Kamis, 14 Juni 2012

Kajian Alam Jin

MENGUAK FENOMENA MISTIS
Oleh Dudung Ramdani, Lc

Berbicara mengenai masalah mistis tidak bisa dipisahkan dengan pembahasan mengenai alam Jin. Oleh karena itu,  kita harus mengupas masalah Jin jika kita ingin tahu permasalahan mistis yang ada di sekitar kita.
Siapakah Jin itu?
Dari segi bahasa, kata Jin berasal dari kata janna. Ibnu Taimiyyah berkata, “Disebut Jin karena mereka tidak bisa dilihat, seperti yang tercantum di dalam firman Allah,  ”Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang...,” (QS Al-An'am [06]:76). (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, juz ke-17, kitab Tafsir bagian ke-4, hal. 465). Kalimat Jin serumpun dengan kata janiin (jabang bayi), junuun (gila), junnah (perisai), jannah (surga atau kebun) dan janaan (kain kafan atau kuburan). Keberadaan Jin tidak bisa dilihat oleh mata manusia, dan hal ini telah dijelaskan oleh Allah swt  di dalam firman-Nya,  "Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka," (QS Al-A'raf [07]: 27). (Imam Syafi'i tidak mau mempercayai dan bahkan menolak pengakuan orang yang mengaku bisa melihat Jin (dalam wujud aslinya). Beliau berkata,  
مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَرَى الْجِنَّ أَبْطَلْنَا شَهَادَته، إِلَّا أَنْ يَكُوْنُ نَبِيًّا.
"Barangsiapa  yang  mengaku bisa melihat Jin (dalam wujud aslinya), maka pengakuannya  akan kita tolak, kecuali kalau ia seorang nabi." Tetapi untuk kasus penampakan Jin, Ibnu Hajar Al-Atsqalani mengatakan,
وَأَمَّا مَنِ ادَّعَى أَنَّهُ يَرَى شَيْئًا مِنْهُمْ بَعْد أَنْ يَتَطَوَّر عَلَى صُوَرٍ شَتَّى مِنَ الْحَيَوَانِ فَلَا يَقْدَحْ فِيْهِ، وَقَدْ تَوَارَدَتِ الْأَخْبَارُ بِتَطَوُّرِهِمْ فِي الصُّوَرِ.
"Adapun orang yang mengaku melihat Jin dalam bentuk hewan yang bermacam-macam, maka (pengakuan) orang ini jangan dicela. Karena ada banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Jin (memiliki kemampuan) merubah wujud ke dalam bentuk (wujud) apa saja." Umar bin Khathab juga mengatakan,
إِنَّ أَحَدًا لَا يَسْتَطِيْع أَنْ يَتَحَوَّلَ عَنْ صُوْرَتهِ الَّتِيْ خَلَقَهُ اللهُ عَلَيْهَا، وَلَكِنْ لَهُمْ سَحَرَةٌ كَسَحَرَتِكُمْ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَأَذِّنُوْا.
“Sebenarnya seorang (Jin) tidak bisa merubah wujud aslinya yang telah Allah ciptakan ke dalam wujud lain. Akan tetapi di kalangan mereka ada tukang sihir seperti tukang sihir dari kalian. (Jin bisa merubah wujudnya dengan bantuan Jin yang menguasai ilmu sihir). Apabila kalian melihat hal tersebut (penampakan Jin), maka kumandangkanlah adzan." (Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Atsqalani, Darus Salam Saudi Arabia, juz ke-6, Kitab Bad`ul Khalq, Bab Dzikrul Jinni wa Tsawabuhum wa Iqabuhum, (Kitab Awal Mula Penciptaan, Bab Pembahasan tentang Jin mengenai Pahala dan Balasan untuk Mereka), hal. 414-415). 


Bentuk dan Macam-macam Jin
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Tsa'labah Al-Khusyani, Rasulullah saw bersabda,
الْجِنُّ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ: فَصِنْفٌ لَهُمْ أَجْنِحَةٌ يَطِيْرُوْنَ بِهَا فِيْ الْهَوَاءِ، وَصِنْفٌ حَيَّاتٌ وَكِلَابٌ، وَصِنْفٌ يُحَلُّوْنَ وَيَظْعَنُوْنَ.
"Jin itu ada tiga kelompok, kelompok pertama Jin yang bersayap, mereka terbang di udara, kelompok kedua Jin yang berbentuk ular dan anjing dan kelompok ketiga Jin yang suka bepergian dan berpindah-pindah tempat." (HR Hakim, dari Abu Tsa'labah Al-Khusyani. Al-Mustadrak, juz ke-2, hadits no. 3702/839, hal. 495).
Ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa ketika Rasulullah saw lahir di kota Mekah, ketika itu ada seorang perempuan warga kota Madinah yang mengetahui kelahiran beliau dari berita yang telah diterimanya dari Jin yang menjadi pengikutnya. Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa berita pertama yang didengar oleh penduduk Madinah tentang Rasulullah saw adalah dari seorang wanita yang mempunyai khadam (Jin) yang datang menemuinya dalam wujud seekor burung berbulu putih yang hinggap di dahan sebuah pohon.
Wanita tersebut berkata, 
أَلَا تَنْزِلُ فَنُخْبِرَكَ وَتُخْبِرَنَا.
"Maukah engkau turun, kami bercerita kepadamu dan engkau pun bercerita kepada kami?!"
Maka burung jelmaan Jin tersebut berkata,
إِنَّهُ قَدْ بُعِثَ نَبِيٌّ بِمَكَّةَ حَرَّمَ عَلَيْنَا الزِّنَا وَمَنَعَ مِنَ الْفِرَارِ.
"Telah lahir seorang laki-laki (utusan Allah) di kota Mekah yang mengharamkan kita untuk berzina dan melarang kita dari melarikan diri dari medan pertempuran." (Dalailun Nubuwwah, karya Abu Nu'aim Al-Ashbahani, terbitan Mathba'ah Majlis Dairah Al-Ma'arif Al-Utsmaniyyah India, cet. ke-3, hal.69). 
               Dengan kemampuan terbangnya, Jin mampu menempuh perjalanan jauh dengan cepat. Seperti kita tahu bahwa pada masa itu, alat transportasi yang ada hanya kuda atau unta, dan jarak antara Mekah dan Madinah kurang lebih 400 km. Apabila ditempuh dengan unta, akan menghabiskan waktu sekitar satu bulan.
               Ibnu Taimiyyah telah menyebutkan di dalam kitabnya bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khathab pernah mendengar sebuah berita dari seseorang yang mempunyai pengikut dari Jin yang memberitahukan kepadanya tentang kemenangan kaum muslimin di medan perang. Umar bin Khathab tidak mempercayainya seratus persen dan tidak pula mendustakannya seratus persen.
Ketika itu, Amirul Mukminin Umar bin Khathab pernah mengutus sebuah pasukan untuk berperang. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang datang menemuinya (di Madinah) dan berkata, "Musuh telah dikalahkan oleh kaum muslimin!" Dalam sekejap, berita kemenangan ini tersebar ke seluruh penjuru kota Madinah. Umar pun menanyakan kepadanya dari mana sumber berita ini. Ia berkata,
هَذَا أَبُوْ الْهَيْثَمِ بَرِيْدُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنَ الْجِنِّ، وَسَيَأْتِيْ بَرِيْدُ الْإِنْسِ بَعْدَ ذَلِكَ.
"Inilah Abul Haitsam, kurir kaum muslimin dari kalangan Jin dan (sebentar lagi) akan datang kurir manusia setelah ini (memberitahukan kemenangan ini)." Ternyata, beberapa hari kemudian datanglah seseorang yang mengatakan bahwa kaum muslimin telah mendapatkan kemenangan. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, juz ke-19, kitab Ushul Fiqih, hal. 63). 

Kehidupan Jin
Allah swt berfirman, "Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu," (QS Al-An'am [06]: 38). Dari ayat ini bisa disimpulkan bahwa seluruh makhluk hidup, kehidupannya seperti manusia, berkeluarga, bermasyarakat dan berinteraksi dengan sesamanya. Demikian juga halnya dengan Jin. Ibnu Taimiyyah berkata,
فَأَحْوَالُهُمْ شَبِيهَةٌ بِأَحْوَالِ الْإِنْسِ، لَكِنَّ الْإِنْسَ أَعْقَلُ وَأَصْدَقُ وَأَعْدَلُ وَأَوْفَى بِالْعَهْدِ؛ وَالْجِنُّ أَجْهَلُ وَأَكْذَبُ وَأَظْلَمُ وَأَغْدَرُ.
"Kehidupan Jin sama seperti kehidupan manusia, akan tetapi manusia lebih berakal, jujur, adil dan menepati janji, sedangkan Jin dikenal lebih bodoh, suka berdusta, zalim dan ingkar janji."  (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, kitab Ushul Fiqih, juz ke-19, hal. 45).
 
Tempat Tinggal Jin
               Tidak ada satu jengkal tanah pun di muka bumi ini, melainkan ada Jin yang tinggal di sana, karena Jin juga sama-sama menempati bumi ini. Beberapa keterangan menyebutkan bahwa Jin ada yang tinggal di daratan, lautan, di dalam perut bumi dan di udara.
Bilal bin Harits meriwayatkan bahwa ketika ia bepergian bersama Rasulullah saw, tiba-tiba di tengah perjalanan beliau meminta berhenti untuk buang air, kemudian beliau pun pergi menjauh. Ketika aku akan membawa seember air untuk beliau, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara pertengkaran beberapa orang laki-laki yang menimbulkan suara gaduh yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Tidak lama kemudian, suara gaduh tersebut menghilang. Kemudian beliau berkata,  "Wahai Bilal, apakah ada air?" Aku menjawab, "Ya ada, aku telah menyiapkannya untuk Anda!" Beliau menjawab, "Engkau baik sekali!" Beliau pun segera mengambil air tersebut dan berwudhu. Pada saat itu, aku penasaran dengan suara gaduh yang aku dengar tadi, oleh karena itu aku ingin menanyakan hal itu kepada beliau,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، سَمِعْتُ عِنْدَكَ خُصُوْمَةَ رِجَالٍ وَلَغَطًا، مَا سَمِعْتُ أَحَدَّ مِنْ أَلْسِنَتِهِمْ؟!
"Wahai Rasulullah, tadi aku mendengar suara beberapa orang laki-laki berengkar. Aku belum pernah mendengar suara sekeras suara mereka."
Rasulullah saw bersabda,
اخْتَصَمَ عِنْدِيْ الْجِنُّ الْمُسْلِمُوْنَ وَالْجِنُّ الْمُشْرِكُوْنَ، سَأَلُوْنِيْ أَنْ أُسْكِنَهُمْ، فَأَسْكَنْتُ الْمُسْلِمِيْنَ الْجَلَسَ، وَأَسْكَنْتُ الْمُشْرِكِيْنَ الْغَوْرَ.
"Tadi Jin Islam dan Jin musyrik bertengkar di depanku. Mereka meminta agar aku menempatkan mereka masing-masing. Maka aku tempatkan Jin muslim di perkampungan dan pegunungan, sedangkan Jin musyrik aku tempatkan di goa-goa." (Al-Mu'jamul Kabir karya Imam Ath-Thabrani, juz ke-1, hadits no. 1143, hal. 492). 

Makanan Jin
               Ibnu Mas'ud berkata, "Ketika Rasulullah saw pergi ke alam Jin untuk membacakan Al-Quran, setelah beliau datang kembali ke hadapan para sahabat, beliau mengajak para sahabat pergi. Beliau memperlihatkan jejak Jin dan jejak bara apinya."
Ketika itu, Jin meminta bekal kepada Rasulullah saw. Maka beliau bersabda,
لَكُمْ كُلُّ عَظْمٍ ذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ، يَقَعُ فِيْ أَيْدِيْكُمْ أَوْفَرَ مَا يَكُوْنُ لَحْمًا، وَكُلُّ بَعْرَةٍ عَلَفٌ لِدَوَابِّكُمْ.
"Setiap tulang yang diiringi basmalah akan menjadi daging untuk kalian (Jin muslim), dan setiap kotoran unta akan menjadi makanan hewan tunggangan kalian."
Kemudian beliau melanjutkan sabdanya,
فَلَا تَسْتَنْجُوْا بِهِمَا، فَإِنَّهُمَا طَعَامُ إِخْوَانِكُمْ.
"Oleh karena itu, janganlah kalian (para sahabat) beristinja (cebok bukan dengan air) dengan tulang atau kotoran binatang (yang mengering sehingga seperti batu), karena keduanya adalah makanan saudara kalian (Jin muslim)." (HR Muslim, dari Abdullah bin Mas'ud. Mukhtashar Shahih Muslim, Kitab Fadhailil Quran, Bab Qiraatun Nabi Al-Quran Alal Jin, (Kitab Keutamaan Al-Quran, Bab Rasulullah saw Membacakan Al-Quran kepada Jin), hadits no. 2117 hal. 562).
Sedangkan makanan Jin kafir, Rasulullah saw telah menjelaskan di dalam sabdanya,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ أَنْ لَا يُذْكَرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ.
"Sesungguhnya setan berusaha agar makanan itu tidak disebutkan nama Allah atasnya.” (HR Muslim, dari Hudzaifah, Mukhtashar Shahih Muslim, Kitabul Athimah, Babut Tasmiyah Alath Tha'am, (Kitab Makanan, Bab Berdoa Sebelum Makan), hadits no. 1296, hal. 349).
               Rasulullah SAW mengajarkan agar kaum muslimin berkumpul ketika makan dan mengucapkan basmalah.
فَاجْتَمِعُوْا عَلَى طَعَامِكُمْ، وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ، يُبَارَكْ لَكُمْ فِيْهِ.
”Makanlah berjamaah (berkumpul) dan bacalah basmalah supaya makanan kalian diberkahi.” (HR Abu Dawud, dari Wahsyi bin Hareb dari bapaknya dari kakeknya, Sunan Abu Dawud, hadits no. 3764, hal. 538). 

Umur Jin
               Tidak diragukan lagi bahwa semua makhluk Allah tidak ada yang kekal, semuanya pasti binasa, karena semua mahkluk Allah masuk dalam kategori firman-Nya, "Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal," (QS Ar-Rahman [55]: 26-27).
               Di dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah saw pernah berdoa,
أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوْتُوْنَ. 
 "Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tidak ada tuhan selain Engkau yang tidak akan mati (kekal), sedangkan Jin dan manusia akan mati." (HR Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas, Mukhtashar Shahih Al-Bukhari, Kitabut Tauhid, (Kitab Tauhid), hadits no. 2127 hal. 735).
               Sedangkan umur Jin secara pastinya, hanya Allah-lah yang Mahatahu. Allah swt hanya memberitahu kita tentang umur nenek moyang Jin yaitu Iblis. Allah swt berfirman, "(Iblis) menjawab, "Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan. (Allah) berfirman, "Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu," (QS Al-A'raf [07]: 14-15).  Allah swt berfirman, "Ia (Iblis) berkata, "Ya Tuhanku, (kalau begitu), maka berilah penangguhan kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman, "(Baiklah), maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai hari yang telah ditentukan (Kiamat)," (QS Al-Hijr [15]: 36-38).
            Sedangkan umur umat Rasulullah saw, dalam haditsnya beliau pernah menjelaskan,
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ.
"Umur umatku hanya berkisar antara enam puluh sampai dengan tujuh puluh tahun, dan hanya sedikit sekali yang melebihi batasan ini." (HR Tirmidzi, dari Abu Hurairah. Jami At-Tirmidzi, hadits no. 3550, hal. 809). 
               Mungkinkah umur Jin juga berkisar antara enam puluh sampai dengan tujuh puluh tahun, mengingat Jin juga termasuk umat Nabi Muhammad saw? Karena yang disebut umat beliau adalah siapa saja yang terlahir setelah beliau diutus menjadi nabi dan rasul, baik yang kafir atau muslim, dari kalangan manusia maupun Jin.
               Wallahu A'lam.

Kemampuan Jin
               Secara singkat, di antara kemampuan Jin yang telah dijelaskan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah adalah:
a. Menyelam ke dasar lautan, membuat bangunan tinggi, patung-patung dan lain sebagainya.
Di dalam firman Allah swt dijelaskan bahwa Jin-jin (termasuk setan) ditugaskan oleh Nabi Sulaiman as untuk menyelam ke dasar lautan untuk mencari mutiara. "Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain itu, dan Kami yang memelihara mereka itu," (QS Al-Anbiya [21]: 82).
 Selain Jin penyelam, ada juga Jin yang bertugas mengerjakan pembuatan patung-patung untuk Nabi Sulaiman as.
Allah swt berfirman,  "Mereka (para Jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah), dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur," (QS Saba [34]: 13).
Di dalam tafsir Ibnu Katsir ada beberapa pendapat mengenai makna kalimat "min mahaariiba"  (gedung-gedung yang tinggi) yaitu:
1.       Istana-istana;
2.      Mesjid-mesjid;
3.      Istana-istana dan mesjid-mesjid;
4.     Rumah-rumah.
        Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat "wa tamaatsiila" (patung-patung) yaitu: 
  1. Gambar-gambar;
  2. Patung yang terbuat dari perunggu atau logam;
  3. Patung dari tanah dan kaca. (Tafsir Ibnu Katsir, juz ke-3, hal 530).

b. Berubah Wujud atau Menampakkan Diri
               Di dalam sejarah nabi, tercatat ada kasus penampakan Jin. Yaitu penampakan Jin di Darun Nadwah. Allah swt berfirman, "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu, dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya," (QS Al-Anfal [08]: 30).
Tiga tahun dari wafatnya Abu Thalib (paman Rasulullah saw yang selalu melindungi dan membela perjuangan beliau), orang-orang kafir Quraisy mulai berani melancarkan serangan secara terang-terangan kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Sahabat Ibnu Abbas berkata, "Suatu hari, seluruh tokoh kafir Quraisy berkumpul di Darun Nadwah (seperti DPR sekarang), untuk memusyawarahkan rencana pembunuhan terhadap diri Rasulullah saw. Pada saat itu, Iblis berhasil menyelinap masuk dan menjelma sebagai sosok seorang tokoh masyarakat. Pada saat itu, Iblis yang menjelma menjadi seorang tokoh masyarakat, terlihat oleh seorang tokoh kafir Quraisy. Ia pun langsung bertanya kepadanya, "Siapakah Anda?" Iblis menjawab, "Aku tokoh masyarakat dari Nejed." Aku mendengar kalian sedang rapat besar, aku jauh-jauh datang ke sini untuk memberikan beberapa masukan."
Setelah mendengar pengakuannya, semua tokoh kafir Quraisy pun mempersilahkannya untuk masuk mengikuti rapat mereka. Ketika rapat sedang berlangsung, ketika itu ada seseorang yang mengusulkan agar Nabi Muhammad dipenjarakan saja. Mendengar usulan ini, Iblis merasa keberatan, kemudian ia pun berkata, "Usaha kalian ini tidak akan berhasil. Sudah pasti Tuhannya Muhammad akan membebaskannya dari penjara!" Kemudian Iblis berkata kembali, "Pikirkanlah pendapat baru selain pendapat ini!" Setelah beberapa kali usulan dari para peserta rapat ditolak Iblis, Abu Jahal pun angkat bicara, "Aku punya ide. Bagaimana kalau kita kumpulkan saja beberapa orang pemuda dari beberapa kabilah Arab untuk membunuh Muhammad. Ketika Muhammad terbunuh, keluarganya tidak akan ada yang berani menuntutnya, karena mereka akan berhadapan dengan seluruh kabilah bangsa Arab!" Mendengar pendapat Abu Jahal ini, Iblis langsung menyetujuinya. (Tafsir Ibnu Katsir, juz ke-2, hal 313).

c. Menculik Manusia

1. Kisah di Zaman Rasulullah saw
Kisah ini sebenarnya bukan kisah penculikan, tetapi hanya kisah Rasulullah saw dibawa ke alam Jin. Di dalam hadits Shahih Muslim diceritakan tentang para sahabat yang kehilangan Rasulullah saw di suatu malam, sehingga mereka sangat mengkhawatirkan keselamatan diri beliau. Para sahabat merasakan bahwa malam itu adalah malam yang paling buruk yang pernah mereka alami, karena mereka kehilangan Rasulullah saw yang seharusnya dijaga.  Setelah dilakukan pencarian, para sahabat tetap tidak menemukan jejak Rasulullah saw. Seolah-olah beliau hilang ditelan bumi. Akan tetapi ketika hari menjelang pagi, tiba-tiba Rasulullah saw muncul dari arah Hira, berjalan menuju para sahabat.
Rasulullah saw bersabda,
أَتَانِيْ دَاعِيْ الْجِنِّ، فَذَهَبْتُ مَعَهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ.
"Seorang da'i Jin datang menemuiku, kemudian aku pergi bersamanya untuk membacakan Al-Quran di depan mereka." (HR Muslim, dari Amir, Mukhtashar Shahih Muslim, Kitab Fadhailil Quran, Bab Qiraatun Nabi Al-Quran Alal Jin, (Bab Rasulullah Membacakan Al-Quran kepada Jin), hadits no. 2117, hal. 562).

2. Kisah di Zaman Sahabat
Kisah ini tercantum di dalam kitab Subulus Salam Kitab Talaq (Bab Perceraian). Kisah ini berkenaan dengan seorang wanita yang kehilangan suaminya. Umar bin Khathab memfatwakan bahwa seorang wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya, kemudian tidak diketahui rimbanya, maka ia harus menunggu selama 4 tahun ditambah masa iddah (masa menunggu) selama 4 bulan 10 hari. Kisah ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq tentang seorang lelaki yang hilang. Laki-laki tadi bercerita, "Ketika aku memasuki Syi'ib [nama daerah di gurun pasir], aku ditawan oleh Jin kafir. Aku tinggal bersama mereka beberapa tahun lamanya." Kemudian sang istri yang merasa kehilangan suaminya akhirnya mendatangi Umar bin Khathab mengadukan hal ini (tentang suaminya yang hilang). Si istri menanyakan kepada Umar tentang hukum perkawinannya, apakah boleh menikah lagi atau tidak boleh, dan kalau boleh, kapan waktunya? Masalah ini menyangkut iddah (masa penantian seorang istri yang dicerai atau ditinggal wafat suaminya). Umar bin Khathab menyuruh wanita tersebut untuk menunggu selama empat tahun sejak perkara ini dibawa ke hadapan Umar bin Khathab. Setelah itu, Umar memanggil wali dari suami yang hilang tadi agar menceraikannya. Kemudian setelah diceraikan, Umar menyuruhnya agar menunggu (beriddah) selama empat bulan sepuluh hari. Setelah aku dibebaskan, kata si lelaki tersebut (yang ditawan Jin), ternyata istriku telah menikah lagi dengan pria lain.
Dalam riwayat lain dikatakan, "Ketika itu, ia datang menghadap Umar, dan berkata,  "Ketika aku pergi ke mesjid hendak shalat Isya, aku ditawan oleh sekelompok Jin kafir, sehingga aku menetap (ditawan) oleh mereka dalam waktu yang cukup lama. Pada suatu hari, datanglah sekelompok Jin muslim memerangi Jin kafir yang telah menawanku sehingga mereka (Jin muslim) bisa mengalahkan Jin-jin kafir tersebut. Kemudian mereka juga menawan semua Jin kafir tersebut, termasuk aku ikut ditawan." Ketika mereka melihat aku, mereka pun berkata,
نَرَاك رَجُلًا مُسْلِمًا، لَا يَحِلُّ لَنَا سِبَاؤُك، فَخَيَّرُوْنِيْ بَيْنَ الْمُقَامِ وَبَيْنَ الْقُفُوْلِ، فَاخْتَرْتُ الْقُفُوْلَ إِلَى أَهْلِيْ فَأَقْبَلُوْا مَعِيْ.
"Kami lihat engkau adalah seorang muslim. Tidak boleh bagi kami untuk menawan seorang muslim. Aku disuruh memilih antara menetap bersama mereka atau pergi ke dunia. Aku memilih pergi ke dunia kembali berkumpul dengan keluargaku dan mereka pun mengabulkan keinginanku."
Kalau malam hari, mereka tidak pernah mengajakku bercakap-cakap, dan kalau siang hari selalu ada  hembusan angin mengikuti mereka.
Umar bertanya,
فَمَا كَانَ طَعَامُكَ فِيْهِمْ؟
"Apakah yang menjadi makananmu selama hidup bersama mereka di alam Jin?"
Ia menjawab,
الْفُوْلُ وَمَا لَا يُذْكَرُ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ.
"Makananku adalah sejenis kacang-kacangan dan makanan yang dimakan tidak membaca basmalah."
Umar bertanya kembali, 
فَمَا كَانَ شَرَابُكَ؟
"Sedangkan minumannya, apa yang engkau minum?"
Ia menjawab,
الْجَدْفُ.
"Aku minum al-jadfu."
قَالَ قَتَادَةُ وَالْجَدْفُ مَا لَا يُخَمَّرُ مِنَ الشَّرَابِ.
Qatadah berkata bahwa yang dimaksud dengan al-jadfu adalah minuman yang tidak dipermentasikan. (Subulus Salam karya Ash-Shan'ani, Kitabuth Thalaq, Babul Iddah wal Ihdad wal Istibra wa Ghaira Dzalik, (Kitab Talak (Perceraian), Bab Iddah, Ihdad dan Istibra), juz ke-3 hal. 393).

3. Kisah di Zaman Sekarang
               Alkisah, ada seorang anak kecil berumur lima tahun. Si anak hidup bersama ayah dan bundanya di sebuah rumah yang cukup bagus.
               Suatu hari, ketika si anak sedang bermain-main di rumahnya, tanpa sengaja tangannya menyenggol vas bunga sehingga jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Si ibu yang sedang asyik memasak di dapur dikejutkan oleh suara benda yang jatuh ke lantai. Tatkala dilihat, si ibu kaget melihat vas bunga kesayangannya pecah berkeping-keping. Secara spontanitas, si ibu langsung menjewer telinga anaknya dan memukuli punggungnya berkali-kali. Tidak puas dengan pukulan, maka si ibu pun memasukkan anaknya yang baru berumur lima tahun tersebut ke dalam kamar mandi dan dikunci dari luar. Dari dalam kamar mandi, si anak hanya bisa menangis. Ibu…buka...ibu buka pintunya….!
               Si ibu yang terlanjur marah tidak mau membukakan pintunya. Setelah seharian berlalu, si ibu tersadar bahwa anaknya masih terkurung di dalam kamar mandi. Tetapi apa yang terjadi…alangkah kagetnya si ibu ketika pintu kamar mandi dibuka, si anak ternyata tidak ada di dalam kamar mandi! Si ibu tersebut hanya mendengar suara tangisan anaknya saja, sedangkan tubuhnya tidak terlihat. Maka berlarilah si ibu menemui tetangganya meminta pertolongan. Semua tetangganya yang datang dan melihat ke kamar mandi tersebut. Tetapi mereka hanya bisa mendengar suara tangisan si anak tanpa bisa melihat wujudnya.
               Akhirnya si ibu pergi menemui seorang syaikh yang bernama Syaikh Ahmad Al-Khalili, seorang mufti (pemberi fatwa) di Kesultanan Oman. Maka Syaikh Ahmad Al-Khalili pun berkata,
إِنَّ ابْنَكُمْ تَمَّ اخْتِطَافُهُ مِنْ قِبَلِ الْجِنِّ، وَ الْحَلُّ أَنْ تَنْتَظِرُوْا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ، أَقِيْمُوْا عَلَيْهِ الْعَزَا.
"Sesungguhnya anakmu telah ditangkap oleh Jin. Jalan keluarnya yaitu kalian harus menunggu selama tiga hari. Apabila anakmu tidak nampak, (tidak muncul kembali), maka bertakziyahlah (anggaplah telah wafat)." Syaikh Ahmad hanya bisa menyalahkan si ibu yang telah mengurung anaknya di dalam toilet, sebuah tempat yang biasa didiami oleh Jin. (Kisah ini tepatnya terjadi pada tanggal 02 April 2002 di Kesultanan Oman). (Lihat di www.al3zof.com).
               Wallahu A'lam.

Kelemahan Jin
Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa Jin lebih kuat daripada manusia. Mengapa Jin bisa lebih kuat dari manusia? Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi pernah memberikan sebuah perumpamaan. Beliau berkata, “Apabila temanmu membawa sebuah apel, dan unsur apel banyak dipengaruhi oleh unsur tanah. Maka ketika temanmu meletakkan apel tersebut di belakang sebuah tembok, apakah engkau bisa merasakan keberadaannya.? Tentu engkau tidak bisa merasakannya. Kenapa? Karena sebuah apel yang banyak dipengaruhi oleh unsur tanah tidak bisa melawan dinding yang juga terbuat dari tanah. Akan tetapi, ketika temanmu menyalakan api unggun di belakang tembok dan engkau duduk menghadap tembok tersebut dari arah depannya, maka selang beberapa menit, engkau akan merasakan hawa panas yang menyeruak dari balik tembok tersebut. Hal ini terjadi dikarenakan unsur api gerakannya lebih cepat daripada unsur tanah.” (As-Sihru wal Hasad, hal. 35)
               Akan tetapi, di dalam Al-Quran Allah swt telah mengingatkan kita dengan firman-Nya, "Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah," (QS An-Nisa [04]: 76).
Di antara kelemahan Jin (setan), yaitu:
a. Tidak mampu menggoda hamba Allah yang saleh. 
Allah swt berfirman, "Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka, dan cukuplah Tuhan-mu sebagai penjaga," (QS Al-Isra [17]: 65).
Hal ini telah disadari oleh Jin (Iblis dan antek-anteknya). Oleh karena itu, Iblis berkata kepada Allah,  "Ia (Iblis) berkata, "Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan  aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka,"  (QS Al-Hijr [15]: 39-40).
b. Tidak mampu menggoda hamba Allah yang konsisten dengan kebenaran.
Sosok Umar yang tegas dan konsisten dengan kebenaran sangat ditakuti oleh semua setan, baik setan dari manusia maupun setan dari Jin.
Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ يَا عُمَرُ.
“Wahai Umar, sesungguhnya setan sangat takut padamu!” (HR Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, juz ke-5, Manaqib Umar bin Khathab, hadits no. 3773 hal. 283).   
وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ.
"Demi Allah, wahai Umar, setiap kali setan bertemu dengamu di sebuah lorong, setan selalu mencari lorong yang lain (tidak mau bertemu dengan Umar)." (HR Muslim, dari Sa'ad bin Abi Waqqash, Mukhtashar Shahih Muslim, Kitab Fadhaili Ashabin Nabi, Bab Fadhail Umar bin Khthab, (Kitab Keutamaan Para Sahabat Nabi, Bab Keutamaan Umar bin Khathab), hadits no. 1633 hal. 432).
               Setan juga akan merasa takut terhadap semua hamba Allah yang istiqamah dan konsisten dengan kebenaran, tidak dikhususkan hanya untuk Umar.
Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُنْضِيْ شَيَاطِيْنَهُ كَمَا يُنْضِيْ أَحَدُكُمْ بَعِيْرَهُ فِيْ السَّفَرِ.
"Sesungguhnya seorang mukmin mampu mengendalikan setan-setannya seperti seseorang mampu mengendalikan untanya ketika bepergian." (Tafsir Ibnu Katsir, tentang surah Al-Isra [17]: 65, dari Abu Hurairah, juz ke-3 hal. 53).

c. Jin tidak mampu meniru mukjizat para nabi, khususnya Al-Qur`an Al-Karim
Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang kafir Quraisy pernah mengatakan bahwa Al-Quran adalah hasil rekayasa setan. Tetapi Allah swt membantah perkataan mereka. Allah swt berfirman, "Dan (Al-Quran) itu tidaklah dibawa turun oleh setan-setan, dan tidaklah pantas bagi mereka (Al-Quran itu), dan merekapun tidak akan sanggup. Sesungguhnya untuk mendengarkannya pun mereka dijauhkan," (QS Asy-Syu'ara [26]: 210-212).
Allah swt berfirman, "Katakanlah, "Sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling  membantu satu sama lain," (QS Al-Isra [17]: 88).
d. Jin tidak bisa menyerupai wajah Rasulullah saw.
Rasulullah saw bersabda,
مَنْ رَآنِيْ فِيْ الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِيْ الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِيْ.
"Barangsiapa yang memimpikan aku, ia akan melihatku di saat terjaganya, karena setan tidak bisa menyerupai wajahku." (HR Muslim, dari Abu Hurairah. Mukhtashar Shahih Muslim, Kitabur Ru'ya, Bab Qaulin Nabi Man Ra-ani fil Manam Faqad Ra-ani, (Kitab Mimpi, Bab Sabda Nabi, "Barangsiapa yang memimpikan aku, maka ia telah melihatku," hadits no. 1515, hal. 400).
e. Jin tidak mampu menembus lapisan langit tertentu.
               Jin telah diciptakan Allah memiliki banyak kemampuan, di antaranya kemampuan untuk terbang. Jin mampu menembus langit, tetapi ada batas-batas langit yang tidak bisa ditembus oleh Jin. Kalau ada sekelompok Jin yang berusaha untuk menembusnya, maka mereka akan mati tertembus panah-panah api para malaikat penjaga langit. Allah swt berfirman, "Dan sesungguhnya kami (Jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami (Jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang, siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya)," (QS Al-Jinn [72]: 8-9). (Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya mengutip sebuah riwayat dari Imam Thabari dari Said bin Jubair bahwa Ibnu Abbas berkata, "Dahulu setan mempunyai beberapa tempat di langit untuk mendengar berita langit. Setan-setan bisa dengan tenang menguping berita langit dan tidak diganggu atau dillarang sedikit pun oleh Allah. Ketika setan telah mendengar berita langit tersebut, maka setan akan langsung membawanya ke bumi disampaikan kepada para pemujanya (para dukun) dengan ditambah berita dusta. Tetapi setelah Nabi Muhammad saw diutus, setan tidak bisa lagi menguping berita langit. Justru mereka semua dilempari panah api oleh para malaikat. Akhirnya setan-setan pun pergi menemui Iblis dan mengadukan hal ini. Iblis berkata, "Pasti telah terjadi sesuatu di bumi." Maka Iblis pun menugaskan setan-setan untuk meneliti hal ini. Ternyata setan-setan tersebut menemukan Rasulullah saw sedang shalat Subuh berjamaah dengan para sahabat di sebuah dataran yang banyak ditumbuhi pohon kurma. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz ke-4, pembahasan surah Ash-Shaffat [37]:10, hal. 4).
f. Jin tidak mampu membuka pintu yang ditutup dan diiringi basmalah.
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوْا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوْهُمْ، فَأَغْلِقُوْا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوْا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ، وَخَمِّرُوْا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوْا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوْا مَصَابِيْحَكُمْ.
"Apabila hari menjelang malam atau ketika hari beranjak sore, tahanlah anak-anak kalian (jangan keluar rumah), karena setan sedang berkeliaran pada saat itu. Apabila telah berlalu beberapa saat, lepaskanlah anak-anak kalian. Kuncilah pintu dan bacalah basmalah, karena setan tidak akan mampu membuka pintu yang terkunci dan tutup lah semua perabotan kalian walaupun hanya ditutup oleh sebuah benda, bacalah basmalah serta padamkanlah lampu penerangan kalian." (HR Muslim, dari Jabir bin Abdullah. Mukhtashar Shahih Muslim, Kitabul Asyribah, Bab Ghaththul Ina wa Aukus Saqa, (Kitab Minuman, Bab Menutup Perabotan), hadits no. 1281, hal. 346).

