Rabu, 05 September 2012

Kajian tentang Ahmadiyah; Penodaan Tokoh Ahmadiyah terhadap Islam

PENODAAN – PENODAAN
T E R H A D A P
AGAMA ISLAM
yang dilakukan oleh
TOKOH AHMADIYAH DI INDONESIA
Oleh :
H. D. M. Tasdik, Lc, M.Ag
Y. Wahyuddin, Lc
Arief bin Junaed, S.Pd.I.
 

1.   ABDUL BASIT
(Ketua Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia)

Tuduhan:     Menyebarluaskan Buku-buku yang bisa menyesatkan umat Islam.



Diantaranya:
1.1.        Judul Buku: ALMASIH DI HINDUSTAN
Pengarang: Mirza Ghulan Ahmad a.s.
Penerbit: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan kedua tahun 1998.

Isi yang menyesatkan:
Pengantar Penerbit, hal. c
“… kedatangan Al Masih tersebut dianggap sebagai kedatangan Rasulullah SAW untuk kedua kalinya. Dan orang-orang yang menerima kedatangan Masih Mau’ud tersebut dinyatakan sebagai para sahabat Rasulullah SAW juga…”

Pengantar Penerbit, hal. d
“Pada saat itulah Masih Mau’us ini datang untuk menyelamatkan Islam dari malapetaka tersebut dan memeliharanya untuk selama-lamanyadi masa mendatang. Oleh karenanya umat Islam menanti kedatangan Al Masih yang dijanjikan itu sebagaimana layaknya menantikan malaikat rahmat”.
“Di satu tempat Rasulullah SAW menempatkan Masih Mau’ud sebagai kunci penentu keberlangsungan Islam di akhir zaman”.

1.2.        Judul Buku: BAHTERA NUH
Pengarang: Hazrat Mirza Ghulam Ahmad
Penerbit: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, edisi  ke-5 tahun 1997.

Isi yang menyesatkan:
Prakata Hal. i
“Tahun 1902 sejarah India mencatat suatu kejadian luar biasa, yaitu negeri itu dilanda malapetaka dahsyat berupa wabah ta’un yang menelan korban ratusan ribu manusia. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi / Masih Mau’ud a.s., atas petunjuk Ilahi, mengatakan di dalam risalah ini, bahwa kejadian itu merupakan suatu Tanda samawi yang menunjang kebenaran kehadiran beliau sebagai Juruselamat yang dijanjikan. Tuhan mengatakan kepada beliau bahwa beliau beserta para pengikut yang setia dijamin selamat dari malapetaka itu, meskipun tanpa menggunakan sarana penjagaan materi apapun.
Sebagaimana Nabi Nuh a.s. diperintahkan untuk membangun bahtera, demikian pula Hazrat Imam Mahdi a.s. diperintahkan Allah Taala untuk membangun bahtera.
“Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera ini dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Tiada yang dapat melindungi hari ini dari takdir Ilahi selain Allah Yang Maha Penyayang”, demikian wahyu turun kepada beliau.”
Halaman 15
Ajaran
“… Jadi, barangsiapa mengamalkan ajaranku dengan sesempurna-sempurnanya, ia masuk rumahku – perihal rumah itu ada janji yang tersirat dalam Kalam Ilahi:
اِنِّي اُحَافِظُ كُلاَّ مَنْ فِى الدَّارِ
“Tiap-tiap orang yang tinggal di dalam rumahmu akan Kuselamatkan”

Dalam hal ini hendaknya jangan diartikan, bahwa penghuni rumahku bukanlah hanya mereka yang berdiam di dalam rumahku yang terbuat dari tanah dan batu bata ini, melainkan juga mereka yang mengikutiku dengan sesempurna-sempurnanya, adalah termasuk penghuni rumah rohaniku”.

Halaman 28
Siapakah yang diakui sebagai warga Jemaat
“… sekali lagi kukatakan bahwa janganlah hendaknya kamu mengira, bahwa bai’at secara lahir memadai. Bentuk lahir adalah tak berarti apa-apa. Tuhan melihat kepada hatimu, dan Dia akan memperlakukanmu sesuai dengan keadaan hatimu”.

1.3.        Judul Buku: DA’WATUL AMIR
Pengarang: Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad
Penerbit: Yayasan Wisma Damai, cetakan ke-1 tahun 1989.

Isi yang menyesatkan:
Halaman 144
Dalil Keempat
هُوَ الَّذِى اَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ
“Dialah Yang telah mengutus Rasul dengan petunjuk dan agama yang benar, supaya Dia memenangkannya atas agama lain semuanya”. (9 : 33; 48 : 29; 61 : 10)

Diketahui dari sabda Rasulullah SAW bahwa nubuwat itu akan menjadi sempurna di masa Masih Mau’ud…”

Halaman 145
“Pendek kata, kita mengetahui dari Alquran Suci, hadis-hadis, dan akal sehat bahwa keunggulan agama Islam di atas segala agama batil secara lahir telah ditakdirkan terwujud di zaman Masih Mau’ud itulah. Justru itu tugas utama Masih Mau’ud. Disamping beliau tidak ada orang lain dapat  melaksanakan tugas tersebut.”

Halaman 373
“Untuk menanggulangi keadaan-keadaan itu dan menyelamatkan Islam dari musibah itu terdapat hanya satu-satunya jalan, yaitu hendaklah beriman kepada Masih Mau’ud as. dan berserah diri ke haribaan beliau.

Untuk tujuan itu hanya ada satu-satunya cara yaitu menampilkan kehadapan dunia citra Islam sejati yang dikemukakan oleh Masih Mau’ud as. dan yang diterangkan oleh beliau dan dengan keimanan sejati yang diciptakan oleh beliau di dalam hati orang-orang dan membawa para kelana yang tersesat de jalan yang benar.”




Halaman 374
“Jadi, sesudah Masih Mau’ud turun, orang yang tidak beriman kepada beliau akan berada di luar pengayoman Allah Taala. Barangsiapa menjadi penghalang di jalan Masih Mau’ud a.s., ia sebenarnya musuh Islam dan ia tidak menginginkan adanya Islam.”

Halaman 375
“Jadi, Allah Taala berpaling dari mereka dan Dia tidak akan menampakkan wajah-Nya kepada mereka selama mereka belum mengulurkan tangan mereka ke tangan Masih Mau’ud-Nya…”.

1.4.        Judul Buku: JAWABAN ATAS 36 MASALAH
Pengarang: H. Mahmud Ahmad Cheema HA
Penerbit: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, tahun 1987.

Isi yang menyesatkan:
Halaman 38-39
(32) Soal      :  Siapakah Imam Mahdi dan apa bukti-bukti kebenarannya?
        Jawab  :
Dalam Bulan Desember 1888, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. mendapat petunjuk dan Wahyu dari Allah swt. untuk mengambil bai’at dan menerima murid-murid :
اِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللهَ يَدُ اللهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ
yang artinya: Apabila engkau berniat untuk bekerja pekerjaan besar, maka bertawakallah kepada Allah swt. dan jadikanlah perahu (Jemaat) di hadapan Kami dan menurut wahyu Kami.
Orang-orang yang akan mengambil bai’at kepada engkau (yakni jadi murid engkau) mereka bai’at kepada Allah swt. Tangan Allah atas tangan mereka.

Halaman 40
(33) Soal    :  Apakah perlu beriman kepadanya atau tidak atau ada manfaat atau kerugian?
Jawab       :  Beriman kepada Imam Mahdi a.s. ialah wajib menurut sabda Rasulullah saw.:
فَاِذَا رَاَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ
(Musnad Ahmad jilid XI hal. 80), yang artinya:
Apabila kamu melihatnya (Mahdi), maka ambil bai’atnya, walaupun diantara kamu dan Mahdi terdapat rintangan salju. Maka berjalanlah diatas salju dengan lutut-lututmu (merangkak) karena beliau itu Khalifah dan Mahdi daripada Allah swt.






Halaman 43
(33) Soal      :  Sesudah Qur’an Karim dan alim Ulama, apakah perlu Imam Mahdi dan apa tujuannya?
     Jawab  : Allah swt. Beriman:
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَارَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا
(Surat Al-Furqan ayat 30), yang artinya:
Berkata Rasul: Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan.”

Karena itu, imam Mahdi a.s. lebih perlu, supaya beliau mengajar Quran Karim dan memberikan air ruhani baru yakni Wahyu dan Ilham untuk menambah keimanan kita dan untuk menzahirkan kelebihan agama Islam atas semua agama-agama lain, dan maksud tersebut sudah dikerjakan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahamd a.s. sebagai Imam Mahdi untuk zaman ini.

1.5.        Judul Buku: AHMADIYAH, APA DAN MENGAPA?
Pengarang: Syafi R. Batuah
Penerbit: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan XVII, tahun 1986.

Isi yang menyesatkan:
Halaman 5
“Rasulkah Mirza Ghulam Ahmad?
     Menurut Al Qur’an setiap Nabi adalah Rasul dan sebaliknya setiap Rasul adalah Nabi. Seorang dikatakan Nabi karena ia mendapat kabar ghaib dari Allah SWT (subhanahu wa ta’alaa) yang mengatakan ia adalah seorang ‘Nabi’. Dan ia disebutkan Rasul karena ia diutus oleh Allah SWT kepada manusia. Selaras dengan itu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah Nabi dan Rasul.”

Halaman 22
“Hal ini berlaku pula terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Beliau ialah nabi dan rasul Allah. Karena itu orang-orang Islam harus percaya padanya. Kalau tidak demikian mereka tidaklah mengikuti seluruh ajaran Al Quran…”

1.6.        Judul Buku: APAKAH AHMADIYAH ITU?
Pengarang: HZ Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad
Penerbit: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan kedelapanbelas, tahun 1999.

Isi yang menyesatkan:
Halaman 50-51
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ
 “Allah Ta’ala merencanakan pekerjaan ini dari langit ke bumi, kemudian naik kembali kepadaNya pada hari yang jangkanya seribu tahun menurut perhitungan kamu”. (Assajadah: 6).

Maksudnya ialah, bahwa Allah Swt akan menurunkan kalamNya dan syariatNya yang terakhir ini dari langit ke bumi. Tantangan manusia tidak akan menghambat rencana ini. Akan tetapi kemudian sesudah lewat satu masa, kalam atau firmanNya ini, mulai naik ke langit dan dalam masa seribu tahun, firmanNya akan menjauh dari alam dunia ini”.

Halaman 63-64
“Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tampil ke dunia dan dengan lantangnya menyatakan, bahwa Allah Taala bercakap-cakap dengan beliau dan bukan dengan diri beliau saja, bahkan Dia akan bercakap-cakap dengan orang-orang yang beriman kepada beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para pengikut beliau, agar mereka pun berusaha memperoleh ni’mat serupa itu.”

Halaman 66-67
“… Akan tetapi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. senantiasa mengemukakan kepada dunia, bahwa beribu-ribu dalil-dalil tersedia untuk membenarkan beliau, namun beliau berkata, bahwa “apabila kalian tidak puas dengan dalil-dalil ini, janganlah mendengar perkataanku dan janganlah mendengar orang-orang yang menentangku, menghadaplah kepada Tuhan dan kepadaNya tanyakanlah bahwa apakah aku ini benar ataukah dusta. Apabila Allah Swt berkata, bahwa aku ini dusta, maka sudah yakinlah aku pendusta. Akan tetapi apabila Allah Swt berkata bahwa aku benar, maka apa gunanya menolak kebenaranku?”

Halaman 67
الَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Barangsiapa yang berjuang dengan maksud untuk bertemu dengan Kami, kepadanya pasti Kami memperlihatkan jalan yang akan menyampaikan kepada Kami. (Al Ankabut: 70).

1.7.        Judul Buku:
RIWAYAT HIDUP MIRZA GHULAM AHMAD - Imam Mahdi dan Masih Mau’ud, Pendiri Jemaat Ahmadiyah
Pengarang: Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad
Penerbit: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan Kedua, tahun 1995.

Isi yang menyesatkan:
Halaman 46

“Perkawinan Antar Sesama Ahmadi

     Pada tahun 1908 itu juga, untuk mendisiplinkan dan mengokohkan Jemaat, serta untuk memelihara ciri khas keahmadiyahan, Hazrat Ahmad as. telah menganjurkan kepada orang-orang Ahmadi peraturan-peraturan perkawinan serta cara-cara pergaulan hidup, dengan menetapkan bahwa wanita Ahmadi tidak boleh kawin dengan orang-orang non Ahmadi.”

1.8.        Judul Buku:
          DASAR-DASAR PENDIDIKAN BAGI JEMAAT
Pengarang: Hazrat Mirza Bashir Ahmad, MA
Penerbit: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, cetakan Ke-4, tahun 1994.

Isi yang menyesatkan:
Halaman 71
“Sungguh malang orang yang hingga kini tidak mengetahui bahwasanya ia mempunyai satu Tuhan Yang berkuasa atas tiap sesuatu! Surga kita adalah Tuhan kita. Pada Zat-nya terletak segala kelezatan yang selezat-lezatnya sebab kami telah melihat-Nya dan segala keindah-permaian terdapat pada wujud-Nya.”



1.9.        Judul Buku: AJARANKU
Pengarang: Hadhrat Mirza Ghulan Ahmad a.s.
Penerbit: Yayasan Wisma Damai, cetakan Keenam, tahun 1993.

Isi yang menyesatkan:
Halaman 27
“Janganlah hendaknya kamu punya prakiraan bahwa wahyu ILAHI itu tidak mungkin lagi ada di waktu yang akan datang; bahwa wahyu itu hanya berlaku pada masa yang telah lampau saja*); janganlah mengira bahwa Rohulkudus tidak dapat turun di waktu sekarang dan bahwa hal itu hanya berlaku di masa dahulu saja. Aku berkata dengan sebenar-benarnya, bahwa segala pintu dapat tertutup akan tetapi pintu untuk datangnya Rohulkudus itu tidak pernah tertutup”.

*) Syariat berakhir pada Kitab suci Al-Qur’an, akan tetapi wahyu itu tidak berakhir, sebab agama yang hidup itu ditandai oleh berlangsungnya silsilah wahyu. Yang silsilah wahyunya tidak berkelanjutan, agama itu mati dan Tuhan tidak besertanya.

Halaman 31
“… Tuhan tidak sekali-kali akan memahrumkan kamu dari ni;mat wahyu, ilham, mukalimat dan mukhatibat*).

*) Mukalimat dan Mukhatibat itu adalah wahyu yang turun dari Tuhan berbentuk percakapan secara langsung kepada hambaNya. (Peny.)



2.   Ir. SYARIF AHMAD LUBIS, MSc.
(Mantan Ketua Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia)

Tuduhan:     Menyebarluaskan Buku-buku yang bisa menyesatkan umat Islam, pada masa kepemimpinannya


3.   PANITIA PENTERJEMAH TAFSIR ALQURAN, yaitu:
-        Sukri Barmawi
-        R. Ahmad Anwar
-        Sayyid Shah Muhammad al-Jaelani
-        S. Yahya pontoh
-        R. Abdoerahman Ahmadi
-        E. Abdulmannan
-        Gunawan Jayaprawira
-        M. Idris A.R.
-        Ahmad Hariadi[1]
-        Mohammad Husban.

Tuduhan:     Menjadi Panitia Penerjemah dan Penafsir Al Qur’an versi Ahmadiyah yang didalamnya banyak penyimpangan dan penyelewengan arti dan maksud dari ayat-ayat suci Al Qur’an, sehingga bisa menyesatkan umat Islam.

Diantaranya:

1.     Surat At Takwir ayat 24, halaman 674 footnote no 3278, tertulis:

24. Dan, sesungguhnya, ia melihatnya 3278 di ufuk yang terang.
وَلَقَدْ رَاهُ بِاْلاُفُقِ الْمُبِيْنِ {24}

3278. kataganti nama hu yang berarti “-nya” (masa depan Islam yang gemilang) dan “ia” (Rasulullah s.a.w.) pertama-tama dapat berarti menjadi sempurnanya nubuatan mengenai hari-depan Islam yang gemilang, dan kedua dapat pula berarti, bahwa Rasulullah s.a.w. melihat wujud beliau sendiri di timur jauh dalam pribadi Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

2.     Surat Al Insyiqaq ayat 19, halaman 689 footnote no 3303, tertulis:

19. Dan bulan apabila jadi purnama 3303.
وَالْقَمَرِ اِذَا اتَّسَقَ {19}

3303. ayat-ayat 17 – 19 berisikan sebuah nubuatan mengenai kemunduran sementara  umat Islam serta kebangunan kembali mereka melalui seorang wujud, wakil agung Rasulullah s.a.w. – Hadhrat Masih Mau’ud a.s. – yang bagaikan bulan purnama akan memantul dalam diri beliau cahaya gemilang sang Matahari (Rasulullah s.a.w.) dengan sepenuhnya serta seutuhnya.

3.     Surat Al Buruj ayat 3 dan 4, halaman 692 footnote no 3308 dan 3309, tertulis:
3. Dan hari yang dijanjikan 3308.
وَالْيَوْمِ الْمَوْعُوْدِ {3}
4. Dan sang saksi 3309 dan ia yang diberi kesaksian,
وشاهد ومشهود {4}

3308. “Hari yang dijanjikan” itu dapat berarti hari, ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. akan dibangkitkan untuk mendatangkan kebangunan kembali Islam. Pada hakikatnya banyak hari semacam itu dalam sejarah Islam yang dapat disebut “Hari yang dijanjikan”, seperti hari Pertempuran Badar, hari ketika Pertempuran Khandak berkesudahan dengan kejayaan besar, dan hari jatuhnya Mekkah. Tetapi “Hari yang dijanjikan” yang paripurna itu ialah masa kebangkitan keduakalinya Rasulullah s.a.w. dalam pribadi wakil beliau pada abad ke-14 Hijrah ketika agama Islam akan memperoleh kehidupan baru dan akan menang atas semua agama lainnya…

3309. … Tetapi disini, seperti nampak dari teks, syahid adalah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan masyhud adalah Rasulullah s.a.w., dan ayat ini mengandung arti bahwa Masih Mau’ud a.s. akan memberi kesaksian akan kebenaran Rasulullah s.a.w. dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh, dan tulisan-tulisan beliau dan dengan Tanda-tanda yang akan ditampakkan Tuhan di tangan beliau. Beliau akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan Rasulullah s.a.w. mengenai kemunculan Masih Mau’ud dan Imam Mahdi a.s. pada abad ke-14 Hijrah akan jadi sempurna. Masih Mau’ud a.s. itu pun masyhud dalam arti bahwa Rasulullah s.a.w. sendiri telah memberi kesaksian akan kebenaran beliau. Dengan demikian Rasulullah s.a.w. dan Masih Mau’ud a.s. itu bersama-sama merupakan syahud dan masyhud.
4.     Surat Ath Thariq ayat 2 dan 5, halaman 697 footnote no 3316 dan 3317, tertulis:

2. Demi langit dan Bintang Fajar 3316.
وَالسَّمَآءِ وَالطَّارِقِ {2}
5. Tiada suatu jiwa pun melainkan mempunyai penjaga 3317 atas dirinya.
اِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ {5}
3316. Isyarat dalam ayat ini dapat tertuju kepada wakil Rasulullah s.a.w., yang kedatangannya laksana Bintang Fajar sebagai pertanda akan terbitnya fajar kejayaan dan penyebarluasan Islam sesudah malam kegelapan rohani yang pernah meliputi agama Islam telah terhalau. Tetapi menurut sebagian ahli tafsir, ayat ini bertalian dengan Rasulullah s.a.w. sendiri, yang muncul pada saat malam kegelapan rohani telah meliputi seluruh alam dunia, sedang di negeri Arab sendiri tempat Rasulullah s.a.w. menampakkan diri, telah diliputi kegelapan yang amat pekat.

3317. Tuhan akan melindungi Bintang Fajar – wakil Rasulullah s.a.w. dan Bintang yang bercahaya sangat menembus – Rasulullah s.a.w.

5.     Surat Asy Syams ayat 3 dan 5, halaman 720 dan 721 footnote no 3356 dan 3358, tertulis:

2. Dan demi bulan 3356.apabila ia mengikuti matahari
وَالْقَمَرِ اِذَا تَلهَا {3}
5. Dan demi malam hari 3358 apabila ia menutupi cahaya matahari.
وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشهَا {5}

3356. “Bulan” dapat juga merujuk kepada Rasulullah s.a.w. sebab beliau menerima cahaya dari Tuhan dan menyiarkan cahaya itu ke persada alam rohani yang gelap itu. Atau kata “Bulan” itu dapat pula menunjuk kepada para wali dan para imam zaman – khususnya kepada wakil agung beliau, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. – yang akan meminjam cahaya kebenaran dari Rasulullah s.a.w. dan menyiarkannya ke dunia untuk menghilangkan kegelapan akhlak dan rohani.

3358. “Malam” dapat menunjuk kepada masa kemunduran dan kemerosostan orang-orang Islam ketika cahaya Islam telah tersembunyi dari mata dunia. Keempat ayat ini (2 – 5) menunjuk kepada empat kurun masa perjalanan Islam yang penuh peristiwa itu, ialah, (1) masa Rasulullah s.a.w. sendiri, ketika Matahari Rohani (Rasulullah s.a.w.) sedang memancar dengan sangat megahnya di cakrawala rohani; (2) masa wakil agung beliau, yaitu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s., ketika nur (cahaya) yang diperolehnya dari Rasulullah s.a.w. dipantulkan ke suatu dunia yang gelap; (3) masa para khalifah Rasulullah s.a.w. ketika cahaya Islam masih tetap berkilau-kilauan dan (4) masa ketika kegelapan rohani telah meluas ke seluruh dunia yang terjadi sesudah tiga abad pertama kejayaan Islam.




6.     Surat Ash Shaf ayat 7 dan 11, halaman 522 dan 523 footnote no 3037 dan 3041, tertulis:

7. Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku rasul Allah yang diutus kepadamu memenuhi apa yang ada sebelumku yaitu nubuatan-nubuatan dalam Taurat, dan memberi khabar suka tentang seorang rasul yang akan datang sesudahku yang akan bernama Ahmad.” 3037 Dan tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti jelas, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata”.
وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يبَنِىْ اِسْرَآءِيْلَ اِنِّى رَسُوْلُ اللهِ اِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُوْلٍ يَّاتِىْ مِنْ بَعْدِى اسْمُهُ اَحْمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوْا هَذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ {7}
11. Hai orang-orang yang beriman! Maukah Aku tunjukkan kepadamu suatu per-dagangan, 3041 yang akan menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ {11}

3037. “… tetapi sebagai kesimpulan dapat juga dikenakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah, sebab beliau telah dipanggil dengan nama Ahmad di dalam wahyu (Brahin Ahmadiyah), dan oleh karena dalam diri beliau terwujud kedatangan kedua atau diutusnya yang kedua kali Rasulullah s.a.w. …”.

3041. “Ayat ini agaknya mengisyaratkan juga kepada zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s., ketika perniagaan dan perdagangan akan berkembang dengan subur dan akan ada perlombaan gila mencari keuntungan dalam perniagaan”.

7.     Surat Al Fajr ayat 4, halaman 709, footnote no 3334, tertulis:

4. Dan yang genap serta yang ganjil, 3334
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ {4}

3334. “… Kepada angka “genap dan ganjil” ini terdapat pula penunjukan yang jelas dalam 9:40. Atau, Rasulullah s.a.w. dan Masih Mau’ud a.s. dapat dianggap membentuk angka genap dan Tuhan sebagai angka ganjil, atau juga “yang genap dan yang ganjil” itu dapat berarti, bahwa sekalipun Rasulullah s.a.w. dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu dua pribadi terpisah, namun Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah begitu larut sirna dalam Rasulullah s.a.w. sehingga seolah-olah telah menjadi satu (memanunggal) dengan beliau.”


4.   PENERBIT YAYASAN WISMA DAMAI yang beralamat di
Jl. Raya Parung – Bogor No. 27
PO. BOX 33 / Parung Bogor 16330

Tuduhan:     Mencetak dan menyebarluaskan Buku-Buku dan Terjemah Tafsir Al Qur’an versi Ahmadiyah yang di dalamnya banyak penyimpangan dan penyelewengan arti dan maksud dari ayat-ayat suci Al Qur’an, sehingga bisa menyesatkan umat Islam.


5.   TIM KLARIFIKASI TADZKIRAH JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA, yang terdiri dari:
a.   Zafrullah Ahmad Pontoh;
b.   Ahmad Hidayatullah, Shd.;
c.   Qamaruddin, Shd.; dan
d.   Drs. H. Djamil Sami’an.


TUDUHAN:
Penodaan terhadap Agama Islam, karena meyakini bahwa TADZKIRAH adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT dan diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabinya, yang tercantum dalam buku klarifikasi:
Judul Buku         : Klarifikasi atas Tela’ah Buku TADZKIRAH
Penerbit             : Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2003

ISI KLARIFIKASI:
Halaman 6
Buku TADZKIRAH ini bukan merupakan buah mimpi tetapi kumpulan dari ilham-ilham/wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf dan rukya-rukya (mimpi-mimpi yang benar) yang dianugerahkan oleh Allah Subhaanahu wa Tal’aalaa kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam, yang telah teruji kebenarannya sejak dari masa kehidupan beliau hingga sekarang dan akan terus terbukti kebenarannya.




6.   H. SAYUTI AZIS AHMAD
(Kepala Dakwah Jemaat Ahmadiyah Indonesia)

TUDUHAN:
Penodaan terhadap Agama Islam melalui Pernyataan Pers dalam Surat Kabar INDO POS hari Kamis tanggal 8 September 2005, yang menyatakan bahwa TADZIRAH adalah KITAB SUCI setelah AL QUR’AN.

ISI PERNYATAAN:
“Untuk dapat menjalankan titah Nabi Mirza Ghulam Ahmad, umatnya harus memahami isi Kitab Suci TADZKIRAH. Uniknya, umatnya justru banyak yang rajin membaca Al Qur’anul Karim.
Jika Kitab Suci Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad berbahasa Arab, tidak halnya dengan Kitab Suci yang diwahyukan kepada Nabi Mirza Ghulam Ahmad a.s. Kitab Suci Ahmadiyah ini menggunakan 5 (lima) bahasa, yaitu Arab, Urdu Parsi, Inggris, dan Punjabi. Hal inilah yang membuat umat Ahmadiyah ini sulit membaca dan memahami Kitab Suci yang diberi nama TADZKIRAH itu”.







7.   SOEKMANA SOMA
(Humas Jemaat Ahmadiyah Indonesia)

TUDUHAN:
Membuat Pernyataan Pers yang kontroversi dalam Surat Kabar RADAR BOGOR tanggal 2 Agustus 2005.

ISI PERNYATAAN:
“Sama dengan aliran Islam yang lain, Ahmadiyah juga mengaku Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir dan Al Qur’an sebagai Kitab Sucinya. TADZKIRAH itu hanya mimpi-mimpi yang dicatat, mimpi seseorang yang dicatat dengan baik. Jayabaya punya mimpi-mimpi dan dicatat. Mimpi seseorang yang dicatat dengan baik. Jayabaya punya mimpi yang dicatat, nggak ada protes. Saya sendiri sebagai Jemaat Ahmadiyah tidak memiliki TADZKIRAH itu”.




[1] Bapak Ahmad Hariadi telah keluar dari Ahmadiyah dan berbalik arah menentang Ahmadiyah.

1 komentar:

  1. Walaupun isinya tuduhan penodaan, tapi terima kasih sudah "membantu dakwah" soal Ahmadiyah :)

    Setidaknya bagi yang mencari kebenaran akan bertanya langsung pada sumbernya di mesjid-mesjid Ahmadiyah atau di websitenya: www.ahmadiyya.or.id atau www.alislam.org atau menonton siaran televisi muslim 24/7 nonstop tanpa iklan di www.mta.tv

    BalasHapus