Minggu, 26 Agustus 2012

Masih Tentang LDII

LDII Menipu Jama’ahnya
dan Menghina Umat dengan Ucapan Sangat Jorok
(oleh: Arief Junaed, dkk) 

Bukan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) kalau Imamnya tidak berkata-kata jorok lagi sangat porno. Namun, bagaimana jadinya ketika ucapan jorok lagi sangat porno itu dinisbatkan untuk menghina jama’ah-jama’ah selain jama’ah LDII. Contohnya adalah ungkapan nasehat Imam LDII dalam acara resmi yang mereka sebut  CAI (Cinta Alam Indonesia). CAI adalah acara camping (perkemahan) muda-mudi LDII yang biasanya diikuti ribuan orang secara nasional bahkan dari negara-negara tetangga.
Kata-kata jorok Imam LDII dan penghinaan terhadap umat Islam itu disampaikan dalam acara CAI 2000 di Wonosalam (perkebunan teh milik LDII seluas 200-an hektar) di wilayah Jombang Jawa Timur, pada tanggal 12-15 Juli 2000.
Karena ucapannya yang terlalu menghina dan sangat jorok, sebenarnya sangat berat untuk mengutip ungkapan Imam LDII itu. Namun, bila tidak dikutip ungkapan tersebut seutuhnya, maka pembahasan ini pun tidak akan bisa memberi gambaran yang jelas kepada para pembaca. Mudah-mudahan pengutipan kata-kata yang sangat jorok ini diampuni oleh Allah SWT, karena adanya keperluan dalam pembahasan agar terungkap secara tepat. Berikut ini kutipan ungkapan Imam LDII dalam teks yang berjudul Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI Wonosalam. Pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman):
  

Kutipan:
“Dengan banyaknya bermunculan jamaah-jamaah sekarang ini, semakin memperkuat kedudukan jamaah kita (maksudnya, LDII, pen.). Karena betul-betul yang pertama ya jamaah kita. Maka dari itu jangan sampai kefahamannya berubah, sana dianggap baik, sana dianggap benar, akhirnya terpengaruh ikut sana. Kefahaman dan keyakinan kita supaya di-pol-kan. Bahwa yang betul-betul wajib masuk sorga ya kita ini. Lainnya turuk bosok kabeh.”  (CAI 2000, Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI Wonosalam, pada poin ke-20 (dari 50 poin dalam 11 halaman).

Tanggapan:
Ketika saya membaca teks itu, lalu menanyakan kepada seseorang yang benar-benar telah lebih dari sepuluh tahun belajar kepada Imam pendiri LDII yakni H Nurhasan Ubaidah Lubis, yang dulu jamaahnya disebut Darul Hadits kemudian berubah nama menjadi Islam Jamaah dan kemudian berubah nama lagi menjadi LEMKARI, yang akhirnya sekarang bernama LDII. Orang yang saya tanya itu mengajukan pertanyaan, untuk menegaskan apakah memang teks itu dari LDII. Lalu dia minta saya untuk membacakan sebagian isi teksnya, maka saya baca poin 3:
“Nasehat pokok, nasehat utama yaitu satu-satunya jamaah supaya:
-        tetap menetapi QHJ (maksudnya, Qur'an Hadits Jamaah, pen.).
-        Tetap menetapi 5 bab,
-        Tetap menetapi sambung jamaah.”

Bekas murid Imam LDII ini mengakui bahwa itu memang teks dari LDII. Lalu dia minta saya membacakan apa yang akan saya tanyakan, yaitu poin 20. Saya pun membacakannya. Ketika saya baca kalimat: “Bahwa yang betul-betul wajib masuk sorga ya kita ini. Lainnya…. “ (saya tidak tega untuk meneruskan membaca, jadi macet). Lalu sang bekas murid Imam LDII itu meneruskan kalimat itu dengan dua kalimat alternatif, yang sama-sama amat sangat joroknya. Lalu dia bertanya: kalimat yang pertama atau yang kedua? Saya jawab, yang pertama (yaitu seperti yang tertulis di atas). Maka dia kaget, lho… jadi sekarang dipakai lagi? Padahal sudah pernah dihapus itu.
Dari keterangan itu, berarti penghinaan terhadap umat Islam oleh Imam LDII ini sudah sejak Imam pertama, kemudian sekarang diteruskan oleh penggantinya, yaitu anak Nurhasan yang bernama Abdul Dhohir.
Umat Islam selain jamaah LDII semuanya dihina dengan sebutan kemaluan wanita (vagina) yang busuk. Rangkaian penghinaan itu mengandung berbagai masalah:
1.      Masalah Aqidah, yakni:
i.       Mewajibkan (kepada Allah?) bahwa jamaah LDII saja yang masuk surga.
ii.     Memastikan jamaahnya dengan perkataan betul-betul wajib masuk surga.
iii.    Memastikan orang-orang selain jamaahnya sebagai vagina busuk semua (dengan keyakinan bahwa jamaah LDII adalah khoirul bariyyah – sebaik-baik manusia – dan wajib masuk surga, sedang selain jamaah LDII adalah syarrul bariyyah – seburuk-buruk manusia –, makanya disebut dengan kata-kata sangat jorok itu, menurut penjelasan bekas murid Imam LDII).
2.      Menghina umat Islam selain jamaah LDII, tanpa kecuali, semuanya dianggap sebagai vagina busuk.
3.      Mengucapkan kata-kata sangat kotor di depan pemuda-pemudi kader LDII atas nama nasehat Imam, itu berarti mengatasnamakan agama Allah, namun mulutnya  sangat jorok.
4.      Imam memberi nasehat itu bukan sekadar seperti khotib atau muballigh biasa. Sedangkan muballigh biasa pun apa yang disampaikan berupa nasehat agama itu adalah menyampaikan agama Allah. Muballigh saja kalau sampai menghina umat Islam apalagi dengan kata-kata yang sangat jorok, maka perlu dituntut. Boleh jadi dikeroyok massa beramai-ramai. Apalagi ini Imam yang merupakan pemimpin atas nama agama Allah.

Di samping membuat murkanya umat Islam secara keseluruhan, sikap LDII ini telah menyamai bahkan melebihi kejahatan terburuk yang Allah kecamkan, yaitu betapa buruknya sifat lancang orang Yahudi dan Nasrani yang berangan-angan bahwa hanya merekalah yang masuk surga, lalu dibantah langsung oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
{وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ }
Artinya: “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". (QS. Al-Baqarah: 111).

{بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ}
Artinya: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 112).

Dibanding dengan Yahudi dan Nasrani dalam ayat ini, LDII lebih keji lagi, karena ungkapannya itu tegas-tegas dengan kata-kata “betul-betul wajib masuk surga” (Bahwa yang betul-betul wajib masuk sorga ya kita ini), lalu yang lainnya dihina dengan kata-kata yang sangat jorok.
Imam LDII mewajibkan hanya jamaahnya sajalah yang masuk surga, itupun sudah ada tantangannya yang langsung dari Allah SWT, yang dihadapkan kepada kelompok yang ditiru oleh LDII:
{وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ}
Artinya: Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?". (QS. Al-Baqarah: 80).

{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ}
Artinya: “Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adaka0”. (QS. Ali Imran: 24).

Sebagai contoh, apa yang selalu LDII ada-adakan adalah kisah yang dimuat dalam teks nasehat Imam pada poin ke-27, Program ke-4 tentang Mewujudkan  Adil Dan Taat. Di antara teksnya adalah sebagai berikut:

Kutipan:
"Jaman dulu digambarkan oleh Bapak Imam Almarhum (maksudnya, H Nurhasan Ubaidah Lubis, pen.): Ada perempuan cantik, dibuat rebutan oleh tiga orang (A+B+C). A melamar lewat bapaknya, diterima. B melamar lewat ibunya, diterima. C melamar langsung pada anaknya, diterima. Setelah waktunya sudah ditentukan, mereka bertemu, A+B dan C masing-masing merasa punya hak, tidak ada yang mau mengalah. A merasa telah berhak sebab walinya adalah bapaknya. B merasa lebih berhak sebab yang meramut sejak kecil ibunya. C juga merasa lebih berhak sebab yang menjalani adalah anaknya. Akhirnya semua dibawa menghadap ke Bapak Amir. Oleh Bapak Amir ditanya: "Ini jamaah semua, to…?" Jawab: "Iya…" Tanya: "Kamu ridho, taat…?"  Jawab: "Iya, saya ridho, saya taat…"  Bapak Amir berkata: "Perempuan ini kalau saya berikan pada salah satu dari kamu, pasti yang lain hatinya dongkol. Ya sudah, kamu semua pulang, lha perempuan ini biar ikut saya."  (Kisah itu kemudian oleh pembawa kisah yakni Imam yang baru dilanjutkan dengan komentar): ya harus sakdermo taat, harus ridho." (CAI 2000, Rangkuman Nasehat Bapak Imam di CAI Wonosalam, halaman 7).

Tanggapan:
Memang benar firman Allah tentang adanya kelompok ataupun golongan yang mengada-adakan sesuatu di dalam agamanya. Tentang tata cara melamar, dalam Islam sudah diatur. Anak gadis yang dilamar, ditanya dulu oleh orang tuanya, dan diamnya si gadis itu pertanda setuju. Dalam sebuah Hadits disebutkan:
و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ زِيَادِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْفَضْلِ سَمِعَ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ يُخْبِرُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ وَإِذْنُهَا سُكُوتُهَا و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ الثَّيِّبُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا وَرُبَّمَا قَالَ وَصَمْتُهَا إِقْرَارُهَا.
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda, janda lebih berhak dengan dirinya daripada walinya, dan gadis ditanya, dan idzinnya adalah diamnya. Dalam riwayat lain, janda lebih berhak dengan dirinya daripada walinya, dan gadis diminta idzinnya oleh bapaknya mengenai dirinya, dan idzinnya adalah diamnya, dan boleh jadi periwayat berkata dan diamnya adalah ketetapannya. (HR Muslim).

Kalau memang orang yang mengaku Imam atau Amir LDII itu tidak mengada-adakan sesuatu dalam agama demi kepentingan (syahwat) nya, mestinya orang-orang yang mengadu kepadanya itu diadili secara syar'i, diusut secara teliti, lalu diputuskan secara adil. Apabila  ada yang dongkol dan sebagainya itu bukan urusan dia apabila mengadilinya secara adil. Tetapi, karena memang sifatnya yang tukang kawin cerai (menurut penelitian Departemen Agama, isteri Nurhasan Ubaidah yang dicerai ada 13, sedang menurut KH Hasyim Rifa'i, kyai di Kediri Jawa Timur yang telah mengikuti Nurhasan Ubaidah selama 17 tahun, isteri Nurhasan yang telah dicerai sudah tidak bisa dia hitung lagi), maka mengada-adakan tingkah polah demi memenuhi kepuasan syahwatnya dan seperti itulah jadinya. Walaupun sudah ada peringatan dari Allah SWT lewat Al-Qur'an, tetap saja diadakan tipu daya demi syahwatnya. Jeleknya lagi, justru kejelekan itu dijadikan landasan oleh Imam berikutnya dan disebarkan kepada jamaahnya untuk menakut-nakuti agar mereka tunduk dan patuh.
Tingkah polah Imam LDII itu tidak lebih baik dibanding dongeng sindiran tentang dua kucing yang menemukan daging kemudian berebut, maka mereka mengadu kepada beruang. Lalu sang beruang membagi daging itu jadi dua, lantas ditimbang. Ketika daging yang di kanan lebih berat maka dimakanlah sebagian, lalu yang kiri jadi lebih berat, maka dimakan sebagian pula. Demikian selanjutnya, akhirnya daging itu habis dimakan oleh sang beruang yang dijadikan tempat mengadu itu, sedang dua kucing itu menelan ludah dalam keadaan lapar lagi sangat ingin. Kalau beruang doyan daging, maka Imam LDII sangat doyan perempuan cantik. Mumpung ada yang membawa perkara berupa apa yang menjadi kesukaannya, maka hal itu dijadikan kesempatan untuk memangsanya.
Di samping mengada-adakan sesuatu (untuk menipu dengan dalih agar taat dan sebagainya), masih pula mengada-adakan cerita jorok yang dibumbui ancaman neraka bila tidak taat, dan hal itu menjadi senjata yang dianggap ampuh. Sehingga ribuan pemuda - pemudi LDII yang tentunya belum nikah pun dalam acara camping itu dinasehati oleh sang Imam dengan cerita yang tak pantas, lalu dibumbui ancaman neraka. (Sebenarnya saya sangat berat untuk meyampaikannya dalam tulisan ini, namun karena untuk menjadi bahan pembahasan dan bukti otentik, maka berikut ini dikutip pula. (Mudah-mudahan Allah mengampuni kita. Amien).

Kutipan:
 "Jaman dulu digambarkan lagi: Ada seorang tentara jamaah yang lama tugas di Manado. Setelah pulang ke rumah ingin menghabiskan rasa kangennya pada isterinya. Isterinya juga begitu, melampiaskan semua rasa kangennya pada suaminya. Masih sore sudah masuk kamar, terus cerita-cerita yang enak sambil "ndemeki susu" (=pegang-pegang buah dada), sudah melepas BH, celana dalam, sudah berdoa ALLOHUMMA JANNIBNA SYAITON….SENSOR, tiba-tiba Bapak Amir datang mengetuk pintu, "Bangun…bangun…!  Sekarang kamu amal sholih mengantar surat ini dari Gading ke Surabaya…" Ya harus taat, harus ridho. Padahal jaman dulu perjalanan ke Surabaya tidak seperti sekarang, bisa pulang pergi dengan cepat. Ini umpama nggak mau taat, mati di situ ya neraka. Alhamdulillah waktu itu jamaah ya bisa taat, bisa ridho, bisa sakdermo. Praktek ketaatan di atas tahun 60 lain lagi; nguras WC, nguras got, ambil pasir di kali, dsb. Alhamdulillah jamaah bisa taat, bisa ridho, bisa sakdermo, lancar semua." (CAI 2000, Rangkuman Nasehat Bapak Imam…, halaman 7).

Tanggapan:
Betapa joroknya cerita itu, dan diceritakan kepada muda-mudi lagi. Sedangkan cerita itu mengandung berbagai masalah:
1.     Imam sekarang menceritakan cerita Imam yang dulu. Cerita itu bagaimana prosedurnya?
a.      Apakah begitu sang imam mengetuk pintu, lalu menanyakan apa yang baru saja diperbuat oleh jamaahnya yang akan disuruh mengantar surat?
b.      Apakah di kalangan LDII (dulu namanya Darul Hadis lalu Islam Jamaah, lalu Lemkari, belakangan jadi LDII), Imam boleh bertanya sampai dalam hal mau berhubungan suami isteri lagi proses apa? Dan apakah jamaahnya boleh menceritakan kepada Imamnya?
c.      Kalau proses tanya jawab itu tidak terjadi, apakah Imam itu bisa mengetahui apa yang sedang diperbuat oleh jamaahnya di dalam kamar?
2.      Dari berbagai analisis itu, paling tidak, Sang Imam adalah membuat-buat cerita jorok tentang jamaahnya, lalu disebarkan kepada jamaah lainnya secara umum, lalu dikutip lagi oleh Imam penggantinya dan disebarkan lagi.
3.      Menakut-nakuti jamaah dengan neraka, sampai membuat cerita jorok untuk menggambarkan bahwa yang sebenarnya secara manusiawi tentunya tidak mau diperintah-perintah begitu saja dalam keadaan seperti itu. Namun untuk mandek-mandekke (menakut-nakuti dengan meninggi-ninggikan kewibawaan), maka cerita jorok itu disebar-sebarkan kepada jamaahnya demi melancarkan kedhalimannya, melancarkan tipu dayanya model Dajjal. Padahal Nabi Muhammad SAW yang sudah jelas utusan Allah SWT pun tidak pernah membuat-buat cerita jorok semacam itu mengenai jamaahnya lalu ditakut-takuti neraka berdasarkan cerita jorok. Tidak Pernah.
4.      Keimaman dalam LDII (atau nama-nama lain sebelumnya), kalau seandainya benar pun tidak punya daya ikat yang kuat, apalagi berkaitan dengan neraka bila tidak mentaatinya. Sebab, seandainya jamaah LDII itu benar sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadits dengan manhaj salafus shalih, sesuai dengan yang diajarkan Nabi SAW pun, hanya merupakan jamaah dari (sebagian) jamaah muslimin (secara keseluruhan). Sehingga mereka serta Imamnya itu harus tunduk kepada Imam yang sebenarnya yaitu yang mengurusi urusan umat Islam, termasuk jihad melawan orang kafir dan sebagainya. Yang menjadi imam jamaah muslimin (secara keseluruhan) yakni Khalifah atau Waliyul ‘Udhma (pemimpin tertinggi), itulah yang ada ikatan yakni untuk ditaati, karena dia berkewajiban mengurusi segala urusan umat Islam, termasuk jihad melawan orang kafir, dan urusan kehidupan umat secara umum. Imam / khalifah itupun tidak boleh mengadakan aturan-aturan kedhaliman demi pemuasan syahwat dan aji mumpung agar ditaati seperti model LDII yang aturan bikinannya itu diacung-acungkan di depan jamaahnya dengan ancaman neraka. Karena imam yang tertinggi / khalifah itu ternyata kini tidak / belum ada, maka Nabi SAW telah berpesan, "Maka singkirilah firqoh-firqoh itu walaupun kamu akan menggigit akar pohon sehingga kematian menemuimu dan kamu dalam keadaan demikian itu." (HR Al-Bukhari)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ جَابِرٍ قَالَ حَدَّثَنِي بُسْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

فِي رِوَايَة خَالِد بْن سُبَيْعٍ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ " فَإِنْ رَأَيْت خَلِيفَة فَالْزَمْهُ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرك , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَة فَالْهَرَب "
Dalam riwayat Khalid bin Subai' menurut At-Thabrani: "Maka apabila kamu lihat khalifah maka hendaklah kamu tetap padanya walaupun dia memukul punggungmu, lalu kalu tidak ada khalifah falharab, maka hendaklah kamu lari."

Tentang Imam di situ jelas sekali maksudnya adalah Khalifah, yang sifatnya memimpin pemerintahan Islam dengan sistem Islam dan mengurusi urusan umat Islam. Sehingga dalam Kitab Fathul Bari ketika mencontohkan imam yang fajir / dhalim ataupun jahat, yakni Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi (mati tahun 95H/ 714M), pemimpin pemerintahan yang kejam hingga disifati dengan As-Saffaak dan Assaffaah / penumpah darah, membunuh Abdullah bin Zubair di Hejaz. Hajjaj menguasai Makkah, Madinah, Thaif, dan Irak. Kejamnya Hajjaj tidak menghilangkan sifat (kondisi) keimamannya / sebagai kepala pemerintahan Islam. Sebaliknya, liciknya Nurhasan Ubaidah serta licinnya dalam menyalurkan jurus-jurus untuk kepentingan syahwatnya tidak menghilangkan citranya sebagai imam palsu, bahkan menambahnya. Maka betapa keblingernya orang-orang yang tertipu olehnya dari dulu sampai kini. Dan betapa beruntungnya orang yang bisa melepaskan diri dan terbebas dari kungkungan tipu daya jahat yang sampai kini masih didengungkan itu.

Kutipan:
"Kita mengadakan camping CIA ini dalam rangka pembinaan, peramutan, penjagaan. Yang dikirim ke sini digembleng, dinasehati, diarahkan dengan bermacam-macam gemblengan, nasehat, pengarahan. Para pengurus, para senior membuatkan makalah-makalah untuk generasi mudanya, sehingga dalam memperjuangkan QHJ ini tambah lancar. Biasanya kalau musim liburan, orang-orang luar juga mengadakan camping, tapi laki-laki perempuan campur, saling berpasangan. Alasannya pada orang tuanya camping, padahal sebetulnya encuk-encukan (=bersetubuh)." (CAI, Rangkuman Nasehat Bapak Imam…, poin 40, halaman 10).
  
Tanggapan:
Tampaknya belum puas juga sang Imam itu menghina siapa saja yang di luar jamaahnya dengan kata-kata yang amat sangat jorok pada poin 20, halaman 5 seperti tersebut di atas. Untuk pemuda-pemudi di luar jamaahnya dituduh pula dengan tuduhan sangat keji yaitu zina secara ramai-ramai.
Ungkapan keji dan tuduhan semaunya tanpa bukti kongkret semacam itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang menganggap bahwa tidak ada dosa dalam hal berbuat apa saja terhadap orang di luar golongannya. Kejahatan atas nama agama tetapi menjahati orang lain semacam ini telah dikecam oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
{وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ}
Artinya: “Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran 75).

Ibnu Katsir  menjelaskan, orang-orang Yahudi membantah kebenaran dengan mengatakan, tidak ada dosa dalam agama kami dalam hal memakan harta-harta ummiyyiin, yaitu orang-orang Arab, karena Allah telah menghalalkannya bagi kami. Allah SWT berfirman: "Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui". Artinya, ungkapan ini telah mereka buat-buat dan dijadikan alat dusta dengan kesesatan ini. Karena Allah telah mengharamkan atas mereka memakan harta-harta kecuali dengan hak. Mereka sesungguhnya hanyalah kaum yang dusta. (Tafsir Ibnu katsir dalam menafsiri ayat 75, surat Ali Imran).
Demikian pula dalam hal tuduhan berzina, Islam telah melarangnya, kecuali dengan mendatangkan 4 saksi. Apabila orang menuduh orang lain berzina tanpa mendatangkan saksi, maka berdosa besar, dan hukumannya dicambuk 80 kali, dicabut hak kesaksiannya untuk selama-lamanya, dan tergolong fasik..
{وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}
Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An-Nuur: 4).

Sedemikian rusaknya, mulutnya sudah berkata-kata jorok, berdusta lagi, masih juga melancarkan tuduhan zina terhadap banyak orang, namun anehnya: berani-beraninya mewajibkan (Allah?) untuk memasukkan seluruh jamaahnya ke surga. Tangeh lamun kata orang Jawa, haihaata haihaata kata orang Arab, dan boro-boro kata orang Betawi. Pungguk merindukan bulan, si cebol nggayuh lintang.
Berbahagialah mereka yang bisa meloloskan diri dari aneka tipuan imam palsu bermulut jorok semacam itu. Dan mudah-mudahan Allah menunjuki kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Allah beri nikmat atas mereka, dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan juga bukan jalan orang-orang yang sesat. Amien. (Haji). (Media Dakwah, Nopember 2003/ Ramadhan 1424H.)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar