Kamis, 14 Juni 2012

Ilmu Waris Bag 2

Ilmu Faraidh
Oleh Ust. Dudung Ramdani, Lc 
Kata al-faraidh menurut bahasa dan istilah.
Menurut bahasa : Adalah bentuk jamak dari kata faridhah yang artinya ketentuan. Seperti firman Allah SWT,
   
“Maka (bayarlah) seperdua dari yang telah kamu tentukan,” (QS Al-Baqarah [02]: 237).
Menurut istilah : Adalah ketentuan yang telah ditentukan untuk seluruh ahli waris.
At-Tarikah adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh mayit, baik berupa harta maupun hak.

Hak-hak yang Berkenaan dengan Harta Peninggalan Mayit
Ada 4 hak yang harus ditunaikan terhadap mayit:
  1. Pemulasaraan jenazahnya. Mulai dari memandikan, mengkafani, menyolati dan menguburkannya.
  2. Melunasi utang-utangnya jika ada.
  3. Melaksanakan wasiatnya pada batasan 1/3 harta peninggalannya.
  4. Membagikan harta peninggalannya sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an dan Al-Hadits.

Tingkatan Ahli Waris
        Tingkatan ahli waris itu berbeda-beda.
  1. Ashabul Furudh. Yaitu orang-orang yang mempunyai bagian yang telah ditentukan di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.
  2. Ashabah. Yaitu setiap kerabat yang mengambil sisa harta warisan. Terkadang dapat semua harta jika mereka hanya seorang seperti seorang anak laki-laki atau mereka mengambil sisanya setelah semua ahli waris mendapatkan haknya masing-masing.
  3. Dikembalikan kepada ashabul furudh sesuai dengan haknya masing-masing. (masalah Radd, yaitu sisa warisan ketika tidak ada ashabah yang mengambilnya, maka sisa warisan ini dikembalikan kepada ahli waris/ ashabul furudh).
  4. Mewariskannya kepada dzawul arham, yaitu kerabat mayit yang tidak termasuk ashabul furudh dan bukan juga ashabah.
  5. Dibagikan kembali kepada salah satu dari pasangan suami isteri. Hal ini terjadi apabila tidak ada ahli waris yang paling dekat hubungannya dengan si mayit. Tidak ada sama sekali, baik dari ashabul furudh, dari ashabah maupun dari dzawul arham.
  6. Menjadi ashabah sababi, yaitu seseorang yang membebaskan si mayit (muwarrits) dari perbudakan.
  7. Disumbangkan ke Baitul Mal (Kas Negara Islam). Yaitu apabila si mayit tidak mempunyai ahli waris, baik ashabul furudh, ashabah, maupun dzawul arham.

Macam-macam Ahli Waris
  1. Ahli waris yang mendapatkan harta warisan secara fardh.
  2. Ahli waris yang mendapatkan harta warisan secara ashabah.
  3. Ahli waris yang mendapatkan harta warisan secara Radd (tambahan).
  4. Ahli waris yang mendapatkan harta warisan secara dzawul arham (pertalian rahim).

Penjelasannya:

  1. Hak waris secara fardh, yakni para ashabul furudh yang mendapatkan bagian waris secara tetap, sebagaimana yang sudah Allah tetapkan di dalam Al-Qur`an secara jelas.
  2. Hak waris secara ashabah, yakni mereka yang mendapatkan sisa waris setelah dibagikan kepada ashabul furudh.
  3. Hak waris secara tambahan, yaitu apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ashabul furudh masih juga tersisa, sedangkan disana tidak ada ahli waris ashabah, maka sisanya diberikan kepada ashabul furudh sesuai dengan bagian yang telah ditentukan, kecuali untuk suami atau istri. Hak waris secara tambahan ini disebut juga Ar-radd. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan, sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan tambahan dibandingkan lainnya. Kecuali bila pewaris tidak mempunyai ahli waris yang termasuk ashabul furudh dan ashabah, juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan rahim (dzawil arham), maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Misalnya, seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya, baik dari kalangan ashabul furudh, ashabah maupun dzawil arham, maka para istri mendapatkan bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya, sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Dengan demikian, para istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang meninggal.
  4. Hak waris secara pertalian rahim. Bila pewaris tidak mempunyai kerabat sebagai ashabul furudh, tidak pula ashabah, maka para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan. Mereka disebut juga sebagai dzawil arham, misalnya paman dari pihak ibu (saudara laki-laki ibu),  bibi dari pihak ibu (saudara perempuan ibu), bibi dari pihak bapak (saudara perempuan bapak), cucu laki-laki dari anak perempuan, dan cucu perempuan dari anak perempuan, kakek dari jalur ibu, dan lain-lain.


Sebab-sebab Mendapatkan Warisan
  1. Pernikahan
  2. Perwalian (Memerdekakan muwarrits dari perbudakan)
  3. Keturunan

Penghalang Mendapatkan Warisan
  1. Perbudakan
  2. Pembunuhan
  3. Perbedaan agama

Rukun Waris
  1. Al-Muwarrits. Yaitu mayit yang mempunyai harta dan hartanya itu berhak untuk diambil oleh ahli warisnya.
  2. Al-Warits. Yaitu seseorang yang berhak menerima harta warisan dengan sebab-sebab yang telah dijelaskan, seperti karena faktor kekerabatan (keturunan) maupun pernikahan.
  3. Al-Mawruts. Yaitu segala sesuatu yang ditinggalkan oleh mayit, baik berupa harta benda maupun hak.

Syarat-syarat Membagikan Warisan
Syarat-syarat membagikan warisan ada tiga, di antaranya adalah:
  1. Telah meninggalnya pewaris baik secara nyata maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal dunia oleh hakim, karena setelah dinantikan hingga kurun waktu tertentu, tidak terdengar kabar mengenai hidup matinya). Hal ini sering terjadi pada saat datang bencana alam, tenggelamnya kapal di lautan, dan lain sebagainya.
  2. Adanya ahli waris yang masih hidup secara nyata pada waktu pewaris meninggal dunia.
  3. Seluruh ahli waris telah diketahui secara pasti, termasuk kedudukannya terhadap pewaris dan jumlah bagiannya masing-masing.

Ahli Waris Pria

1. Anak laki-laki
11. Saudara kandung sebapak (paman sebapak)
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki
12. Anak paman kandung
3. Bapak
13. Anak paman sebapak
4. Kakek dari bapak
14. Suami
5. Saudara kandung
15. Mu’tiq (orang yang memerdekakan muwarrits
      dari perbudakan).
6. Saudara sebapak

7. Saudara seibu

8. Anak laki-laki dari saudara kandung

9. Anak laki-laki dari saudara sebapak

10. Saudara kandung bapak
     (paman kandung)




Ahli Waris Wanita
1. Anak perempuan
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki
3. Ibu
4. Nenek sebapak
5. Nenek seibu
6. Saudari sekandung
7. Saudari sebapak
8. Saudari seibu
9. Isteri                          
10. Mu’tiqah (perempuan yang memerdekakan muwarrits dari perbudakan).


Bagaimana Apabila Semua Ahli Waris Laki-laki
Berkumpul Semuanya?
               Apabila ahli waris laki-laki berkumpul semua, maka yang berhak menerima harta warisan adalah:
1.      anak laki-laki
2.      bapak
3.      suami
Bagaimana Apabila Semua Ahli Waris Perempuan
Berkumpul Semuanya?
               Apabila ahli waris perempuan berkumpul semua, maka yang berhak menerima harta warisan adalah:
1.      anak perempuan
2.      cucu perempuan dari anak laki-laki
3.      ibu
4.      saudari sekandung
5.      isteri


Bagaimana Apabila Semua Ahli Waris Laki-laki dan Perempuan
Berkumpul Semuanya?
               Apabila ahli waris laki-laki dan perempuan berkumpul semuanya, maka yang berhak menerima harta warisan adalah:
1.      Anak laki-laki dan anak perempuan
2.      Bapak dan ibu
3.      Suami dan isteri

Beberapa Istilah

Al-Far’ul Warits
:
Adalah anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, anak  perempuan dan cucu perempuan dari anak laki-laki.
Al-Ashludz Dzakar        
:
Bapak dan kakek.
Waladush Shulbi            
:
Anak laki-laki dan anak perempuan
Dzurriyyatudz Dzukur
:
Anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki
Dzurriyyatul Untsa        
:
Anak perempuan dan cucu perempuan dari anak laki-laki


Ketentuan Al-Furudh Al-Muqaddarah/ Bagian yang telah Ditentukan
di Dalam Al-Qur`an

½
2/3
¼
1/3
1/8
1/6


TABEL AHLI WARITS, BAGIANNYA MASING-MASING
DAN SYARAT-SYARATNYA

Nisbah
Ahli Warits
Syarat
1/8
1. Isteri
1. Muwarrits meninggalkan keturunan

¼
1. Isteri
1. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan

2. Suami
1. Muwarrits meninggalkan keturunan



½
1. Suami
1. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan

2. Anak Perempuan
1. Hanya seorang diri (tidak punya saudara/i)

3. Cucu perempuan
1. Hanya seorang diri (tidak ada mu'ashib dan
    mumatsil)


2. Tidak ada anak laki-laki dan anak perempuan

4. Saudari kandung
1. Hanya seorang diri (tidak ada mu'ashib dan
    mumatsil)


2. Muwarrits tidak meninggalkan asal (bapak,
    kakek dan seterusnya)


3. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan

5. Saudari sebapak
1. Hanya seorang diri (tidak ada mu'ashib dan
    mumatsil)


2. Muwarrits tidak meninggalkan asal (bapak,
    kakek dan seterusnya)


3. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan


4. Tidak ada saudara kandung



2/3
1. 2 Anak Perempuan
1. Tidak ada mu'ashib (anak laki-laki)

2. 2 Cucu perempuan
1. Tidak ada mu'ashib (cucu laki-laki)


2. Tidak ada anak laki-laki dan perempuan

3. 2 Saudari kandung
1. Tidak ada mu'ashib (saudara laki-laki
    sekandung)


2. Tidak ada keturunan muwarrits (hajib)


3. Muwarrits tidak meninggalkan asal (bapak,
    kakek dan seterusnya)

4. 2 Saudari sebapak
1. Tidak ada mu'ashib (saudara laki-laki
    sebapak)


2. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan
    (hajib)


3. Muwarrits tidak meninggalkan asal (bapak,
    kakek dan seterusnya)


4. Tidak ada saudara kandung



1/3
1. Ibu
1. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan


2. Jumlah saudara tidak lebih dari seorang
    baik laki-laki maupun perempuan

2. Saudara seibu
1. Muwarrits tidak meninggalkan asal (bapak,
    kakek dan seterusnya)


2. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan
    (hajib)



1/6
1. Bapak
1. Muwarrits meninggalkan keturunan

2. Ibu
1. Muwarrits meninggalkan keturunan


2. Ada sejumlah saudara laki-laki maupun
    perempuan

3. Kakek
1. Tidak ada bapak atau kakek yang lebih dekat
    ke muwarrits (hajib)


2. Muwarrits meninggalkan keturunan

4. Nenek dari bapak
1. Tidak ada bapak


2. Tidak ada ibu

5. Nenek dari ibu
1. Tidak ada ibu saja

6. Saudari sebapak
1. Tidak ada mu'ashib


2. Muwarrits tidak meninggalkan keturunan


3. Muwarrits tidak meninggalkan asal (bapak,
    kakek dan seterusnya)


4. Tidak ada saudara kandung


5. Ada seorang saudari kandung

7. Saudara seibu
1. Hanya seorang


2. Tidak ada hajib (keturunan dan asal laki-
    laki)

8. Cucu perempuan
1. Muwarrits meninggalkan satu anak
    perempuan (dia mendapat 1/2)


2. Tidak ada mu'ashib





Definisi Ashabah
Ashabah menurut bahasa
:
Kerabat seseorang dari pihak bapaknya
Ashabah menurut istilah
:
Semua ahli waris yang tidak mempunyai bagian yang jelas (ditentukan) di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, seperti anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki

Pembagian Ashabah
               Ashabah terbagi kepada 2 bagian:
1.      Ashabah Nasabiyyah : Disebabkan faktor keturunan.
2.     Ashabah Sababiyyah : Disebabkan faktor memerdekakan muwarrits.

Ashabah Nasabiyyah terbagi kepada 3 bagian:

1. Ashabah Binafsihi
               Dinamakan ashabah binafsihi karena sejak awal ia memang berstatus ashabah dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Yaitu seluruh laki-laki kecuali suami, saudara laki-laki seibu dan demikian juga bapak dengan syarat tidak ada far’ul warits.
Jumlahnya ada 12 orang:

1. Anak laki-laki
7. Anak saudara sekandung
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dst ke bawah
8. Anak saudara sebapak
3. Bapak (dengan syarat tidak ada far’ul warits)
9. Paman sekandung
4. Kakek dari bapak dst ke atas
10. Paman sebapak
5. Saudara laki-laki sekandung
11. Anak paman sekandung
6. Saudara laki-laki sebapak
12. Anak paman sebapak

2. Ashabah Bighairihi
               Yaitu ahli waris yang tadinya mendapatkan bagian tertentu, tapi berubah menjadi pengambil sisa semua harta karena ada ahli waris lain yang menariknya menjadi ashabah. Ahli waris yang menarik itu disebut mu’ashib. Dalam hal ini bagian tertentunya tidak berlaku dan ia hanya berbagi dengan mu’ashibnya.
               Berikut ini ahli waris yang menjadi ashabah bighairihi beserta para mu’ashibnya:

Ahli Waris
Mu’ashib
1. Anak perempuan
: Anak laki-laki (saudara sekandungnya)
2. Cucu perempuan
: Cucu laki-laki (baik saudaranya maupun sepupunya)
: Cicit laki-laki dari cucu laki-laki dari anak laki-laki
3. Saudari kandung
: Saudara kandung
4. Saudari sebapak
: Saudara sebapak

3. Ashabah Ma’al Ghair: Seluruh saudara perempuan (sekandung maupun sebapak) dengan anak perempuan apabila tidak ada saudara laki-laki.

 
Hukum Ashabah
               Hukum orang-orang yang masuk ke dalam kategori ashabah adalah mereka mengambil semua harta warisan apabila mereka berjumlah satu orang atau mereka mengambil sisa harta warisan setelah semua ashabul furudh mendapatkan bagiannya masing-masing atau mereka (para ashabah) tidak mendapatkan apa-apa apabila harta warisan telah habis dibagikan kepada para ahli waris.
               Untuk ashabah bighairihi hukumnya adalah anak laki-laki mendapatkan dua kali bagian anak perempuan.
               Untuk ashabah ma’al ghair adalah mendapatkan sisa harta warisan.

Hukum Hajb (Penghalang Ahli Waris)
Hajb menurut bahasa: terhalang.
Hajb menurut istilah : Terhalangnya seorang ahli waris dari harta warisan, baik semuanya atau sebagian dari harta warisan itu disebabkan adanya ahli waris yang lebih berhak atas harta warisan tersebut dari dirinya.
Hajb terbagi kepada 2 macam:
1.      Hajb bil Washfi (karena sifat atau predikat yang disandang ahli waris).
2.      Hajb bisy Syakhshi (karena faktor orang/ ahli waris yang lain).

  1. Hajb bil Washfi : Orang yang terkena hajb tersebut terhalang dari mendapatkan hak warisnya secara keseluruhan. Misalnya orang yang membunuh pewarisnya, kafir atau murtad, serta budak.
  2. Hajb bisy Syakhshi : Gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Hajb bisy Syakhshi ini sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
2.1 Hajb Hirman, yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang. Misalnya, terhalangnya hak waris seorang kakek karena adanya bapak, terhalangnya hak waris cucu karena adanya anak, terhalangnya hak waris saudara sebapak karena adanya saudara kandung, terhalangnya hak waris seorang nenek karena adanya ibu, dan seterusnya.
2.2. Hajb Nuqshan, yaitu penghalangan terhadap hak waris seseorang untuk mendapatkan bagian yang terbanyak. Contohnya, suami terhalang mendapatkan bagian warisan dari setengah (1/2) menjadi seperempat (1/4), karena adanya keturunan istri yang dapat mewarisi, baik keturunan tersebut dihasilkan dari perkawinannya dengan suami tersebut maupun dari suaminya yang terdahulu. Istri terhalang mendapatkan bagian warisan dari seperempat (1/4) menjadi seperdelapan (1/8) karena adanya keturunan suami yang dapat mewarisi, baik keturunan tersebut dihasilkan dari perkawinannya dengan istri tersebut maupun dengan istri-istrinya yang lain. Demikian pula ibu, ia terhalang mendapatkan bagian warisan dari sepertiga (1/3) menjadi seperenam (1/6) karena adanya keturunan yang dapat mewarisi dan karena sebab berkumpulnya beberapa (dua orang atau lebih) saudara laki-laki atau saudara perempuan, baik saudara sekandung, sebapak maupun seibu.

Ada sederetan ahli waris yang tidak mungkin terkena hajb hirman atau dengan kata lain tidak mungkin terhalang oleh ahli waris lainnya. Mereka terdiri dan enam orang yang akan tetap mendapatkan hak waris bagaimanapun keadaannya. Keenam orang tersebut adalah :
  1. Anak laki-laki
  2. Anak perempuan
  3. Bapak
  4. Ibu
  5. Suami
  6. Istri

Ahli Waris dari Kalangan Laki-laki yang Dapat Terkena Hajb Hirman:

No.
Ahli Waris
Penghalang
1.
Cucu laki-laki dari anak laki-laki
Anak laki-laki dari pewaris
2.
Kakek dan generasi diatasnya
Bapak
3.
Saudara laki-laki sekandung
Bapak, anak laki-laki, dan cucu laki-laki dari anak laki-laki
4.
Saudara laki-laki sebapak
Anak laki-laki (dari pewaris), cucu laki-laki dari anak laki-laki, bapak, dan saudara laki-laki/perempuan sekandung
5.
Saudara laki-laki seibu
Bapak, anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki.
6.
Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung
Bapak, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, dan saudara laki-laki sebapak
7.
Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak
Bapak, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak dan anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (karena ia lebih kuat hubungannya dengan pewaris)
8.
Paman sekandung
Bapak, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (karena ia lebih kuat hubungannya dengan pewaris) dan anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak
9.
Paman sebapak
Bapak, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (karena ia lebih kuat hubungannya dengan pewaris), anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak dan paman sekandung
10.
Anak laki-laki dari paman sekandung
Bapak, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (karena ia lebih kuat hubungannya dengan pewaris), anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak, paman sekandung dan paman sebapak
11.
Anak laki-laki dari paman sebapak
Bapak, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (karena ia lebih kuat hubungannya dengan pewaris), anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak, paman sekandung, paman sebapak dan anak laki-laki dari paman sekandung
12.
Laki-laki yang memerdekakan budak.
Menurut ijma para ulama, mereka terhalang oleh para ahli waris yang berdasarkan nasab (hubungan kekerabatan), karena nasab lebih kuat daripada orang yang memerdekakan budak

Ahli Waris dari Kalangan Perempuan yang Dapat Terkena Hajb Hirman:

No.
Ahli Waris
Penghalang
1.
Nenek dari ibu
Ibu
2.
Nenek dari bapak
Ibu dan bapak
3.
Cucu perempuan dari anak laki-laki
Anak laki-laki dan dua anak perempuan atau lebih
4.
Saudara perempuan sekandung
Bapak, anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki
5.
Saudara perempuan sebapak
Bapak, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung dan dua saudara perempuan sekandung apabila tidak ada mu’ashib karena mendapatkan 2/3 warisan dan saudara perempuan sekandung atau lebih apabila dia menjadi ashabah dengan seorang anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki
6.
Saudara perempuan seibu
Oleh ashludz dzakar dan far’ul warits

Al-Akh Al-Mubarak dan Al-Akh Al-Masy`um.
               Cucu permpuan atau saudari sebapak akan menjadi ashabul furudh bila tidak ada mu’ashibnya. Jika ada mu’ashibnya, maka mereka berdua mesti menjadi ashabah bi ghairihi dan ketentuan ashabul furudh tidak berlaku.
               Terkadang mereka diuntungkan dengan adanya saudara mereka yang menjadi mu’ashib, tapi bisa jadi malah dirugikan.
               Al-Akh Al-Mubarak bisa terjadi pada saudara sebapak dengan saudari sebapak, dan cucu laki-laki dengan cucu perempuan.
              
Contoh Kasus Al-Akh Al-Mubarak
               Ada seseorang wafat dengan meninggalkan ahli waris sebagai berikut:
2 saudari kandung, saudari sebapak dan saudara sebapak.

Asal masalah
3 x 3
9
2 saudari kandung
2/3
2
6
Saudari sebapak
sisa
1
1
Saudara sebapak
2

Keterangan 1 : Asal masalah adalah 3 yang kemudian dikalikan kepada 3 dikarenakan sisanya yaitu 1 tidak bisa dibagikan kepada 3 orang (saudari sebapak dan saudara sebapak; bagian laki-laki adalah dua kali bagian perempuan). Oleh karena itu harus dikalikan dengan 3.
Keterangan 2 : Bila tidak ada saudara sebapak, maka saudari sebapak mahjub (terhalang), karena jumlah saudari kandung lebih dari satu orang dan mendapatkan 2/3.

               Ada seseorang wafat dengan meninggalkan ahli waris sebagai berikut:
2 anak perempuan, cucu perempuan dan cucu laki-laki.

Asal masalah
3 x 3
9
2 anak perempuan
2/3
2
6
Cucu perempuan
Sisa
1
1
Cucu laki-laki
2

Keterangan : Bila tidak ada cucu laki-laki, maka cuc perempuan mahjub (terhalang), karena sudah ada 2 anak perempuan, namun dengan adanya cucu laki-laki yang menjadi mu’ashibnya, maka ia mendapat bagian, karena ditarik oleh mu’ashib. Dalam hal ini mu’ashib membawa untung.
Contoh Kasus Al-Akh Al-Masy`um
               Ada seseorang wafat dengan meninggalkan ahli waris sebagai berikut:
Suami, saudari kandung, saudari sebapak dan saudara sebapak.


Asal masalah
2
Suami 
½
1
Saudari kandung
½
1
Saudari sebapak
Sisa
0
Saudara sebapak

Kalau saja tidak ada saudara sebapak, maka saudari sebapak bisa mendapat 1/6.

               Ada seseorang wafat dengan meninggalkan ahli waris sebagai berikut:
Suami, anak perempuan, ibu, bapak, cucu perempuan dan cucu laki-laki.

Asal masalah
12
Suami
¼
3
Anak perempuan
½
6
Ibu
1/6
2
Bapak
1/6
1
Cucu perempuan
Sisa
0
Cucu laki-laki

Kalau saja tidak ada cucu laki-laki sebagai mu’ashib, maka cucu perempuan akan mendapat bagian 1/6 dan asal masalah di ‘aul menjadi 13.

Mendapatkan Warisan dari Dua Jalur
               Ada kalanya seseorang memiliki dua jalur kewarisan dari orang lain. Misalnya bila seorang gadis menikah dengan anak laki-laki dari saudara laki-laki bapaknya (sekandung maupun sebapak). Maka bila hal ini terjadi, maka statusnya adalah sebagai suami dan sekaligus anak paman. Ia akan mandapat bagian sebagai suami dan ia juga bisa menjadi ashabah.
               Contohnya seorang isteri telah meninggal dunia dan meninggalkan ahli waris sebagai berikut: Suami (dan sekaligus sepupunya/ anak dari pamannya), dan seorang anak perempuan.

Asal Masalah
4
Seorang laki-laki (sebagai suami)
½
2
Seorang laki-laki (sebagai anak paman)
¼
1
anak perempuan
Sisa
1
               Berarti suami mendapat 2 bagian, satu bagian sebagai suami dan bagian lainnya sebagai anak paman. Akan tetapi bila ada yang menghalanginya, maka si suami hanya mendapat bagian sebagai suami dan bagiannya sebagai anaka paman menjadi gugur. Contohnya bila si sitri meninggalkan ahli waris sebagai berikut: Suami, anak perempuan dan anak saudara laki-laki si istri. Maka pembagiannya adalah sebagai berikut:

Asal Masalah
4
Suami
¼
1
Anak perempuan
½
2
Suami sebagai anak paman
Terhalang oleh anak saudara
0
Anak saudara
Sisa
1

Al-Masalah Al-Musytarakah
               Bentuk dari masalah ini adalah apabila ada seorang istri yang meninggal dunia dan meninggalkan ahli waris sebagai berikut: suami, ibu, 2 saudara seibu dan 1 saudara kandung.
Asal Masalah
6
Suami
½
3
Ibu
1/6
1
2 saudara seibu
1/3
2
1 saudara sekandung
Sisa
0
              
               Apabila pembagiannya seperti ini, maka si saudara sekandung tidak mendapatkan bagian sedikit pun. Padahal hubungan kekerabatannya dengan si mayit sangat dekat (satu bapak dan satu ibu). Oleh karena itu, sahabat Umar bin Khatab menggabungkan si saudara kandung ke dalam kelompok saudara seibu. Maka pembagian warisanya menjadi sebagai berikut:

Asal Masalah
6 x 3
18
Suami
½
3
9
Ibu
1/6
1
3
2 saudara seibu
1/3
2 (tidak bisa dibagi, karena mereka ada 3 orang
6
(@ = 2)
1 saudara sekandung

‘Aul
               ‘Aul menurut bahasa artinya bertambah. Di dalam ilmu faraidh ‘aul diartikan bagian-bagian yang harus diterima oleh ahli warits lebih banyak daripada asal masalahnya, sehingga asal masalahnya harus ditambah atau diubah.
               Contoh kasus: Seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris sebagai berikut: suami, nenek dan saudari kandung.
Asal masalah
6
Suami
1/2
3
Nenek
1/6
1
Saudari kandung
½
3
               Kita lihat bahwa asal masalah adalah 6, sedang jumlah keseluruhan ada 7, berarti angka penyebut dalam persentase adalah 7. akibanya, hasil yang didapat akan berkurang.
               Aul hanya akan terjadi pada 3 asal masalah, yaitu: 6, 12 dan 24. sedangkan keempat asal masalah lainnya, yaitu 2, 3, 4 dan 8 tidak mungkin terjadi aul.



Penerapan Aul pada Hitungan Barang
Contoh kasus aul dari 24 menjadi 27

Asal masalah
24 aul ke 27
Istri
1/8
3
Ayah
1/6
4
Ibu
1/6
4
2 anak perempuan
2/3
16 (@=8)
               Bila terjadi aul berarti angka penyebut yang dipakai untuk persentase adalah hasil aul, bukan asal masalah pertama.
               Misalnya bagian ibu dalam tabel di atas adalah 4 (1/6 dari 24), berarti persentasenya adalah 4/27, bukan 4/24. Jika harta yang ditinggalkan misalnya sebesar Rp 10 juta, maka bagian ibu adalah 4/27 x Rp 10.000.000 = Rp 1.481.481,- bandingkan bila tidak terjadi aul, maka bagian ibu adalah 4/24 x Rp 10.000.000 = Rp 1.666.667,-
Radd
               Radd artinya mengembalikan. Maksudnya di dalam ilmu waris adalah membagi sisa harta warisan kepada ahli waris menurut masing-masing bagiannya.
              
Di dalam masalah radd  ada 2 pendapat:
  1. Kelebihan harta warisan tersebut disalurkan ke baitul mal.
  2. Kelebihan harta warisan tersebut dikembalikan (diradd/dibagikan) ke masing-masing ashabul furudh, sampai harta itu habis terbagi.

Perhatian: masalah radd tidak akan pernah terjadi apabila ada ashabah.

Penerapan Radd pada Hitungan Barang
Contoh kasus radd : Seseorang meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris sebagai berikut: ibu dan saudari kandung.
Asal masalah
6 – 1 =
5
Ibu
1/3
2
2
Saudari kandung
½
3
3
Sisa

1

       
Maka yang menjadi angka penyebut adalah 5, bukan 6. ini akan terlihat bedanya ketika dikalikan dengan jumlah harta yang ditinggalkan oleh si muwarits (mayit). Misalnya harta yang ditinggalkan adalah sebesar Rp 10 juta. Bagian ibu adalah 2 (1/3 dari 6), berarti 2/5 x Rp 10.000.000 = Rp 4.000.000,- bandingkan jika tidak terjadi radd, maka bagian ibu adalah 2/6 x Rp 10.000.000 = Rp 3.333.333,-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar