Minggu, 26 Agustus 2012

Konsultasi Islami

Bolehkah Berzakat Kepada Kerabat?
Shodiq Ramadhan | Kamis, 09 Agustus 2012 | 12:48:49 WIB | Hits: 745 | 0 Komentar

Diasuh oleh:
Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI,Malang-Jawa Timur
Pertanyaan Kirim Ke: redaksi@suara-islam.com

Assalammualaikum Wr Wb.

Saya ingin mendapatkan penjelasan mengenai Zakat. Saya ingin berzakat kepada kerabat sendiri, siapa saja yang bisa menerima Zakat tersebut?. Saya ingin berzakat  kepada kakak ipar laki-laki dari Istri saya, apakah bisa?. Saya ingin berzakat  kepada kakak kandung yang kelilit utang, apakah juga boleh kepada anak-anaknya (keponakan saya sendiri). Demikian terima kasih banyak atas perhatiannya. Wassalam.



"Muhammad Hasan" <hasan@badaklng.co.id>

Jawaban:

Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

Boleh bershodaqoh dan membayar zakat  kepada kerabat, bahkan lebih utama selama kerabat tersebut termasuk delapan ashnaf (delapan golongan) yang disebutkan dalam Al-Quran dan bukan termasuk kerabat yang wajib ditanggung nafkahnya. Pahala memberi zakat kepada kerabat adalah dua; pahala zakat dan pahala silaturrahim.

Golongan-golongan yang berhak mendapatkan Zakat  berjumlah delapan. Semuanya dijelaskan secara terperinci dalam Surat At-Taubah ayat 60, Allah berfirman;

Sesungguhnya Zakat -Zakat  itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, Amil , Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk berjihad dan Ibnu sabil, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (At-Taubah: 60)

Berdasarkan ayat ini, siapapun yang memenuhi sifat fakir, miskin, amil, mu'allaf, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan ibnu sabil tanpa membedakan apakah dia kerabat ataupun  bukan, maka dia berhak mendapatkan zakat.

Berzakat  dan memberi shodaqoh kepada kerabat justru lebih utama daripada orang lain karena berzakat  kepada kerabat pahalanya dua yaitu pahala Zakat dan pahala silaturrahim. Imam Ahmad meriwayatkan;

Dari Salman bin 'Amir Adz-Dhobby berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Sedekah bagi kaum miskin mendapat pahala sedekah, adapun sedekah untuk kerabat dekat mendatangkan dua pahala, pahala sedekah dan pahala menyambung tali kerabat." (H.R. Ahmad)

Ketika Abu Thalhah mempercayakan kepada Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam untuk membagi-bagi kebun yang telah dishodaqohkannya, Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam memberikannya kepada kerabat Abu Thalhah. Bukhari meriwayatkan;

Dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah bahwa dia mendengar Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha' (nama kebun) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta'ala (QS Ali 'Imran: 92 yang artinya): "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai," Abu Thalhah mendatangi Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam lalu berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai," dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadanu". Dia (Anas) berkata,: "Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niyatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu". Maka Abu Thalhah berkata,: "Aku akan laksanakan wahai Rasululloloh. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya." (H.R. Bukhari)

Ketika Istri Ibnu Mas'ud ingin bershodaqoh kepada orang lain, suaminya Ibnu mas'ud mengingatkannya  karena suami dan anaknya lebih berhak mendapatkan harta tersebut. Penjelasan Ibnu Mas'ud ini dibenarkan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam. Bukhari meriwayatkan;

Dari Abu Sa'id Al Khurdri radliallahu 'anhu; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam keluar menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat 'Iedul Adhha atau 'Iedul Fithri. Setelah selesai Beliau memberi nasehat kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk menunaikan Zakat  seraya bersabda: "Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakat lah)." Kemudian Beliau mendatangi jama'ah wanita lalu bersabda: "Wahai kaum wanita, bershadaqahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni neraka." Mereka bertanya: "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Kalian banyak melaknat dan kufur terhadap Suami. Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita". Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi. Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas'ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada Beliau; "Wahai Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, ini adalah Zainab". Beliau bertanya: "Zainab siapa?". Dikatakan: "Zainab isteri dari Ibnu Mas'ud". Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah dia". Maka dia diizinkan kemudian berkata,: "Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (Zakat ) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menZakat kannya namun Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini. Maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ibnu Mas'ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah." (H.R. Bukhari)

Ketika Zainab, istri Ibnu Mas'ud bertanya pahala bershodaqoh kepada suami dan anak, Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam menelaskan pahalanya dua: pahala Shodaqoh dan pahala qorobah/silaturrahim. Bukhari meriwayatkan;

Dari Zainab isteri 'Abdullah radliallahu 'anhuma berkata,, lalu dia menceritakannya kepada Ibrahim. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada saya Ibrahim dari Abu 'Ubaidah dari 'Amru bin Al Harits dari Zainab isteri 'Abdullah radliallahu 'anhua sama seperti ini, berkata,: "Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Kemudian Beliau bersabda: "Bershadaqahlah kalian walau dari perhiasan kalian." Pada saat itu Zainab berinfaq untuk 'Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya. Dia ('Amru bin Al Harits) berkata,:; Zainab berkata, kepada 'Abdullah: "Tanyakanlah kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (Zakat ) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku." Maka 'Abdullah berkata,: "Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam." Maka aku berangkat untuk menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: "Tolong tanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, apakah aku akan mendapat pahala bila aku meninfaqkan shadaqah (Zakat ) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku?." Dan kami tambahkan agar dia (Bilal) tidak menceritakan siapa kami. Maka Bilal masuk lalu bertanya kepada Beliau. Lalu Beliau bertanya: "Siapa kedua wanita itu?". Bilal berkata,: "Zainab". Beliau bertanya lagi: "Zainab yang mana?". Dikatakan: "Zainab isteri 'Abdullah". Maka Beliau bersabda: "Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala Zakat nya." (H.R. Bukhari)

Hanya saja, disyaratkan kerabat tersebut tidak termasuk orang yang ditanggung seperti suami berzakat  kepada istri (karena istri nafkahnya wajib ditanggung suami), atau ayah berzakat  kepada anaknya yang masih kecil (karena ayah wajib menanggung nafkah anak-anaknya), atau anak kepada orang tuanya yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Hal itu dikarenakan kewajiban nafkah kepada mereka dalam kondisi mereka membutuhkannya telah dinyatakan oleh nash, sementara kewajiban membayar Zakat  adalah kewajiban tersendiri yang telah ditentukan pos-pos pembagiannya. Diriwayatkan Atho' memberi fatwa dengan ketentuan seperti ini, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;

Dari Abdul malik  beliau berkata; Aku bertanya kepada 'Atho': Apakah sudah cukup (boleh) seorang lelaki menyerahkan  Zakat nya kepada kerabatnya? Beliau menjawab: ya, jika mereka tidak termasuk tanggungannya." (H.R. Ibnu Abi Syaibah)

Atas dasar ini, boleh bahkan lebih utama berzakat  kepada kakak ipar laki-laki dari Istri, kakak Kandung yang kelilit hutang, anak-anaknya (keponakan), dan semua kerabat yang tidak wajib ditanggung nafkahnya. Wallahua'lam.

sumber: www.suara-islam.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar