Kamis, 14 Juni 2012

Ilmu Waris/Faraidl



ILMU WARIS DALAM ISLAM
Ilmu Waris Pra Islam
Pada masa Arab jahiliyah waris-mewarisi terjadi karena empat sebab, yaitu :
Karena adanya hubungan darah (qarabah)


Tradisi waris yang berlaku pada masa jahiliyah adalah apabila seseorang meninggal, maka harta warisan akan berpindah ke tangan anak sulung si mayit, ke saudaranya atau ke pamannya. Mereka tidak memberikan kepada wanita dan anak-anak dengan alasan karena wanita dan anak-anak adalah makhluk lemah yang tidak bisa menjaga keamanan dan berperang untuk suku dan marganya. Perlakuan ini masih terjadi pada masa Rasulullah SAW sebagaimana yang terjadi pada kedua putri Sa’ad bin Rabi', dimana paman mereka mengambil semua harta peninggalan ayah mereka. Ketika permasalahan tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, maka beliau memerintahkan pamannya tersebut untuk memberi bagian dua pertiga kepada kedua putri si mayit, dan seperdelapan kepada istri si mayit, dan sisanya barulah dia ambil. Jadi, Allah SWT membatalkan aturan yang berlaku dalam masyarakat jahiliyah yang menyatakan bahwa hanya laki-laki dewasa yang dapat menjadi ahli waris – tidak termasuk wanita dan anak-anak –, melalui Surah An-Nisa [04] : 07,
 “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orangtua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orangtua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan,”  (QS An-Nisa [04]: 07).
Surah An-Nisa [04] : 11,
 “Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana,” (QS An-Nisa [04] : 11).
Surah An-Nisa [04] : 12,
 “Dan bagianmu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) utang-utangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun,”  (QS An-Nisa [04] : 12).
Surah An-Nisa [04] : 127,
“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur'an (juga memfatwakan) tentang para perempuan yatim yang tidak kamu berikan sesuatu (maskawin) yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin menikahi mereka dan (tentang) anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) agar mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui,” (QS An-Nisa [04]: 127)
Surah An-Nisa [04]: 176.
”Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kal±lah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kal±lah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS An-Nisa [04]: 176)
Karena pengakuan atau sumpah setia (muhalafah).
Pengakuan yang berupa ucapan atau sumpah setia antara dua orang yang mengikrarkan diri agar dapat saling mewarisi juga dibenarkan sebagai sebab mewarisi pada zaman jahiliyah. Misalnya seseorang mengatakan kepada orang lain, "Darahku darahmu, perangku perangmu, damaiku damaimu, kamu mewarisi hartaku aku pun mewarisi hartamu …." Kemudian jika orang lain itu menyetujuinya, maka kedua orang itu berhak saling mewarisi. Hal ini sampai masa awal-awal Islam masih berlaku, dan masih dibenarkan menurut Surah An-Nisa [04]: 33.
Kemudian sebab mewarisi atas dasar sumpah setia pun akhirnya dihapuskan oleh Allah melalui Surah Al-Anfal [08] : 75.
“Dan orang-orang yang beriman setelah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS Al-Anfal [08]: 75).
Karena pengangkatan anak (adopsi, tabanniy).
Pada masa jahiliyah, pengangkatan anak menyebabkan anak itu berstatus sebagai anak kandung bagi orang yang mengangkatnya dan bisa dinasabkan kepada bapak angkatnya, bukan kepada bapak kandungnya. Ini berarti, seorang anak laki-laki yang menjadi anak angkat, jika telah dewasa dapat menjadi ahli waris dari bapak angkatnya. Kewarisan karena adopsi ini dibatalkan oleh Allah berdasarkan Surah Al-Ahzab: 4, 5, dan 40.
“Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan  istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menujukkan jalan (yang benar),” (QS Al-Ahzab [33]: 04).
“Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah  yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.  Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha  Penyayang,” (QS Al-Ahzab [33]: 05).
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS Al-Ahzab [33]: 40).
Karena persaudaraan (muakhkhah).
Pada masa awal-awal Islam ada lagi sebab untuk mewarisi, yaitu karena persaudaraan (muakhkhah) antara kaum Muhajirin dan Anshar. Pada masa itu, Rasulullah SAW mempersaudarakan sesama kaum Muhajirin dan antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan menjadikan persaudaraan ini sebagai salah satu sebab untuk saling mewarisi harta peninggalan. Hijrah dan muakhkhah pada masa itu dibenarkan oleh Allah SWT menurut Surah Al-Anfal [08] :72.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al-Anfal [08]: 72).
Setelah penaklukan kota Mekkah (futuh Makkah) pada tahun ke-8 hijriyah, seiring kondisi umat Islam yang sudah mulai kuat dan stabil, maka kewajiban hijrah dicabut sesuai dengan hadits Nabi SAW, "Tidak ada kewajiban berhijrah lagi setelah penaklukan kota Mekkah." Demikian pula, sebab mewarisi karena muakhkhah dihapuskan oleh Allah melalui Surah Al-Ahzab [33] : 6.
“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama  lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah),” (QS Al-Ahzab [33]: 06).
Jadi, Hukum waris Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW telah merombak hukum waris tradisi pra-Islam baik dalam struktur hubungan kekerabatannya, maupun sistem kepemilikan atas harta benda, khususnya harta pusaka. Dimana,  dalam masyarakat Arab ketika itu, wanita tidak mewarisi, termasuk wanita menjadi sesuatu yang bisa diwariskan. Maka Islam datang untuk membawa perubahan nasib dan citra pada wanita. Wanita memperoleh hak atas waris dan hak dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan ketika adat jahiliyah di luar syariat Islam hanya melihat kepentingan orang-orang kuat, maka Islam datang untuk menjaga kemaslahatan orang-orang lemah, karena mereka yang layak dikasihi dan dilindungi. (lihat tafsir dan asbabun nuzul Surah An-Nisa': 19). Disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Sesungguhnya engkau lebih baik meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, daripada engkau biarkan mereka miskin meminta-minta kepada manusia” [HR Bukhari].
B.        Sebab-Sebab Ilmu Waris Islam Tidak Diamalkan.
Dalam realitas kehidupan umat Islam sekarang terutama di Indonesia, persoalan pembagian harta warisan masih menjadi penyebab timbulnya keretakan hubungan keluarga. Hal ini ditandai dengan meningkatnya kasus perdata di pengadilan, dimana 70% kasus perdata timbul karena masalah klasik yaitu perebutan harta warisan. Kurangnya kepedulian umat Islam terhadap disiplin ilmu ini memang tidak dapat dipungkiri, bahkan Imam Qurtubi telah mengisyaratkannya, “Betapa banyak manusia sekarang mengabaikan ilmu Faraid.”
 Ada beberapa alasan belum atau tidak dilaksanakannya pembagian harta warisan menurut hukum waris Islam, antara lain sebagai berikut :
Tidak mengetahui ilmu tentang pembagian harta warisan.
Masih mengutamakan (mendahulukan) adat-istiadat yang berlaku di masyarakat dari pada aturan syariat Islam.
Takut tidak mendapatkan bagian atau hanya dapat bagian sedikit.
Tidak mau repot atau susah, karena menganggap hukum waris Islam rumit kalau diterapkan.
Merasa hukum waris Islam tidak adil.
Menganggap hukum waris Islam tidak kuat dan tidak mengikat bagi umat Islam.
Hukum waris Islam belum dituangkan sebagai hukum positif dalam bentuk undang-undang yang berlaku di Indonesia.
Adanya beberapa perbedaan pendapat ulama dalam masalah pembagian harta warisan sehingga menganggap tidak ada kesatuan aturan yang menjadi pedoman.
Menganggap hukum waris Islam hanya fatwa para ulama.
Menganggap bahwa pemilik harta mempunyai hak mutlak untuk membagi warisannya kepada para ahli waris ketika masih hidup sesuai aturannya.
Menganggap bahwa pembagian warisan cukup dibagi dengan cara pemberian hibah dan wasiat saja.
Menganggap bahwa pembagian warisan sudah adil jika dibagi secara sama rata di antara semua ahli waris.
Belum adanya lembaga yang berwenang mutlak mengurus dan mengatur pembagian harta warisan diantara umat Islam.

Demikianlah, di antara sekian alasan yang melatar belakangi belum adanya kesadaran umat Islam, terutama di Indonesia, untuk melaksanakan pembagian warisan menurut hukum waris Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, mempelajari dan mengamalkan ilmu Faraid adalah sebuah upaya yang mulia yang harus terus digalakkan dan disosialisasikan demi terciptanya keadilan dan terpeliharanya ilmu ini dari kepunahan yang disebabkan karena minimnya pemahaman umat Islam atau karena sedikitnya mereka yang mengamalkannya.     
C.        Keistimawaan Ilmu Waris Islam (Faraid).
Ilmu Faraid atau fiqih mawaris ini, merupakan ilmu yang sangat penting untuk kesejahteraan dan kedamaian keluarga. Sebegitu pentingnya sehingga Allah sendiri secara langsung mengatur bagian-bagian Faraid ini  di dalam Al-Qur'an. – yaitu Surah An-Nisa’: 11, 12, dan 176 berisi ketentuan pembagian waris secara lengkap. – Dimana Ia telah menjelaskan masing-masing bagian ahli waris yang mendapat  bagian seperdua, seperempat, seperdelapan, dua pertiga, sepertiga dan seperenam. Ini berbeda dengan hukum-hukum lainnya, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain yang nash-nashnya bersifat global, sehingga diperlukan penjelasan dan rincian lebih lanjut dari sabda-sabda Nabi SAW. Disamping itu, Allah SWT menjamin surga bagi kaum muslimin yang melaksanakan hukum waris Islam ini. Sebagaimana dalam  firman-Nya,
“Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung,”  (QS An-Nisa [04]: 13)
Sebaliknya, Allah SWT mengancam dengan neraka dan adzab yang pedih bagi orang-orang yang tidak mau mengamalkan aturan-aturan dalam Islam tersebut. Allah SWT berfirman,
“Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan,”  (QS An-Nisa [04] : 14).
Melihat betapa pentingnya kedudukan  ilmu Faraid ini dalam perundangan hukum Islam, maka para ulama memberi perhatian yang besar terhadap ilmu ini, dengan mengajarkan, merumuskan kaidah-kaidahnya dan menuliskannya dalam literartur (kitab) fiqih, agar supaya umat Islam dapat mengamalkan ilmu Faraid sesuai kaidah hukum Islam.
D.        Keadilan Dalam Hukum Waris Islam
Hal terpenting dalam pembahasan tentang keadilan menyangkut hukum Kewarisan Islam adalah tentang hak sama-sama dan saling mewarisi antara laki-laki dan perempuan serta perbandingan 2 : 1 (baca 2 banding 1) antara porsi laki-laki dan perempuan. Asas keadilan dalam hukum Kewarisan Islam mengandung pengertian bahwa harus ada keseimbangan antara hak yang diperoleh dan harta warisan dengan kewajiban atau beban kehidupan yang harus ditanggungnya diantara para ahli waris. Karena   itu  arti keadilan dalam hukum waris Islam bukan diukur dari kesamaan tingkatan antara ahli waris, tetapi ditentukan berdasarkan besar-kecilnya beban atau tanggung jawab yang diembankan kepada mereka ditinjau dari keumuman keadaan atau kehidupan manusia. Rasio perbandingan 2 : 1, tidak hanya berlaku antara anak laki-laki dan perempuan saja, melainkan juga berlaku antara suami isteri, antara bapak-ibu serta antara saudara lelaki dan saudara perempuan, yang kesemuanya itu mempunyai hikmah apabila dikaji dan diteliti secara mendalam. Dalam kehidupan masyarakat Islam, laki-laki menjadi penanggung jawab nafkah untuk keluarganya, berbeda dengan perempuan.  Apabila perempuan  tersebut  berstatus gadis / masih   belum   menikah,  maka   ia     menjadi     tanggung jawab orang   tua   atau walinya ataupun saudara laki-lakinya. Sedangkan apabila seorang perempuan menikah, maka tanggung jawab kepadanya beralih ke suaminya.
Hal ini karena Syari'at Islam tidak mewajibkan perempuan untuk  menafkahkan hartanya bagi kepentingan dirinya ataupun kebutuhan anak-anaknya, meskipun istri tergolong mampu (kaya), jika ia telah bersuami. Sebab memberi nafkah (tempat tinggal, makanan dan pakaian) keluarga merupakan kewajiban yang dibebankan syara' kepada suami (laki-laki setelah ia menikah). Sedangkan kewajiban isteri pada dasarnya adalah mengatur urusan intern rumah tangga dengan sebaik-baiknya.
Dalam QS Al- Baqarah [02]: 233 Allah SWT berfirman,
Artinya: “...Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma 'ruf...”
Dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) pasal 34 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan:
"Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.”