Hukum Berinteraksi dengan Jin
Di dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya meminta pertolongan atau berteman kepada Jin.

a. Haram
(Di dalam situs www.salafy.or.id tertanggal 26 Feb. 2004 dicantumkan tentang haramnya meminta pertolong Jin untuk mengetahui penyakit yang sedang diderita seseorang, mengutip fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa, Saudi Arabia).
Pertanyaan: Apa hukum meminta pertolongan Jin untuk mengetahui adanya hipnotis atau sihir, mempercayai omongan Jin yang merasuki tubuh seseorang dan mengatakan bahwa si penderita terkena serangan sihir, hipnotis dan lain sebagainya (menurut pengakuan si Jin)?
Jawaban: Tidak boleh meminta bantuan Jin untuk mengetahui penyakit yang sedang diderita seseorang, atau untuk mengobatinya. Karena meminta pertolongan Jin termasuk perbuatan syirik. Hal ini didasari oleh firman Allah swt, “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari Jin, tetapi mereka (Jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat,” (QS Al-Jin [72]: 6), juga firman Allah swt, "Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), “Wahai golongan Jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.” Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah datang.”  Allah berfirman, “Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.” Sungguh, Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui,” (QS Al-An'am [06]: 128). Arti “kami telah saling mendapatkan kesenangan” maksudnya yaitu Jin dan manusia sama-sama mendapatkan kesenangan. Karena manusia telah memuliakan Jin dan Jin membantu dan memenuhi seluruh permintaan manusia. Misalnya  memberitahukan kepada manusia jenis penyakit dan sebab-musababnya yang hanya diketahui oleh Jin dan tidak diketahui oleh manusia. Tetapi, terkadang Jin berdusta, karena mereka memang tidak bisa dipercaya dan kita tidak boleh mempercayainya. Wallahu A'lam).
Para ulama telah berfatwa menjelaskan tentang haramnya meminta perlindungan atau pertolongan kepada Jin. Landasan diharamkannya meminta perlindungan kepada Jin adalah firman Allah swt,
                                    
"Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari Jin, tetapi mereka (Jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat," (QS Al-Jin [72]: 06).

b. Tergantung Niat
Ibnu Taimiyyah berkata di dalam kitabnya Majmu Fatawa bahwa pertemanan antara Jin dengan manusia atau manusia dengan Jin dikelompokan menjadi beberapa kelompok, di antaranya:
  1. Siapa saja orangnya yang bisa menyuruh Jin untuk taat kepada Allah swt dan rasul-Nya dan ia juga menyuruh orang lain dengan hal yang sama, maka ia adalah sebaik-baik hamba Allah. Ia laksana seorang utusan Allah swt yang bertugas menyuruh manusia dan Jin ke jalan yang benar.
  2. Siapa saja orangnya yang bisa menyuruh Jin dalam hal-hal yang dibolehkan, maka ia sama halnya dengan menyuruh seorang manusia untuk mengerjakan hal-hal yang dibolehkan. Contohnya menyuruh agar menunaikan sebuah kewajiban atau menjauhi sebuah larangan dan lain sebagainya. Ketika dirinya bisa menyuruh Jin dalam hal-hal yang dibolehkan (tidak terlarang), maka ia seolah-olah  seorang raja yang memang sering bersikap seperti itu.
  3. Siapa saja orangnya yang berinteraksi dengan Jin dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya, contohnya dengan menyekutukan Allah, membunuh seseorang atau menyakitinya seperti dibuat sakit, hilang ingatan dan lain sebagainya. Maka dalam hal ini, si pelaku dan Jin dianggap telah bekerja sama dalam permusuhan dan dosa (keduanya berdosa).
  4. Siapa saja orangnya yang bekerja sama dengan Jin dalam kekufuran, maka para pelakunya dan Jin dihukumi kafir.
  5. Siapa saja orangnya yang bekerja sama dengan Jin dalam kemaksiatan (berbuat dosa), maka para pelakunya dan Jin akan menanggung dosanya.
  6. Siapa saja orangnya yang bekerja sama dengan Jin dengan melakukan hal-hal di luar kewajaran, seperti bisa terbang dan lain sebagainya, maka perbuatannya ini termasuk dalam kategori penipuan kepada orang lain dan sebagian besar manusia tidak mengerti bahwa hal tersebut bisa terjadi karena bantuan dari Jin. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, juz ke-11, kitab Tasawuf, hal. 307).

c. Pendapat Syaikh Abdullah bin Muhammad As-Sadhan
Abdullah bin Muhammad As-Sadhan pernah ditanya tentang hal mempekerjakan Jin saleh. Beliau menjawab, "Mempekerjakan Jin saleh dibolehkan oleh sebagian para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah." Menurutku (As-Sadhan), mempekerjakan Jin saleh secara teori memang dibolehkan, tetapi sulit dipraktekkan karena beberapa alasan. Di antaranya,
  1. adanya bahaya tersembunyi dari tipu daya Jin yang tidak kita ketahui;
  2. adanya kemungkinan besar terjadinya penipuan dari Jin; mengaku Jin muslim padahal Jin kafir;
  3. adanya titik kerawanan, yaitu ketidaktahuan manusia terhadap Jin, karena kita tidak bisa melihat mereka, jujurkah mereka atau malah berdusta;
  4. dengan meminta bantuan Jin mencerminkan bahwa pelakunya adalah manusia yang kurang bertawakal kepada Allah atau kurang percaya akan pertolongan-Nya. 
  5. Jin terkadang suka mengesankan kepada manusia bahwa mereka adalah Jin saleh, seperti dengan menyuruh seseorang untuk melakukan ketaatan tertentu seperti berdzikir, berpuasa, tidak berbuat dosa dan lain sebagainya. Tujuannya agar Jin ditaati oleh manusia; dan adanya perbedaan unsur penciptaan Jin. (Sembuhkanlah Penyakitmu dengan Ruqyah Syar'iyyah, cet. ke-1, Darus Sunnah Jakarta, hal. 171).  

Kesurupan Jin
Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa ada 3 penyebab utama kesurupan manusia oleh Jin. Di antaranya:
وَصَرْعُ الْجِنِّ لِلْإِنْسِ هُوَ لِأَسْبَابِ ثَلَاثَةٍ:
1.      تَارَةً يَكُوْنُ الْجِنِّيُّ يُحِبُّ الْمَصْرُوْعَ فَيَصْرَعُهُ لِيَتَمَتَّعَ بِهِ، وَهَذَا الصَّرْعُ يَكُوْنُ أَرْفَقَ مِنْ غَيْرِهِ وَأَسْهَلَ.
2.      وَتَارَةً يَكُوْنُ الْإِنْسِيُّ آذَاهُمْ، إذَا بَالَ عَلَيْهِمْ أَوْ صَبَّ عَلَيْهِمْ مَاءً حَارًّا، أَوْ يَكُوْنُ قَتَلَ بَعْضَهُمْ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ الْأَذَى، وَهَذَا أَشَدُّ الصَّرْعِ وَكَثِيْرًا مَا يَقْتُلُوْنَ الْمَصْرُوْعَ،
3.      وَتَارَةً يَكُوْنُ بِطَرِيْقِ الْعَبَثِ بِهِ، كَمَا يَعْبَثُ سُفَهَاءُ الْإِنْسِ بِأَبْنَاءِ السَّبِيلِ.  
Kesurupan manusia oleh Jin bisa disebabkan oleh tiga faktor:
  1. Terkadang Jin mencintai manusia dan si Jin mengganggunya hanya untuk mencari kesenangan semata. Jenis kesurupan ini sangat mudah untuk disembuhkan.
  2. Terkadang Jin merasa dizalimi oleh manusia, seperti tersiram air panas atau terkencingi seseorang. Kesurupan jenis ini paling susah untuk disembuhkan, dan terkadang si Jin bisa mencelakai manusia. (Contoh kasus: Majalah Ghoib pernah memuat kisah nyata seorang ibu yang dikeroyok Jin karena sering menumpahkan air panas ke dalam lubang toilet. Ternyata Jin-jin yang tinggal di dalam lubang toilet tersebut merasa terusik (tersakiti) oleh siraman air panas yang ditumpahkan tanpa diiringi bacaan basmalah). (Majalah Ghoib, edisi 20 tahun 2/Jumadal Ula 1425 H./12 Juli 2004 M).
  3. Terkadang Jin mempermainkan seseorang, seperti yang biasa dilakukan seorang yang iseng terhadap anak-anak jalanan. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, jilid ke-13, kitab Muqaddimah Tafsir, hal. 82).

Jin Jatuh Cinta kepada Manusia
               Apabila ada indikasi seseorang dicintai oleh Jin, maka anjurkanlah agar si pasien berhati-hati, karena tujuan utama Jin mencintai seseorang yaitu untuk bersenang-senang. (Biasanya seseorang yang dicintai oleh Jin (baik laki-laki/perempuan) akan selalu merasa susah untuk mendapatkan jodoh (walaupun ada juga seseorang yang tidak dicintai Jin tetapi susah juga menemukan jodohnya. Memang Allah swt yang belum mempertemukan dengan jodohnya). Setiap kali dipertemukan (ta’aruf), maka akan selalu merasa tidak ada kecocokan.
Para ulama telah menyebutkan bahwa bersenang-senangnya Jin dengan manusia yang dicintainya bisa terjadi di dalam tiga kategori di bawah ini, di antaranya:
1.       Jin bersetubuh dengan manusia di dalam mimpinya.
2.      Jin menyetubuhi seseorang ketika sedang terjaga, tetapi ia tidak kuasa menolaknya.
3.      Jin berhasil menyetubuhi seseorang setelah si Jin berubah wujud menjadi manusia. Misalnya merubah wujudnya menjadi sesosok suami/isteri si korban tersebut. (Wallahu A'lam).

Oleh karena itu, berlindunglah kepada Allah SWT agar tidak menjadi korban Jin dengan melakukan beberapa tips di bawah ini:
  1. Jangan tidur sendirian.
  2. Jangan tidur telanjang atau hanya memakai pakaian tipis.
  3. Meminyaki bagian sensitif sebelum tidur dengan minyak zaitun yang telah diruqyah.
  4. Selalu membaca doa berpakaian, yaitu membaca doa:
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ.
"Dengan nama Allah yang tidak ada tuhan selain Dia." (Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi, dari Anas bin Malik, hadits no. 53 hal. 22. Doa ini dibaca supaya aurat kita tidak terlihat oleh Jin).
  1. Selalu membaca doa-doa perlindungan pagi dan sore, terutama doa sebelum tidur.
  2. Selalu menjalankan seluruh kewajiban setiap muslim, dan menjauhi dosa-dosa.
  3. Membaca beberapa ayat di bawah ini: "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat adzab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat adzab-Nya (niscaya mereka menyesal)," (QS Al-Baqarah [02]: 165).
Wallahu A’lam.

Apakah Mungkin Terjadi Pernikahan antara Jin dengan Manusia?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan di dalam kitabnya Majmu Fatawa tentang pernikahan manusia dengan Jin,
وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ ذَلِكَ وَتَكَلَّمُوْا عَلَيْهِ، وَكَرِهَ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ مُنَاكَحَةَ الْجِنِّ.
"Para ulama telah membahas mengenai pernikahan manusia dengan Jin, dan mayoritas para ulama membenci pernikahan manusia dengan Jin." (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah, juz ke-19, kitab Ushul Fiqih, hal. 39).
               Majalah Ghoib pernah mengupas masalah ini sebagai berikut, “Berkaitan dengan kemungkinan manusia melakukan hubungan seksual dengan Jin, di antara para ulama seperti Imam Mujahid, A'masy, Qatadah dan sebagian dari para pengikut madzhab Imam Hanbali dan Imam Hanafi berpendapat bahwa hal itu mungkin saja bisa terjadi, tetapi sangat jarang dan langka.” Kelangkaan hal ini dikarenakan dua hal, di antaranya: (1) Tabiat dan karakter Jin yang tidak sama dengan tabiat dan karakter manusia. Jin sangat halus, ruang geraknya cepat dan tidak nampak secara kasat mata. (2) Dilihat dari aspek sosial.  Jika memang ada seseorang yang bisa menikahi Jin, atau sebaliknya, maka Imam Syibli pernah berkata bahwa Anas bin Malik pernah ditanya, "Apakah Jin bisa menikah dengan manusia?" Maka Anas bin Malik menjawab, "Aku tidak menafikan kemungkinan terjadinya hal itu dari sudut pandang agama Islam. Akan tetapi aku benci jika nanti ada seorang wanita yang sedang hamil, kemudian ditanya, "Siapa suamimu?" Ia menjawab, "Suamiku adalah Jin."  Islam pun melarang pernikahan Jin dengan manusia atau manusia dengan Jin karena dua alasan, yaitu: (1) Ayat ke-72 surah An-Nahl [16] dan ayat ke-21 surah Ar-Rum [30] secara tegas Allah swt telah menyatakan bahwa pasangan hidup manusia adalah dari jenis manusia itu sendiri."Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri…," (QS An-Nahl [16]: 72). "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya…, " (QS Ar-Rum [30]: 21). (2) Pernikahan dengan Jin bertentangan dengan tujuan pernikahan itu sendiri, yaitu terciptanya kenyamanan, silaturahmi, kejelasan garis keturunan, dan lain-lain. Jika ada seseorang yang menikah dengan Jin, maka poin-poin dari hikmah sebuah pernikahan tidak akan terwujud, karena ketidak jelasan garis keturunan dan kerabat si Jin tersebut, bahkan wujud aslinya pun tidak bisa dilihat. Allah swt berfirman,  "Maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat." (QS An-Nisa [04]: 03). Kata an-nisa (perempuan atau wanita) menurut Syaikh Usamah Al-Ma'ani adalah sebutan untuk nama perempuan atau wanita dari anak cucu Adam, dan bukan dari Jin. (Majalah Ghoib edisi 2 tahun 2/15 Dzulqa'dah 1425 H./27 Desember 2004 M).
Wallahu A'lam.

Tanda-tanda Jin Mendiami Rumah Seseorang
Ada beberapa indikasi atau ciri-ciri sebuah rumah yang dihuni oleh Jin yang telah penulis kumpulkan dari keterangan beberapa orang. Di antara indikasi atau ciri-ciri tersebut adalah:
  1. Ketika memasuki rumah, jantung sering berdegup dengan kencang atau bulu kuduk sering berdiri;
  2. Tiba-tiba pintu kamar yang terbuka tiba-tiba tertutup dengan sendirinya dan terkunci dari dalam sehingga si pemilik rumah tidak bisa masuk ke dalam kamarnya. Berkenaan dengan ini, ada sebuah hadits Rasulullah saw yang berisi perintah untuk menutup benda-benda di rumah dengan membaca basmalah sebelumnya agar tidak dibuka oleh setan. Karena setan tidak mampu untuk membuka pintu atau benda lainnya yang ditutupkan diiringi bacaan basmalah.
Rasulullah saw bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ نُبَاحَ الْكِلَابِ وَ نَهِيْقَ الْحَمِيْرِ مِنَ اللَّيْلِ فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُنَّ يَرَيْنَ مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَقِلُّوْا الْخُرُوْجَ إِذَا هَدَأَتِ الْأَرْجُلُ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبُثُّ مِنْ خَلْقِهِ مِنْ لَيْلَةٍ مَا شَاءَ، وَأَجِيْفُوْا الْأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوْا اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا أُجِيْفَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ، وَغَطُّوْا الْجِرَارَ وَاكْفُوْا الْآنِيَةَ، وَأَوْكُوْا الْقِرَبَ.

"Apabila kalian mendengar gonggongan anjing atau ringkikan keledai di malam hari, berlindunglah kepada Allah swt karena kedua binatang tersebut telah melihat sesuatu (setan) yang tidak bisa kalian lihat, dan janganlah kalian keluar rumah apabila kaki telah diistirahatkan, karena pada suatu malam Allah akan menyebarkan makhluk-Nya berkeliaran. Oleh karena itu, tutuplah pintu rumah dan ucapkanlah basmalah, karena setan tidak bisa membuka pintu yang ditutupkan dan diiringi bacaan basmalah, tutuplah semua perabotan kalian." (HR Ahmad, Al-Musnad, Darul Hadits Riyadh, juz ke-11, hadits no. 14217, hal. 403).  
  1. Penghuni rumah sering melihat binatang buas masuk ke rumahnya. Misalnya sering melihat ada ular di dalam rumah, pernah melihat segumpal awan putih bergerak-gerak;
  2. Penghuni rumah sering mendengar derap kaki melangkah di atas langit-langit rumah atau dari kamar sebelah;
  3. Penghuni rumah sering mendengar suara seseorang yang memanggil, padahal tidak ada siapa-siapa;
  4. Penghuni rumah sering menerima lemparan kerikil;
  5. Penghuni rumah sering merasa diikuti oleh seseorang, tetapi ketika menengok ke belakang tidak ada siapa-siapa;
  6. Penghuni rumah sering merasa tidak betah tinggal di rumah, selalu ingin pergi ke luar rumah;
  7. Penghuni rumah sering merdengar suara-suara yang menakutkan di malam hari, seperti suara seseorang menangis, merintih, tertawa dan lain sebagainya.
  8. Peralatan elektronika seperti tape, radio, televisi yang ada di rumah tiba-tiba menyala sendiri, padahal sedang pada posisi off;
  9. Penghuni rumah sering bermimpi buruk;
  10. Si kecil selalu rewel; pada jam-jam tertentu selalu menangis tanpa sebab, merasa dicubit oleh seseorang; bisa melihat sesosok makhluk yang menakutkan menggelayut di atas langit-langit rumah;
  11. Tiba-tiba angin bertiup kencang;
  12. Tiba-tiba sebuah benda pecah dengan sendirinya atau menghilang;

Tips Mengusir Jin dari Rumah
Rasulullah saw telah menjelaskan bahwa di antara rumah atau daerah yang tidak akan dimasuki setan (Jin) di antaranya:
1.Rumah yang sering dibacakan surah Al-Baqarah.
Rasulullah saw bersabda,
لَا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.
"Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan surah Al-Baqarah."  (Shahih Muslim, Kitab Shalatul Musafirin wa Qishariha, Bab Istihbab Shalatin Nafilah fi Baitihi wa Jawaziha fil Masjid (Kitab Shalat Seorang Musafir dan Shalat Qashar, Bab Anjuran Shalat Sunnah di dalam Rumah dan Dibolehkan Dilakukan di dalam Masjid), Darus Salam Riyadh, hadits no. 1824, hal. 317).
2. Daerah yang sering dikumandangkan adzan.
Rasulullah saw bersabda,  
أَيُّمَا قَوْمٍ نُوْدِيَ فِيْهِمْ بِالْأَذَانِ صَبَاحًا إِلَّا كَانُوْا فِيْ أَمَانِ اللهِ حَتَّى يُمْسُوْا، وَأَيُّمَا قَوْمٍ نُوْدِيَ عَلَيْهِمْ بِالْأَذَانِ مَسَاءً إِلَّا كَانُوْا فِيْ أَمَانِ اللهِ حَتَّى يُصْبِحُوْا.
"Penduduk kampung mana saja yang mengumandangkan adzan di pagi hari, maka mereka akan berada di dalam lindungan Allah sampai sore hari, dan penduduk kampung mana saja yang mengumandangkan adzan di sore hari, maka mereka akan berada dalam lindungan Allah sampai pagi hari." (Al-Mu'jamul Kabir karya Imam Ath-Thabrani dari Ma'qil bin Yasar, hadits no. 498, juz ke-20, hal. 215).
وَإِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمُ الْغِيْلَانُ فَنَادُوْا بِالْأَذَانِ.
"Apabila Jin menampakan diri, maka kumandangkanlah adzan." (HR Ahmad, dari Jabir bin Abdulah. Al-Musnad, Darul Hadits Kairo, cet. ke-1 1995 M./1416 H., juz ke-11, hadits no. 14211, hal. 400).    
Dalam hal ini, para ulama telah menyebutkan beberapa tips untuk menyelamatkan rumah dari gangguan Jin, di antaranya:             
  1. Jangan membicarakan Jin sembarangan. Seperti jangan membicarakan Jin dengan nada menghina, meremehkan atau mencemoohkan mereka tanpa sebab;
  2. Jangan masuk rumah tanpa doa. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa ketika memasuki sebuah rumah kemudian membaca doa, 'Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya, maka ia tidak akan diganggu oleh sesuatu apapun sampai meninggalkan (pergi dari) rumah tersebut." (HR Muslim)
  3. Jangan melakukan kemaksiatan di rumah;
  4. Jangan lupa membaca Al-Quran di rumah;
  5. Jangan menumpahkan air panas sembarangan. Jangan ditumpahkan di lubang-lubang air, tunggulah beberapa saat sehingga airnya menjadi dingin. Setelah dingin, bacalah basmalah dan tumpahkanlah air tersebut;
  6. Jangan memelihara anjing, kecuali anjing untuk berburu;
  7. Jangan memperdengarkan suara musik di rumah; dan
  8. Jangan menghiasi rumah dengan patung, kayu salib dan gambar-gambar makhluk hidup.
Wallahu A'lam.
































Tidak ada komentar:

Posting Komentar