Minggu, 17 Juni 2012

Sufi

Bentuk-Bentuk Penghinaan Thariqat Naqsyabandi Haqqani
(ditulis dari berbagai sumber, oleh Tim Ar-Risalah Institute)
1. Menghina Para Nabi dan Rasul
Di dalam buku yang berjudul Rahasia Tiga Cahaya – Rahasia Di Balik Bilangan Tiga karangan Mawlana Syaikh Hisham Kabbani pada hal. 82 s.d. 83 terdapat tulisan dengan sub judul “Tiga Karakter Auliya,” isi tulisan tersebut adalah:
Bismillaahhir Rahmaanir Rahiim
Gransyeh Abdullah qs menggambarkan bagaimana seorang darwis bisa diterima sebagai hamba Allah yang Maha Kuasa, yaitu pertama dengan cara:
"Dia harus memiliki satu sifat dari masing-masing tiga jenis hewan," ujar beliau. “Dari keledai, dia harus mampu membawa beban dengan kesabaran dan tanpa rasa keberatan. Kecuali dia mampu melakukan hal ini, dia tidak akan berhasil, karena tanpa kesabaran, seseorang tidak bisa membawa tanggung jawab hidup.”
"Dari anjing, dia harus belajar kesetiaan kepada tuannya. Bila tuannya memerintahkan anjing itu untuk diam di suatu tempat sampai tuannya kembali, anjing tersebut akan melakukannya, bahkan sampai mati. Bila majikannya memukul dan mengejarnya, anjing itu tetap akan kembali, dengan menggoyangkan ekornya, ketika tuannya memanggil.”
“Yang terakhir, ketika seseorang melihat seekor babi dia harus tahu bahwa nafsunya lebih kotor dan lebih busuk dari babi itu. Kotoran babi berasal dari luar, sementara nafsu sudah kotor di dalam. Kotoran nafsu datang dari perlawanan terhadap Tuhannya. Kotoran babi berasal dari makanan yang kotor, bukan perlawanan. Orang yang sempurna harus memiliki sifat yang demikian hingga ia mau menerima kotoran apapun yang dilempar kepadanya, baik lewat ucapan maupun tindakan, dengan mengetahui bahwa nafsunya lebih kotor.”
Tiga sifat hewan-hewan ini milik para Nabi dan Aulia. Bila seorang manusia tidak memiliki sifat-sifat ini, dia bukanlah seorang nabi yang membawa semua beban dunia, menerima semua bentuk penyiksaan, dan masih menjaga utuh keyakinan akan Tuhannya dan kesabaran bagi semua. Inilah jejak-jejak yang mana harus kita teladani. Sifat-sifat ini memberikan ketenangan dan kepuasan dalam hatinya. Hanya dengan begini dia mampu meraih kebahagiaan dalam hidup ini. Kalau tidak, ia tidak akan bahagia selalu.”

2. Menyebarkan Doktrtin Sesat

Di dalam Ahl Haq Koleksi 2 edisi Juli – Oktober 2005 di dalam tulisan yang berjudul, “Hikayat “Orang Gila” (bagian II)” dikatakan,
(1) “Ketika Sayyidina Umar RA, Khalifah Kedua wafat, dua malaikat maut mendatangi beliau. “Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA mempunyai watak yang keras dan beliau diam saja ketika pertanyaan itu diajukan. “Apa agamamu?” Beliau tetap diam. “Apa kitabmu?” Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya mereka harus membawa beliau menuju neraka.
Sayyidina Umar RA berkata, “Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan, mendekatlah ke sini!” Mereka mendekat dan mengulang pertanyaan tadi. “Aku masih belum mendengar...lebih dekat lagi!” Maka Malaikat Munkar mendekat dan bertanya lagi, “Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA segera mengepalkan tangan dan memukul tepat di mata Malaikat Munkar AS. Para Awliya mengatakan bahwa Malaikat Munkar AS hanya memiliki satu mata saja, itu akibat dipukul oleh Sayyidina Umar RA.”
(2) “Seperti ketika seorang murid Sayyidina Abdul Qadir Jailani meninggal, dia dikunjungi 2 malaikat dan bertanya, ‘Siapa Tuhanmu? Murid itu menjawab, ‘Abdul Qadir Jailani.’ ‘Siapa Nabimu?’ Dijawab, ‘Abdul Qadir Jailani.’ ‘Apakah agamamu?’ Dijawab, ‘Abdul Qadir Jailani.’ ‘Tempatmu di neraka!’ Ke mana lagi tempat yang cocok bila seluruh pertanyaan dijawab dengan Abdul Qadir Jailani.’
Seketika itu Sayyidina Abdul Qadir Jailani muncul dan mengatakan, “Siapa yang memberi kalian izin membawanya ke neraka? Dia telah menyebut namaku, paling tidak tanyalah dulu padaku! Aku tidak jauh, dia adalah muridku, jika mau menanyainya, tanyalah aku. Jangan memberi dia siksa kubur tanpa memberi kesempatan meminta dukungan. Hal ini sama dengan menghina aku, aku wakil Nabi Muhammad SAW!”
Kedua malaikat itu takut pada Syaikh Abdul Qadir Jailani. Mereka tidak ingin kena pukulan lagi seperti yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Umar pada mereka.”

(3) Di dalam buku, MUHASABAH, Nilai Seseorang Berhubungan Dengan Cara Dia Menilai Waktunya hal. 31 dikatakan bahwa Syaikh Syarafuddin ad-Dagestani, Imam Tarekat Naqsyabandi pernah berkata mengenai keponakannya –yang menjadi tokoh Sufi Haqqani, yaitu Syaikh Abdullah Faiz ad-Dagestani- : “Bayi lelaki yang sedang engkau kandung tidak mempunyai pelindung di hatinya. Dia akan mampu melihat kejadian yang telah atau akan terjadi. Dia akan menjadi salah seorang yang dapat membaca pengetahuan tak terlihat, langsung dari Loh Mahfuz. Kelak dia akan menjadi seorang ‘Sultan al-Awliya.’ Di antara para awliya, dia akan dijuluki ‘Pemimpin Umat Muhammad.’ Dia akan menyempurnakan kemampuan bersama Tuhannya sekaligus bersama umat dalam waktu yang bersamaan. Dia akan mewarisi rahasia dari Nabi SAW ketika beliau bersabda, ‘Aku mempunyai satu wajah menghadap pada Sang Pencipta, dan satu wajah memandang pada ciptaan-ciptaan-Nya dan aku mempunyai satu jam dengan Sang Pencipta dan satu jam bersama ciptaan-Nya.”

(4) Di dalam buku MUHASABAH, Nilai Seseorang Berhubungan Dengan Cara Dia Menilai Waktunya hal. 34-36 dikatakan “Malam itu aku shalat malam. Aku kembali berwudhu, dan shalat dua rakaat. Aku duduk bertafakur, menghubungkan diriku lewat perantaraan syaikhku kepada Nabi SAW. Aku melihat Nabi SAW mendatangiku bersama 124.000 sahabat-sahabat beliau. Beliau mengatakan, ”Wahai anakku, aku lepaskan seluruh kekuatanku dan kekuatan 124.000 sahabat-sahabatku dari hatiku. Katakan pada pamanmu dan pengikutnya di desa ini untuk pindah ke Turki segera.”
Kemudian Nabi SAW memelukku dan aku merasakan diriku hilang dalam diri Nabi SAW. Begitu hal itu terjadi aku melihat diriku terangkat sebagaimana Nabi melakukan perjalanan malamnya (Isra’ Mi’raj). Aku melihat diriku menaiki Buraq yang mengantarkan Nabi SAW. Aku juga melihat diriku sendiri mengalami sebuah maqam ’Sejarak dua busur panah’ [53:9],dimana yang kulihat hanyalah Nabi SAW dan bukan diriku sendiri.
Aku merasakan diriku menjadi sebuah bagian dari keseluruhan Nabi SAW. Lewat kenaikan itu, aku menerima kenyataan bahwa Nabi SAW memasukan ke dalam hatiku apa yang beliau terima dalam Malam Kenaikan (Isra’ Mi’raj). Segala macam pengetahuan yang masuk dalam hatiku berupa kata-kata yang bercahaya, berubah warnanya mulai dari hijau kemudian ungu. Pemahaman-pemahaman yang diberikan itu tidak terukur besarnya.
Aku mendengar sebuah suara yang berasal dari Hadirat Ilahi yang mengatakan,”Mendekatlah, wahai hamba-Ku, menuju Hadirat-Ku.” Begitu aku mendekat melalui Nabi SAW, segalanya menjadi hilang, bahkan realitas spiritual Nabi SAW pun lenyap.Tidak ada yang eksis kecuali Tuhan, Dia yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung.”
Kembali aku mendengar sebuah suara dari seluruh Sifat-Sifat dan Nama-Nama-Nya yang bercahaya dalam Hadirat-Nya, ’Wahai hamba-Ku, kini saatnya maqam penghidupan melalui Nabi SAW setelah menjadi fana, muncul serta hidup kembali dalam Hadirat Ilahi, dihiasi dengan ke-99 Sifat-Sifat. Aku melihat diriku di dalam diri Nabi SAW dan muncul di dalam setiap ciptaan yang eksis berkat Kekuatan Tuhan. Itu membawa kami pada maqam di mana kami mampu menyadari bahwa ada jagad-jagad lain selain jagad ini, dan di sana ada berbagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung. Kemudian kurasakan pamanku mengguncang-guncang pundakku sambil mengatakan,”Anakku, sudah waktunya shalat Subuh.”
Aku shalat di belakang beliau bersama 300 penduduk desa yang berjamaah bersama kami. Selesai shalat, pamanku berdiri dan mengatakan, ”Kami telah meminta keponakan kami untuk melekukan konsultasi spiritual.” Setiap orang tak sabar mendengar apa yang telah aku peroleh. Namun kemudian pamanku berkata, ”Dia dibawa menuju hadirat Nabi SAW dengan kekuatanku. Nabi telah memberi ijin kita untuk hijrah ke Turki. Lalu beliau membawa keponakanku menuju maqam-maqam sampai ke maqam ’Dengan jarak dua dua busur panah’ [53:9]. Nabi SAW juga membawanya menuju sebuah maqam Pengetahuan di mana Nabi SAW belum pernah membukanya bagi Awliya mana pun,termasuk aku sendiri.Kenaikannya adalah sebuah petunjuk bagi Awliya dulu dan yang akan datang, dan sebuah kunci untuk membuka Samudra Pengetahuan dan Kebijaksanaan.”
Aku berkata pada diriku sendiri, ”Pamanku bersamaku dalam peristiwa penglihatan itu dan dengan kekuatan beliaulah aku menerima penglihatan itu.”
(5) Di dalam buku MUHASABAH hal. 41-43 dikatakan, “Syaikh Abdullah bercerita dalam sebuah insiden yang terjadi selama pengabdian beliau dalam kemiliteran Ottoman, ”Aku menjumpai ibuku hanya dalam waktu satu atau dua minggu. Lalu mereka mengambilku untuk berperang dalam Safar Barlik di Dardanelles. Suatu hari ada serangan dari musuh, dan kami 100 orang tertinggal di belakang untuk mempertahankan wilayah perbatasan. Aku adalah seorang penanda yang ulung, mampu memukul sebuah ancaman dari jarak jauh. Kami tidak mampu mempertahankan posisi kami di bawah serangan yang tajam. Aku merasakan sebuah peluru menembus jantungku, aku pun terjatuh di tanah.
Ketika aku terbaring sekarat, aku melihat Nabi SAW menghampiriku. Beliau berkata,”Oh anakku, engkau ditaqdirkan untuk meninggal di sini, namun kami masih memerlukanmu di bumi ini, baik secara spiritual maupun pisik. Aku datang padamu untuk menunjukkan bagaimana seorang manusia meninggal dan bagaimana malaikat mengambil nyawa.” Beliau memberiku penglihatan di mana aku melihat rohku mulai meninggalkan tubuhku, dari sel ke sel berawal dari ibu jari kakiku. Begitu kehidupan dilepaskan, aku dapat melihat berapa banyak sel-sel dalam tubuhku. Fungsi-fungsi setiap sel, dan penyembuh setiap penyakit dari setiap sel dan aku juga mendengar zikir di setiap sel itu.
Begitu rohku mulai bergerak meninggalkan tubuh, aku mengalami apa yang aku rasakan ketika meninggal dunia. Aku dibawa melihat berbagai saat kematian: kepedihan, kemudahan dan kematian yang sangat membahagiakan. Nabi SAW mengatakan, “Engkau termasuk orang yang meninggal dengan keadaan bahagia.” Aku menikmati kematian itu, karena hal itu membuatku memahami ayat Quran, ’Kami adalah milik Allah SWT dan pada-Nya kami kembali.’(2:156).
Penglihatan itu berlanjut sampai aku mengalami saat rohku sampai pada napas terahir. Aku melihat malaikat maut datang dan mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Segala macam penglihatan bagi orang yang sedang sekarat aku alami, namun aku masih dalam keadaan hidup, sehimgga aku dapat memahami rahasia segala tingkatan itu.
“Aku melihat rohku memandang ke bawah pada jasadku, dan Nabi Muhammad SAW mengatakan padaku, “Kemarilah!” Aku menemani Nabi SAW dalam sebuah penglihatan akan ketujuh surga. Aku melihat apa pun yang Nabi SAW inginkan aku melihatnya di dalam tujuh surga-surga itu. Beliau mengangkatku pada maqam kebenaran di mana aku melihat nabi-nabi, semua awliya, seluruh syuhada dan kaum yang lurus imannya.
Beliau mengatakan, “Oh anakku, sekarang aku akan membawamu melihat siksaan-siksaan neraka.” Di sana aku melihat semua yang Nabi SAW pernah sebutkan dalam hadits-hadits dan sabda beliau tentang siksaan-siksaan neraka. Aku pun berkata, “Ya Nabi, engkau lah yang dikirim sebagai wasilah bagi umat manusia, adakah cara agar mereka dapat terselamatkan?” Beliau menjawab, “Anakku, dengan syafaatku mereka dapat terselamatkan. Aku menunjukkan padamu, takdir dari kaum yang aku tidak mempunyai kekuatan untuk campur tangan atas mereka.”
Nabi SAW berkata, ”Anakku, kini aku kambalikan kamu ke dunia dan ke dalam tubuhmu.” Begitu Nabi SAW mengatakan hal itu, aku melihat ke bawah dimana terlihat tubuhku telah mambengkak. Aku pun berkata kepada Nabi SAW, ”Ya Nabi Allah SWT, lebih baik aku di sini bersamamu, aku tidak mau kembali. Aku bahagia bersamamu dalam Hadirat Ilahi. Lihatlah dunia itu. Aku sudah pernah di sana dan sekarang aku telah meninggalkannya. Mengapa harus kembali? Lihat, tubuhku sudah membengkak.” Nabi menjawab,”Oh anakku, engkau harus kembali. Itulah tugasmu.”
Atas perintah Nabi SAW, aku kembali pada tubuhku, meskipun aku tidak menginginkannya. Aku melihat peluru telah menyatu dalam daging, dan pendarahan telah berhenti. Begitu aku memasuki tubuhku dengan lembut, penglihatan itu pun berakhir. Aku melihat para dokter di medan peperangan sedang mencari mereka yang masih hidup di antara yang telah gugur. Salah seorang berteriak “Yang itu masih hidup!”Aku terlalu lemah untuk bergerak atau pun berbicara, sampai aku menyadari bahwa tubuhku telah tergeletak di sana selama 7 hari. Mereka membawa dan merawatku, sampai kesehatanku pulih.
Mereka mengembalikan pada pamanku. Begitu aku bertemu, beliau mengatakan,”Oh, anakku, apakah kamu menikmati kunjunganmu?”Aku tidak menjawab ”Ya”ataupun ”Tidak” karena aku tidak tahu yang mana yang dimaksud pamanku, kunjungan kemiliteran atau kunjungan bersama Nabi SAW?”Aku pun sadar bahwa beliau mengetahui segala hal yang telah terjadi padaku. Aku pun langsung menghampirinya dan mencium tangan beliau sambil berkata, ”Oh syaikhku, aku harus mengakui bahwa aku tidak ingin kembali. Namun Nabi SAW mengatakan bahwa itulah tugasku.”

(4) Di dalam buku Ahl Haq vol. 9 dikatakan, “Deskripsi kedua dari awliyaullah adalah ketika mereka bepergian, apapun kepentingannya, awliya harus meminta izin terlebih dahulu kepada Nabi SAW. Dan inilah sebabnya, mengapa murid-murid dari seorang wali harus meminta izin dari syekh mereka ketika mereka ingin bepergian sehingga beliau akan memintakan izin atas nama mereka kepada Nabi SAW. Jika kita tidak meminta izin, mereka tidak akan melindungi kita atas segala sesuatu yang mungkin terjadi. Sekarang bila kalian ingin bepergian, orang-orang akan menyuruh kalian untuk membeli asuransi. Tetapi mereka tidak akan menjaminnya. Mereka hanya membayar saja. Jika kalian meninggal, ya sudah, mereka akan membayar klaimnya kepada ahli waris. Tetapi bila kalian minta izin kepada Nabi SAW, mereka akan memastikan bahwa kalian aman....”(Ahl Haq vol. 9 hal. 52).

(5) Di dalam buku Hikmah Di Balik Penciptaan Setan hal. 81 dikatakan, “Penyingkapan Rahasia Shah Naqsyaband Mengenai Syaikh Syarafuddin. Penerus beliau, Grandsyaikh kita, syaikh Abdullah ad-Dagestani menceritakan hal berikut dalam ceramahnya: “Suatu ketika, dalam salah satu meditasiku, Syaikh Syarafuddin mendatangiku dan berkata mengenai kebesaran dan keistimewaan Shah Naqsyaband. Beliau memujinya dan mengatakan bagaimana Shah Naqsyaband akan memberikan perantaraan di Hari Pembalasan. Beliau berkata, ‘Jika seseorang melihat mata Shah Naqsyaband, dia akan melihat mata beliau berputar, bagian yang putih di hitam dan yang hitam di putih. Beliau bermaksud menyimpan kekuatan spiritualnya untuk Hari Pembalasan dan tidak menggunakannya di dunia ini.
Pada Hari Pembalasan beliau akan mengeluarkan cahaya dari mata kanannya, cahaya itu lalu mengelilingi banyak orang dalam perkumpulannya dan masuk kembali ke mata kirinya. Siapa pun yang berada dalam lingkaran itu akan masuk Surga dan terhindar dari Neraka. Beliau akan mengisi keempat Surga dengan perantaraannya itu.”

(6) Di dalam buku, TAFAKKUR, Kedamaian di Dalam Rumah hal. 74 dikatakan, “Pernah ada seorang Syaikh yang mengirimkan muridnya untuk berkhalwat. Murid tersebut telah mencapai suatu maqam (stasiun spiritual) tinggi sedemikian rupa sehingga dia dapat melihat isi Lauh-ul Mahfuzh (Pelat Terpelihara), dan dia merasa gelisah ketika dia melihat nama Syaikh yang dicintainya ada dalam daftar orang-orang yang ditakdirkan untuk masuk Neraka. Dia pun melakukan sujud dan berdoa panjang dan memohon Allah SWT demi Rasulullah SAW agar menaruh nama Syaikhnya pada daftar orang-orang yang ditakdirkan masuk Surga. Doanya diterima dan nama Syaikhnya muncul dalam daftar ahli Surga...”

(7) Di dalam buku, KEMATIAN, Persiapan Menjemput Maut hal. 85 dikatakan, “Aku melihat rohku memandang ke bawah pada jasadku, dan Nabi Muhammad SAW mengatakan padaku, “Kemarilah!” Aku menemani Nabi SAW dalam sebuah penglihatan akan ketujuh surga. Aku melihat apa pun yang Nabi SAW inginkan aku melihatnya di dalam tujuh surga-surga itu. Beliau mengangkatku pada maqam kebenaran di mana aku melihat nabi-nabi, semua awliya, seluruh syuhada dan kaum yang lurus imannya.
Beliau mengatakan, “Oh anakku, sekarang aku akan membawamu melihat siksaan-siksaan neraka.” Di sana aku melihat semua yang Nabi SAW pernah sebutkan dalam hadits-hadits dan sabda beliau tentang siksaan-siksaan neraka. Aku pun berkata, “Ya Nabi, engkau lah yang dikirim sebagai wasilah bagi umat manusia, adakah cara agar mereka dapat terselamatkan?” Beliau menjawab, “Anakku, dengan syafaatku mereka dapat terselamatkan. Aku menunjukkan padamu, takdir dari kaum yang aku tidak mempunyai kekuatan untuk campur tangan atas mereka.”

(8) Di dalam buku, Kunci Kerajaan Langit hal. 74 dikatakan, “Para wali seperti roket – bahkan lebih baik dari pesawat. Mereka mengangkat para pengikut mereka bersama mereka, melampaui hukum atau dalilnya ilmu fisika dan membawa para pengikutnya ke hadirat Nabi SAW setiap malam selama shalat malam yang khusus 12 – mereka menghadirkan setiap orang selama tiga atau lima menit. Mereka tidak diberi waktu lebih dari itu. Setiap wali mempunyai waktu sesuai dengan apa yang telah dia berikan. Ini sama halnya dengan saat ini –ketika kamu menemui seorang presiden kamu akan memiliki waktu yang terbatas, sesuai dengan waktu yang dia berikan padamu, dan setelah itu dia melanjutkan pekerjaannya. Para wali menghadirkan para pengikutnya dalam waktu yang terbatas di hadirat Nabi SAW, dan tidak menegakkan atau mengangkat kepala mereka, hingga semua pengikut mereka telah dibersihkan.”

(9) Di dalam buku, Ahl Haq Koleksi 1 hal. 64 dikatakan, “Apabila Allah SWT ingin memperagakan Diri-Nya, Dia memandang pada makhluk-Nya. Perhatian pertama-Nya kepada manusia karena mereka menyerupai-Nya. Mereka yang paling menyerupai-Nya di antara manusia itu adalah para Wali; maka Nabi SAW bersabda, ‘Mereka mengingatkan kalian akan Allah SWT.”

(10) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 1 hal. 6 dikatakan, “Murid itu pergi dari rumah Syaikh dengan perasaan terluka dan berpikir, “Bagaimana caranya agar aku bisa diterima Syaikh. Dengan karakter seperti apa?” Keesokan harinya ilham datang pada hatinya dan dia pun kembali mendatangi Syaikh. “Oh Syaikh, terimalah aku sebagai seekor babi di pintumu.” Syaikh pun menjawab, “Ya, yang itu aku belum punya. Masuklah, aku menerimamu.”
Seperti apakah seekor babi bagi pemahaman sufi? Yaitu dia yang memakan kotoran orang lain. Dia yang menjaga agar saudara-saudaranya tetap bersih dan melindungi mereka. Itulah arti seekor babi di pintu Syaikh.”

(11) Di dalam Ahl Haq Koleksi 1 hal. 10 dikatakan, “Kita mempunyai ratusan ulama, namun yang mereka miliki adalah pengetahuan tanpa hikmah. Mungkin mereka gusar bila saya katakan hal itu. Firman Allah SWT mengatakan bahwa hikmah itu tidak akan diberikan pada setiap orang. Hikmah tidak datang dari luar; sumber hikmah adalah melalui hati. Apakah kalian mendapat hikmah dari membaca buku-buku? Tidak! Tetapi sesuatu yang diberikan lewat hati kalian.”

(12) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 1 hal. 16 diakatakan, “Ini bukan kata-kata saya, ini adalah pidato langit. Saya pun tak tahu apa yang tengah saya ucapkan, tetapi mereka mengirimkan dan memancarkannya melalui diri saya dari tempat sederhana ini ke seluruh dunia. Terserah kalian untuk mendengarkannya.”

(13) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 1 hal. 57 dikatakan, “Ketika kalian meninggal, kalian masih mempunyai keinginan dan belum menyerah secara total. Nabi SAW bersabda bahwa ketika seseorang meninggal dan kalian memandikannya dengan air dingin, maka jasad itu akan mengatakan, “Ini terlalu dingin. Buatlah hangat sedikit.” Jika terlalu panas, jasad itu pun mengatakan, “Buatlah agak dingin sedikit.” Dan jika kalian menggosok mayat itu dengan kasar, dia pun bisa merasakan sakit. Itulah mengapa Nabi SAW mengatakan, “Sayangilah jasad orang mati, karena meskipun tidak bisa bicara, dia bisa merasakan.”

(14) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 1 hal. 81 dikatakan, “Allah SWT berfirman ‘Wahai hamba-Ku, Abdul Khaliq al-Ghujdawani, tugasmu adalah memberi nama para malaikat ini dengan nama yang berbeda dan tidak boleh ada pengulangan. Hitung pula berapa kali pujian-pujian mereka, kemudian bagikan pada seluruh pengikut Thariqat Naqsyabandi. Itulah tanggung jawabmu.” Aku takjub akan beliau beserta tugas luar biasa yang diembannya.”

(15) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 1 hal. 66, “Silsilah dari suatu mata rantai yang pada saat itu tentu saja tidak dikenal dengan nama Naqsyabandi, tetapi para pengikutnya dikenal dengan sebutan “anak-anak Abu Bakar as-Siddiq” dan di kalangan awliya Abu Bakar disebut sebagai “Ayah” dari garis silsilah tersebut. Allah Ta’ala memberi wewenang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memerintahkan Abu Bakar agar memanggil seluruh masyaikh dari silsilah Rangkaian Emas penerus Abu Bakar. Selanjutnya para masyaikh tersebut dikenal dengan nama Guru Mursyid dari pemegang puncak silsilah Rangkaian Emas di zamannya masing-masing. Seluruh dari mereka, sejak masa Abu Bakar sampai dengan masa Mahdi AS hadir di tempat itu dengan format ruh (spiritual) dari alam arwah. Kemudian Abu Bakar diperintahkan untuk memanggil para wali Allah dalam mata rantai naqsyabandi yang berjumlah 7007. Demikian juga Nabi Muhammad SAW mengundang keseluruhan Anbiya yang berjumlah 124.000.”
(16) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Oktober 2005 hal. 19 dikatakan, “Tip untuk berada pada kelompok ini adalah: “tidak ada pertanyaan di dalam tarekat.” Bertanya akan mengurangi keyakinan kalian. Kalian ikuti dan kalian taati dan kalian akan beroleh pahala penuh dari itu (sekali pun Syaikh yang kalian ikuti mungkin salah). Latihan dalam tarekat ini bermula dari tidak bertanya.”

(17) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 73 dikatakan, “Abdullah Effendi, aku tahu engkau mampu hidup tanpa makan sampai Kiamat nanti. Engkau mempunyai kekuatan surgawi dan tidak akan pernah merasakan lapar.”

(18) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 10 dikatakan, “Jika kalian mencapai Maqam Cinta sebagaimana yang telah dicapai para Awliya, maka syirik tidak ada artinya. Inilah yang gagal dimengerti oleh para ulama terhadap keberadaan para Wali. Ini adalah kesalahan yang dibuat para ulama dulu dan masih berlanjut sampai sekarang. Mereka mengatakan, “Syaikh itu musyrik dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa diterima.” Karena syaikh itu tidak sedang berada di maqam yang biasa. Dia sedang berada di Maqam Cinta.”

(19) Di dalam buku Ahl-Haq Koleksi 2 hal. 16 dikatakan, “Awliya asal Mesir, Ahmad ar-Rufa’i al-Kabir datang ke makam Nabi SAW dan mengatakan, “Inilah sang pemerintah para hantu sedang bertemu dengan manusia yang paling nyata! Mohon ulurkan tanganmu agar aku dapat menciumnya.” Dari makam Nabi SAW, sebuah tangan putih mulai muncul dan Sayyidina Ahmad menciumnya 3 kali. Setiap beliau menciumnya, Nabi SAW mentransfer pengetahuan dari hatinya pada hati Ahmad. Tiga samudra pengetahuan pun telah dialirkan pada beliau.”

(20) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 20 dikatakan, “Syaikh Syamsuddin Habib Allah Jan-i-Janan al-mazhar adalah matahari dari kebahagiaan abadi. Beliau adalah kekasih Allah Yang Maha Kuasa dan Tinggi. Beliau adalah jiwa bagi para hamba Penegak Kebenaran dan esensi dari jiwa para hamba yang merasakan. Beliau adalah Ka’bah dari para orang beriman dan salah satu dari bendera panji Rasulullah SAW yang mulia. Beliau mengangkat agama Muhammad SAW dan membangkitkan Thariqat Naqsyabandi.”
(21) Masih di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 20 dikatakan, “Ketika Syaikh Mazhar berusia 9 tahun, beliau melihat Nabi Ibrahim AS yang kemudian memberikan kekuatan spiritual melalui transmisi spiritual. Pada usia ini bila seseorang menyebut Abu Bakar ash-Shiddiq RA di hadapannya, dia akan melihat dengan mata fisiknya bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq RA hadir di hadapannya. Beliau juga bisa melihat Rasulullah SAW dan para sahabat, begitu pula dengan Syaikh-syaikh Naqsyabandi, terutama Syaikh Ahmad al-Faruqi.”

(22) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 28 dikatakan, “Sesaat sebelum beliau meninggal, Syaikh Jan-i-Janan sedang berada dalam keadaan emosional dan cinta yang begitu besar kepada Allah SWT. Beliau mengalami ketidak senangan yang luar biasa karena terlalu lama hidup di dunia yang fana ini. Beliau menghabiskan sisa hidupnya dalam kontemplasi yang intensif. Ketika ditanya, beliau akan berkata bahwa dirinya dalam keadaan Fana dan Baqa di dalam Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi. Beliau menambah jumlah dzikir menjelang hari akhir beliau. Ini menyebabkan munculnya cahaya yang begitu kuat dan menarik perhatian banyak orang, ribuan dan ribuan para pencari memasuki jalan ini.”

(23) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 53 dikatakan, “Sebelum Grandsyaikh Abdullah wafat, beliau menulis dalam wasiatnya, “atas perintah Nabi Muhammad SAW, aku telah melatih dan meningkatkan ilmu penerusku, yaitu Nazhim Effendi dan memerintahkan dia dalam berbagai khalwat dan latihan, maka aku menunjuk dia sebagai penerusku...”

(24) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 64 dikatakan, “Hati kita tidak akan pernah terhubung pada hadirat Allah SWT tanpa ada perantara, untuk itu Allah SWT mengirim Nabi, kemudian para Awliya sebagai perantara.”

(25) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Oktober 2005 hal. 5 dikatakan, “Saya (Mawlana Syaikh Hisham Kabbani) dan saudara saya, biasa meminum urin (air kencing) Mawlana yaikh Nazim, bahkan kami mengusap-usap botol penampungan urin Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh dan meminum sampai tak tersisa urin di botol itu.”

(26) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 67 dikatakan, “Siapa yang menerima imam seperti Mawlana Syaikh Nazhim dan mengambil bay’at dari beliau, mereka akan dipanggil ketika Allah SWT mengatakan, “Wahai hamba-Ku Nazhim, datanglah! Dan kita semua akan datang bersama beliau. “Aku tidak akan menanyai mereka, Aku akan menanyaimu.” Kemudian Allah SWT akan menanyakan tentang semua yang mengambil bay’at dan siapa pun yang mencintai beliau.”

(27) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 68 dikatakan, “Setiap dari manusia pasti masuk neraka, baik dia seorang Nabi, orang suci atau siapa pun.”

(28) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 68 dikatakan, “Jika tidak memiliki imam dan tidak berbay’at pada siapa pun, mereka akan tetap tinggal di neraka sampai Nabi SAW mengeluarkan mereka.”

(29) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 69 dikatakan, “Bagi kita, ketika Mawlana berceramah, kita tidak sedang mendengarkan suara Syaikh Nazhim, kita sedang mendengarkan Allah SWT yang sedang Berbicara melalui Rumah-Nya (hati manusia) yang bernama Syaikh Nazhim.”

(30) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 hal. 72 dikatakan, “Mereka menunda pernikahan, dan menghabiskan waktu mereka di universitas, belajar untuk mendapat ijazah yang tidak ada manfaatnya! Cara yang salah untuk manusia, karena mereka mengikuti ajaran setan!”

(31) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 2 dikatakan, “Laylat al-Raghaib, “malam Permintaan yang Sakral,” yang merupakan salah satu malam yang paling penting dalam sejarah Islam dan bagi seluruh umat manusia. Ini adalah malam di mana Rasulullah SAW ditransfer dari ayahnya kepada rahim ibunya dan jatuh pada hari Jumat pertama di bulan rajab. Semua yang kalian minta di malam ini akan dikabulkan oleh Allah SWT demi kemuliaan Nabi Muhammad SAW.”

(32) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 28 dikatakan, “Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW Samudra Kekuatan itu sehingga beliau bisa mengucapkan “Jadilah!” Maka jadilah dia tanpa perlu meminta izin kepada Allah SWT karena beliau telah berenang dalam Samudra Kekuatan itu.”

(33) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 29 dikatakan, “Allah SWT memberi kekuatan kepada Rasulullah SAW untuk mengucapkan “Jadilah!” kepada sesuatu maka jadilah dia, dan beliau menyimpan kekuatan itu untuk hari akhir, untuk membawa semua orang ke surga. Rasulullah SAW tidak akan meninggalkan satu orang pun. Beliau akan merangkul seluruh manusia dengan tangannya dan membawanya ke surga. Itulah Nabi kita.”

(34) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 29 dikatakan, “Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim berkata bahwa setelah Rasulullah SAW dihiasi dengan semua tingkat ini, segala dosa dan perilaku buruk yang berasal dari umatnya, walaupun dosa setiap orang tidak terhitung lagi jumlahnya, bahkan jika dosa itu menyamai jumlah umat Rasulullah SAW –yang menurut ajaran sufi jumlahnya mencapai 400 milyar- bagi Rasulullah SAW itu sama saja, bagaikan sesuatu yang dibersihkan dengan segelas air. Seperti itulah cahaya yang telah diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW sehingga beliau dapat membersihkan seluruh dosa tersebut dan memberi manfaat kepada umatnya seolah-olah semuanya tidak terjadi.”

(35) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 30 dikatakan, “Hari Kiamat akan terjadi setelah 50 tahun ini dan ditambah 40 tahun kemudian. Semuanya akan berakhir dalam 90 tahun dari sekarang. Melaui rahmat yang telah disandangkan kepada Rasulullah SAW, seluruh dosa manusia akan dihapuskan. Grandsyaikh berkata bahwa walaupun setiap orang mempunyai 400 milyar dosa, semuanya akan dihapuskan, walaupun jumlahnya mencapai jumlah seluruh ciptaan Allah SWT yang meliputi alam semesta dan makhluk-Nya. Dengan mudah semuanya dapat dihilangkan oleh Samudra Rasulullah SAW, seolah-olah tidak ada dosa-dosa yang telah menyentuh kalian.”

(36) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 32 dikatakan, “Ketika beliau baru berusia 1 jam, Rasulullah SAW bertanya kepada Allah SWT seolah-olah beliau melihat-Nya, “Wahai Tuhanku, bagaimana dengan umatku? Apakah Engkau akan membasuh umatku dengan air dari sungai ini (sungai Kautsar)? Jika tidak, aku tidak mau dibasuh sendiri.”

(37) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 33 dikatakan, “Kita semua adalah umat yang diampuni. Allah SWT telah mempercayakan kita kepada Rasulullah SAW dengan Kemurahan-Nya.”

(38) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 33 dikatakan, “Setelah Rasulullah SAW menerima umatnya dengan cahaya mereka, dan setelah Allah SWT menunjukkan dosa-dosa yang akan mereka lakukan, Rasulullah SAW meminta beberapa pembantu. Dengan segera Allah SWT memberinya 7.007 wali Naqsyabandi untuk membantu beliau membersihkan umatnya. Di antara mereka terdapat 313 wali yang tingkatannya tinggi. Dan di antara mereka terdapat 40 guru besar dari Mata Rantai Emas, jalan kita menuju Rasulullah SAW. Keempat puluh guru besar kita mencoba melakukan yang terbaik untuk membersihkan setiap orang dari dosa-dosanya melalui cahaya yang telah diberikan Allah SWT ke dalam hati mereka. Kalian beruntung bahwa kalian berada di tangan salah satu guru besar tersebut, guru besar terakhir dalam mata rantai ini, guru yang keempat puluh.
Apakah Kautsar itu? Menurut riwayat tertulis, Kautsar adalah nama sebuah sungai di surga, tetapi menurut pemahaman dan pengetahuan sufistik, Kautsar adalah nama salah satu Grandsyaikh. Gransyaikh itu, dengan air di mana Allah SWT membuat simbol dengan namanya dapat menghilangkan dosa-dosa semua pengikutnya, dan menghadirkan mereka dalam keadaan bersih kepada Rasulullah SAW setiap malam. Itulah sebabnya kalian harus bergembira karena kalian telah terhubungkan dengan salah satu guru besar yan agung dalam Mata Rantai Emas ini.
Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim bertanya, “Mengapa Allah SWT memberi ke-Nabian kepada Rasulullah SAW? Apakah hanya untuk dirinya sendiri?” Grandsyaikh berkata, “Tidak!” Allah SWT telah memberinya kekuatan dan menghiasinya dengan Atribut dari ke99 Nama dan semua cahaya ini untuk umatnya juga, agar Rasulullah SAW dapat menyandangkan kita semua dengan cahaya dan atribut yang sama, beliau membagi semua atribut itu kepada kita. Allah SWT telah berfirman kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul-Ku yang tercinta, Aku akan bertanya kepadamu secara pribadi – Aku ingin setiap orang dari umat ini menjadi seperti dirimu. Jika mereka tidak seperti dirimu, Aku tidak akan menerimamu sebagai rasul.” Ini adalah suatu rahasia yang besar dan luar biasa, yaitu bahwa Rasulullah SAW bertanggung jawab untuk membuat setiap orang dari umatnya seperti beliau. Dalam beribadah, beliau akan membagi seluruh ibadahnya untuk kita, hal ini untuk membersihkan dan menyandangkan diri kita dengan semua yang telah didapatkannya dan untuk menghadirkan kita kepada Allah SWT dalam keadaan suci seperti dirinya. Inilah tugas beliau”

(39) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 35 dikatakan, “Umat ini adalah umat dari para hamba; dan hamba adalah hamba, budak adalah budak! Tidak ada perbedaan antara Muslim, Kristen, yahudi, Buddha, maupun Hindu! Mereka semua adalah hamba di hadapan Allah SWT dan Rasulullah SAW melihat mereka sebagai seorang manusia dan membawanya bersamanya.”

(40) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 37 dikatakan, “Jika Syaikh kalian mengatakan untuk pergi ke Chicago, memanjat Search Tower dan melompat ke bawah dan kalian tidak melakukannya, berarti kalian masih anak-anak dalam pengetahuan sufi. Dalam Tarekat Naqsyabandi kalian harus patuh, dan kepatuhan berasal dari pendenagran, jika kalian melakukannya, barulah kalian bisa menuju ke tingkat kedua.”

(41) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 40 dikatakan, “Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW berada di dalam dirimu,” karena jika bukan karena Cahaya Ilahi yang berada dalam diri setiap orang, kita tidak akan bisa hidup. Maksud dari ‘kekuatan yang disandangkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW’ adalah bahwa Rasulullah SAW berada dalam diri setiap orang di antara kita.”

(42) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 41 dikatakan, “Mawlana Syaikh nazim berkata bahwa Rasulullah SAW tidak megalami mi’raj (kenaikan) menuju ke hadirat Ilahi pada tanggal 27 rajab saja, tetapi sejak beliau lahir dan sejak jam pertamanya, beliau telah diambil oleh para Malaikat untuk dihiasi dengan Samudra 99 Nama oleh Allah SWT, setiap Nama dalah satu Samudra.”
(43) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 43 dikatakan, “Bahkan, jika sekarang kita mengakui adanya perbedaan, dengan mengatakan, bahwa orang ini adalah orang yang beriman, sedangkan itu adalah orang-orang kafir, penilaian ini sesungguhnya milik Tuhanmu. Jangan bicara mengenai perilaku buruk seseorang, atau mengenai kekafiran, atau inovasi (bid’ah), itu semua bukan urusanmu.”

(44) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. Dikatakan, “Pengetahuan dari Tarekat Naqsyabandi adalah pengeatahuan tertinggi yang bisa kalian bayangkan. Pengetahuan ini berasal dari hati Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau meletakkan segala yang diberikan oleh Allah SWT ke dalam hatinya kepada hati Abu Bakar, dan seluruh wali tarekat Naqsyabandi mengambil pengetahuan ini dari hati Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq.”

(45) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 46 dikatakan, “Mawlana berkata, “Jika Allah SWT mengutuk orang-orang kafir, Dia tidak akan menjadi Tuhan, karena semuanya diciptakan dari Cahaya Ilahi, dari cahaya Rasulullah SAW, dan dari cahaya Adam AS. Bagaimana mungkin Dia mengutuk mereka? Tidak mungkin mengutuk mereka. Di lain pihak mengapa Dia berfirman, “Qalbul Mu`min baytullah?” “Hati orang-orang yang beriman adalah rumah Allah SWT?” Jika Allah SWT telah menetapkan bahwa hati orang-orang yang beriman adalah rumah-Nya, bagaimana mungkin, pada saat yang bersamaan Dia mengutuk seorang manusia? Tidak mungkin, tetapi Allah SWT mengutuk umat manusia, yang tergolong orang-orang kafir, hanya di lidah Rasulullah SAW dan pada level kita, sehingga kita bisa mengerti.”

(46) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 48 dikatakan, “Apa yang kita bicarakan sekarang adalah persiapan untuk menyambut hari tersebut. Kalian semua akan mendapatkan diri kalian berada di Syam dengan kekuatan Syaikh kalian. Dengan mengucapkan “bismillaahirrahmaanirrahiim” kalian langsung berada di sana. Tidak perlu pesawatterbang, mobil atau kapal, tetapi cukup dengan kekuatan spiritual.”

(47) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 60 dikatakan, “Oleh sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan seluruh wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan dalam diri setiap orang.”

(48) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 61 dikatakan, “Cendekiawan Muslim, Kristen, Yahudi cemburu terhadap surga. Mereka tidak ingin seluruh umat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah SWT berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh umat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya, Muslim, Hindu, Yahudi, Kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah SAW setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh umat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannya, berikut ini ada sebuah kisah yang berasal dari Grandsyaikh Abdullah Faiz ad-Dagestani dan Syaikh Nazim al-Haqqani. Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa AS, insya Allah.”

(49) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 65 dikatakan, “Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina Umar RA, “Wahai Umar, sebelum Rasulullah SAW lahir, beliau sudah menyebut umatku, umatku dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan umatku, umatku dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT, “Aku ingin menjadi perantara bagi umatku, aku ingin menolong umat manusia, aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada umat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kendali dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah SAW menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh umat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah SWT, “Aku akan datang ke hadirat-Mu, aklau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah SWT menjawab, “Terserah padamu!”
Kemudian Rasulullah SAW memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap ruh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai Rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesalikesalahan mereka. Rasulullah SAW tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah SWT. Dengan pengampunan dari Allah SWT tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu ruh manusia.
“Jubah itu berisi tetasan keringat atau simbol atau ruh dari umat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah SAW. Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.” Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu wali ke wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutnya akan diserahkan kepada Imam Mahdi AS ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi Isa AS pada saat kemunculannya.
Sayyidina Umar RA menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai Ali RA, mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu, Sayyidina Umar menangis terus selama hidupnya.”

(50) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 66 dikatakan, “Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya.”

(51) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 71 dikatakan, “Fatimah RA melanjutkan, “Sejak aku elihatmu –wahai ayahku- sangat menderita untuk umatmu, dan karena cinta kepada umatmu juga tumbuh dalam hatiku, aku menginginkan umatmu sebagai mas kawinku. Jika engkau menerimanya, akau akan menikahi Ali RA. Dia meminta seluruh umat Rasulullah SAW –Yahudi, Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, semua orang tanpa diskriminasi. “Aku menginginkan mereka sebagai mas kawinku agar Aku dapat menerimanya saat aku berada di Hari Pembalasan nanti, dan menerima mas kawin itu dari Allah SWT, sehingga Aku bisa memasukkan mereka ke dalam surgaku. Jika engkau tidak menerimanya, Aku tidak akan menikahi Ali RA.
Apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah SAW? Beliau tidak bisa memberikan mas kawin semacam itu, karena itu tidak berada di tangannya. Beliau menunggu kedatangan Jibril AS, tetapi Malaikat Jibril AS tidak datang dengan segera. Dia membiarkan Rasulullah SAW menungu beberapa saat, lalu datang dan mengatakan, “Allah SWT menyampaikan Salam-Nya kepadamu dan menerima permintaan Fatimah RA dan memberikan seluruh umat manusia sebagai mas akwin untuk menikahi Ali RA.” Dengan segera Rasulullah SAW bangkit dan shalat syukur 2 rakaat untuk berterima kasih kepada Allah SWT.
Fatimah RA tidak berkata, “Aku menginginkan uang atau perhiasan,” sebagaimana wanita sekarang, pria berusaha untuk menikahi gadis yang kaya dan sebaliknya. Dia hanya melihat umat Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun yang akan berada di luar mas kawinnya, karena jika Allah SWT mengeluarkan satu orang saja, itu akan berarti dia telah berzina dengan Ali. Oleh sebab itu, dia akan mengambil seluruh umat manusia di bawah sayapnya dan mereka akan masuk surga bersamanya.”

(52) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 93 dikatakan, “Suatu hari seorang pengikut Sayyidina Abdul Qadir Jailani meninggal dunia, lalu Malaikat mendatanginya dalam kubur dan bertanya, “Siapa Tuhanmu?” Abdul Qadir Jailani. “Siapa Nabimu?” Abdul Qadir Jailani. “Apa kitabmu?” Abdul Qadir Jailani. “Apa agamamu?” Abdul Qadir Jailani. Malaikat yang polos ini menjadi bingung, mereka harus membawanya ke neraka karena orang itu terus memberikan jawaban yang salah! Apa ini Abdul Qadir Jailani?” Mereka mulai membawanya, namun tiba-tiba Abdul Qadir Jailani muncul dan berkata, “Mengapa kalian membawanya ke neraka?” Dia mengucapkan namaku, jadi ajukanlah pertanyaan-pertanyaan itu kepadaku. Jika kalian mamu memotong tubuhnya hingga menjadi potongan-potongan kecil dan membawanya ke mesin pemotong, dia akan tetap mengucapkan nama Abdul Qadir Jailani. Cintanya tidak akan pernah berubah. Kalian bisa saja melemparkannya ke dalam neraka, dia tidak akan merasakannya, tetapi aku yang akan merasaknnya, bukan dia. Dia telah lenyap dalam diriku. Eksistensinya bersatu dengaku dia tidak akan bisa merasakan sesuatu kecuali melalui diriku.”

(53) Di dalam buku Ahl Haq Koleksi 2 Edisi Agustus 2005 hal. 26 dikatakan, “Untuk alasan itulah Nabi SAW mengatakan, “Berkontemplasi selama satu jam adalah lebih baik daripada 70 tahun ibadah. Berarti apa yang dicapai dalam meditasi tidak bisa dicapai dengan hanya ibadah, karena Iblis juga menyibukan diri dengan ibadah terus-menerus, tidak ada bagian dari surga dan bumi tersisa tanpa bekas dari sujud mereka. Namun pada akhirnya Iblis gagal akibat ego pemberontakannya. Hanya karena satu perintah Tuhan yang tidak dia patuhi menjadikannya jatuh dalam kehinaan.”

(54) Di dalam buku Kunci Kerajaan Langit hal. 82 dikatakan, “Buatlah tubuhku sebesar neraka sehingga tak ada seorang pun dapat masuk ke dalam neraka kecuali aku. Dan biarkan semua orang masuk ke surga.”

(55) Dan kesesatan lainnya.

2 komentar:

  1. benar kata pepatah, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan....tukilan2 yang separuh2 dan tidak ilmiah sekali...masha Allah. Pernahkah Anda duduk mendiskusikan hal ini dengan ulama setempat atau kepada yang bersangkutan?

    BalasHapus
  2. Bersihkan hati dari syetan agar tidak berburuk sangka...
    Semoga Allah melindungi umat muslim apapun mahzabnya dari orang2 yg memfitnah dan memecah belah umat.

    BalasHapus