E.         Perintah Mempelajari dan Mengamalkan Ilmu Waris Islam.
Rasulullah SAW telah mengingatkan agar ilmu pusaka ini dipelajari karena tanpa ilmu dan pembagian yang betul secara Faraid, maka persengketaan sangat sulit untuk dihindari karena sifat alami manusia yang cenderung cinta kepada harta benda.
Sabda Rasulullah SAW, “Pelajarilah Al-Qur`an dan ajarkannya kepada orang-orang dan pelajarilah ilmu Faraid serta ajarkanlah kepada orang-orang karena saya adalah orang yang bakal diwafatkan sedang ilmu bakal diangkat. Hampir-hampir saja dua orang yang bertengkar tentang pembagian pusaka, maka mereka berdua tidak menemukan seorang pun yang sanggup memfatwakannya kepada mereka.” (HR Ahmad, An-Nasai dan Ad-Daruquthni).
Rasulullah SAW juga bersabda, “Pelajarilah Faraid dan ajarkanlah, sebab ia adalah separuh ilmu dan ia akan dilupakan. Dan ia adalah sesuatu yang pertama kali tercabut dari umatku” (HR Ibnu Majah dan Ad-Daruquthni. Imam As-Suyuthi meshahihkan hadits ini).
Amirul Mukminin Umar Ibnul Khaththab berkata, “Pelajarilah Faraid, sebab ia adalah bagian dari agamamu.” Beliau SAW juga bersabda, “Pelajarilah Faraid, nahwu dan Sunnah sebagaimana kamu mempelajari Al-Qur’an.”
Ibnu Abbas, ketika menafsirkan ayat 73 Surah Al-Anfal, dia menyatakan, “Jika kamu tidak mengambil ilmu waris yang diperintahkan oleh Allah, maka pasti akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”
Imam Al-Qurthuby dalam tafsirnya mengatakan, ”Ilmu Faraid adalah ilmu luhur yang hanya dapat diamalkan oleh orang-orang yang bermartabat luhur pula.”
Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak pandai fara’id, adalah seperti baju burnus yang tidak memiliki kepala.”
Bahkan sebagian para orientalis barat memberikan komentar positif terhadap pembagian waris menurut Islam ini setelah membandingkan hukum waris yang pernah ada di berbagai negara di dunia, seperti hukum waris China, India, Persia dan lain sebagainya. Di antara mereka ada pakar matematika yang bernama Frank Plumpton Rumsey, ia mengatakan, ”Pembagian harta pusaka dalam Islam tidak ragu  lagi merupakan sistem perundang-undangan harta yang paling baik dan canggih yang pernah diketahui oleh peradaban modern.”
Begitu juga dengan Professor N. J. Coulson, guru besar di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London mengakui kelebihan ilmu waris Islam dengan pernyataannya, ”Undang-undang pembagian harta pusaka dalam Islam merupakan suatu pencapaian teknikal yang mantap dan sayogyanyalah ilmuwan Islam merasa bangga memiliki ketepatan matematik dalam menentukan hak-hak ahli waris, dalam keadaan apapun.”
Para ulama membedakan hukum mempelajari dan mengajarkan ilmu Faraid dengan hukum mengamalkan ilmu Faraid dalam pembagian harta waris. Adapun hukum mempelajari dan mengajarkan ilmu Faraid ini adalah fardhu kifayah, artinya apabila ada seorang muslim yang belajar dan mengajarkan ilmu tersebut, maka gugur kewajiban atas muslim yang lain. Namun bila tidak ada sama sekali yang melaksanakannya, maka semua orang Islam menanggung dosa atas keteledoran melalaikan kewajiban tersebut. Seperti kewajiban melaksanakan shalat Jenazah. Sedangkan, hukum mengamalkan ilmu Faraid dalam membagi harta warisan adalah fardhu ‘ain (kewajiban secara individu) bagi orang Islam untuk menjalankannya sebagaimana kewajiban menjalankan shalat lima waktu.

F.         Hikmah Mengamalkan Ilmu Waris :
Setidaknya ada 6 hikmah yang dapat kita identifikasi berkenaan dengan pengamalan ilmu waris Islam sebagai cara terbaik membagi harta warisan. Yaitu :
Mewujudkan keadilan di dalam pembagian harta waris.
Mencegah timbulnya persengketaan soal harta.
Menjadi hamba yang patuh akan hukum Allah dalam hal waris.
Menghindari laknat Allah dengan melaksanakan syariah-Nya.
Menjaga ilmu dari kepunahan dengan mengamalkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar