuwah 1364) dalam rubrik Tadzkirah disebutkan, “Dalam wahyu ini, Tuhan menyebutkanku Rasul-Nya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Barahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatku manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka…” (Haqiqatul Wahyi hal. 72). (Sinar Islam edisi 1 Nop 1985, hal. 11-12).
5.      “Buktinya baru-baru ini seorang Ahmadi ditanyai oleh seorang yang tidak menyetujui pendirianku: “Orang yang kamu sudah bai’at di tangannya, dia mengaku menjadi nabi dan rasul.” Ia menjawab dengan kata-kata yang mengingkarinya, padahal jawaban demikian itu adalah salah. Yang sebenarnya adalah bahwa itu wahyu suci dari Allah SWT yang diwahyukan kepadaku, di dalamnya mengandung kata-kata rasul, mursal dan nabi bukan hanya sekali atau dua kali, malah beratus-ratus kali digunakan.” (Eik Ghalti Ka Izalah, hal. 3)
6.     Di dalam Buku Putih Kami Orang Islam, disebutkan,
“Menolak atau mengingkari seorang Nabi berarti menolak atau mengingkari semua Nabi  (An-Nisa 150-151; Asy-Syu’ara 105, 123, 141, 160, 176). – (Buku Putih Kami Orang Islam, hal. 70)

“Setiap orang yang bermaksud menyerang padaku berarti orang itu menaruh dirinya dalam api yang menyala-nyala. Ketahuilah orang itu bukannya menyerang padaku, tetapi menyerang pada wujud (Allah) yang mengutusku. Wujud itu berfirman: “Inni Muhiinun man araada ihaanataka.” Maksudnya: “Aku akan menghina orang-orang yang bermaksud menghinamu.”  (Buku Putih Kami Orang Islam, hal. 90)

  1. Mengubah, menambah, dan/atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu.
Mirza Ghulam Ahmad mengajarkan dan menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan dalil syar’ie (Al-Qur`an dan As-Sunnah). Misalnya :

  1. Membolehkan bersentuhan kulit dengan wanita bukan mahram.
“Mirza Ghulam Ahmad sering dipijat oleh perempuan-perempuan yang bukan mahramnya. Tapi, karena dia adalah seorang nabi, maka tidak menjadi dosa. Bahkan menjadi keberkahan bagi perempuan yang suka memijatnya itu.” (Al-Hukam Qadiyan, jilid 11 no. 13, 17 April 1907).
  1. Mengharamkan jihad.
“Selama 17 tahun aku mengarang buku-buku dalam rangka menyokong imperialis Inggris dan menyuruh meninggalkan jihad. Karena jihad itu sekarang diharamkan dan tidak boleh seorangpun menentangnya  bahkan harus tunduk dan berserah diri kepada pemerintah Inggris karena itu merupakan nikmat dari Allah atas kita…” (Ruhani Khazain jilid 13 hal. 2-9)
  1. Tidak haji ke Mekkah
”Orang-orang yang menunaikan ibadah Haji ke Mekkah adalah sesuatu hal yang biasa saja, kecuali mereka datang ke Qadian, maka mereka akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.” (Aaina Kamalat Islam, hal. 352)

  1. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syariah, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Di dalam Kalimatul Fashl/Review of Religion jilid 14 hal. 110 dikatakan, “Setiap orang yang beriman kepada Nabi Musa AS tapi tidak beriman kepada Nabi Isa AS, atau beriman kepada Nabi Isa AS tapi tidak beriman kepada Nabi Muhammad SAW, atau beriman kepada Nabi Muhammad SAW tapi tidak beriman kepada Masih Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad), maka orang tersebut adalah KAFIR. Bukan hanya kafir biasa, tapi benar-benar kafir dan dia sudah ke luar dari garis/lingkaran agama Islam.” (Kalimatul Fashl/Review of Religion karya Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad bin Mirza Ghulam Ahmad, jilid 14 hal. 110).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar