Senin, 27 Agustus 2012

Dakwah Islam di Indonesia dan Masalah WNI Keturunan China

UNDANG-UNDANG TENTANG  WNI  KETURUNAN CINA DAN DAKWAH ISLAM
(oleh Hoedaifah Koeddah dan diupload oleh Abu Fatimah, Lc)

www.arrisalah-institute.blogspot.com Pada tahun 1952, Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno di depan Parlemen waktu itu pernah menguraikan tentang Rancangan Undang-Undang Warga Negara. Beliau mengusulkan RUU tersebut dengan tujuan :
  1. Menghapuskan UU Kewarganegaraan warisan kolonial Belanda
  2. Undang-Undang yang baru ini memberikan status yang sama terhadap seluruh warga negara tanpa melihat asal usulnya.
  3. Diharapkan UU baru ini akan mendorong dan mempercepat PEMBAURAN.
  4. Terhadap Golongan Turunan Arab, yang nyatanya telah membaur diberlakukan ”STELSEL PASIF ”artinya; Selama tiga/enam bulan UU ini berlaku efektiv dan mereka tidak menolaknya, maka secara otomatis mereka akan menjadi WNI tanpa harus mengajukan permohonan untuk menjadi Warga Negara Indonesia.  RUU ini akhirnya diterima oleh Parlemen dan disetujui oleh semua Partai Politik, kecuali Partai Masyumi. Mengapa ada perlakuan lain terhadap Golongan Arab? Undang-Undang Kolonial Belanda memperlakukan TIGA TINGKATAN WARGA NEGARA.
  1. Tingkat Pertama: Penduduk asal Belanda dan Eropa dan beragama Nasrani.
  2. Tingkat Kedua: Penduduk asal TURUNAN ASING, CINA, ARAB, INDIA dan lainnya.
  3. Tingkat Ketiga : Penduduk PRIBUMI dengan nama INLANDER.
Setiap tingkat mempunyai keistimewaan  perlakuan sosial-politik, ekonomi dan perdagangan, pendidikan dan pengelompokan tempat tinggal. Golongan Arab bereaksi secara sporadis menolak perlakuan sebagai TIMUR ASING. Di banyak daerah mereka meminta diperlakukan sebagai PRIBUMI. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda pribumi yang terdidik dari bermacam suku dan agama melakukan Kongres Pemuda Kedua dan be-ikrar bahwa mereka :
             BERBANGSA SATU;  BANGSA INDONESIA.
             BERNEGARA SATU;  NEGARA INDONESIA.
             BERBAHASA SATU;  BAHASA INDONESIA.
Peristiwa ini dikenal sebagai SUMPAH PEMUDA dan diperingati setiap tahunnya.
            Pada tahun 1934 Abdurrahman Baswedan** mendirikan PARTAI ARAB INDONESIA (PAI). Pada Muktamar Pertama  mengadopsi SUMPAH PEMUDA. Artinya golongan Arab secara kolektif memperlakukan dirinya sama dengan pribumi dan melepaskan  fasilitas yang enak sebagai TIMUR ASING.
Pembauran golongan Arab bukan hanya karena agama Islam tapi juga faktor sikap politik yang NASIONALIS. Pada tahun 1936 Partai Arab Indonesia diterima bergabung sebagai anggota GAPI (Gabungan Partai Indonesia).
Adapun turunan Cina, mereka sejak 1905 mendirikan organisasi Tionghoa dengan nama Tionghoa Hwee Koan (THHK) yang bergerak dalam bidang perdagangan yang esklusif hanya untuk kalangan Tionghoa (Cina), pendidikan dan olah raga.
Faktor kedua (setelah kemerdekaan) yang tak kalah penting: Golongan Arab menolak waktu diberi dua kursi di Parlemen sebagai Golongan Minoritas. Abdurrahaman Baswedan, Mr. Hamid Al Gadri dan tokoh lain  menyatakan akan duduk di Parlemen sebagai Wakil Partai. Pada kenyataan WNI Turunan Arab di Parlemen berjumlah lebih dari dua puluh persen mewakili banyak Partai Politik.

Bagaimana Golongan Cina
Pada zaman kolonial, golongan Cina menikmati status Timur Asing. Kalau ada yang beragama Nasrani, maka fasilitasnya akan ditambah. Mereka menyebut golongan Pribumi dengan sebutan HUWANA artinya setan hitam. Berbeda dengan golongan Arab yang menyebut Pribumi dengan sebutan AKHWAL (saudara se-ibu) atau  WATHANI (Pemilik Negeri). 
Sikap Turunan Cina terhadap RUU Warga Negara ini terbagi menjadi tiga kelompok :
1.     Menolak dan tetap memilih Warga Negara CINA.
2.     Meminta DWI WARGA NEGARA; CINA dan INDONESIA.
3.     Menerima sebagai Warga Negara Indonesia.

Karena sikap ini, kepada golongan CINA diperlakukan harus menempuh bermacam proses  dan harus MEMOHON untuk menjadi Warga Negara Indonesia. Di Zaman kolonial, sebagian besar golongan Cina beragama Budha. Saat ini dari enam juta golongan Cina, lebih dari 50 % beralih ke agama Nasrani/Kristen, Katolik atau Pantekosta. Hanya 30.000 (tiga puluh ribu =0,5 %) saja yang beralih ke Islam. Lainnya tetap beragama Budha. Ini adalah gejala aneh. Imigran Cina yang tersebar di seluruh dunia biasanya menganut agama seperti agama yang dianut mayoritas penduduk di mana mereka tinggal. Di Thailand mereka beragama Budha, di Philipina mereka beragama Katolik dan di Amerika mereka beragama Protestan. Di Indonesia mereka masih dipengaruhi doktrin yang ditanamkan oleh kolonial Balanda bahwa masuk Islam itu artinya  kumpul dengan orang bodoh dan miskin.

Mengapa demikian?
Anggapan masuk Islam sama dengan menjadi miskin, bodoh dan terbelakang hasil didikan kolonial Belanda masih susah dihapuskan. (padahal, di Eropa dan Amerika Latin, siapa yang miskin di sana? Jawabanya: Orang-orang Nasrani. Tapi di Arab Saudi, siapa yang kaya? Orang-orang Islam). 
Mereka menjadi operator ekonomi dari tingkat paling atas di kota  sampai paling bawah di pedesaan. Pada tahun 1953, Pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa golongan Cina tidak boleh bermukim dan berdagang di desa. Maksud peraturan ini untuk mendorong timbulnya pedagang pribumi di desa. Setelah berjalan dua tahun, Pemerintah terpaksa mencabut peraturan ini, karena  kekosongan yang ditinggal oleh pedagang kecil Cina sangat lambat diisi oleh Golongan Pribumi. Sebagai operator pedagang kecil di pedesaan, kaum pribumi ternyata tak efektiv. Harga kebutuhan sehari-hari menjadi lebih tinggi. Kerena sistim pendidikan Kolonial tak membatasi pendidikan untuk golongan Cina dan  mereka bisa dan mampu mendirikan Sekolah Swasta Cina, tingkat pendidikan turunan Cina lebih tinggi dari pribumi. Untuk mengatasi faktor tersebut, Pemerentah membuat kebijakan yang agak rasialis.   
1.     Mendeportasi golongan Cina yang menolak menjadi Warga Negara Indonesia dan kelompok yang meminta Dwi Warga Negara yang bersuara vokal. Lebih dari 15.000 (lima belas ribu) orang yang dideportasi waktu negara dalam keadaan Darurat Perang (tahun 1957).
2.     Menutup semua  Sekolah Swasta exklusiv untuk golongan Cina.
3.     Dilarang mengajarkan dan menyebarkan tulisan berbahasa Cina.
4.     Melarang mengekspresikan kebudayaan khas Cina di depan umum.
5.     Tidak mengakui Kong Hu Cu sebagai Agama.
6.     Menggiatkan DAKWAH AGAMA ISLAM di kalangna Cina.
7.     Melarang golongan Cina masuk Akademi Militer, dan Kepolisian serta membatasi yang bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil dan pembatasan yang bisa diterima di Universitas Negeri.

Kebijakan ini diberlakukan sejak zaman Soekarno dan dilanjutkan oleh Presiden Soeharto. Soeharto menggantikan Soekarno setelah berhasil menggagalkan Usaha Perebutan Kekuasaan oleh Partai Komunis Indonesia  pada 30 September 1965. Hasil investigasi menunjukkan bahwa ada campur tangan Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC) dalam usaha perebutan kekuasaan itu. Sampai tahun 1989, Presiden Soeharto tidak membuat hubungan deplomatik dengan RRC.
Ada perbedaan dalam penerapan. Soekarno memberi Posisi Politik untuk keturunan Cina yang beragama Islam. Muhammad Hasan (dari Partai Nahdlatul Ulama) menjadi Menteri Perdagangan dan Lie Kiat Teng (Partai Sarekat Islam) menjadi Menteri Kesehatan.Tapi Soekarno sangat membatasi kiprah Ekonomi Tururan Cina. Presiden Soeharto memberikan keleluasaan ekonomi, tapi tak memberi posisi politik kecuali pada satu orang Bob Muhammad Hasan (Muallaf Cina), sebagai Menteri Perdagangan pada Kabinet terahir Soeharto. Semua kebijakan itu dimaksudkan untuk mendorong dan mempercepat PEMBAURAN. Dalam menggiatkan dakwah pada keturunan Cina, Soeharto mendorong banyak misi Muhibah Ulama Islam Cina (Peking) ke Jakarta dan dibawa keliling kota dengan konsentrasi penduduk turunan Cina yang besar seperti Medan, Surabaya dan Bandung. Juga sebaliknya muallaf Cina Indonesia berkunjung ke Cina.
Meminta Para Menteri mengundang di rumah Dinas keturunan Cina Islam di bulan Ramadhan untuk buka puasa dan tarawih bersama. Ketika seorang wanita Cina Islam, Lie Soe Moi menjadi Juara Kedua Musabaqah Tilawatil Qur ’an Tingkat Nasional, Soeharto mendorong untuk sering ditampilkan pada acara resmi sebagai Pembaca  Qur ’an. Soeharto menerima pimpinan Islam Cina pada audensi di Istana Presiden dan memberikan posisi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung pada Yunus Yahya (muallaf Cina ) yang waktu itu sangat populer berdakwa. Secara khusus Soeharto meminta Jenderal Alam Syah untuk membina muallaf Cina. Organisasi Muallaf Cina secara Nasional yang sebelumnya bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia di singkat PITI, dirubah oleh Jenderal Alam Syah menjadi Pembina Iman Tauhid Indonesia. Singkatannya tetap PITI. Alam Syah mengatakan tak ada Islam Cina  atau Islam Jawa.
Yunus Yahya mendirikan masjid di komplek Pertokoan Cina di jalan Lautse, yang diasuh oleh Yayasan Karim Oei dan mendorong berdirinya masjid di Pusat Belanja Cina di Glodok. Kedua masjid ini dijadikan pusat kegiatan dakwah. Almarhum Tal’at Amin Hamdi dan Abdullah Alim pernah sembahyang Jum’ah dan taraweh di masjid ini.

Tokoh Utama muslim Cina waktu itu :
1.     Faisal Tung, pedagang (sudah meninggal)
2.     Haji Mas Agung pemilik Jaringan Toko Buku Mas Agung dan buku- buku Islam,Toko Buku  Wali Songo, (sudah meninggal). Beberapa kali Tal’at Amin Hamdi menerima kedatangan Haji Mas Agung dan sembahyang Jumat di masjid Wali Songo yang didirikan oleh Mas Agung pribadi.
3.     Abdul Karim Oei. Pernah menjadi Ketua Wilayah Muhammadyah di Propinsi Bengkulu. (sudah meninggal).
4.     Jendral Alam Syah. Pembina Muallaf Cina, (sudah meninggal).
5.     Yunus Yahya, (sakit tua).
6.     Usman Efendi, tokoh muda, seorang wartawan. Dia penggerak dakwah Islam muallaf Cina melalui saluran TV.  (sudah meninggal)
Usman Effendi banyak menulis tentang muallaf Cina di Indonesia dan menulis tentang Islam di Negara Cina. Maksud penulisan untuk memberi penerangan bahwa banyak juga penganut Islam dan masjid di Peking, Kanton dan Sing Kiang penganut Islam. Di Peking ada 42 Masjid.

Tokoh yang masih hidup.
1.     DR Hembing, ahli Terapi Tusuk Jarum dan Pengobatan Herbal. Beberapa kali bertemu dengan (alm) Tal ’at Amin Hamdi.
2.     Jhoni Yusuf Abdullah. Mempunyai Perusahaan Pemetaan Jalur Pipa Gas dan kabel Serat Optik di bawah Laut.
3.     Haji Amid Grundig , -Pedagang alat Elektronik.
4.     Max Mulyadi.  Pemilik Pabrik Garmen dan Kaos Kneting.
5.     Hartono, muallaf di Surabaya. Pendiri Masjid Ceng Ho.
6.     Haji Amin di Bandung. Mempunyai travel yg mempunyai program mengunjungi pusat-pusat Islam di Cina.
7.     DR Syafii Antonio. Ahli  Bank Syariah. Dia mendapat beasiswa dari Kedutaan Yordan untuk sekolah di Al-Bait University, Amman, Yordan. Kemudian berkembang menempuh pendidikan lanjutan. Berhasil banyak menarik kaum Muda Cina yang terdidik untuk masuk Islam.
8.     Surya Saputra. Pendakwah. Setiap Jumat selalu menjadi khatib Salat Jum’at. Putranya sekolah di  Sekolah Al-Haramain.
9.     Alifuddin. Penceramah yang banyak diminati masyarakat.
10.  Anton Medan. Masa lalulunya kelam. Diputus Pengadilan bersalah dalam satu tindakan kriminal. Di Penjara dia masuk Islam. Saat ini mengasuh Pesantren dan mengasuh anak Jalanan di pesantrennya.
11.  Irene Handono. Wanita turunan Cina yang sebelumya Pendeta Protestan. Banyak menulis buku tentang perbandingan Islam dan Nasrani.
12.  Denny Sanusi. Pada tahun 1987 termasuk salah seorang pendiri PITI. Anaknya sekolah di Al-Haramain.


Dakwah Islam dari kalangan muallaf Cina sangat semarak pada tahun 1980 sampai 1992. Dalam sekala Nasional, dakwah di wadahi organisasi PITI (Pembina Iman Tauhid Indonesia). Sejak 1992 setelah  banyak tokoh yang wafat  dan jatuh nya Soeharto kegiatan dakwah mulai meredup  dan tambah meredup setelah  hambatan expressi Kebudayaan Cina dan pengajaran Bahasa Cina TIDAK DILARANG sejak tahun 1999. Dua orang tokoh Politik, Amin Rais dan Abdurrahman Wahid, dengan tujuan untuk merangkul dan mendapat pengikut dan bantuan dana menuju Pemilihan Umum tahun 1999, secara vokal menyerang kebijakan Soekarno dan Soeharto. Max Mulyadi  mengundang Amin Rais untuk sembahyang dan menjadi khatib salat Jumat di Masjid Lautse. Maktu makan siang setelah salat Jumat,  Max Mulyadi,Yunus Yahya dan DR. Hembing menyampaikan pendapatnya bahwa kebijakan melarang expressi Kebudayaan Cina dan pengajaran serta penerbitan Bahasa Cina masih perlu diteruskan. Karena hanya dengan jalan itu Turunan Cina akan melupakan Negara Leluhur dan akan mempercepat proses pembauran. Dengan ringan Amin Rais menjawab, ”Saya menginginkan dukungan dari mereka.” Abdurrahman Wahid mendorong dengan segala cara agama Kong Hu Cu diakui sebagai agama dan pemerintah tak melarang nikah dengan dasar agama Kong Hu Cu . Di negara Cina, Kong Hu Cu sampai saat ini bukan agama, tapi ajaran falsafah hidup. Perlu diketahui hampir setiap 10-12 tahun di Jakarta dan Surabaya dan Bandung selalu ada kerusuhan rasial yang membakar pertokoan Cina. Penyebab Utama bukan hanya kecemburuan sosial saja, tapi karena Turunan Cina hidup hanya mengelompok (exklusif) di antara mereka saja. Saat ini pemberian gaji pada turunan Cina  dan bukan Cina pada kegiatan industri dan Perusahaan Asuransi dan Bank yang dimiliki Bos Cina berbeda. Akibat sikap demikian, Parlemen sedang membuat peraturan yang akan memberikan sangsi hukum terhadap  pemberian gaji yang berlainan.

STRATEGI DAKWAH
Bagaimana cara dakwah yang efektif? Yunus Yahya melihat kiprah DR. Syafii Antonio, menggagas:
  1. Untuk sebanyak-banyaknya anak muda muallaf Cina didorong untuk menguasai bahasa Arab dan dasar Tauhid yang benar.
  2. Memperbanyak misi muhibah ke Cina dan mengundang ulama Cina Daratan ke Indonesia.
  3. Mensosialisasikan bahwa Islam di Cina sudah lama berkembang dan bukan agama asing. Dinasti MING (1280 -1632 M) adalah dinasti yang banyak mengangkat Petinggi Negara, seperti Menteri dan Panglima Angkatan Lautnya beragama Islam. Dinasti Qing (1632 – 1911) yang menjatuhkan Dinasti Ming, menekan Islam. Sun Yat Sen yang memimpin pemberontakan yang menjatuhkan Dinasti Qing (th 1912) tak menekan Islam demikian juga Pemerintahan Kho Min Tang dengan Presiden, Jendral Chiang Kai Sek  tak menekan Islam. Sebelum Komunis berkuasa th 1949, di Peking ada 42 masjid.
  4. Masjid Al Munawwarah di Kanton (Guangzu) Cina Selatan, sudah berdiri sebelum 20  (dua puluh) tahun Muhammad Rasulullah SAW wafat. Perlu dipopulerkan karena akan berguna untuk mensosialisasikan bahwa di Cina Islam bukan agama yang asing.
  5. Mempopulerkan bahwa Panglima Angkatan Lauit Cina CENG HO pada zaman dinasti Ming beragama Islam.
Sikap Budaya Ras Cina  di manapun dia berada sebagai imigran selalu hidup exklusif, sebelum ada proses terserah pada agama anutan masyrakat di mana dia berada. Soekarno dan Soeharto melihat ada keunggulan sifat kerja keras dan giat dalam berusaha (berdagang). Dari produsen, distributor sampai toko klontong Cina di Indonesia mempunyai rantai pengikat yang kuat karena perasaan satu ras. Untuk memotong sifat-sifat ini ditempuh pelarangan mengajarkan bahasa dan tulisan Cina, mengexpresikan kebudayaan khas Cina di depan publik.
Sebagai operator akan sangat bermanfaat kalau masyarakat Turunan Cina, bisa membaur dan merasa dengan tulus bahwa Indonesia adalah Tanah Airnya.

Kapan Islam Sampai ke Cina?
Menurut Ibnu Batutah, tiga ratus tahun sebelum Islam, sudah banyak pedagang Arab bermukim di Cina Selatan terutama di Kanton. Mereka datang melalui jalan darat dan laut. Salah satu muhajirin ke Habasyah bernama SAAD IBNU LUBAID tak betah dan pergi ke Muikalla (Yaman Selatan). Dari Muikalla mengikuti pelayaran tradisionel sampai di Kanton. Dia menyembunyikan keIslamannya. Sesudah FUTUH Mekah dan beritanya sampai di Konton Saad menemukan banyak masyarakat asal Arab yang beragama Islam yang masih menyembunyikan agamanya. Mereka setelah berembuk, melakukan sembahyang secara terbuka dan mulai mendirikan masjid yang diberi nama Masjid Al-Munawwarah. Sampai saat ini masjid masih berdiri kokoh. Di halaman masjid terdapat  kuburan dengan nisan bertulis SABIK BIN SAAD BIN ABI WAQQAS Putra Paman Rasulullah SWT salah seorang sepuluh SAHABAT yang disebut Rasulullah SWT masuk surga. Mengapa dengan nama sahabat? Karena yang meresmikan adalah Saad bin Abi Waqkas. Pada tahun ke-17 setelah Rasulullah wafat, pasukan Islam sudah sampai di tebing timur Pegunungan Tiang San, menerima utusan Kaisar Cina yang meminta tolong masuk utusan untuk meminta agar pasukan Islam membantunya melawan keponakannya. Muallif Ibnu Abi Syafr, Panglima Pasukan Islam  menjawab bahwa dirinya tak bisa memutuskan tapi akan melaporkan dulu pada Khalifah Usman.
Khalifah Usman menyetujui dan mengirim tujuh ribu pasukan berkuda dipimpin oleh Saad Ibnu Abi Waqqas. Pasukan Islam berhasil mendudukkan kembali Kaisar dan mengawal sampai ke Ibu Kotanya, waktu itu CHANGI. Tujuh ribu pasukan Islam kawin dengan perempuan Cina dan sebagian tetap mengawal Kaisar. Mendengar perisriwa ini komunitas Islam di Kanton mengundang Saad bin Abi Waqqas untuk meresmikan Masjid Al-Munawarah. Di Kanton Saad kawin dan putranya Sabik bin Abi Waqqas, diminta untuk tetap di Kanton dengan ibunya. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-18 setelah wafat Rasulullah SAW. Artinya Islam di Asia Timur  dimulai di Cina dan tentunya mereka berdakwah seiring perdagangannnya ke Asia Tenggara dan tentunya ke Nusantara. Fakta ini disembunyikan oleh Kolonia Belanda. Turunan Arab    beragama Islam dengan ibu Cina mengambil nama Cina tapi mencantumkan nama ayah yang berbahasa Arab sebagai nama marga. Misalnya MA untuk Muhammad, SA untuk Saad dan Ye untuk Yusuf. Presiden Taiwan saat ini mempunyai nama keluarga MA.
Kolonial Belanda melarang dan menyembunyikan fakta ini dan menyebarkan bahwa Islam sampai di Indonesia terutama Jawa hanya dari Arab dan India dengan maksud untuk mencegah keturunan Cina masuk Islam.

Catatan**Rektor Universitas Paramadina saat ini adalah Anis bin Rasyid Baswedan adalah cucu dari Abdurrahman Baswedan. Menteri Keuangan dalam Kabinet Soeharto, tahun 1982 Sumarln membuat Sistim Kredit untuk pribumi dengan syarat yang sangat mudah. Sumarlin membuat surat pada semua Direksi Bank Pemerintah bahwa golongan Arab sama dengan pribumi.         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar