Minggu, 15 Juli 2012

Islam Agama Toleran

LARANGAN MEMBUNUH
DAN MENYIKSA NON-MUSLIM  
(oleh DR. Thahir Al-Qadri; Intelektual Muslim dari Pakistan) 

Tidak Ada Bedanya, Membunuh Warga Muslim atau Non-Muslim
Di halaman sebelumnya, kita telah membuktikan berdasarkan dalil Al-Quran dan Hadits Rasulullah Saw. bahwa Islam adalah agama damai yang menjamin perlindungan total terhadap nyawa manusia, properti, serta berbagai kehormatan manusia dalam ranah sosial tanpa membedakan kasta, warna, ras, dan agamanya. Dalam bab ini, kita akan memperlihatkan bahwa jaminan adanya perlindungan, keselamatan, property, serta hak-hak sosial non-muslim di Negara Islam atau Negara non Islam merupakan kewajiban yang mengikat bagi setiap muslim di mana pun secara umum atau di Negara Islam secara khusus.
Dalam khutbah Haji Wada’, Rasulullah Saw. bersabda bahwa nyawa manusia, harta, kehormatan setiap manusia dijamin keselamatannya di dalam Islam,
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ وَ أَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا، فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian seperti kehormatan hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini, sampai kalian berjumpa dengan Tuhan kalian.”[1]
Oleh sebab itu, secara sempurna Islam menegaskan larangan membunuh nyawa tanpa landasan hukum yang jelas, menjarah kekayaannya, memfitnah atau bahkan menghina mereka.
Berdasarkan prinsip ini, membunuh muslim atau non-muslim -di mana saja mereka berada-, secara keras dilarang atas dasar kesamaan. Hal tersebut secara tegas dinyatakan di dalam Al-Quran,
                          
“Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.”[2]

             Ayat ini menggunakan kata nyawa (nafs), yang berarti ungkapan umum yang dapat diaplikasikan secara luas. Dengan kata lain, bahwa membunuh nyawa siapapun tanpa landasan hukum yang jelas adalah terlarang, tidak peduli apakah agama, bahasa, atau kewarganegaraannya. Dosa besar ini disamakan dengan membunuh nyawa manusia seluruhnya. Oleh sebab itu pula, membunuh non-muslim di Negara Islam masuk ke dalam kategori ini.

Membantai Masyarakat Serta Menganggapnya Legal Adalah Perbuatan Kafir
Membunuh satu nyawa dianggap tidak beriman. Imâm Abû Manshûr Al-Mâtûrîdî, salah satu imam Ahlu Al-Sunnah,[3] dalam bidang ilmu kalam, dalam menafsirkan ayat,
                          
“Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.” [4]
Menyatakan bahwa pembunuh dianggap telah melakukan kekafiran. Dia menulis,
مَنِ اسْتَحَلَّ قَتْلَ نَفْسٍ حَرَّمَ اللهُ قَتْلَهَا بِغَيْرِ حَقٍّ فَكَأَنَّمَا اسْتَحَلَّ قَتْلَ النَّاسِ جَمِيْعًا،لأَنَّهُ يَكْفُرُ بِاسْتِحْلاَلِهِ قَتْلَ نَفْسٍ مُحَرَّمٍ قَتْلُهَا، فَكَانَ كَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِ النَّاسِ جَمِيْعًا لِأَنَّ مَنْ كَفَرَ بِآيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ يَصِيْرُ كَافِرًا بِالْكُلِّ...
وَتَحْتَمِلُ الآيَةُ وَجْهًا آخَرَ، وَهُوَ مَا قِيْلَ: إِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْقَتْلِ مِثْلَمَا أَنَّهُ لَوْ قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا.  وَ وَجْهٌ آخَرُ: أَنَّهُ يَلْزَمُ النَّاسَ جَمِيْعًا دَفْعُ ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ وَمَعُوْنَتِهِ لَهُ، فَإِذَا قَتَلَهَا أَوْ سَعَى عَلَيْهَا بِالْفَسَادِ، فَكَأَنَّمَا سَعَى بِذَلِكَ عَلَى النَّاسِ كَافَّةً...
وَهَذَا يَدُلُّ أَنَّ الآيَةَ نَزَلَتْ بِالْحُكْمِ فِيْ أَهْلِ الْكُفْرِ وَ أَهْلِ الإِسْلاَمِ جَمِيْعًا إِذَا سَعَوْا فِيْ الأَرْضِ بِالْفَسَادِ
“Barangsiapa yang menganggap legal pembunuhan satu nyawa tanpa alasan yang benar yang telah diharamkan oleh Allah, maka seolah-olah dia telah melegalkan pembunuhan seluruh manusia. Dia telah menjadi kafir karena telah melegalkan pembunuhan satu nyawa yang telah diharamkan oleh Allah. Dia seolah-olah telah melegalkan pembunuhan seluruh manusia, karena siapa yang kafir terhadap satu ayat Al-Qur`an, maka berarti dia telah kafir terhadap seluruh ayat-ayat Al-Qur`an.

Ayat ini juga bisa bermakna lain. Yaitu pendapat yang mengatakan bahwa sesungguhnya hukuman pembunuhan itu setara dengan pembunuhan seluruh manusia. Makna lainnya adalah sesungguhnya hal itu mengharuskan semua orang secara kolektif mencegah (terjadinya) pembunuhan. Apabila dia melakukannya atau turut serta dalam makar itu, maka seolah-olah dia telah melakukan pembunuhan itu kepada seluruh manusia.

Ini juga menunjukkan sesungguhnya ayat ini turun sebagai hukum yang berlaku untuk seluruh muslim dan non-muslim, apabila mereka melakukan kerusakan (seperti pembunuhan, edt) di muka bumi.”[5]
Dalam bukunya Al-Lubâb fî ‘Ulûm Al-Kitâb, Abû Hafs al-Hanbali menafsirkan ayat, “Seolah-olah dia telah membunuh seluruh manusia,”[6] kemudian dia menyatakan bahwa membunuh satu nyawa manusia sebanding dengan membunuh semua manusia. Kemudian ia mengutip pendapat Imam lain untuk menguatkan pendapatnya,
قَالَ مُجَاهِدٌ: مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُحَرَّمَةً يَصْلَى النَّارَ بِقَتْلِهَا، كَمَا يَصْلاَهَا لَوْ قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا وَقَالَ قَتَادَةُ: أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَهَا وَعَظَّمَ وِزْرَهَا، مَعْنَاهُ مَنِ اسْتَحَلَّ قَتْلَ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا، قَالَ الْحَسَنُ: فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا يَعْنِيْ: أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الْقِصَاصِ بِقَتْلِهَا مِثْلَ الَّذِيْ يَجِبُ عَلَيْهِ لَوْ قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا.
قَوْلُهُ تَعَالَى: [ إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوْا أَوْ يُصَلَّبُوْا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلاَفٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ إِلاَّ الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوْا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ ]
وَ قَوْلُهُ [ يُحَارِبُوْنَ اللهَ] أَيْ يُحَارِبُوْنَ أَوْلِيَائَهُ، كَذَا قَدَّرَهُ الْجُمْهُوْرُ، وَ قَالَ الزَّمَخْشَرِيُّ يُحَارِبُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ، وَ مُحَارَبَةُ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ حُكْمِ مُحَارَبَتِهِ هَذِهِ الآيَةِ نَزَلَتْ فِيْ قُطَّاعِ الطَّرِيْقِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ هَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ.

أَنَّ قَوْلَهُ [ الَّذِيْنَ يُحَارِبُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا ] يَتَنَاوَلُ كُلَّ مَنْ كَانَ مَوْصُوْفًا بِهَذِهِ الصِّفَةِ، سَوَاءٌ كَانَ كَافِرًا أَوْ مُسْلِمًا وَلاَ يُقَالُ الآيَةُ نَزَلَتْ فِيْ الْكُفَّارِ لِأَنَّ الْعِبْرَةَ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَبِخُصُوْصِ السَّبَبِ،فَإِنْ قِيْلَ: الْمُحَارِبُوْنَ هُمُ الَّذِيْنَ يَجْتَمِعُوْنَ وَ لَهُمْ مَنَعَةٌ وَ يَقْصِدُوْنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ أَرْوَاحِهِمْ وَ دِمَائِهِمْ وَ اتَّفَقُوْا عَلَى أَنَّ هَذِهِ الصِّفَةِ إِذَا حُصِلَتْ فِيْ الصَّحْرَاءِ كَانُوْا قُطَّاعَ الطَّرِيْقَ وَ أَمَّا إِنْ حُصِلَتْ فِيْ الأَمْصَارِ فَقَالَ الأَوْزَاعِيُّ وَ مَالِكٌ وَ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ وَ الشَّافِعِيُّ هُمْ أَيْضًا قُطَّاعُ الطَّرِيْقِ، هَذَا الْحَدُّ عَلَيْهِمْ، قَالُوْا: وَ إِنَّهُمْ فِيْ الْمُدُنِ بَكُوْنُوْنَ أَعْظَمُ ذَنْبًا فَلاَ أَقَلَّ مِنَ الْمُسَاوَاةِ، وَاحْتَجُّوْا بِالآيَةِ وَعُمُوْمِهَا وَ لِأَنَّ هَذَا حَدٌّ فَلاَ يَخْتَلِفُ كَسَائِرِ الْحُدُوْدِ
“Mujahid berkata,”Barangsiapa yang membunuh satu nyawa yang diharamkan, maka dia akan masuk neraka karena pembunuhannya itu, sebagaimana dia juga akan masuk neraka jika melakukan pembunuhan massal.” Qatadah berkata, ”Allah memberikan pahala yang besar dan juga siksa yang besar.” Maknanya adalah bahwa orang yang melegalkan pembunuhan seorang muslim tanpa alasan yang benar, maka seolah-olah dia telah membunuh seluruh manusia. Al-Hasan berkata, ”Seolah-olah membunuh manusia seluruhnya” bermakna bahwa si pelaku pembunuhan harus dihukum qishash karena membunuh satu jiwa, sebagaimana juga dia harus dihukum qishash kalau dia membunuh seluruh manusia.”
“Firman-Nya,”Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”[7]
“Firman-Nya,”Mereka memerangi Allah,” maksudnya yaitu memerangi wali-wali Allah. Demikianlah (penafsiran) mayoritas para ulama. Al-Zamakhsari berpendapat, ”Memerangi Rasul-Nya dan umat Islam sama dengan memerangi-Nya.” Ayat ini diturunkan mengenai para perompak dari kalangan kaum muslimin. Inilah pendapat mayoritas ahli fiqih.”[8]
“Sesungguhnya firman-Nya, ”Orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi,mencakup setiap orang yang memiliki sifat seperti ini, baik itu muslim ataupun non-muslim. Ayat ini tidak bisa dikatakan turun untuk non-muslim saja karena ungkapan yang berlaku adalah generalisasi ayat bukan latar historis yang kasuistik. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa, “Orang-orang yang memerangi,” itu adalah yang menghimpun kekuatan untuk menyerang nyawa dan darah umat Islam, maka para ulama sepakat sesungguhnya pengertian ini berlaku pada peristiwa yang terjadi di padang pasir sebagai kelompok perompak. Adapun jika terjadi di perkotaan, maka Al-Auza’i, Malik, Al-Laits bin Saad, dan Al-Syafi’i berpendapat, ”Mereka juga disebut perompak. Hukuman ini berlaku bagi mereka.” Para ulama (di atas) juga berpendapat, ”Mereka yang beraksi di perkotaan lebih besar dosanya sehingga tidak bisa disamakan.” Mereka berargumentasi dengan ayat tersebut berikut generalisasinya. Hal ini juga dikarenakan ini adalah satu bentuk sanksi seperti sanksi-sanksi yang lainnya.”[9]

Surga Menjadi Haram Bagi Pembunuh Warga Non-Muslim
Warga non-muslim di Negara Islam mendapatkan hak-hak yang sama secara sosial dan perlindungan seperti warga muslim pada umumnya. Hak pertama yang diberikan kepada mereka oleh Negara Islam adalah mendapatkan perlindungan dari serangan pihak asing serta kejahatan dan gangguan di dalam negeri. Oleh sebab itu, mereka dapat hidup secara damai, di dalam maupun di luar negeri.
Abû Bakar Al-Shiddîq r.a berkata bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda,
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا فِي غَيْرِ كُنْهِهِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad (berada dalam perjanjian dengan pemerintah Islam) dengan alasan yang tidak benar, maka Allah mengharamkan atasnya surga.”[10]
‘Abdullâh bin ‘Umar r.a. berkata bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda,
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا
“Barangsiapa yang membunuh orang kafir mu’ahad (berada dalam perjanjian dengan pemerintah Islam), maka dia tidak akan mencium wangi surga. Sesungguhnya wangi surga itu bisa dicium dari jarak empat puluh tahun perjalanan.”[11]
Oleh sebab itu, orang yang membunuh non-muslim tanpa alasan hukum yang benar, maka si pelaku tidak akan pernah mencium wangi surga; melainkan ia akan dijauhkan darinya sejauh 40 tahun. Mengomentari hadits ini, Anwâr Shâh Kâshmîrî menulis dalam bukunya Faid Al-Bârî,
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَمُخُّ الْحَدِيْثِ: إِنَّكَ أَيُّهَا الْمُخَاطَبُ قَدْ عَلِمْتَ مَا فِيْ قَتْلِ الْمُسْلِمِ مِنَ الإِثْمِ، فَإِنَّ شَنَاعَتَهُ بَلَغَتْ مَبْلَغَ الْكُفْرِ، حَيْثُ أَوْجَبَ التَّخْلِيْدَ. أَمَّا قَتْلُ مُعَاهَدٍ فَأَيْضًا لَيْسَ بِهَيِّنٍ، فَإِنَّ قَاتِلَهُ أَيْضًا لاَ يَجِدُ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad (berada dalam perjanjian dengan pemerintah Islam), maka dia tidak akan mencium wangi surga. Inti hadits ini adalah sesungguhnya engkau wahai saudara, engkau telah mengetahui dosa membunuh seorang muslim. Sesungguhnya keburukannya sampai kepada derajat kafir yang menyebabkan dia akan kekal di neraka. Adapun membunuh seorang kafir mu’ahad (berada dalam perjanjian dengan pemerintah Islam), bukan sesuatu hal yang sepele juga. Sesungguhnya pelakunya juga tidak akan mencium wangi surga.”[12]

Larangan Membunuh Delegasi Asing dan Pemimpin Agama
Islam mengajarkan toleransi dalam urusan dalam dan luar negeri. Berdasarkan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, adalah terlarang membunuh seorang diplomat asing yang datang dari negara musuh untuk merundingkan persoalan diplomasi. Banyak kasus seorang non-muslim datang kepada Rasulullah Saw., bukan saja mereka diperlakukan secara hormat oleh beliau, bahkan beliau memerintahkan para sahabat untuk melakukan hal yang sama. Bahkan tercatat seorang utusan dari Musailamah Al-Kadzdzâb, seorang yang mengaku nabi, mengunjungi Rasulullah Saw. dan mengakui kemurtadan mereka, tapi Nabi Muhammad Saw. memperlakukan mereka dengan hormat karena mereka adalah diplomat. ‘Abdullâh bin Mas’ûd r.a. meriwayatkan,
إِنِّيْ كُنْتُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ جَالِسًا، إِذْ دَخَلَ هَذَا [عَبْدُ اللهِ بْنُ نُوَاحَةَ] وَ رَجُلٌ وَافِدَيْنِ مِنْ عِنْدِ مُسَيْلَمَةَ فَقَالَ لَهُمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :أَتَشْهَدَانِ أَنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ؟ فَقَالاَ لَهُ: تَشْهَدُ أَنْتَ أَنَّ مُسَيْلَمَةَ رَسُوْلُ اللهِ؟ فَقَالَ : آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، لَوْ كُنْتُ قَاتِلاً وَافِداً لَقَتَلْتُكُمَا.
“Sesungguhnya aku pernah duduk bersama Rasulullah Saw., tiba-tiba masuk orang ini (Abdullah bin Nuwahah) dan seorang lagi sebagai utusan dari Musailamah. Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada keduanya, ”Apakah kalian berdua bersaksi bahwa sesungguhnya aku ini utusan Allah?” Keduanya menjawab, ”Apakah Anda (kepada Nabi Muhammad) bersaksi bahwa Musailamah itu utusan Allah?” Nabi menjawab,”Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya. Seandainya aku boleh membunuh utusan, sudah pasti aku akan membunuh kalian berdua.”[13]
Lihatlah, meski mereka adalah murtaddîn (orang yang ke luar dari Islam) dan non-muslim pengikut Musailamah Al-Kadzdzâb, akan tetapi Rasulullah Saw. menunjukkan sikap toleransi yang sangat tinggi kepada mereka. Sebab, mereka adalah para diplomat, mereka tidak boleh ditawan dan tidak boleh dibunuh.
Menurut beberapa riwayat di dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal[14], Mushannaf ‘Abdu Al-Razzâq (al-San’ani)[15], serta Musnad Al-Bazzâr,[16] ada hadits berisi larangan membunuh diplomat atau stafnya.
Hadits yang telah disebutkan di atas meneguhkan bahwa perlindungan nyawa para diplomat atau perwakilan pihak asing merupakan sunnah Rasulullah Saw. ‘Abdullâh bin Mas’ûd r.a. berkata,
فَجَرَتْ سُنَّةٌ أَنْ لاَ يُقْتَلَ الرَّسُوْلُ.
“Telah menjadi sunnah bahwa seorang utusan tidak boleh dibunuh.”[17]
Pernyataan Rasulullah Saw. ini dijadikan contoh dalam hukum internasional dengan menghormati dan memberikan perlindungan kepada para diplomat. Lebih jauh lagi, hadits ini memberikan gambaran bahwa seluruh staf yang tergabung menjadi bagian dari diplomatik yang harus mendapatkan perlakuan yang sama dan tidak dilarang membunuh mereka. Beberapa tahun yang lalu di Pakistan serta negara-negara lain telah terjadi beberapa insiden terhadap diplomat dan para insinyur. Mereka diculik dan kemudian dibunuh. Namun sangat disayangkan, mereka yang melakukan aksi ini terus menerus menyebut diri mereka sebagai mujâhid, meski pada kenyataannya praktik yang mereka lakukan sangat kontradiktif dengan apa yang Rasulullah Saw. contohkan.
Seperti para diplomat yang memiliki hak keamanan dan perlindungan dalam hukum Islam, begitu juga para pemimpin agama; dilarang keras untuk membunuh mereka. ‘Abdullâh bin ‘Abbâs r.a. berkata,
كان رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا بَعَثَ جُيُوْشَهُ، قَالَ لاَ تَغْدِرُوْا وَ لاَ تَغُلُّوْا وَ لاَ تُمَثِّلُوْا وَ لاَ تَقْتُلُوْا الْوِلْدَانَ وَ لاَ أَصْحَابَ الصَّوَامِعِ.
“Apabila Rasulullah Saw. mengutus pasukannya, maka beliau bersabda,”Janganlah kalian melanggar janji, janganlah kalian berkhianat, janganlah kalian memutilasi mayat, dan janganlah kalian membunuh anak-anak dan para penghuni tempat ibadah (di gereja-gereja/sinagog)!”[18]
Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa meski dalam situasi perang -apalagi dalam situasi normal/aman- sangat tidak diizinkan untuk membunuh para pemimpin agama (pendeta/pastor/biksu dan lain-lainnya).

Hukum Qishâsh Muslim dan Non-Muslim Adalah Sama
Dalam Islam, hukum qishâsh dibutuhkan ketika seseorang membunuh orang lain secara sengaja. Baik korbannya itu seorang muslim ataupun non-muslim. Akan tetapi, bagi pembunuh yang tidak disengaja, maka hukumannya adalah dengan memberikan diyât (ganti rugi dengan membayar sejumlah uang). Allah SWT berfirman,
                
“Dan dalam qishash itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”[19]
Mengenai hukuman membunuh tidak disengaja, Allah SWT berfirman,
                                     
“Barangsiapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) membebaskan pembayaran.”[20]
Dalam ayat-ayat terdahulu, qishâsh, atau hukuman dibunuh karena telah membunuh orang lain dengan sengaja, telah dijelaskan. Para ulama sepakat berdasarkan Al-Quran[21] bahwa pembunuh dengan sengaja harus diberi hukuman qishâsh terkecuali keluarga korban memberikan ampunan (grasi) kepada pelaku. Selain pelaku terbebas dari hukuman qishâsh karena ampunan pihak keluarga, dalam ayat ini disebutkan pula bahwa pembunuh harus memberikan kompensasi berupa uang. Dalam hukum Islam, jika seseorang membunuh orang lain tanpa disengaja, dia diwajibkan untuk membayar diyât kepada keluarga korban.
‘Abdu Al-Rahmân bin Bailamânî r.a. berkata,
أَنَّ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ قَتَلَ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَرُفِعَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَ سَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ مَنْ وَفَّى بِذِمَّتِهِ ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَقُتِلَ.
“Sesungguhnya ada seseorang dari kalangan kaum muslimin membunuh seseorang dari kalangan ahlul kitab.[22] Kemudian kasusnya diadukan kepada Nabi Saw. Maka Rasulullah Saw. bersabda, ”Aku lah orang yang paling bertanggung jawab atas haknya.” Maka beliau memerintahkan untuk diqishash, kemudian orang itu pun dibunuh.”[23]
Nabi Muhammad Saw. Telah menjelaskan qishâsh dan diyât dalam hadits berikut ini,
مَنْ أُصِيْبَ بِقَتْلٍ أَوْ خَبْلٍ فَإِنَّهُ يَخْتَارُ إِحْدَى ثَلاَثٍ، إِمَّا أَنْ يَقْتَصَّ، وَ إِمَّا أَنْ يَعْفُوَ، وَ إِمَّا أَنْ يَأْخُذَ الدِّيَةَ، فَإِنْ أَرَادَ الرَّابِعَةَ فَخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ وَ مَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيْمٌ.
“Barangsiapa yang dibunuh atau dicederai anggota tubuhnya, maka dia boleh memilih salah satu dari tiga hal. Meminta qishash; memaafkan; atau mengambil denda. Siapa yang memilih yang keempat, maka tangkaplah dia dan siapa yang melewati batas setelah itu, maka baginya adzab yang pedih.”[24]
Hadits ini secara jelas menetapkan sunnah Rasulullah Saw. bahwa muslim dan non-muslim memiliki kesamaan perlakuan di hadapan hukum qishâsh dan diyât. Berdasarkan riwayat dari ‘Alî bin Abî Thâlib r.a. ia berkata,
إِذَا قَتَلَ الْمُسْلِمُ النَّصْرَانِيَّ قُتِلَ بِهِ.
“Apabila seorang muslim membunuh seorang Nashrani, maka dia harus diqishash karenanya.”[25]
Rasulullah Saw. juga telah menjamin bahwa non-muslim juga akan mendapatkan diyyât. Beliau besabda,
دِيَةُ الْيَهُوْدِيِّ وَ النَّصْرِانِيِّ وَ كُلِّ ذِمِّيٍّ مِثْلُ دِيَةِ الْمُسْلِمِ
“Diyat (denda membunuh) orang Yahudi, Nashrani, dan kafir dzimmi seperti denda (membunuh) seorang muslim.”[26]
Imam Abû Hanîfah rahimahullâh berkata,
دِيَةُ الْيَهُوْدِيِّ وَ النَّصْرَانِيِّ وَ الْمَجُوْسِيِّ مِثْلُ دِيَةِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ.
“Diyat (denda membunuh) orang Yahudi, Nashrani, dan Majusi seperti denda (membunuh) seorang muslim yang merdeka.”[27]
Imam Abu Syihhâb Al-Zuhrî rahimahullâh berkata,
إِنَّ دِيَةَ الْمُعَاهَدِ فِيْ عَهْدِ أَبِيْ بَكْرٍ وَ عُمَرَ وَ عُثْمَانَ مِثْلُ دِيَةِ الْحُرِّ الْمُسْلِمِ.
“Sesungguhnya pada zaman Abu Bakar, Umar, dan Utsman diyat (denda membunuh) orang kafir yang ada di dalam perjanjian seperti denda (membunuh) orang muslim yang merdeka.”[28]
Pendapat Madzhab Fikih Hanafiah juga sepakat bahwa muslim yang membunuh non-muslim harus dibunuh dalam hukum qishâsh. Pendapat ini didukung oleh beragam dalil Al-Quran dan As-Sunnah, yang menyatakan bahwa qishâsh harus ditegakkan. Darah muslim dan non-muslim memiliki kesetaraan derajat kesucian dan perlindungan tanpa mendiskriminasikannya. Imam Al-Nakhâ’î, Ibnu Abî Lailâ, Al-Sya’bî, ‘Utsmân Al-Battî, sama sependapat dengan pandangan madzhab Hanafiah ini.
Keraguan mungkin muncul karena sabda Rasulullah Saw.,
لاَ يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ.
“Orang muslim tidak boleh diqishash karena membunuh orang kafir.”[29]
Kemudian, apa yang dimaksud dengan hadits ini? Para fuqâhâ menjelaskan bahwa kata kafir di dalam hadits tersebut bukan berarti warga non-muslim, tapi mengacu kepada seorang tentara kafir yang terbunuh. Maka dalam hal ini tidak ada hukum qishâsh. Hal ini sudah menjadi ketetapan hukum internasional yang diberlakukan di seluruh negara tanpa ada perbedaan mengenainya.
Fuqaha serta mufassir terkenal, Imam Al-Jassâs, menyatakan berkaitan dengan hadits ini, kata “kafir” di sini adalah berarti non-muslim yang berada dalam situasi perang. Bukan berarti warga sipil non-muslim yang merupakan warga Negara Islam atau warga sipil non-muslim yang merupakan warga negara non-muslim.[30]

Dilarang Melukai Warga Non-Muslim Karena Motivasi Balas Dendam
Menurut Al-Quran dan As-Sunnah, setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Dalam aturan ini ditetapkan bahwa hanya pelaku kedzaliman yang berhak dihukum dan tidak ada pihak mana pun yang dapat bertanggung jawab atas kesalahan itu. Hukuman pelaku tidak dapat dilimpahkan kepada keluarga, teman, atau sukunya. Allah SWT berfirman,
            ﯶﯷ          ﯼﯽ    ﯿ                        
“Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.”[31]
Islam melarang siapa pun untuk menghukum masyarakat banyak yang tidak berdosa karena kedzaliman orang lain. Rasulullah Saw. bersabda,
لاَ يُؤْخَذُ مِنْهُمْ رَجُلٌ بِظُلْمِ آخَرَ.
“Seseorang di kalangan mereka tidak akan dihukum karena kedzaliman yang lainnya.”[32]
Semua keterangan ini menjelaskan kepada kita bahwa mereka yang menuntut balas dengan cara meneror dan membunuh orang dari negara lain  telah menentang serta mengotori perintah Al-Quran dan As-Sunnah.

Larangan Merampas Kekayaan Non-Muslim
Dalam Islam dilarang merampas harta kekayaan milik orang lain. Allah SWT berfirman,
                                      
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”[33]
Rasulullah Saw. melarang pencurian harta orang lain. Beliau bersabda,
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ.
“Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah haram atas kalian.”[34]
Sama juga warga non-muslim, perlindungan terhadap harta mereka dijamin oleh Negara Islam. Ada ‘Ijmâ (kesepakatan) di antara para ulama mengenai masalah ini. Imâm Abû ‘Ubaid al-Qâsim bin Sallâm, Ibnu Zanjawaih, Ibnu Sa’ad dan ‘Abû Yûsuf semuanya mengutip perjanjian Rasulullah Saw. dengan pihak Kristen Najran.
وَ لِنَجْرَانَ وَ حَاشِيَتِهَا جَوَارُ اللهِ وَ ذِمَّةُ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَ أَنْفُسِهِمْ وَ أَرْضِهِمْ وَ مِلَّتِهِمْ وَ غَائِبِهِمْ وَ شَاهِدِهِمْ وَ عَشِيْرَتِهِمْ وَ بِيَعِهِمْ وَ كُلِّ مَا تَحْتَ أَيْدِيْهِمْ مِنْ قَلِيْلٍ أَوْ كَثِيْرٍ.
“Bagi kabilah Najran dan aliansinya berada dalam lindungan Allah dan jaminan Muhammad Rasulullah Saw. atas harta, jiwa, tanah, agama, keluarga, dan tempat ibadah mereka, (warga) yang hadir atau pun yang absen di kalangan mereka dan apa yang mereka miliki, sedikit ataupun banyak.”[35]
Surat ‘Umar bin Khattâb r.a. yang ditulis kepada ‘Abû ‘Ubaidah r.a. Gubernur Syiria selanjutnya, juga berisi tentang nasihat yang sama,
وَ امْنَعِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ ظُلْمِهِمْ وَ الإِضْرَارِ بِهِمْ وَ أَكْلِ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ بِالْحَقِّ.
“Cegahlah orang-orang muslim dari menzalimi dan mengganggu serta memakan harta (sesama) mereka tanpa alasan yang benar.”[36]
‘Alî bin Abî Thâlib r.a. berkata,
إِنَّمَا بَذَلُوْا الْجِزْيَةَ لِتَكُوْنَ دِمَاؤُهُمْ كَدِمَائِنَا، وَ أَمْوَالُهُمْ كَأَمْوَالِنَا.
“Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) membayar jizyah (uang jaminan)[37] agar darah dan harta mereka terjamin seperti darah dan harta kita.”[38]
Banyak keterangan yang menunjukkan sangat dihormatinya nyawa, harta, dan kehormatan non-muslim yang harus dijaga keutuhannya oleh Negara Islam serta diperlakukan sama dalam kapasitasnya sebagai warga negara. Bahkan kenyataannya, kaum muslimin dilarang membunuh babi dan menghancurkan perkebunan anggur milik non-muslim. Jika kaum muslimin melakukannya, maka mereka akan mendapatkan sanksinya. Kitab Fikih terkenal bermadzhab Hanafi, al-Durr al-Mukhtâr menyatakan,
يَضْمَنُ الْمُسْلِمُ قِيْمَةَ خَمْرِهِ وَ خِنْزِيْرِهِ إِذَا أَتْلَفَهُ.
”Seorang muslim wajib membayar ganti rugi arak dan babi (milik) orang kafir, jika dia (si muslim) merusaknya.”[39]
Islam melarang pencurian dan menetapkan hukuman yang tegas atas masalah ini. Ketika seorang perempuan dari Kabilah Quraisy mencuri di masa Rasulullah Saw., maka beliau memerintahkan agar hukuman (potong tangan) diberlakukan padanya. Ketika itu, orang-orang meminta agar beliau memberi keringanan hukuman atasnya. Maka beliau Saw. Menjawab,
وَ أَيْمُ اللهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا.
“Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.”[40]
Imam Yahyâ bin Sharaf Al-Nawawî menulis,
إِنَّ مَالَ الذِّمِّيّ وَ الْمُعَاهَدِ وَ الْمُرْتَدِّ فِيْ هَذَا كَمَالِ الْمُسْلِم.
“Sesungguhnya harta kafir dzimmi dan orang kafir yang berada dalam perjanjian damai, dan orang yang murtad adalah seperti harta seorang muslim.”[41]
Imam Ibnu Qudâma Al-Hanbalî mengatakan bahwa hukuman untuk pencuri harus ditegakkan, walaupun harta yang dicuri adalah milik non-muslim, sama persis seperti ketika milik orang muslim dicuri.[42] Ibnu Hazm mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat tentang hukuman mencuri (potong tangan) harus diberlakukan kepada seorang muslim yang mencuri barang milik non-muslim.[43] Ibnu Rusyd mengatakan ada ijma’ (kesepakatan) yang sama mengenai hal ini.[44]
Warga muslim ataupun non-muslim dipandang sama dalam kacamata hukum Islam dalam hal pencurian. Jika seorang muslim mencuri barang milik non-muslim, maka hukum potong tangan akan diberlakukan kepadanya, dan jika dia secara illegal merebut kekayaan mereka, maka hukuman ta’jîr[45] diberikan. Islam telah mengatur sebegitu ketat mengingat pentingnya urusan hak milik, termasuk hak milik non-muslim walau itu adalah babi dan buah anggur. Jika ada seseorang yang menghacurkan bir milik seorang muslim, maka tidak ada hukuman potong tangan atau ta’jîr yang akan diberikan kepada pelaku, sebab bir dianggap tidak layak dimiliki oleh seorang muslim secara hukum. Tapi di lain pihak, jika anggur itu milik non-muslim, maka pelaku akan mendapatkan hukuman denda, sebab anggur dan babi dipandang milik non-muslim.

Larangan Menghina Warga Sipil Non-Muslim
Baik menghina maupun melecehkan keagungan Islam adalah terlarang dalam Islam. Begitu pula dilarang menghina dan melecehkan warga sipil non-muslim. Tidak ada seorang muslim pun yang diperbolehkan untuk melecehkan, memfitnah, atau bahkan mengatakan suatu kebohongan terhadap warga non-muslim. Islam mencegah para pemeluknya untuk melukai hati warga non-muslim, dengan menghina garis keturunan atau suku bangsa mereka.
Pernah sekali, putra ‘Amr bin Al-‘Âsh, Gubernur Mesir menghukum warga non-muslim secara tidak adil. Ketika komplain ini terdengar oleh Khalifah ‘Umar bin Khattâb r.a., maka Umar pun langsung menghukum anak Gubernur ini di depan umum. Kemudian Umar mengucapkan untaian kata-kata bersejarah, yang menurut para peneliti, peristiwa ini mengispirasi munculnya Revolusi Perancis,
مَتَى اسْتَعْبَدْتُمُ النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُمْ أَحْرَارًا.
“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal mereka telah dilahirkan oleh ibu-ibu mereka dalam keadaan merdeka?”[46]
Melukai warga non-muslim dengan lisan dan tangan atau melecehkan mereka sama terlarangnya ketika perbuatan itu dilakukan terhadap muslim. Dalam al-Durr al-Mukhtâr disebutkan,
يَجِبُ كَفُّ الأَذَى عَنْهُ وَ تَحْرُمُ غِيْبَتُهُ كَالْمُسْلِمِ.
“Wajib tidak mengganggu dan haram melakukan ghibah atasnya seperti pada seorang muslim.”[47]
Imam Syihâb al-Dîn al-Qarâfî, fuqaha bermadzhab Mâlikî telah menulis di dalam bukunya yang berjudul al-Furûq mengenai hak-hak warga non-muslim,
إِنَّ عَقْدَ الذِّمَّةِ يُوْجِبُ لَهُمْ حُقُوْقًا عَلْيَنا لِأَنَّهُمْ فِيْ جَوَارِنَا وَ فِيْ خِفَارَتِنَا وَ ذِمَّتِنَا وَ ذِمَّةِ اللهِ وَ ذِمَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ دِيْنِ الإِسْلاَمِ. فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْهِمْ وَ لَوْ بِكَلِمَةِ سُوْءٍ، أَوْ غِيْبَةٍ فَقَدْ ضَيَّعَ ذِمَّةَ اللهِ وَ ذِمَّةَ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ ذِمَّةَ دِيْنِ الإِسْلاَمِ.
“Sesungguhnya perjanjian dengan kafir dzimmi itu mengharuskan kita menjaga hak-hak mereka, karena mereka berada dalam lindungan, penjagaan, dan jaminan kita. Juga berada dalam jaminan Allah, Rasul-Nya dan agama Islam. Barangsiapa yang mengganggu mereka walaupun dengan sepatah kata jelek atau ghibah, maka dia telah menyia-nyiakan jaminan Allah, Rasul-Nya, dan agama Islam.”[48]
Ibnu ‘Âbidîn al-Syâmî menulis tentang hak-hak warga sipil non-muslim,
لِأَنَّهُ بِعَقْدِ الذِّمَّةِ وَجَبَ لَهُ مَا لَنَا، فَإِذَا حُرِّمَتْ غِيْبَةُ الْمُسْلِمِ حُرِّمَتْ غِيْبَتُهُ بَلْ قَالُوْا إِنَّ ظُلْمَ الذِّمِّيِّ أَشَدُّ.
“Karena sesungguhnya perjanjian dengan kafir dzimmi itu membuat dia mendapat hak seperti kita. Jika ghibah atas seorang muslim itu haram, maka demikian pula dengan dia. Bahkan para ulama berpendapat bahwa menzhalimi kafir dzimmi itu lebih berat dosanya.”[49]
Al-Kasânî menyebutkan hak muslim dan non-muslim itu sama, seperti disebutkan dalam bukunya Badâ’î al-Sanâ’î,
لَهُمْ مَا لَنَا وَ عَلَيْهِمْ مَا عَلَيْنَا.
“Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita.”[50]
Pendapat para fuqâhâ ini membuktikan bahwa membela kehormatan warga sipil non-muslim merupakan tanggung jawab kolektif semua umat Islam.
Rasulullah Saw. memerintahkan kepada umat Islam untuk memperlakukan warga sipil non-muslim secara baik. Adalah merupakan kewajiban Negara Islam untuk memberikan perlindungan terhadap seluruh warga sipil non-muslim dari segala bentuk penindasan, kesalahan, dan ekses-ekses buruk. Jika Negara Islam gagal melakukan tugasnya ini, maka Rasulullah Saw. telah membuat langkah-langkah advokasi untuk melawan para penindas serta memperingatkan mereka akan siksa nanti di Hari Akhir.
Rasulullah Saw. bersabda,
أَلاَ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوْ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Ingatlah, barangsiapa yang menzalimi, melukai, membebani melebihi kemampuannya, atau mengambil sesuatu bukan karena kerelaan seorang kafir yang ada di dalam perjanjian damai, maka aku akan menjadi lawan berhujjahnya pada hari Kiamat.”[51]
Tujuan di balik perintah Rasulullah Saw. ini adalah membuat semua orang muslim menyadari secara sosial bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membela hak-hak warga sipil non-muslim agar mereka tidak ragu-ragu untuk melaksanakan tugas ini.

Melindungi Warga Sipil Non-muslim dari Serangan Luar dan Dalam Negeri
Menurut hukum Islam bahwa melindungi warga sipil non-muslim merupakan tugas dan kewajiban negara. Jika seseorang -tidak menghormati orang lain karena faktor perbedaan bangsa, agama, atau negara- kemudian dia melakukan kedzaliman terhadap warga negara non-muslim seperti dengan menindasnya, maka negara wajib atau bertanggung jawab untuk melindungi warga non-muslim yang tertindas ini, meski perlindungan itu bisa mengakibatkan peperangan. Allah SWT berfirman,
                       
“Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”[52]
Al-Quran menyatakan adzab bagi mereka yang berlaku dzalim terhadap manusia yang lainnya dan memberikan peringatan lebih keras kepada pihak-pihak yang mendukung kedzaliman ini terjadi.
Islam telah meletakkan dasar yang kuat di dalam masalah pemberian perlindungan terhadap hak-hak sipil non-muslim yang kemudian Islam menjadikan hak-hak ini sebagai tanggung jawab Negara Islam. Islam tidak memperbolehkan warga muslim mana pun untuk melanggar hak-hak sipil non-muslim atau mendukung penindasan untuk melakukan kekerasan terhadap mereka, baik secara verbal ataupun fisik.
Banyak sekali ayat dan hadits yang menyatakan akan datangnya azab akibat kekejaman dan penindasan yang ditelantarkan, baik di dunia ataupun akhirat. Baik kepada orang muslim secara umum ataupun kepada warga non-muslim secara khusus.
Hadits riwayat Abu Dâwûd seperti yang terlah disebutkan di atas, bahwa Rasulullah Saw. Telah menyatakan bahwa beliau kelak di hari akhir, beliau akan menjadi hakim untuk mengadili orang-orang dzalim. Hadits lain yang mengungkapkan hal sama telah diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ûd r.a. bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda,
مَنْ آذَى ذِمِّيًّا فَأَنَا خَصْمُهُ، وَ مَنْ كُنْتُ خَصْمَهُ،خَصَمْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Barangsiapa yang menyakiti kafir dzimmi, maka aku lah pembelanya, dan barangsiapa orang yang aku menjadi pembelanya, maka aku pasti akan membelanya pada hari Kiamat.”[53]
Semua negara pada abad ini memiliki tanggung jawab untuk melakukan berbagai tindakan terukur untuk melindungi nyawa warga mereka, baik muslim atau bukan, dari segala bentuk penindasan atau peperangan. Negara menjadi pusat kendali politik, ekonomi, dan hukum beserta kekuatan militer, sehingga mandat dari tanggung jawab ini beralih kepada pemerintah untuk mengambil tindakan-tindakan konstitusional dalam melakukan perlindungan terhadap seluruh warga negaranya dalam rangka menghadapi bahaya yang terjadi di lingkungannya. ‘Ali r.a., sang Amirul Mu`minin berkata,
إنَّمَا بَذَلُوا الْجِزْيَةَ لِتَكُونَ دِمَاؤُهُمْ كَدِمَائِنَا، وَأَمْوَالُهُمْ كَأَمْوَالِنَا.
“Sesungguhnya mereka membayar jizyah (uang jaminan keamanan, yaitu agar darah dan harta mereka terjaga (dilindungi) seperti darah dan harta kita.”[54]
Salah satu kitab fikih bermadzhab Hanbali, Mathâlib Uli al-Nuhâ, menyatakan,
هَذَا مِنْ وَاجِبَاتِ الدَّوْلَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ أَنَّهَا تُوَفِّرُ لِلذِّمِّيِّيْنَ ضَمَانًا كَامِلاً بِكَوْنِهِمْ سُكَّانُ الدَّوْلَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ.
“Ini lah di antara kewajiban-kewajiban Negara Islam, yaitu  Negara wajib memberikan jaminan secara penuh kepada orang-orang kafir dzimmi, karena mereka juga adalah warga Negara Islam.”[55]
Jika ada kekuatan asing dengan menggunakan kekuatan militernya menyerang warga non-muslim di Negara Islam, maka kewajiban Negara Islam lah untuk mengambil langkah-langkah penting untuk melindungi seluruh warga negaranya. Di dalam buku al-Furûq, Imam Al-Qarâfî mengutip pendapat Ibnu Hazm dalam karyanya Marâtib Al-Ijmâ’,
وَجَبَ عَلَيْنَا أَنْ نَخْرُجَ لِقِتَالِهِمْ بِالْكُرَاعِ وَالسِّلاَحِ وَ نَمُوْتُ دُوْنَ ذَلِكَ.
“Kita wajib pergi ke medan perang untuk berperang melawan mereka (orang-orang yang menyakiti kafir dzimmi) dengan kekuatan militer, meskipun kita mati dalam proses itu.”[56]
Ini juga inti dari yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah. Ketika Mongol menjajah Syiria, Ibnu Taimiyyah menemui raja Mongol meminta agar mereka melepaskan para tawanan. Sang Raja Mongol memperlihatkan niat baik mereka untuk melepaskan para tawanan muslim, tapi menolak untuk melepaskan tawanan non-muslim. Lalu Ibnu Taimiyyah berkata, “Kami tidak akan merasa senang, kecuali setelah seluruh tawanan dari umat Yahudi dan Kristen dibebaskan. Mereka adalah warga non-muslim kami, hingga kami tidak akan membiarkan mereka menjadi tawanan, entah menjadi tawanan orang muslim atau tawanan orang non-muslim.” Ketika Raja Mongol melihat ketajaman argumen dari Ibnu Taimiyyah dan kegigihannya, kemudian ia memerintahkan agar seluruh tawanan -baik muslim ataupun non-muslim- agar dilepaskan.[57]
Oleh sebab itu sangat jelas, berdasarkan dalil Al-Quran, As-Sunnah, serta para fuqâhâ bahwa tidak ada satu orang muslim pun yang berhak membunuh warga non-muslim hanya karena alasan dia adalah non-muslim. Begitu juga terlarang merampas dan menjarah harta dan kepemilikan mereka karena alasan yang sama. Dan sebagai tambahan, Islam bukan saja memberikan perlindungan terhadap nyawa, harta, dan kehormatan warga sipil non-muslim, juga memberikan perlindungan total terhadap tempat ibadah mereka.



[1] HR. Bukhari, dalam al-Shahîh: Kitab Al-Hajj, Bab: Khutbah di Hari Mina, 2:260 hadits ke 1654; dan Muslim, dalam al-Shahîh, 3:1305 hadits ke 1679.
[2] Al-Quran, 5:32
[3] Ahlu Al-Sunnah secara bahasa adalah mereka yang mengikuti jejak kenabian; mayoritas salaf Sunni, yang direpresentasikan oleh aliran kalam Abû Hasan Al-‘Asy’arî dan Abû Manshûr Al-Mâtûrîdî beserta empat imam madzhab sunnah.
[4] Al-Quran, 5:32.
[5] Abû Manshûr Al-Mâthûrîdî, Ta’wîlât Ahli Al-Sunnah, 3:501.
[6] Al-Quran, 5:32.
[7] Al-Quran, 5:33-34.
[8] Husain al-Baghawî, Ma’âlim al-Tanzîl, 2:33, dan al-Razî, al-Tafsîr al-Kabîr, 11:196.
[9] Abû Hafs Al-Hanbali, al-Lubâb fi ‘Ulûm Al-Kitâb, 7: 301.
[10] HR. Imam Al-Nasâ’i, dalam al-Sunan: Kitab al-Qasâmah, Bab: Membunuh Warga Non-Muslim Dosa Besar, 8:24 hadits ke 4747; Abû Dâwûd, dalam al-Sunan: Kitab al-Jihâd, Bab: Menunaikan Hak Non-Muslim dalam Perjanjian dan Kesucian Perjanjiannya, 3:83 hadits ke 2760; Ahmad bin Hanbal, dalam al-Musnad, 5:36 hadits ke 20393; Al-Dârimî, dalam al-Sunan, 2:308 hadits ke 2504; Al-Hâkim, dalam al-Mustadrak, 2:154 hadits ke 2631; Al-Hakim berkata, “Hadits ini sangat shahih.”
[11] HR. Bukhari, dalam al-Shahîh: Kitab al-Jizyah, Bab: Dosa Membunuh Warga Non-Muslim Tanpa Alasan Menghukum Perbuatan Kriminalnya, 3:1155 hadits ke 2995; Ibnu Mâjah, dalam al-Sunan: Kitab al-Diyât, Bab: Orang yang Membunuh Warga Non-Muslim, 2:896 hadits ke 2686; dan Al-Bazzâr, dalam al-Musnad, 6:368 hadits ke 2383.
[12] Anwâr Shâh Kâsmîrî, Faid Al-Bârî ‘ala Al-Shahîh Al-Bukhâri, 4:288.
[13] HR. Al-Dârimî, dalam al-Sunan, 2:307 hadits ke 2503; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, 1:404 hadits ke 3837; Al-Nasâ’i, al-Sunan al-Kubrâ, 5:205 hadits ke 8675; Abû Ya’lâ dalam al-Musnad, , 9:31 hadits ke 5097; dan Al-Hakim, dalam al-Mustadrak, 3:54 hadits ke 4378.
[14] HR. Ahmad di dalam al-Musnad 1:390, 396 hadits ke 3708, 3761.
[15] HR. Abd al-Razzaq dalam al-Mushannaf, 10:196, hadits ke 18708.
[16] HR. al-Bazzar dalamn al-Musnad, 5:142 hadits ke 1733.
[17] HR. Imam Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, 1:390, hadits ke 3708.
[18] HR. Imam Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, 1:330 hadits ke 2728; Ibnu Abi Syaibah, dalam al-Mushannaf, 6:484 hadits ke 33132; Abû Ya’lâ dalam al-Musnad, 4:422 hadits ke 2549; hadits ini dikutip juga oleh Ibnu Rusyd di dalam Bidâyah Al-Mujtahid, 1:281.
[19] Al-Quran, 2:179.
[20] Al-Quran, 4:92.
[21] Al-Quran, 2:178.
[22] Ahlu al-Kitab, secara bahasa yaitu orang-orang yang diberi al-Kitab. Secara istilah merujuk kepada Yahudi dan Nashrani.
[23] Dikutip oleh Imam Al-Syafi’I dalam al-Musnad, hal. 343; HR. Abu Nu’aim dalam Musnad Abî Hanifah, hal. 104; Disebut pula oleh Al-Syaibâni dalam Al-Mabsût, 4:488; begitupula Imam Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam al-Sunan al-Kubrâ, 8:30 hadits ke 15696.
[24] HR. Abû Dâwûd dalam al-Sunan: Kitab Al-Diyât, Bab: Pemimpin Meminta Ampun Terlebih Dahulu dalam Hal Penegakan Qishash, 4:169 hadits ke 4496; ‘Abdu Al-Razzâq, dalam al-Mushannaf, 10:86 hadits ke 18454.
[25] Disebutkan oleh Imam Al-Syaibânî dalam Al-Hujjah, 4:349; dan Imam Al-Syâfi’î dalam Al-Umm, 7:320.
[26] HR. ‘Abdu Al-Razzâq, dalam al-Mushannaf, 10:97-98; dikutip juga oleh Ibnu Rusy dalam Bidâyah Al-Mujtahid, 2:310.
[27][27] HR. Ibnu Abi Syaibah, dalam al-Mushannaf, 5:407; ‘Abdu Al-Razzâq, dalam al-Mushannaf, 10:95,97,99.
[28] Dikutip oleh Al-Syaibani dalam Al-Hujjah, 4:351 dan Imam Al-Syâfi’î dalam al-Umm, 7:321.
[29] HR. Al-Bukhari, dalam al-Shahîh: Kitab Al-‘Ilm, Bab: Mendiktekan Ilmu, 1:53 hadits ke 111.
[30] Dikutip dari Abu Bakar Al-Jassâs dalam Ahkâm Al-Quran, Bab: Tentang Muslim yang Membunuh Warga Non-Muslim hal. 140-144.
[31] Al-Quran, 6:164.
[32] Dikutip oleh Abû Yusuf dalam Kitab Al-Kharâj hal. 78; Al-Balâdhudrî dalam Futûh al-Buldân, hal.90.
[33] Al-Quran, 2:188.
[34] HR. Bukhari, dalam al-Shahîh: Kitab al-Hajj, Bab: Khutbah di Hari Mina, 2:260 hadits ke 1654.
[35] Dikutip oleh Abû Yusuf dalam Kitab Al-Kharâj hal. 78, Abû ‘Ubaid Al-Qâsim bin Sallâm, dalam Kitab AlAmwâ, hal. 244-245; Ibnu Sa’ied, 1:288, 358; Ibn Zanjawaih dalam Kitab al-Amwâl hal. 449-450; dan Al-Baladhurî, hal. 90.
[36] Dikutip oleh Abû Yûsuf dalam Al-Kharâj, hal. 152.
[37] Jizyah atau pajak dipungut dari warga non-muslim, sebagai ganti pelayanan militer.
[38] Dikutip oleh Ibnu Qudâmah dalam al-Mughnî, 9:181; dan al-Zailâ’î dalam Nasbu Al-Râyah, 3:381.
[39] Al-Haskafî, al-Durr Al-Mukhtâr, 2:223; dan al-Shâmî, Radd Al-Mukhtâr, 3:273.
[40] HR. Bukhari, dalam al-Shahîh: Kitab al-Anbiyâ’, Bab: Hadits Tentang Gua, 3:1282 hadits ke 3288; Muslim, dalam al-Shahîh: Kitab al-Hudûd, 3:1315 hadits ke 1688.
[41] Al-Nawawî, Syarah Shahîh Muslim, 12:7.
[42] Ibnu Qudâma Al-Maqdisî, al-Mughnî, 9:112.
[43] Ibnu Hazm, Al-Muhalla, 10:351.
[44] Ibnu Rusy, Bidâyah Al-Mujtahid, 2:299.
[45] Ta’jîr adalah hukuman cambuk yang dilaksanakan agar pelaku merasa jera.
[46] Diriwayatkan oleh al-Hindî, dalam Kanzu al-‘Ummâl, 2:455.
[47] Al-Haskafî, al-Durr al-Mukhtâr, 2:223; Ibnu ‘Âbidîn al-Shâmî, Radd Al-Mukhtâr, 3:273-274.
[48] Al-Qarâfî, al-Furûq, 3:14.
[49] Ibnu ‘Âbidîn al-Syâmî, dalam Radd al-Muhktâr, 3:273, 274.
[50] Disebutkan oleh al-Kasânî dalam Badâ’î al-Sanâ’î, 7:111.
[51] HR. Abu Dâûd, dalam al-Sunan: Kitab al-Kharâj wa al-Imârah wa al-Fai’, 3:170 hadits ke  3052; Al-Baihaqî, dalam al-Sunan al-Kubrâ, 9:205 hadits ke 18511; al-Mundhirî, dalam al-Targhîb wa al-Tarhîb, 4:7 hadits ke 4558; Al-‘Ajlûnî dalam Kasyf Al-Khafâ dan mengatakan bahwa ini adalah hadits yang derajatnya hasan (2:342).
[52] Al-Quran, 7:165.
[53] Disebutkan oleh Khatib Al-Baghdâdî dalam Târîkh Al-Baghdâd dengan sanad yang baik (8:370); lalu dikutip juga oleh Badr Al-Dîn al-‘Âinî dalam ‘Umdah Al-‘Qârî, 15:89.
[54] Disebutkan oleh Ibnu Qudâmah al-Maqdisî dalam al-Mughnî, 9:181; dan Zaila’în dalam Nasbu al-Râyah, 3:381.
[55] Musthafâ bin Sa’ad, Mathâlib ûli Al-Nuhâ, 2:602-603.
[56] Syihâb Al-Dîn Al-Qarâfî, al-Furûq, 3:14-15.
[57] Ibnu Taimiyyah, Majmû’ Al-Fatâwâ, 28:617-618.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar